4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.
Dia hampir mati karenanya.
4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.
"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."
Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.
Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
Rahasia 4 Tahun Lalu
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Darren tidak menjawab.
Naomi berdiri di depannya dengan Rainbow masih dalam pelukan. Bekas luka di lengan kiri Darren sudah tertutup kain kemeja, tetapi gambarnya tertinggal jelas di mata Naomi. Garis panjang itu terlalu rapi untuk kecelakaan kecil, terlalu dalam untuk luka yang bisa ditertawakan.
"Darren," panggil Naomi pelan. "Dari mana?"
Darren menatapnya lama. Wajahnya kehilangan warna, tetapi suaranya tetap lembut ketika akhirnya bicara.
"Bukan pagi ini," katanya.
Naomi mengerutkan kening.
"Aku akan menjawab," lanjut Darren cepat, seolah takut ia salah paham. "Tapi hari ini, ada hal lain yang harus kamu dengar dulu."
Bel pintu berbunyi.
Rainbow menggonggong kecil. Darren menutup mata sebentar, lalu berjalan ke ruang tamu. Ketika pintu terbuka, Kevin Halim berdiri di luar dengan map hitam di tangan dan wajah yang tampak lebih tua daripada kemarin.
Di belakangnya, Billy membawa laptop dan satu kotak dokumen.
Naomi menurunkan Rainbow ke lantai. Tubuhnya langsung tegang.
Darren melihat itu. "Kalau kamu tidak sanggup, kita hentikan."
"Tidak." Naomi menggenggam ujung bajunya sendiri. "Aku sudah menunggu terlalu lama."
Mereka duduk di ruang tamu. Jendela besar memperlihatkan Kota Megah yang terang oleh matahari pagi, tetapi di antara mereka, udara terasa seperti malam hujan empat tahun lalu.
Kevin meletakkan map hitam di meja.
"Sebelum aku mulai," katanya, "aku ingin mengatakan ini di depan kalian berdua. Empat tahun lalu, aku salah. Aku melakukan sesuatu yang kupikir akan melindungi Darren, tapi sebenarnya aku menghancurkan hidup dua orang."
Darren tidak berkata apa-apa. Rahangnya mengeras.
Naomi menatap map itu. "Kenapa Anda memintaku pergi?"
Kevin menarik napas panjang. "Saat itu posisi Darren di Wijaya Group tidak stabil. Raymond sedang menekan dia masuk ke struktur utama, sementara cabang keluarga lain mencari celah untuk menjatuhkannya. Ada rumor bahwa Darren terlalu dekat dengan perempuan biasa dan siap meninggalkan jalur pewaris."
"Perempuan biasa," ulang Naomi pelan.
Kevin menunduk. "Itu cara pandangku saat itu, dan itu salah."
Darren bersuara dingin. "Om tidak pernah memberitahuku."
"Karena aku sombong. Aku pikir aku lebih tahu apa yang terbaik untukmu." Kevin membuka map, mengeluarkan beberapa lembar catatan lama. "Aku menemui Naomi tanpa sepengetahuanmu. Aku bilang kalau dia mencintaimu, dia harus pergi. Aku membuatnya percaya bahwa keberadaannya akan menghancurkan masa depanmu."
Naomi masih ingat amplop cokelat yang Kevin letakkan di meja apartemennya waktu itu. Di dalamnya ada tiket pesawat, uang tunai, dan daftar kota yang menurut Kevin cocok untuk "memulai hidup baru". Semuanya disusun rapi, seolah perpisahan bisa dibuat beradab selama kertasnya cukup mahal.
"Anda juga bilang kalau aku tetap tinggal, Darren akan kehilangan hak warisnya," kata Naomi. Suaranya rendah, tetapi setiap kata membuat Darren makin kaku. "Anda bilang keluarganya tidak akan pernah menerima perempuan tanpa nama besar. Anda bilang suatu hari dia akan membenciku karena aku membuatnya kehilangan segalanya."
Kevin mengangguk pelan. "Aku mengatakannya."
"Aku mengembalikan uang itu."
"Ya." Wajah Kevin makin pucat. "Dan aku tetap merasa benar karena kau akhirnya pergi. Aku tidak tahu kau pergi dengan cara yang hampir merenggut hidupmu."
