Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.
Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.
Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan di Balik Layar
Mereka bertiga menatap perginya Grey dan Ressa dengan ekspresi yang berbeda-beda. Angel kembali duduk di kursinya dengan wajah gusar, bibirnya mengerucut kesal. Tangannya menggenggam erat ujung gaunnya, hampir merobek kain sutra itu.
"Lagi-lagi pelayan itu bersama Tuan Muda Grey," geramnya, suaranya menggema di ruangan yang mulai sepi. "Aku tidak mengerti apa yang dilihatnya pada gadis rendahan itu. Apa dia tidak tahu bahwa aku jauh lebih pantas?"
Barteil duduk di sampingnya dengan lemas, bahunya merosot. Matanya menatap kosong ke arah panggung yang kosong.
"Melihat mereka membuatku iri saja," keluhnya, menghela napas panjang. "Aku tidak tahan lagi. Grey selalu bersama Ressa, dan aku di sini sendirian, tidak disukai oleh gadis mana pun."
Angel menatap Barteil dengan tatapan jijik. "Kau? Jangan bandingkan dirimu dengan Tuan Muda Grey. Kau hanya pelawak di teater ini."
Barteil hanya mendengus, tidak punya energi untuk membalas.
Sementara itu, Vega memilih berjalan meninggalkan mereka berdua menuju kursi penonton di bagian belakang ruangan. Langkahnya tenang, tetapi pikirannya bekerja cepat. Ada sesuatu yang mengganggunya—sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Namun, saat ia mencapai kursi di barisan paling belakang, ia berhenti.
Di sana, di bawah cahaya redup lampu teater, seorang wanita duduk dengan wajah kekesalan yang tak terbendung. Gaun hitamnya kusut, rambutnya sedikit berantakan, dan di matanya ada genangan air mata yang tertahan.
Belinda Helrena.
Vega terkejut, tetapi ia segera menyembunyikan ekspresinya. Ia berjalan mendekat dengan langkah hati-hati.
"Nyonya Belinda?" sapanya pelan.
Belinda menoleh, dan begitu melihat Vega, air matanya akhirnya tumpah. Ia berdiri dan langsung memeluk Vega dengan erat, tubuhnya gemetar karena amarah dan kesedihan.
"Vega!" isaknya, suaranya terbata-bata. "Aku terusir! Kenta mengusirku dari keluarganya sendiri! Aku tidak percaya dia tega melakukan itu padaku!"
Vega terdiam, lengannya perlahan membungkus pinggang ramping Belinda. Ia mengusap punggung wanita itu dengan lembut, mencoba menenangkannya.
"Ini di luar prediksiku," pikirnya, matanya menyipit. "Seharusnya si tua itu yang terusir, bukan Belinda. Ada yang salah."
Ia menahan amarahnya. Rencananya berputar—seharusnya Kenta yang diusir, tetapi justru Belinda yang menjadi korban.
"Sudah, jangan menangis lagi," bisiknya, suaranya lembut. "Nyonya tidak cantik lagi jika terus menangis."
Ia menghapus air mata Belinda dengan jari-jarinya, gerakannya lembut dan penuh perhatian.
Belinda masih memeluknya erat, tidak mau melepaskan. "Kenta... dia mengusirku. Dia benar-benar membuatku terhina di depan semua orang. Aku tidak akan pernah memaafkannya!"
Vega tersenyum kecut. Wanita ini sudah sepenuhnya berada di pengaruhnya—itu jelas. Namun, ada masalah yang lebih besar yang harus ia hadapi.
"Semuanya sudah sesuai skenario," pikirnya, "tapi semuanya berbalik arah karena ada yang mencampuri rencanaku. Siapa yang berani mengganggu permainanku?"
Ia memikirkan semua kemungkinan.
"Alarga? Tidak, dia tidak mungkin ikut campur karena dia keluarga kerajaan. Dia tidak mau terlibat dalam urusan internal keluarga Sienta."
Vega mengerutkan kening.
"Kalau terus begini, keluarga Sienta sulit dihancurkan. Aku harus mencari cara menyingkirkan Alarga—atau siapa pun yang mencoba menggagalkan rencanaku."
Ia melepaskan pelukan Belinda dengan lembut, menatap matanya.
"Nyonya bisa tinggal bersama saya," ucapnya, suaranya penuh keyakinan. "Saya akan membantu membalaskan dendam Nyonya. Kenta akan menyesali perbuatannya."
Belinda tersenyum—meskipun masih ada kesedihan di matanya. "Terima kasih, Vega. Kamu memang orang yang perhatian. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu."
Vega tersenyum hangat. "Tentu saja. Nyonya adalah milik saya. Saya tidak akan membiarkan Nyonya disakiti oleh siapa pun."
Belinda menyandarkan kepalanya di bahu Vega, menikmati kehangatan pelukannya.
"Aku mencintaimu, Vega," bisiknya pelan. "Terima kasih atas kepedulianmu."
Ucapan itu membuat tubuh Vega menegang.
"Sial," pikirnya, jantungnya berdebar kencang. "Dia justru mempunyai perasaan padaku. Bagaimana ini?"
Ia gelisah di dalam hatinya, tetapi tangannya tetap membelai rambut panjang Belinda dengan lembut. Ia tidak bisa menunjukkan ketakutannya sekarang.
"Semua ini karena Alarga," geramnya dalam hati. "Dia benar-benar merusak rencanaku. Awas saja kau... keluarga kerajaan lancang sekali ikut campur."
Ia menggigit bibirnya, menahan amarah yang membara.
"Aku harus menemukan cara untuk menyingkirkan Alarga sebelum dia merusak segalanya. Dan aku harus melindungi Belinda—dia adalah kunci untuk menghancurkan keluarga Sienta."