Felicia Winarko bukan gadis biasa.
Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.
Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.
Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.
Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.
Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.
"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."
Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13 - Rasa Pertama
Jayden Hartono berdiri di ambang pintu.
Matanya turun ke cold pack di tangan Felicia, lalu ke jarak antara Felicia dan Nathan yang terlalu dekat untuk disebut rapat biasa. Setelah itu, pandangannya berhenti pada pin Ketua OSIS di dada Nathan yang masih sedikit miring karena baru disentuh Felicia.
Senyum Jayden naik pelan.
"Gue ganggu?"
Nathan langsung mundur setengah langkah. Wajahnya tetap tenang, tetapi telinganya memerah.
"Kamu mencari kunci mobil," katanya.
"Tadinya." Jayden bersandar di kusen pintu. "Sekarang gue nemu hal lebih menarik."
Felicia memutar kursi sedikit ke arahnya. "Kalau masuk, tutup pintu."
Jayden tertawa. "Santai, Sayang. Gue cuma ambil kunci."
Panggilan itu membuat jari Nathan yang berada di meja berhenti.
Sis langsung mencatat. "Panggilan unik Jayden aktif."
"Aku dengar."
Jayden berjalan masuk seolah ruangan itu miliknya, mengambil kunci mobil dari rak kecil dekat kamera, lalu menatap Nathan dengan senyum kurang ajar. "Nat, ruang media OSIS ternyata multifungsi juga."
"Jayden."
"Iya, iya. Prosedur, arsip, footage, semua suci." Jayden mengangkat kedua tangan. "Gue nggak lihat apa-apa."
"Kamu jelas melihat."
"Makanya gue bilang nggak lihat. Itu sopan santun versi gue."
Felicia hampir tertawa.
Nathan tidak.
Ia terlalu sibuk mengembalikan wajahnya ke bentuk sempurna, dan justru itu membuat kekacauannya lebih terlihat. Anak ini bisa menghadapi rapat donor, aturan sekolah, dan rekaman manipulasi tanpa berkedip. Tetapi satu panggilan "Sayang" dari Jayden membuat napasnya berubah.
Menarik.
Jayden memutar kunci di jari. Sebelum keluar, ia menunduk sedikit ke arah Felicia. "Besok gue tagih balapan ulang."
"Kalau kamu siap kalah."
"Makin galak, makin seru." Ia menyeringai, lalu melirik Nathan. "Jangan kerja terlalu malam, Ketua."
Pintu tertutup.
Keheningan yang tertinggal tidak sama seperti sebelumnya.
Nathan berdiri di dekat meja, punggungnya tegak, jari-jarinya merapikan pin yang sebenarnya tidak perlu dirapikan lagi. Gerakan itu terlalu rapi, terlalu lambat, seperti ia butuh sesuatu untuk dilakukan agar tidak melihat Felicia.
"Maaf," katanya.
"Untuk apa?"
"Jayden salah paham."
"Dia tidak salah."
Jari Nathan berhenti.
Felicia berdiri dari kursi. Cold pack ia letakkan di meja. Dingin di punggung tangannya sudah cukup; bagian yang lebih menarik sekarang ada di depan.
"Kamu sedang melindungi prosedur?" tanyanya.
Nathan memejamkan mata sebentar. "Aku tahu jawaban itu buruk."
"Bagus. Berarti kamu bisa belajar."
"Feli..."
Namanya keluar lebih pelan daripada sebelumnya. Bukan panggilan formal. Bukan panggilan OSIS. Lebih mirip sesuatu yang nyaris lolos sebelum sempat ditahan.
Felicia berjalan mendekat.
Nathan tidak mundur.
Bagus.
"Kamu merasa bersalah karena ingin menyentuhku?" tanya Felicia.
Napas Nathan tersangkut.
Ia membuka mulut, menutupnya lagi, lalu berkata dengan suara lebih rendah, "Aku merasa bersalah karena tidak tahu apakah aku berhak menginginkannya."
Kalimat itu jujur.
Terlalu jujur untuk orang yang sejak awal memakai sopan santun seperti baju zirah.
Nathan menunduk sebentar, lalu memaksa dirinya menatap Felicia lagi. "Dan aku tidak tahu apa yang kamu inginkan dariku."
"Menurutmu?"
"Awalnya kupikir kamu hanya ingin melewati sekolah ini tanpa diinjak orang lain." Suaranya tetap rapi, tetapi kata-katanya keluar lebih lambat. "Lalu kamu membuat Calvin berhenti tersenyum, membuat Jayden mengejarmu, membuat Sebastian lupa rasa sakitnya, dan sekarang..."
Ia tidak menyelesaikan kalimat.