Setiap kata seperti membuka luka yang Naomi jahit sendiri selama bertahun-tahun.
Ia mengingat wajah Kevin di apartemen lama. Mengingat rasa malu yang membuatnya tidak berani menatap cermin. Mengingat bagaimana ia memegang ponsel sampai baterainya mati karena terus mencoba menghubungi Darren.
"Aku menelepon dia," bisik Naomi.
Darren langsung menoleh.
Naomi menatap Kevin, tetapi suaranya untuk Darren. "Aku meneleponmu berkali-kali malam itu. Mengirim pesan. Aku bilang aku ingin mendengar langsung darimu. Tapi tidak pernah masuk."
Darren tampak seperti baru ditampar. "Aku tidak pernah menerima apa pun."
"Karena ada orang lain yang memastikan itu," kata Kevin.
Billy membuka laptop. Di layar muncul rekaman CCTV lobi sebuah hotel empat tahun lalu. Gambar tidak terlalu jelas, tetapi cukup untuk menunjukkan Vanessa Shen berjalan cepat memasuki lift dengan ponsel hitam di tangannya.
Darren membeku.
"Itu ponselku," katanya.
Kevin mengangguk. "Malam itu kamu menghadiri acara keluarga Shen. Kau meninggalkan ponsel di ruang VIP selama beberapa menit karena Raymond memanggilmu. Vanessa mengambilnya."
Billy mengganti tampilan layar. Muncul data forensik dari perangkat lama yang berhasil dipulihkan oleh tim digital Darren setelah skandal Vanessa. Ada daftar aktivitas: penghapusan kontak, blokir nomor, penghapusan riwayat WhatsApp, perubahan cadangan cloud.
Nama Naomi muncul sebagai kontak yang dihapus.
Naomi menutup mulut.
"Dia menghapus nomormu dari ponsel Darren," kata Kevin. "Menghapus chat kalian. Memblokir nomormu. Lalu dari ponselmu, pesan yang kau kirim terlihat tidak terkirim karena nomormu sudah diblokir dan ia mematikan sinkronisasi beberapa jam."
Darren berdiri begitu cepat sampai meja kecil bergeser. "Kenapa aku baru tahu sekarang?"
Kevin menerima kemarahannya. "Karena aku baru mendapatkan bukti lengkap setelah staf Vanessa ketakutan akibat skandal kemarin. Salah satu orang yang dulu membantunya menyimpan salinan percakapan. Aku juga... dulu tidak mau percaya bahwa masalahnya sejauh ini. Aku memilih percaya Naomi pergi karena kata-kataku."
"Om memilih percaya karena itu lebih mudah," kata Darren.
Kevin tidak membantah. "Ya."
Naomi menatap layar. Di sana ada tangkapan percakapan Vanessa dengan seseorang bernama asisten pribadi. Isinya pendek, dingin, dan membuat perut Naomi mual.
Sudah kuhapus.
Pastikan dia tidak bisa menghubungi Darren.
Kalau dia datang lagi ke apartemen, bilang Darren tidak mau menemuinya.
Billy membuka berkas lain dengan wajah tegang. "Ada juga laporan dari mantan petugas resepsionis apartemen lama Pak Darren. Dia menerima uang dari pihak Vanessa untuk menolak Naomi kalau Naomi datang mencari Pak Darren."
Di bawah laporan itu ada tanda tangan pengakuan, tanggal transaksi, dan rekaman kamera lobi lama yang sudah dipulihkan dari arsip gedung.
Naomi memejamkan mata.
Ia ingat malam itu. Ia memang pernah datang ke gedung Darren, basah oleh hujan, memegang ponsel yang layarnya sudah mati. Resepsionis mengatakan Darren sedang tidak mau diganggu. Satu kalimat pendek, diucapkan tanpa menatap matanya, tetapi cukup untuk mendorong Naomi keluar ke jalan yang gelap.
Darren menatap layar, lalu pada Naomi. "Kamu datang ke tempatku?"
Naomi membuka mata. "Aku tidak pernah semudah itu menyerah."
