***
Bagi Raka, Naya adalah candunya ...
Berbeda dengan Naya yang menganggap Raka sebagai masa lalu yang menyakitkan..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Paginya Naya masih merasa pusing untuk bangun karena semalam Ia hanya tidur 3 jam saja, berharap Raka akan menghubunginya namun nyatanya tak kunjung menghubungi Naya yang sudah menunggu.
"Mbak, kalau masih sakit nggak usah berangkat kerja aja." kata Anna melihat Naya tengah bersiap untuk berangkat kerja.
"Kalau bolos terus nanti bisa bisa resto aku bangkrut An." kata Naya sambil terkekeh.
"Ya nggak apa apa mbak, kan sekarang udah punya mas Raka." goda Anna yang hanya membuat Naya tersenyum miris mengingat bahkan semalam saja Raka tak mengabarinya.
"Mbak, kok malah ngalamun." tanya Anna.
"Enggak kok, nggak ngalamun." balas Naya.
Kini Naya sudah selesai bersiap hendak keluar kamar namun dirinya dikejutkan oleh Nathan yang ada didepan pintu.
"Lho, kamu kok disini?" tanya Naya melihat Nathan sudah berpakaian rapi.
"Iya Nona, Tuan Raka menyuruh saya menemani kemanapun Nona pergi." kata Nathan.
"Astaga, tidak perlu seperti itu, aku bahkan baik baik saja." kata Naya.
"Maafkan saya Nona, ini perintah dan saya tidak bisa mengabaikannya." kata Nathan.
"Baiklah, lebih baik kita berangkat sekarang." kata Naya mendahului Nathan.
Nathan mengedipkan matanya pada Anna yang ada dibelakang Naya, membuat Anna tersenyum geli.
Kini Naya dan Nathan sudah berada didalam mobil,
"Apakah Nona ingin mampir kesuatu tempat sebelum pergi keresto?" tanya Nathan pada Anna.
"Ya aku ingin beli bubur kacang hijau, kau mau kan berhenti sebentar?" tanya Naya.
"Tentu saja Nona, Wah Nona sedang ngidam ya?" tanya Nathan menggoda.
"Aku tidak tau ngidam itu seperti apa, memang setiap pagi aku selalu makan bubur kacang ijo." jelas Naya yang membuat Nathan berohh ria.
"Maafkan Saya Nona." kata Nathan merasa tak enak.
"Tidak apa apa, dan bolehkah aku minta tolong padamu satu hal?" tanya Naya.
"Tentu Nona apapun itu."
"Berhentilah memanggilku Nona, panggil saja Naya." pinta Naya.
"Maafkan saya Nona, sepertinya saya tidak bisa melakukannya." kata Nathan.
"Ini perintah Nathan, kau bilang tak bisa mengabaikan perintah!" tanya Naya.
"Baiklah No- eh baiklah Naya, tapi saya hanya bisa memanggil ini disaat tidak ada Tuan Raka saja." jelas Nathan.
"Hmm kenapa begitu?" tanya Naya.
"Pasti Tuan Raka akan marah pada saya." kata Nathan.
"Ya sudah, asal saat tak ada Raka jangan memanggilku Nona lagi." kata Naya.
"Baiklah," Nathan terdengar pasrah.
Mendengar nama Raka membuat Naya penasaran untuk menanyakan keadaannya.
"Bagaimana keadaan Raka? apa dia sudah menghubungimu?" tanya Naya pada Nathan.
"Semalam Tuan Raka sudah menghubungi saya, dan mengatakan jika akan kembali seminggu lagi." kata Nathan.
Jadi Raka sudah menghubungi Nathan? bagaimana bisa Ia tak menghubungiku sama sekali? apa aku ini tidak penting? batin Naya mendadak kesal sendiri.
"Kita sudah berhenti didepan penjual bubur kacang ijo, apa perlu saya yang turun dan membelikann?" tanya Nathan.
"Tidak perlu, mendadak aku tidak lapar, kita langsung ke restoran saja!" kata Naya dengan nada kesal membuat Nathan binggung.
"Tapi didep-"
"Aku bilang tidak jadi beli, apa kau tidak dengar?" kata Naya dengan nada galak membuat Nathan terkejut hingga akhirnya Ia memutar balik mobilnya menuju resto Naya.
