NovelToon NovelToon
Mahkota Mawar

Mahkota Mawar

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.

Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.

Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."

Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.

Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.

Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?

Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.

Tapi sudah terlambat.

Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.

Dan dia tidak akan melepaskannya.

🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 002

Bangun Tidur Sudah Punya Suami

Nathanael tidak langsung menjawab.

Louisa menunggu dengan kepala ringan dan dada yang terlalu penuh. Di belakang punggung pria itu, hujan mengetuk kaca lobi semakin rapat. Rangkaian mawar putih melati di tengah ruangan tampak buram, seperti dilihat dari dasar air.

"Nikah sama aku, ya?" ulang Louisa, lebih pelan.

Kali ini, Nathanael bergerak.

Ia melepas jasnya, lalu menyampirkannya di bahu Louisa tanpa menyentuh kulitnya. Gerakannya hati-hati, seolah satu gerakan yang salah bisa membuat perempuan di depannya pecah.

"Louisa," ucapnya rendah, "kamu sedang mabuk."

"Sedikit."

"Cukup banyak."

Louisa menunduk melihat jas hitam di bahunya. Aroma bersih yang samar menempel di kain itu, campuran cedar dan udara malam. Berbeda dari aroma wine yang pahit di napasnya.

"Kalau aku sadar, aku mungkin nggak berani bilang," gumamnya.

Mata Nathanael bergerak sedikit. "Kalau begitu, tunggu sampai kamu sadar."

"Terus kamu pergi?"

"Aku antar kamu pulang."

"Aku nggak mau pulang ke ballroom."

"Bukan ke ballroom." Nathanael mengeluarkan ponselnya, menekan satu kontak, lalu berbicara singkat kepada sopirnya. Setelah itu ia menatap Louisa lagi. "Ke tempat tinggalmu."

Louisa ingin menolak, tapi lantai lobi seperti naik turun. Ia menggenggam pinggir jas Nathanael, bukan karena ingin dekat, melainkan karena tubuhnya mendadak tidak bisa dipercaya.

Nathanael melihat jari-jarinya yang memucat.

"Boleh aku pegang tanganmu? Supaya kamu nggak jatuh."

Pertanyaan itu membuat Louisa mengangkat wajah.

Selama sepuluh tahun, ia terlalu sering berada di dekat orang yang mengambil bantuannya tanpa bertanya. Malam ini, ada seseorang yang bahkan meminta izin hanya untuk menahan tangannya.

Matanya panas.

"Boleh," jawabnya hampir tidak terdengar.

Nathanael mengulurkan tangan. Telapak tangannya hangat, kuat, tapi tidak menggenggam lebih erat dari yang diperlukan.

Saat mereka berjalan menuju pintu lobi, ponsel Louisa kembali bergetar.

Kevin: Report sponsor sudah kamu kirim ke Ray?

Louisa berhenti.

Nathanael ikut berhenti, tetapi tidak menoleh ke layar.

Ia membiarkan Louisa melihat pesan itu sampai layar meredup sendiri.

"Aku mau ganti cerita," bisik Louisa.

"Besok pagi," kata Nathanael. "Kalau kamu masih mau mengganti cerita itu, hubungi aku."

"Kalau kamu berubah pikiran?"

Untuk pertama kalinya malam itu, Nathanael tersenyum kecil. Bukan senyum sopan di acara bisnis, tapi senyum yang membuat matanya tidak sedingin tadi.

"Aku tidak mudah berubah pikiran."

***

Louisa bangun dengan kepala seperti dihantam pintu lift.

Cahaya pagi masuk melalui celah tirai apartemen kecilnya di Kuningan. AC masih menyala. Gaun satin warna mawar pucat terlipat sembarangan di kursi. Di atas tubuhnya, ia sudah memakai kaus putih dan celana tidur, entah kapan ia menggantinya. Rambutnya berantakan, tenggorokannya kering, dan rasa wine semalam masih tertinggal pahit di lidah.

Ia menatap langit-langit selama beberapa detik.

Lalu ingatan itu jatuh satu per satu.

Kevin merapikan kalung Yvonne.

Pesan tentang report sponsor.

Mawar putih melati di lobi hotel.

Nathanael Susanto.

Nikah sama aku, ya?

Louisa langsung duduk.

"Aduh..."

Dunia berputar. Ia menutup mulut dengan satu tangan, menahan mual dan rasa malu yang naik bersamaan. Setelah napasnya lebih stabil, ia meraba kasur, mencari ponsel.