Kalimat itu menghantam Darren lebih keras daripada kemarahan.
Naomi merasa telinganya berdengung.
Jadi ia bukan hanya ditinggalkan. Ia dibuat percaya bahwa dirinya ditinggalkan.
Selama empat tahun, ia menyalahkan Darren. Selama empat tahun, Darren mungkin juga mencari jawaban di tempat yang salah.
"Aku datang ke apartemenmu," ucap Darren tiba-tiba. Suaranya serak. "Dua hari setelah itu. Apartemenmu kosong. Tetangga bilang kamu pindah malam-malam."
Naomi menatapnya.
"Aku pikir kamu tidak mau ditemukan," lanjut Darren. "Aku menyewa orang, mencari ke teman kampusmu, ke tempat kerja lama, ke semua alamat yang pernah kamu tulis. Tidak ada. Semua orang bilang kamu pergi."
Naomi mencengkeram ujung sofa. "Aku tidak tahu."
"Aku juga tidak tahu." Darren tertawa kecil tanpa suara, hancur. "Kita berdua tidak tahu."
Kevin menutup mata. "Aku penyebab awalnya. Vanessa memastikan kalian tidak bisa memperbaikinya."
Keheningan turun berat.
Naomi tidak menangis. Air matanya seperti tertahan di tempat yang terlalu dalam. Ia merasa marah, tetapi marah itu tidak punya satu bentuk. Marah pada Kevin. Pada Vanessa. Pada Darren karena tidak menemukannya lebih cepat. Pada dirinya sendiri karena pernah percaya bahwa hidupnya tidak cukup berharga untuk dipertahankan.
Darren berlutut di depan sofa, tepat di hadapannya.
"Nao," katanya. "Lihat aku."
Naomi mengangkat mata.
"Aku tidak pernah membuangmu."
Kalimat itu datang terlambat empat tahun, tetapi tetap menghantamnya.
Bibir Naomi bergetar. "Aku menunggumu malam itu."
"Aku tahu."
"Aku menunggu sampai aku tidak kuat lagi."
Wajah Darren berubah.
Kevin membuka mata, tampak ragu. "Darren..."
"Apa?" Suara Darren hampir tidak keluar.
Naomi ingin menahan kalimat itu. Ia belum siap melihat reaksi Darren. Namun kebenaran yang sudah dibuka tidak bisa ditutup setengah.
"Malam setelah Om Kevin datang," kata Naomi, suaranya tipis, "aku pergi ke jembatan."
Darren tidak bergerak.
Billy, yang sejak tadi berdiri di belakang laptop, langsung menunduk. Kevin memejamkan mata seperti seseorang yang menerima hukuman.
"Aku tidak jernih waktu itu," lanjut Naomi cepat, karena ia tidak ingin Darren mendengar bagian itu sebagai sesuatu yang indah atau romantis. "Aku terlalu lelah, terlalu malu, terlalu sendirian. Itu keputusan paling buruk yang pernah kubuat. Orang-orang menyelamatkanku. Aku dirawat. Setelah itu aku belajar hidup lagi."
Darren masih tidak bergerak.
Naomi mengulurkan tangan, tetapi berhenti di udara. "Darren?"
Mata Darren menatapnya, tetapi seperti tidak melihat ruang di sekitar mereka. Wajahnya kosong. Bukan marah. Bukan sedih biasa.
Seperti seluruh langit di atas kepalanya runtuh tanpa suara.
"Kamu..." Bibirnya bergerak susah payah. "Kamu hampir mati?"
Naomi tidak mampu menjawab dengan kata-kata.
Darren menunduk, kedua tangannya gemetar di lutut Naomi, tetapi ia tidak menyentuhnya. Napasnya terdengar patah.
Di meja, bukti-bukti Vanessa masih menyala di layar laptop.
Di lantai, Rainbow berhenti bergerak, seolah ikut merasakan sesuatu yang pecah.
Darren akhirnya mengangkat wajah. Matanya merah, basah, dan penuh rasa bersalah yang begitu dalam sampai Naomi sulit bernapas.
"Aku tidak tahu," bisiknya.
Lalu dunia di wajah Darren benar-benar hancur.