Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Fajar Merah dan Benturan Dua Raja
Fajar di ufuk timur tidak menyingsing dengan warna keemasan, melainkan merah pekat layaknya darah segar yang tumpah di atas kanvas langit. Kabut pagi yang biasanya menyelimuti batas kota kini tersapu bersih oleh hawa panas dan napas ribuan makhluk buas.
Tanah bergetar hebat, diiringi suara gemuruh yang menyerupai gempa bumi skala besar. Dari balik batas hutan purba Sektor 8, lautan kematian merangsek maju.
Sepuluh ribu entitas—gabungan dari monster mutasi, manusia setengah binatang, dan penunggang serigala tulang—berbaris menutupi jalanan aspal yang hancur. Di tengah-tengah formasi masif itu, Raja Darah melangkah dengan santai. Tubuh raksasanya yang setinggi tiga meter dan berlapis sisik naga kemerahan memancarkan aura penindasan yang membuat monster-monster di sekitarnya menunduk patuh.
Di kejauhan, siluet hitam Tatanan Besi Hitam berdiri kokoh, diselimuti oleh kubah energi tipis yang nyaris tak kasat mata.
"Itu sarang tikus logamnya?" dengus Raja Darah meremehkan, matanya yang menyala merah menatap tembok pelat baja yang mengelilingi pabrik tersebut. "Hancurkan kubahnya, runtuhkan temboknya, dan seret penguasa mereka ke hadapanku. Aku ingin memakan jantungnya selagi berdetak!"
Raungan perang meledak. Ribuan pasukan garda depan yang terdiri dari Badak Cula Besi (Tingkat 4) dan Penjinak Buas (Tingkat 5) memacu kecepatan mereka. Mereka mengira jarak satu kilometer adalah batas aman sebelum serangan artileri musuh bisa menjangkau mereka secara efektif.
Namun, mereka tidak tahu bahwa aturan main telah diubah semalam.
Di atas tembok Tatanan Besi Hitam, Yudha berdiri dengan jubah berkibar, ditemani Lin Tian dan Lin Chen di sisi kiri kanannya. Bara dan puluhan penjaga bersiaga di sepanjang tembok, mencengkeram senjata mereka hingga buku-buku jari mereka memutih. Memandang sepuluh ribu musuh dari dekat benar-benar menguji kewarasan mereka.
Yudha mengangkat tangan kirinya, menatap layar holografik dari Skuadron Gagak Besi.
"Biarkan mereka masuk," ucap Yudha tenang, suaranya disalurkan melalui sistem pengeras suara benteng, menstabilkan detak jantung pasukannya.
Tiga kilometer... Dua setengah kilometer...
Tepat ketika kaki barisan depan Aliansi Binatang menyentuh radius tiga kilometer dari gerbang pabrik, sebuah gelombang kejut energi yang tak terlihat menyapu daratan.
WUUUNGGG!
Efek Benteng Penekan tingkat dua aktif sepenuhnya.
"ARGH!"
Ribuan monster di barisan depan tiba-tiba tersungkur. Lutut Badak Cula Besi berderak patah karena tak mampu menahan beban tubuh mereka sendiri yang mendadak terasa dua kali lebih berat. Para Penjinak Buas yang sedang berlari kencang terhempas ke aspal, memuntahkan darah karena organ dalam mereka tertekan paksa.
Atribut fisik mereka dipotong secara brutal. Bagi monster Tingkat 4, pemotongan ini menurunkan kekuatan mereka hingga setara dengan Tingkat 2. Barisan depan yang tadinya mengancam kini berubah menjadi kekacauan massal yang saling bertabrakan dan menginjak satu sama lain.
Raja Darah yang berada di tengah formasi merasakan tekanan itu. Tubuhnya sedikit tenggelam ke tanah, namun Atribut Tingkat 7 miliknya dengan mudah melawan gravitasi semu tersebut.
"Sihir penekan wilayah?" geram Raja Darah, matanya menyipit marah. "Terus maju! Mereka tidak bisa menahan puluhan ribu dari kita hanya dengan trik murahan!"
Melihat musuh yang kini bergerak layaknya kawanan siput raksasa di dalam wilayahnya, Yudha menurunkan tangan kirinya dan menyeringai.
"Menara Lontar, lepaskan badai. Gagak Besi, bumi hanguskan barisan belakang mereka."
TRANG-TRANG-TRANG-TRANG!
Dua laras raksasa dari Menara Lontar Elektromagnetik berputar dengan kecepatan maksimum. Ribuan paku baja tebal membelah udara, menghujani barisan depan musuh. Kali ini, tanpa kecepatan untuk menghindar dan dengan zirah yang telah dilemahkan oleh wilayah, pembantaian sepihak terjadi. Darah muncrat mewarnai aspal, dan jeritan kesakitan menenggelamkan auman perang mereka.
Di saat yang sama, kelima Gagak Besi menukik dari balik awan. Mereka tidak menyerang barisan depan, melainkan menyusup ke barisan belakang tempat para pemanah dan Shaman mutan (Tingkat 5) berada.
ZAAAAAPP!
Pilar plasma ungu membelah formasi belakang. Lengan-lengan yang bersiap menembakkan anak panah menguap menjadi abu. Kekacauan meledak di dua sisi sekaligus.
