Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 030
Hujan turun lima belas menit sebelum observasi dimulai.
Bukan hujan besar. Hanya gerimis tipis yang membuat lantai kampus licin, lampu jalan tampak berkabut, dan suara kendaraan di area parkir motor terdengar lebih dekat daripada biasanya. Bagi panitia, itu mungkin disebut kondisi nyata. Bagi Meiran, itu disebut panggung yang diberi efek tambahan.
Ia datang dengan jaket tipis, map plastik, dan ponsel yang baterainya penuh.
Hafeng sudah menunggu di depan halte kampus.
Tentu saja.
Ia membawa payung hitam, senter kecil, dan map tahan air. Begitu melihat Meiran, pandangannya turun ke sepatu yang ia pakai.
"Solnya licin?"
"Kamu mau memeriksa sepatuku juga?"
"Kalau perlu."
"Tidak perlu."
Hafeng membuka payung, tetapi tidak langsung menaungkannya ke atas kepala Meiran. Ia hanya memegangnya di antara mereka, memberi ruang jika Meiran ingin masuk.
Meiran melihat gerakan itu.
Lebih baik.
Ia melangkah ke bawah payung tanpa komentar.
Wanyu datang beberapa menit kemudian bersama dua peserta lain. Ia mengenakan jas hujan transparan yang terlihat rapi bahkan di tengah gerimis. Di tangannya ada clipboard dan ponsel.
"Maaf menunggu. Kita mulai dari halte, lalu koridor kantin belakang, area parkir motor, dan plaza pintu samping," katanya. "Setiap orang mencatat pola pergerakan pengguna. Jangan terlalu banyak berkumpul, nanti mengganggu observasi."
Hafeng langsung berkata, "Kita tetap dalam jarak pandang."
Wanyu tersenyum. "Ko Hafeng, ini observasi kampus, bukan ekspedisi."
"Kampus juga punya titik gelap."
"Karena itu kita catat."
Meiran membuka map plastiknya. "Mulai saja. Kalau ada titik gelap, aku ingin datanya sebelum lampu benar-benar mati."
Di halte, arus orang datang bergelombang. Mahasiswa berlari kecil menutupi kepala dengan tote bag, staf kampus menunggu ojek online, dan beberapa pengemudi motor berhenti terlalu dekat dengan jalur pejalan kaki. Meiran mencatat posisi orang berdiri, arah pandang, dan tempat mereka mencari perlindungan dari hujan.
Hafeng tidak banyak bicara. Ia berdiri sedikit di belakang dan kiri Meiran, cukup dekat untuk melihat catatannya, cukup jauh untuk tidak menghalangi.
Wanyu beberapa kali mengarahkan kamera ponselnya ke Meiran.
"Dokumentasi?" tanya Meiran tanpa menoleh.
"Untuk laporan panitia."
"Pastikan wajah pengguna tidak terlihat jelas."
Senyum Wanyu menipis. "Tentu."
Saat mereka bergerak menuju koridor kantin belakang, cahaya memang mulai berkurang. Lampu panjang di langit-langit berkedip dua kali. Bau minyak goreng, tanah basah, dan asap motor bercampur di udara. Lantai semen dekat saluran air mengilap tertutup gerimis yang terbawa angin.
Hafeng menyalakan senter kecil.
Wanyu menoleh. "Ko Hafeng, kalau kamu menerangi terlalu banyak, perilaku pengguna bisa berubah."
"Kalau orang jatuh, datamu tidak berguna."
"Tidak ada yang akan jatuh."
Kalimat itu baru selesai ketika seorang petugas kantin mendorong troli kosong dari pintu samping. Roda kecilnya tersangkut di celah lantai, menimbulkan bunyi keras. Dua mahasiswa yang lewat spontan menepi, salah satunya hampir menabrak Meiran.
Hafeng bergerak cepat.
Ia tidak menarik tangan Meiran seperti di showroom. Kali ini, ia menempatkan tubuhnya di samping Meiran dan menahan bahu mahasiswa itu dengan telapak terbuka.
"Pelan," katanya.
Mahasiswa itu buru-buru meminta maaf.
Meiran mundur setengah langkah, tetapi tumitnya menyentuh genangan dangkal. Sebelum ia benar-benar kehilangan keseimbangan, lengan Hafeng sudah berada di belakang punggungnya, tidak memeluk, hanya menyangga cukup lama sampai ia berdiri stabil.
Gerimis menetes dari ujung payung ke pergelangan tangannya.
"Aku baik," kata Meiran.
"Aku tahu."
