NovelToon NovelToon
Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.

Kesimpulan Yu: dia pasti model.

Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.

Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.

"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5: Hanya Dia

Masalah pertama, laki-laki yang paling tidak boleh Yu sentuh itu tinggal kurang dari lima meter dari kamarnya.

Masalah kedua, tubuh Yu sepertinya tidak peduli pada kata "tidak boleh".

Malam setelah jari mereka bersentuhan di ruang tengah, Yu mengurung diri di kamar hampir satu jam. Ia duduk di lantai, punggung menempel ke pintu, sambil menatap telapak tangannya seperti benda asing. Di luar, Zhen mengetuk sekali.

"Yu?"

"Aku nggak apa-apa."

"Orang yang nggak apa-apa biasanya membuka pintu."

"Aku mau tidur."

Hening sebentar.

"Airnya diminum."

Langkahnya menjauh.

Yu menekan wajah ke lutut. Ia tidak tahu mana yang lebih mengganggu, fakta bahwa Zhen memperhatikan kondisinya, atau fakta bahwa tubuhnya langsung merasa lebih aman hanya karena tahu Zhen masih berada di luar.

Pagi berikutnya, ia mengirim pesan kepada Ko Darren.

Ko, jangan ke Jakarta dulu. Aku sudah lebih baik. Alamat aku kirim, tapi Ko janji jangan muncul tiba-tiba.

Balasan Darren datang lima detik kemudian.

Ko tidak janji.

Yu menatap pesan itu sambil menghela napas panjang. Minimal, kakaknya belum benar-benar membeli tiket. Ia punya waktu untuk memahami kegilaan tubuhnya sendiri sebelum harus menjelaskan kepada Darren bahwa seorang laki-laki asing di apartemennya bisa melakukan fungsi yang selama ini hanya dimiliki keluarga.

Maka, Yu memutuskan untuk mengetes.

Tes pertama adalah Lily.

Lily datang ke Fasilkom UI siang itu dengan wajah siap perang. Begitu melihat Yu di dekat kantin, ia langsung menariknya ke sudut yang lebih sepi dan memeluknya erat.

"Lo gila ya? Putus, pindah, terus cuma bilang 'aku aman'? Aman kepala lo."

Yu membiarkan dirinya dipeluk. Lily wangi body mist peach dan kopi susu. Pelukan itu hangat, familiar, dan membuat hati Yu sedikit lebih ringan.

Tapi kulitnya tetap berisik.

Rasa geli halus di bawah lengan tidak pergi. Napasnya tidak turun seperti semalam. Tubuhnya menerima Lily sebagai sahabat, bukan sebagai tombol mati untuk alarm di dalam dirinya.

Lily melepas pelukan, lalu memegang kedua bahu Yu. "Kevin gue kutuk tujuh turunan."

"Jangan. Nanti capek sendiri."

"Gue masih punya tenaga."

Yu tersenyum kecil. "Lil, boleh pinjam tangan?"

Lily mengerutkan kening. "Buat apa?"

"Tes."

"Tes apa? Kehamilan?"

"Lily."

"Oke, oke." Lily mengulurkan tangan.

Yu menggenggamnya.

Tidak ada apa-apa.

Hangat, iya. Menenangkan secara emosional, sedikit. Tapi tidak ada listrik kecil, tidak ada dunia yang mendadak diam, tidak ada kulit yang patuh dalam satu detik.

Lily menatap tangan mereka. "Yu, lo mulai serem."

Yu melepaskannya cepat. "Maaf."

"Nggak, maksud gue, kalau ini ritual putus cinta, gue perlu tahu biar bisa siap-siap."

"Bukan ritual."

"Terus?"

Yu membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Bagaimana menjelaskan sesuatu yang bahkan terdengar bodoh di kepalanya sendiri? Halo, Lil, sepertinya tubuhku cuma bisa tenang kalau disentuh roommate laki-laki yang mungkin model malam dan punya aturan kulkas.

"Nanti aku cerita," kata Yu akhirnya.

Lily menyipit. "Kalimat itu biasanya artinya masalahnya besar."

"Nggak besar."

"Yu."

"Sedang."

"Lebih jujur dikit."

"Aneh."

Lily menghela napas. "Ya sudah. Tapi ingat, kalau cowok mana pun bikin lo takut, gue datang. Gue nggak peduli dia tinggi, kaya, ganteng, atau model."

Yu hampir tersedak.

"Model?"

"Kenapa? Ada model?"

"Nggak."

Lily menatapnya dengan curiga, tapi dosen mereka keburu lewat di koridor dan percakapan itu terputus.

Tes kedua terjadi tanpa rencana.

Di depan lift gedung fakultas, seorang mahasiswa menabrak bahu Yu karena sibuk melihat ponsel. Sentuhan itu cepat, tapi tubuh Yu langsung bereaksi. Perutnya mual. Kulit bahunya seperti terkena air kotor. Ia mundur dua langkah, menahan keinginan menggosok bahu terlalu keras.

"Maaf, Kak," kata mahasiswa itu.

"Nggak apa-apa."

Padahal apa-apanya banyak.

Tes ketiga lebih formal.

Sore itu ada seminar singkat yang dibawakan Prof. Lim. Yu mengenal beliau sebagai dosen yang terkenal tajam di Fasilkom UI, perempuan dengan kacamata tipis dan suara yang bisa membuat satu ruangan berhenti mengetik. Setelah acara, beberapa mahasiswa menyalami beliau.