Di atas tembok, Yudha menatap aspal di luar gerbangnya yang kini dibanjiri darah musuh.
[Efek Pasif 'Tanah Penyerap Darah' Aktif!]
[Mengonversi sisa energi dari entitas yang tewas menjadi pasokan daya Inti Pengendali.]
[Kapasitas Perisai Absolut meningkat: 100% -> 120%]
"Semakin banyak yang kalian bawa, semakin kuat benteng ini," gumam Yudha puas. Ia menoleh ke arah dua pedang tumpulnya yang kini telah diasah menjadi bilah dewa. "Lin Tian, Lin Chen. Uji mainan baru kalian. Jangan biarkan satu pun monster besar mencapai gerbang."
"Nyawa kami untuk Tatanan!" seru keduanya serempak.
Kedua murid inti itu melompat turun dari tembok setinggi sepuluh meter.
Di udara, Lin Tian mengalirkan Qi padatnya ke dalam Tombak Plasma Penembus Tulang. Ujung tombak tulang itu langsung menyala dengan lapisan plasma putih kebiruan yang mengeluarkan suara mendesis mengerikan.
Ia mendarat tepat di atas punggung seekor Badak Cula Besi yang mencoba menabrak gerbang. Lin Tian menusukkan tombaknya ke bawah.
TSSSS!
Tidak ada suara tulang patah, karena ujung tombak itu melelehkan zirah tebal sang badak tanpa sedikit pun hambatan perlawanan fisik. Tombak itu menembus lurus ke jantung, membunuh makhluk raksasa itu dalam diam. Lin Tian mencabut tombaknya dan langsung memutarnya, melepaskan gelombang Qi berbentuk sabit yang membelah tiga Penjinak Buas sekaligus di sekitarnya.
Di sisi lain, Lin Chen bergerak layaknya bayangan kelabu. Pedang Lengkung Pembelah Angin di kedua tangannya bergetar dengan frekuensi tinggi. Saat seorang komandan mutan Tingkat 5 mengayunkan kapak baja raksasanya ke arah Lin Chen, pemuda itu tidak menghindar. Ia justru menyilangkan pedangnya dan menyongsong kapak tersebut.
KRAAAK!
Bukannya pedang Lin Chen yang patah, kapak baja raksasa musuh justru hancur berkeping-keping saat bersentuhan dengan bilah bergetar frekuensi tinggi tersebut. Sebelum komandan mutan itu menyadari apa yang terjadi, pedang Lin Chen telah berkelebat tanpa suara, memisahkan kepalanya dari leher dengan potongan yang sangat mulus hingga darah baru muncrat sedetik kemudian.
Ketangguhan dua malaikat maut Tatanan Besi Hitam itu membuat sisa pasukan musuh gentar. Mereka adalah perwujudan sempurna dari fusi antara ilmu bela diri kuno dan teknologi pembunuh.
Menyaksikan pasukannya dibantai secara memalukan tanpa mampu menyentuh tembok musuh, kesabaran Raja Darah akhirnya putus.
"MINGGIR KALIAN SEMUA, SAMPAH!" raung Raja Darah.
Gelombang kejut dari aumannya melempar monster-monster di sekitarnya. Raja Darah menolak tanah, mematahkan batuan aspal, dan melesat ke udara layaknya rudal daging kemerahan. Kecepatannya mengabaikan efek penekan wilayah. Ia melompat melewati barisan depan, langsung menuju ke arah gerbang baja Tatanan Besi Hitam.
Tangan kanannya yang terbungkus sisik naga ditarik ke belakang, memusatkan pusaran energi darah yang pekat.
[Entitas Puncak melancarkan serangan: Pukulan Penghancur Gunung (Tingkat 7)]
"Mati kau, tikus mekanik!" teriak Raja Darah, menghujamkan tinjunya lurus ke arah kubah energi yang melindungi benteng.
BOOOOOOM!
Benturan itu menciptakan ledakan kejut yang menyapu bersih kabut dan debu dalam radius satu kilometer. Lin Tian dan Lin Chen yang berada di bawah terpaksa menancapkan senjata mereka ke tanah agar tidak terhempas oleh badai angin yang tercipta.
Di atas tembok, Bara dan para penjaga jatuh berlutut, telinga mereka berdenging keras.
Namun, ketika debu tersibak... kubah emas itu masih berdiri kokoh. Riak-riak energi besar menyebar di titik benturan, tapi Perisai Absolut Peringkat 2 yang ditenagai oleh darah pasukan musuh sama sekali tidak retak.
Raja Darah melayang di udara, matanya melebar tak percaya. Tinjunya yang bisa meratakan bukit bahkan tidak bisa menggores perisai itu.
Di balik perisai, tepat berhadapan dengan wajah Raja Darah, Yudha berdiri di tepi tembok dengan senyum mengejek yang sangat kelam.
"Kau suka memukul tembok?" bisik Yudha dingin, merogoh Meriam Genggam Penghancur Formasi dari punggungnya dan langsung menodongkannya tepat ke dada Raja Darah yang hanya berjarak beberapa meter di luar perisai.
Urat-urat merah di laras meriam raksasa itu telah menyala menyilaukan.
"Coba tangkap bintang jatuh ini."
Jari mekanis Yudha menarik pelatuk.