Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyusup di Balik Kabut
Rara keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, memakai celana training dan kaus kebesaran milik Bara. Ia berjalan ke ruang tengah dan melihat asisten kaku itu sedang menatap serius layar monitor CCTV.
"Demamnya udah turun?" tanya Rara sambil menarik kursi bar.
"Jauh lebih baik," jawab Bara tanpa menoleh. "Bos sedang mencoba tidur lagi."
Rara diam sebentar, memperhatikan pria berjas kusut itu. "Bar, gue boleh nanya?"
"Silakan, Nona."
"Kenapa lo mau repot-repot belain dia sampai mau mati? Arka itu mafia, musuhnya banyak. Kenapa lo nggak kabur aja nyelamatin diri lo sendiri?"
Gerakan tangan Bara terhenti. Ia menoleh, menatap Rara dengan sorot datar. "Dunia ini tidak hanya hitam dan putih, Nona. Sepuluh tahun lalu, saat saya mau mati di jalanan, Bos Arka yang mengulurkan tangan. Kesetiaan saya bukan untuk profesinya, tapi karena dia memanusiakan saya saat orang lain menganggap saya sampah."
Rara bungkam. Mulutnya sedikit terbuka, tapi tak ada kata yang keluar.
"Saya harus mengecek genset di belakang," potong Bara, mematikan layar monitornya. "Nona tetap di sini. Jangan buka pintu apa pun."
Sepeninggal Bara, Rara kembali ke kamar utama. Baru saja ia membuka pintu, matanya melotot melihat Arka sedang memaksakan diri bangun untuk mengambil gelas air di nakas. Wajah bos mafia itu meringis menahan sakit.
"Eh, batu banget sih dibilangin!" omel Rara panik, buru-buru menyodorkan gelas itu. "Luka lo baru dijahit, jangan banyak gerak dulu!"
"Bara mana?" suara Arka serak parah.
"Lagi cek genset di belakang."
Arka meneguk air itu, lalu matanya turun menatap kaus gombrong yang dipakai gadis itu. "Baju Bara kebesaran di kau."
Rara memutar bola matanya. "Ya terus gue harus pakai apa? Kebaya wisuda?! Harusnya lo bersyukur gue udah mandi dan nggak bau darah lagi."
Arka nyaris mendengus pelan mendengar omelan itu. "Cerewet."
Namun, belum sempat Rara membalas—
TIIIT! TIIIT! TIIIT!
Alarm melengking memekakkan telinga. Lampu kamar berkedip merah menyala.
BRAAAK!
Suara hantaman keras mengguncang vila, disusul pecahan kaca yang berhamburan di ruang depan. Seseorang baru saja mendobrak hancur pintu utama.
Jantung Rara serasa mau copot. "Arka! S-suara apa itu?!"
Mata Arka langsung berubah setajam elang. Mengabaikan ngilu perutnya, ia memaksa meraih pistol di atas nakas. Tapi tenaganya belum pulih. Tangannya gemetar parah sampai logam hitam itu nyaris merosot dari genggamannya.
"Bara!" teriak Arka parau.
Tak ada sahutan. Yang terdengar justru derap langkah sepatu bot berat yang menyisir lorong dengan cepat. Brak! Brak! Pintu-pintu ruangan lain ditendang terbuka satu per satu.
"Arka... gue takut! Kita harus gimana?!" Dada Rara kembang-kempis, kakinya mundur menjauhi pintu kamar.
Langkah sepatu bot itu makin dekat. Tinggal beberapa meter dari kamar mereka.
Arka menggeser pistol berat itu ke ujung kasur. "Rara, dengar saya."
Rara menggeleng ribut, air matanya mulai menetes saking paniknya. "Nggak! Gue nggak mau pegang itu!"
"Ambil!" bentak Arka tertahan. "Ambil pistolnya, arahkan ke pintu!"
"Gue nggak bisa nembak, Arka! Gue nggak bisa!" Rara menangis sejadi-jadinya.
Suara langkah kaki berhenti tepat di depan kamar mereka. Kenop pintu mulai berputar perlahan. Klik.
"Tarik pelatuknya begitu pintu terbuka," desis Arka mutlak, menatap Rara dengan sorot mata yang menyuruhnya bertahan hidup. "Atau kita berdua mati konyol di sini."