Ponselnya tergeletak di nakas, baterai tinggal dua belas persen.

Ada enam belas notifikasi.

Tiga dari Steven.

Dua dari Raymond.

Empat dari grup kantor.

Satu dari Kevin.

Dan satu percakapan WhatsApp baru yang namanya membuat jantung Louisa berhenti sesaat.

Nathanael Susanto.

Tangannya gemetar saat membuka chat itu.

02.13

Louisa: Ini nomorku. Jangan hilang.

02.14

Louisa: Aku serius.

02.14

Louisa: Kalau besok aku malu, kamu jangan pura-pura lupa.

02.17

Nathanael Susanto: Tidur dulu, Louisa. Kita bicara saat kamu sudah sadar.

02.18

Louisa: Aku mau nikah.

02.20

Nathanael Susanto: Aku tahu.

02.20

Nathanael Susanto: Aku akan datang pukul sepuluh, kalau kamu mengizinkan.

Louisa menutup matanya.

Rasanya ia ingin melempar ponsel ke bawah bantal, pindah kota, lalu memulai hidup baru sebagai penjual martabak di tempat yang tidak mengenal jaringan internet.

Pukul berapa sekarang?

Ia membuka mata.

09.36.

"Mati."

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini Steven.

Louisa menarik napas panjang sebelum mengangkatnya.

"Halo?"

"Kamu hidup?" suara Steven langsung masuk tanpa salam.

Louisa memijit pelipis. "Secara teknis, iya."

"Semalam kamu menghilang dari ballroom. Aku cari sampai lobi. Staf hotel bilang kamu pulang sama tamu pria."

"Steve..."

"Tolong bilang pria itu bukan Kevin."

"Bukan."

Steven diam dua detik. "Syukurlah."

Dalam keadaan lain, Louisa mungkin akan tertawa. Sekarang ia hanya jatuh kembali ke bantal.

"Itu Nathanael Susanto," ucapnya pelan.

Di ujung sana, Steven terbatuk. "PT Nusatek Nathanael Susanto?"

"Iya."

"Kenapa kamu pulang sama dia?"

Louisa menggigit bibir. Di layar ponsel, chat dengan Nathanael masih terbuka. Kalimatnya sendiri menatap balik tanpa belas kasihan.

"Karena aku minta dia nikah sama aku."

Sunyi.

Sangat sunyi.

"Steve?"

"Aku sedang memastikan kupingku masih normal."

"Aku mabuk."

"Jelas."

"Aku mau bilang ke dia kalau itu cuma omong kosong."

"Lulu." Suara Steven turun. "Kamu semalam hancur. Aku lihat. Tapi jangan ambil keputusan cuma karena Kevin."

Nama itu membuat Louisa memejamkan mata.

"Justru karena Kevin aku sadar aku harus berhenti."

"Berhenti boleh. Menikah dengan orang yang nyaris nggak kamu kenal itu lain cerita."

"Aku tahu."

"Kamu yakin dia orang baik?"

Louisa teringat jas di bahunya. Pertanyaan sederhana, boleh aku pegang tanganmu? Jarak sopan di lobi. Pesan pukul dua pagi yang tidak memancingnya, tidak menggoda, tidak mengambil keuntungan.

"Aku nggak tahu," jawabnya jujur. "Tapi semalam dia lebih menghormati aku daripada orang yang kukenal sepuluh tahun."

Steven menghela napas panjang.

"Kalau kamu butuh aku datang, bilang."

"Aku akan telepon lagi setelah bicara sama dia."

"Jangan matikan share location."

"Iya, Steve."

Setelah panggilan selesai, Louisa membuka pesan dari Kevin.

Kevin: Kamu pulang duluan? File vendor yang aku minta ada di laptop kamu?

Tidak ada pertanyaan tentang keadaannya.

Louisa menatap pesan itu sampai matanya perih. Lalu ia mengunci layar.

Bel pintu berbunyi tepat pukul sepuluh.

Louisa belum sempat mandi. Ia hanya mencuci muka, mengikat rambut asal-asalan, dan mengganti kausnya dengan kemeja linen putih. Wajahnya masih pucat. Di bawah matanya ada bayangan tipis, bukti bahwa menangis tanpa benar-benar menangis juga bisa membuat seseorang tampak lelah.

Ia membuka pintu.

Nathanael berdiri di koridor apartemen dengan kemeja biru muda dan celana bahan gelap. Di tangannya ada paper bag dari toko roti, satu botol air mineral besar, dan map kulit cokelat.