"Sekarang?" tanya Felicia.
Nathan menarik napas. "Sekarang aku duduk di ruangan tertutup denganmu dan tidak bisa berpura-pura bahwa ini hanya soal rekaman OSIS."
Felicia memperhatikannya.
Ini bukan pengakuan cinta. Terlalu cepat untuk itu. Ini lebih menarik: pria yang terbiasa mengukur dunia dengan aturan akhirnya menyadari ada keinginan yang tidak bisa ia masukkan ke formulir apa pun.
"Kamu takut jadi salah satu dari mereka?" tanya Felicia.
Mata Nathan bergerak.
Tepat sasaran.
"Aku tidak punya hak untuk bertanya seperti itu," katanya.
"Tapi kamu tetap ingin tahu."
Diam.
Felicia mendekat satu langkah lagi. "Aku tidak akan memberi jawaban palsu hanya supaya kamu nyaman."
"Aku tidak meminta itu."
"Bagus." Felicia mengangkat dagu sedikit. "Aku menginginkanmu. Untuk alasan apa dan sampai mana, kita lihat nanti."
Napas yang Nathan ambil kali ini terdengar jelas.
"Itu jawaban yang kejam," katanya.
"Itu jawaban yang jujur."
Untuk beberapa detik, Nathan terlihat seperti orang yang sedang memilih antara mundur ke tempat aman atau berdiri di garis api.
Ia tetap di tempat.
Felicia mengangkat tangan, tetapi berhenti sebelum menyentuhnya. "Kalau tidak mau, mundur sekarang."
Nathan menatap tangannya.
Satu detik.
Dua detik.
Ia tidak mundur.
Felicia menyentuh kerah kemejanya, menariknya turun sedikit, lalu mencium Nathan.
Ciuman itu tidak lama.
Tidak perlu lama.
Yang penting adalah detik pertama ketika seluruh tubuh Nathan menegang seolah dunia berhenti memberi instruksi. Detik kedua ketika napasnya pecah halus di bibir Felicia. Detik ketiga ketika tangannya terangkat, berhenti di udara, lalu akhirnya menyentuh sisi kursi di belakang Felicia, bukan tubuhnya, seolah bahkan dalam kacau pun ia masih memberi batas.
Felicia melepaskan lebih dulu.
Mata Nathan terbuka pelan.
Emasnya tidak setenang tadi.
"Bernapas," kata Felicia.
Nathan menarik napas, tetapi napas itu gagal menjadi normal.
Sis berbisik histeris. "Ikan. Ikan benar-benar kekurangan oksigen."
Felicia mengabaikannya. "Masih merasa tidak berhak?"
Nathan menatapnya. Ada banyak jawaban yang bisa ia pilih. Jawaban sopan. Jawaban aman. Jawaban yang akan mengembalikan mereka ke meja, komputer, dan rekaman OSIS.
Ia tidak memilih semuanya.
"Aku ingin menciummu lagi," katanya.
Bagus.
Felicia tersenyum.
Kali ini Nathan yang bergerak setengah langkah, tetapi tetap berhenti sebelum menyentuh. Ia meminta izin tanpa mengucapkan kata izin. Matanya bertanya, napasnya menunggu.
Felicia menarik kerahnya sekali lagi.
Ciuman kedua lebih berantakan.
Masih lembut, masih tertahan, tetapi Nathan tidak lagi sepenuhnya menjadi Ketua OSIS. Ia menjadi remaja laki-laki dengan napas patah, tangan gemetar di tepi meja, dan keinginan yang membuatnya tampak hampir takut pada dirinya sendiri.
Felicia menyukai wajahnya seperti itu.
Saat mereka berpisah, layar biru Sis tiba-tiba meledak di samping kepala Felicia.
"TUAN RUMAH!"
Felicia menahan senyum. "Jangan berteriak."
"BINTANG NATHAN SALIM BERGERAK!"
Felicia berhenti bergerak.
Nathan yang tidak bisa melihat layar itu langsung salah paham. "Ada yang salah?"
Suaranya masih tidak stabil. Bibirnya sedikit merah, napasnya belum sepenuhnya kembali, dan ia tampak siap mundur jika Felicia berkata ia menyesal.
Felicia mengangkat jari ke bibirnya sendiri, menahan senyum yang hampir lolos.
"Tidak," katanya. "Justru ada yang benar."
Di layar, empat bintang muncul.
Tiga tetap gelap.
Bintang milik Nathan Salim, yang sejak awal kosong, kini memiliki satu garis cahaya emas tipis di ujungnya. Belum menyala. Bahkan belum pantas disebut terang.
Tetapi ia bergerak.
Nathan Salim: 3%.