"Kalau tahu, kenapa wajahmu seperti mau memarahi lantai?"
"Karena lantainya salah."
Meiran hampir tertawa.
Wanyu menghampiri mereka dengan kamera masih menyala. "Meiran, kamu tidak apa-apa? Aku tadi bilang jangan terlalu berkumpul. Kalau kamu berdiri terlalu dekat dengan jalur, memang berisiko."
Hafeng menoleh pelan.
Udara di koridor terasa turun beberapa derajat.
"Kamu yang memilih rute ini," katanya.
"Rute ini untuk observasi. Peserta tetap harus bertanggung jawab dengan posisinya."
Meiran mengangkat ponselnya. "Benar. Karena itu aku merekam rute sejak halte."
Wanyu membeku.
Meiran memutar layar. Di video itu terlihat Wanyu meminta mereka menyebar di jalur sempit, lalu berjalan lebih dulu tanpa memberi tanda saat troli keluar dari pintu kantin.
"Dokumentasi," kata Meiran ringan. "Untuk laporan panitia."
Dua peserta lain saling pandang.
Wanyu menurunkan kameranya. "Aku tidak bermaksud begitu."
"Aku juga belum menuduhmu bermaksud apa-apa."
Hafeng berkata, "Mulai sekarang, semua orang berjalan di sisi dinding. Tidak ada yang berdiri di jalur troli atau kendaraan."
Wanyu mencoba tersenyum. "Ko Hafeng, kamu terlalu melindungi Meiran."
Hening.
Gerimis memukul kanopi seng di ujung koridor.
Hafeng menatap Wanyu. "Ya."
Satu kata.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada alasan teknis.
Meiran menoleh ke arahnya.
Hafeng tidak melihat Meiran. Ia tetap menatap Wanyu, wajahnya dingin, bahunya sedikit maju seolah menjadi pagar.
**【Sistem Predator】Respons target: pengakuan protektif publik. Resistensi alasan menurun signifikan.**
Nilai Cinta: 25.
Meiran merasakan jari-jarinya mengencang di map plastik.
Dua puluh lima.
Sebelum ia sempat mengolah angka itu, suara motor dari area parkir menarik perhatian mereka. Seorang pengendara melewati genangan terlalu cepat. Air kotor menyembur ke sisi jalur.
Hafeng bergerak lagi, mengangkat sisi payung dan memiringkan tubuhnya. Percikan air mengenai lengan bajunya, bukan map Meiran.
"Hafeng," kata Meiran, lebih pelan dari yang ia rencanakan.
"Catat," jawabnya. "Genangan di dekat parkir. Drainase buruk."
Masih saja data.
Masih saja alasan.
Tetapi kali ini, alasan itu tidak lagi cukup menutupi apa pun.
Meiran mengambil tisu dari tas kecilnya dan menyodorkannya pada Hafeng. "Lengan bajumu kena air kotor."
Hafeng melihat noda di kain putihnya, lalu menerima tisu itu. "Tidak penting."
"Penting kalau kamu masuk laporan sebagai peserta paling berantakan."
"Lebih baik daripada kamu kehilangan catatan."
Jawaban itu keluar terlalu alami.
Meiran menutup tasnya lebih pelan. Ia tidak membalas, karena kalau ia membalas sekarang, suaranya mungkin tidak setenang yang ia inginkan.
Observasi berlanjut sampai plaza pintu samping. Wanyu tidak lagi memerintah terlalu banyak. Dua peserta lain memilih berjalan dekat Hafeng karena jelas area itu lebih aman di dekat orang yang sudah memetakan risiko dengan wajah marah.
Setelah sesi selesai, Meiran menyerahkan catatan rutenya ke panitia cadangan dan meminta salinan video CCTV koridor untuk evaluasi keamanan. Permintaan itu ia ucapkan di depan semua orang, cukup sopan untuk tidak disebut serangan, cukup jelas untuk membuat Wanyu tidak bisa menghapus kejadian tadi dari laporan.
Wanyu menerima salinan catatan dengan tangan kaku.
Ketika peserta bubar, ia berdiri di bawah kanopi, membuka ponselnya.
Di layar, video yang ia rekam memperlihatkan Hafeng menahan Meiran di bawah payung, tubuhnya miring melindungi dari percikan air. Jika dipotong dari awal kejadian, gambar itu tampak seperti Hafeng mengabaikan observasi demi Meiran.
Wanyu menatap video itu lama.
Di bawah gerimis yang belum berhenti, potongan gambar itu tampak jauh lebih mudah disalahartikan daripada kejadian aslinya.