Dengan napas ngos-ngosan dan tangan gemetar hebat, Rara menyambar logam dingin itu. Mengarahkannya lurus ke depan, tepat saat pintu mulai terdorong.
Pintu terayun terbuka dengan kasar. Seorang pria bertubuh besar dengan topeng balaclava dan rompi taktis muncul di ambang pintu. Moncong senapan laras panjangnya langsung terarah ke dalam kamar.
Matanya menemukan Arka di atas kasur. Pria itu menyeringai di balik topengnya. "Ketemu kau, Bangs—"
"Rara, tembak!" raung Arka.
Rara menjerit histeris. Menutup kedua matanya rapat-rapat, ia menarik pelatuk itu sekuat tenaga.
DOR! DOR!
Suara ledakan memekakkan telinga memenuhi ruangan. Tolakan pistol yang sangat kuat membuat Rara terhuyung ke belakang hingga menabrak dinding. Tangannya seketika kebas dan telinganya berdenging hebat.
Tembakannya meleset parah. Peluru itu malah menghancurkan vas bunga dan cermin di sebelah pintu.
Pria bersenjata itu mengumpat kasar. Ia menggeser bidikannya dari Arka, lurus menatap kepala Rara. "Jalang sialan!"
Rara membeku. Otaknya blank.
Namun, sebelum jari si penyusup menyentuh pelatuk, sebuah bayangan hitam menyergap dari lorong belakang. Bara!
Kemeja hitam asisten itu robek dan berlumuran darah di bagian bahu, tapi wajahnya sedingin es. Dengan gerakan kilat, Bara melingkarkan lengan di leher pria itu dari belakang, lalu menancapkan pisau taktis dalam-dalam ke dada si penyusup.
Tubuh besar itu mengejang sesaat sebelum akhirnya ambruk ke lantai kayu dengan suara berdebum keras. Darah segar perlahan menggenang.
Rara melepaskan pistol di tangannya. Logam itu jatuh ke lantai berbarengan dengan tubuh Rara yang merosot lemas. Ia megap-megap mencari udara. Matanya menatap horor pada mayat di depan pintu.
"Bara..." panggil Arka terengah, tangannya meremas seprai menahan sakit di perutnya.
"Mereka bawa lebih dari sepuluh orang, Bos! Naga Hitam membobol jalur belakang," lapor Bara cepat. Ia mencabut senapan dari mayat itu. "Kita harus lewat jalur evakuasi bawah tanah. Sekarang."
"Gue... ada mayat... gue nembak orang..." racau Rara, tubuhnya bergetar parah melihat darah di lantai.
Bara melangkah cepat, mencengkeram kedua bahu Rara dan menariknya berdiri. "Nona! Sadar!" bentaknya keras.
Rara tersentak.
"Nona tembakannya meleset. Saya yang bunuh dia! Sekarang bukan waktunya panik! Kalau Nona diam di sini, kita semua mati!" Bara menunjuk Arka. "Bantu Bos jalan. Buruan!"
Bentakan itu menampar kewarasan Rara. Insting bertahan hidupnya kembali mengambil alih. Sambil menggigit bibir menahan tangis, ia bergegas mendekati kasur.
Arka sudah berusaha turun dengan susah payah. Keringat dingin kembali membanjiri pelipis pria itu. Begitu Rara melingkarkan lengan besar Arka ke bahunya, ia bisa merasakan seberapa berat dan lemahnya bos mafia itu.
"Jalan," desis Arka merintih pelan.
"Kita keluar lewat pintu rahasia di balik lemari itu," instruksi Bara sambil mengokang senapannya. "Saya buka jalan. Nona, jangan pernah lepaskan Bos."
Di luar sana, rentetan peluru mulai membombardir kaca jendela vila. Suara pecahan kaca langsung bercampur dengan makian kasar anak buah Naga Hitam yang mengepung dari segala arah.
Rara mengeratkan pegangannya di pinggang Arka. Tidak ada lagi waktu untuk bertanya kenapa. Pagi ini, di balik kabut tebal dan hujan peluru, pelariannya bersama sang mafia kembali dipertaruhkan.