Yu ikut antre.

"Chua Yulin, kan?" tanya Prof. Lim ketika giliran Yu tiba.

Yu terkejut. "Iya, Bu."

"Nilai tugas algoritmamu bagus. Tapi komentarmu terlalu panjang. Kode bukan novel."

Wajah Yu panas. "Baik, Bu."

Prof. Lim mengulurkan tangan.

Yu menjabatnya.

Tangan Prof. Lim dingin, kering, tegas. Tidak membuatnya takut seperti sentuhan asing sembarangan, karena situasinya jelas dan sopan. Tapi tetap saja, tubuh Yu tidak diam.

Tidak ada efek.

Yu melepaskan tangan itu dengan sopan, keluar dari ruang seminar, dan duduk di tangga darurat hampir sepuluh menit.

Kesimpulannya mulai terbentuk dengan cara yang sangat tidak ingin ia terima.

Lily tidak bisa.

Orang asing jelas tidak bisa.

Prof. Lim tidak bisa.

Ko Darren bisa, tapi Ko Darren di Surabaya.

Zhen bisa.

Hanya Zhen.

Malam itu, Yu pulang dengan kepala penuh rencana buruk.

Di unit, Zhen sedang duduk di meja makan dengan laptop terbuka. Burger tidur di bawah kursinya. Lampu ruang tengah menyala hangat, memantul di permukaan meja yang bersih tanpa satu remah pun.

Yu berhenti di pintu.

Zhen mengangkat mata. "Kenapa berdiri di situ?"

"Nggak."

"Kalau nggak, masuk."

Yu masuk, melepas sepatu, mencuci tangan, lalu pura-pura mengambil air di dapur. Ia memperhatikan posisi Zhen. Siku kanan di meja. Tangan kiri dekat laptop. Jarak dari dapur ke meja makan sekitar dua langkah. Secara teori, ia bisa lewat sambil tidak sengaja menyentuh punggung tangannya.

Secara praktik, Zhen punya radar kebersihan yang menyebalkan.

Begitu Yu mendekat dengan gelas, Zhen menggeser laptop setengah meter menjauh.

"Jangan dekat air."

"Aku belum tumpah."

"Mencegah lebih baik."

Yu menggertakkan gigi.

Percobaan pertama gagal.

Percobaan kedua, ia pura-pura mengambil tisu di meja. Zhen lebih dulu mendorong kotak tisu ke arahnya memakai ujung bolpoin.

"Ambil."

"Kamu nggak bisa pakai tangan?"

"Bisa."

"Terus kenapa pakai bolpoin?"

"Efisien."

Yu tersenyum tipis. Efisien katanya. Lebih mirip anti-manusia.

Percobaan ketiga, Burger menjadi sekutu tidak resmi. Anjing itu bangun, menghampiri Yu, lalu menggoyangkan ekor di dekat kaki Zhen. Yu berjongkok untuk mengusap Burger, berharap Zhen juga akan menunduk dan tangan mereka bertemu.

Zhen memang menunduk.

Tapi hanya untuk berkata, "Burger, jangan ganggu orang aneh."

"Aku bukan orang aneh."

"Kamu dari tadi mengitari meja seperti mau mencuri charger."

Yu membeku.

Zhen menutup laptop sedikit. Matanya menatap Yu lurus-lurus. "Kamu butuh sesuatu?"

Iya.

Butuh menyentuh tanganmu selama satu detik agar tubuhku berhenti berisik.

Kalimat itu tentu saja tidak mungkin dikatakan.

"Aku cari charger," jawab Yu.

"Charger-mu di kamar. Kamu bawa tadi pagi."

Kenapa dia ingat?

Yu berdiri cepat. "Oh. Iya."

Ia masuk kamar dengan rasa malu yang naik sampai telinga.

Di balik pintu, Yu bersandar sambil menutup mata. Ini tidak bisa begini. Kalau setiap kali kambuh ia harus mengitari meja makan seperti pencuri amatir, Zhen akan curiga sebelum minggu ini selesai. Dan kalau Zhen curiga, ia akan bertanya. Kalau ia bertanya, Yu harus menjelaskan. Kalau ia menjelaskan, mungkin Zhen akan menganggapnya gila.

Atau lebih buruk, kasihan.

Yu paling tidak tahan dikasihani.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Lily masuk.

Jangan lupa makan. Dan kalau ada model, foto.

Yu menatap pesan itu, lalu perlahan menoleh ke arah dinding yang memisahkan kamarnya dengan ruang tengah.

Model.

Rp 10.000.000.

Jasa.

Sebuah ide muncul, buruk, memalukan, tapi mungkin masuk akal dalam dunia yang sudah telanjur tidak masuk akal.

Kalau Zhen memang bekerja dengan sistem jadwal dan bayaran, mungkin Yu juga bisa membuat "jadwal" sendiri.

Bukan untuk hal aneh.

Hanya untuk sentuhan.

Satu metode yang rapi. Aman. Tidak terlalu sering. Tidak ketahuan sebagai kebutuhan memalukan. Dan yang paling penting, tidak membuat Zhen sadar bahwa tubuh Yu telah memilihnya tanpa izin.

Yu membuka notes di ponsel dan menulis satu kalimat.

Cara menyentuh Zhen tanpa terlihat ingin menyentuh Zhen.

Ia menatap kalimat itu lama.

Lalu, dengan wajah panas, ia menambahkan nomor satu.

Pura-pura butuh bantuan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!