"Ya ampun, apa orang hamil gitu ya suka galak tiba tiba.'' batin Nathan yang melirik kearah kaca dan terlihat wajah Naya yang begitu kesal entah apa sebabnya.
..
Sampai diruanganya pun Naya masih sangat kesal, namun semua itu mendadak hilang kala Ia mendengar ponselnya berdering dan menampilkan nama Raka disana.
Sebenarnya Naya masih kesal tak ingin menjawab panggilannya namun karean Raka tak menyerah dan menghubungi nya berkali kali akhirnya Naya pun mengangkat panggilannya.
"Ya, ada apa?" tanya Naya ketus.
"Aku rindu.." kata Raka membuat Naya mendegus sebal karena Raka bilang rindu tapi tak menghubunginya sejak semalam.
"Bagaiamana keadaanmu sayang? apa kau baik baik saja? kata dokter kau sakit apa?" tanya Raka membuat Naya berpikir harus memberi alasan apa.
"Ya, aku hanya masuk angin biasa." kata Naya.
"Benarkah? padahal aku sangat berharap kau hamil, sayang sekali." kata Raka terdengar kecewa.
"Apa kau senang jika aku hamil?" tanya Naya.
"Tentu saja aku sangat senang, kau tau aku sudah menantikan ini sejak lama." kata Raka.
"Benarkah kau senang?" tanya Naya sekali lagi.
"Iya sayang, jadi apa kau hamil?" tanya Raka.
"Tidak, eh belum." kata Naya gugup membuat Raka terkekeh.
"Aku akan bersabar menantikan kehamilanmu sayang." kata Raka.
"Hmm, bagaimana dengan kondisi putrimu?" tanya Naya.
"Ah dia sudah baik baik saja." jawab Raka.
"Syukurlah."
"Mungkin aku akan pulang minggu depan." kata Raka
"Aku akan menunggumu." kata Naya.
"Ya sudah aku matikan dulu, ada yang harus ku urus, jaga dirimu baik baik sayang, love you." kata Raka sebelum mematikan teleponnya.
"Iya, love you too." dan panggilan terputus.
Raka kembali minggu depan? bukankah minggu depan hari ulangtahun nya? jadi haruskah aku memberitahukan kehamilanku agar jadi kado spesial untuknya? batin Naya tersenyum senang.
Sementara itu Raka menutup panggilan dan kembali ke ruang sidang perceraiannya. Raka memang ingin mempercepat proses perceraiannya agar saat Ia kembali ke jojga sudah bisa menikahi Naya apalagi mendengar Naya hamil, rasanya ingin segera meminang Naya.
Tanpa Raka sadari ada yang ikut mendengarkan percakapannya ditelepon yang membuat orang itu mengepalkan tangannya dan akan membalas semua perbuatan Raka.
....
Raka keluar dari ruang persidangan dan melihat Clara mengikuti dibelakangnya.
"Apa kau puas sekarang?" tanya Clara.
"Tentu saja, semua sudah selesai dan aku harap kita tidak saling menganggu satu sama lain." kata Raka.
"Baiklah Raka, tapi ingatlah satu hal aku tak akan membiarkanmu bahagia, kau harus merasakan apa yang kurasakan saat ini." kata Clara.
"Jangan berani macam macam jika kau masih ingin hidup dengan tenang." kata Raka mengancam.
"Kau tau bahkan sekarang rasanya aku ingin mati saja." kata Clara.
"Lebih baik kau mati dari pada hidup hanya untuk menghancurkan hidup orang lain!" kata Raka.
"Sialan kau Raka, kau yang sudah menghancurkan hidupku!" kata Clara marah.
"Kau sendiri yang menghancurkan hidupku, kenapa menyalahkan ku?" remeh Raka.
"Bukankah kau juga yang sudah menghancurkan hubunganku dengan Naya? kau ingat?" tanya Raka yang membuat Clara gugup.
"Tak perlu gugup seperti itu sayang, aku sudah tau segala kebusukanmu dan aku juga hanya membiarkan mu pergi, jadi pergilah selagi aku masih baiik, pergi sejauh mungkin karena jika sampai kau kembali melakukan apa yang kau lakukan dulu, sudah kupastikan hidupmu pasti akan berakhir." kata Raka sebelum pergi meninggalkan Clara.
Kita tunggu saja batin Clara tersenyum menyerigai.