Louisa menatap map itu lebih lama daripada menatap wajahnya.

"Pagi," ucap Nathanael.

"Pagi."

"Boleh masuk?"

Louisa mundur satu langkah. "Silakan."

Apartemennya tidak besar. Ruang tamu, dapur kecil, satu kamar tidur, satu meja kerja yang penuh cat air dan kertas sketsa. Nathanael meletakkan paper bag dan air mineral di meja, lalu tidak duduk sebelum Louisa menunjuk sofa.

"Kamu sudah makan?" tanyanya.

"Belum."

"Roti tawar dan bubur kacang hijau. Aku tidak tahu kamu biasa sarapan apa. Untuk hangover, setidaknya jangan minum kopi dulu."

Louisa menatap paper bag itu.

Perhatian kecil itu datang terlalu pagi. Ia belum siap menerimanya.

"Pak Nathanael..."

"Nathanael saja."

"Aku minta maaf soal semalam."

Nathanael duduk tegak, kedua tangannya bertaut longgar di depan lutut. "Untuk bagian mana?"

"Semuanya." Louisa menarik napas. "Aku mabuk. Aku bicara aneh. Aku bikin kamu repot. Tolong anggap saja aku tidak pernah mengatakan apa pun."

"Aku tidak bisa."

Louisa menatapnya.

Nada Nathanael tidak keras. Justru karena terlalu tenang, kalimat itu terasa tidak bisa digeser.

"Kenapa?"

"Karena aku mendengarnya."

"Tapi aku mabuk."

"Karena itu aku tidak menjawab semalam." Nathanael menatapnya lurus. "Aku mengantar kamu pulang, memastikan pintumu terkunci, lalu pergi setelah kamu masuk. Aku tidak menganggap keputusan orang mabuk sebagai persetujuan."

Telinga Louisa terasa panas.

"Terima kasih."

"Sekarang kamu sadar."

"Iya."

"Dan aku akan menjawab sekarang." Nathanael berhenti sebentar. "Aku serius."

Ruangan kecil itu mendadak sangat sunyi.

Di luar jendela, suara motor dari jalan bawah terdengar samar. Kulkas berdengung pelan. Louisa bisa mendengar detak jam dinding yang biasanya tidak pernah ia perhatikan.

"Kamu bahkan nggak kenal aku," katanya.

"Aku mengenalmu lebih lama dari yang kamu ingat."

Kalimat itu membuat Louisa menegang.

Nathanael seolah menyadari ia sudah membuka terlalu banyak pintu. Tatapannya turun sesaat, lalu kembali tenang.

"Maksudku, kita pernah satu sekolah. Dan aku tahu cukup banyak untuk tidak menganggapmu orang asing."

"Itu tetap bukan alasan untuk menikah."

"Benar."

"Lalu kenapa?"

Nathanael memandangnya lama. Tidak seperti Kevin yang sering menatap layar sambil bicara, Nathanael menatap seolah setiap kata Louisa harus diterima utuh sebelum ia menjawab.

"Karena kamu meminta jalan keluar. Dan aku bisa memberimu jalan yang legal, jelas, dan tidak akan merugikanmu."

Louisa hampir tertawa. "Pernikahan sebagai jalan keluar?"

"Perjanjian pranikah bisa melindungi hartamu. Status menikah denganku bisa membuat Kevin berhenti menganggap kamu selalu tersedia. Kalau satu tahun kemudian kamu ingin bercerai, kita bisa mengurusnya lewat Pengadilan Negeri secara baik-baik."

Satu tahun.

Kata itu anehnya membuat napas Louisa lebih teratur. Ada batas. Ada pintu keluar. Ada aturan.

Ia menatap map kulit cokelat di meja.

"Itu apa?"

Nathanael membuka map tersebut.

Di dalamnya ada dua lembar formulir kosong dari Kantor Catatan Sipil, daftar dokumen yang dibutuhkan, salinan contoh perjanjian pranikah, dan dua bolpoin hitam yang diletakkan sejajar.

Louisa menahan napas.

Di bagian atas formulir, tercetak jelas kolom permohonan pencatatan perkawinan dan draft akta nikah.

"Aku tidak akan memaksamu menandatangani apa pun hari ini," ucap Nathanael.

Louisa mengangkat wajah.

Nathanael mendorong dua lembar formulir kosong itu sedikit ke arahnya.

"Tapi kalau kamu masih ingin menikah," katanya pelan, "kita mulai dari sini."

1
Rara Salsa
bagus bangettt ceritanya ngena bangetttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!