Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Plak!
Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan mewah bergaya Eropa klasik itu.
Pemimpin preman yang semalam menyerang Arka kini tersungkur di lantai dengan wajah babak belur.
"Kalian berenam dikalahkan oleh satu orang koki kurus dalam waktu kurang dari lima detik?" Suara bariton Hendra Kusuma terdengar sangat menggelegar dan penuh amarah.
"Ampun Bos Hendra, anak itu bukan manusia biasa." Preman itu memohon ampun sambil memegangi pipinya yang memar.
"Pukulannya sekeras besi dan gerobaknya punya semacam sihir pelindung yang memantulkan serangan kami." Tambah preman itu dengan suara bergetar ketakutan.
"Sihir pelindung kepalamu itu, kau saja yang tidak becus bekerja!" Kevin ikut menendang perut preman itu dengan sangat kesal.
Bugh!
"Sudah cukup, bawa sampah ini keluar dari ruanganku sekarang juga." Hendra memberikan isyarat kepada dua pengawal pribadinya.
Setelah preman itu diseret keluar, suasana ruangan kembali menjadi hening dan mencekam.
"Ayah, kita tidak bisa membiarkan si miskin Arka itu terus meremehkan keluarga Kusuma." Kevin merengek memohon bantuan ayahnya.
"Tenanglah Kevin, menggunakan kekerasan fisik di dalam Grand Malika City memang bukan keputusan yang bijak." Hendra duduk kembali di kursi kulitnya sambil mengisap cerutu mahal.
"Clara Malika pasti sudah memperketat keamanan di sana setelah kejadian kemarin."
"Lalu apa kita harus diam saja melihat dia semakin kaya dari berjualan sop buntut itu?" Kevin mengepalkan tangannya di atas meja karena tidak terima.
"Tentu saja tidak, dalam dunia bisnis, cara paling kejam untuk membunuh musuh adalah dengan memutus napas keuangannya." Hendra menyeringai licik menunjukkan taring bisnisnya.
"Aku akan menyuntikkan dana sepuluh miliar rupiah hari ini juga untuk operasi penghancuran."
"Kita akan buka sepuluh cabang restoran cepat saji yang menjual sop buntut di radius satu kilometer dari mal itu secara serentak." Jelas Hendra membeberkan rencana raksasanya.
"Sepuluh restoran sekaligus? Tapi resep koki kita tidak seenak buatan Arka, Ayah." Kevin terlihat sedikit ragu dengan rencana tersebut.
"Rasa itu urusan nomor dua Kevin, yang paling penting adalah harga murah dan promosi besar-besaran." Jawab Hendra dengan penuh keyakinan layaknya mafia bisnis.
"Kita akan jual sop buntut dengan harga sangat miring, diskon tujuh puluh persen selama sebulan penuh tanpa henti."
"Masyarakat kota ini sangat gila diskon, mereka pasti akan lebih memilih makan murah di tempat kita daripada harus antre panjang di mal." Hendra tertawa keras membayangkan kemenangan mudahnya.
Sementara itu, satu minggu kemudian berlalu dengan sangat cepat bagaikan hembusan angin di Dapur Arka Absolute.
Kring kring kring.
Suara mesin kasir pintar yang dioperasikan Nisa tidak pernah berhenti berbunyi dari pagi hingga malam hari.
"Mas Arka, pesanan meja nomor dua belas sudah siap belum?" Nisa bertanya sambil menyerahkan struk kertas yang sangat panjang.
"Sudah siap, ini tolong tambahkan ekstra taburan bawang goreng seperti permintaannya tadi." Arka menyodorkan nampan berisi tiga mangkuk sop buntut yang masih mengepulkan asap panas.
Trak trak trak.
Pisau Arka bergerak memotong daging buntut rebus dengan kecepatan yang sudah tidak bisa diikuti oleh mata telanjang pelanggan biasa.
"Mas, hari ini kita memecahkan rekor lagi, omset harian kita menembus angka dua puluh juta rupiah!" Nisa bersorak pelan agar tidak mengganggu pengunjung lain yang sedang makan.
"Kerja bagus Nisa, sebentar lagi target besarku bulan ini akan segera tercapai." Arka tersenyum lebar sambil terus mengayunkan wajan bajanya.
Tiba-tiba layar biru transparan muncul sekilas di sudut pandangan Arka.
[Kemajuan Misi Ketiga: Rp. 480.000.000,- / Rp. 500.000.000,-]
Hanya kurang dua puluh juta rupiah lagi dan misi mustahil dengan omset setengah miliar itu akan terselesaikan dengan sempurna.
Namun tiba-tiba, antrean yang biasanya sangat panjang mulai terlihat sedikit menyusut saat jam makan siang puncak tiba.
Beberapa pekerja kantoran yang biasanya datang rutin hari ini tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.
"Mas Arka, kok tumben jam segini antreannya agak sepi dari biasanya ya?" Nisa melihat ke arah eskalator lantai tiga dengan wajah bingung.
"Iya benar, biasanya jam dua belas pas begini semua meja di pujasera sudah terisi penuh sesak." Arka juga menyadari keanehan arus pengunjung tersebut.
Tidak lama kemudian, Laras dan Bima datang dengan napas terengah-engah menghampiri konter Arka.
"Mas Arka, gawat Mas, ada berita buruk di luar sana!" Laras berbicara dengan nada panik sambil memegangi dadanya.
"Ada apa Kak Laras? Kenapa kalian lari-larian sampai berkeringat begitu?" Nisa buru-buru mengambilkan dua gelas air putih dingin.
"Itu Mas, di jalanan luar mal tiba-tiba ada sepuluh restoran baru yang buka barengan hari ini." Bima menjelaskan sambil mengatur napasnya yang putus-putus.
"Namanya restoran Sop Buntut Kusuma Jaya, posisi cabang mereka benar-benar mengepung mal ini dari segala arah."
"Mereka membagikan brosur diskon gila-gilaan, seporsi sop buntut cuma dihargai sepuluh ribu rupiah sudah lengkap pakai nasi dan teh manis." Tambah Laras sambil meletakkan selembar brosur berwarna merah di atas meja etalase.
Arka mengambil brosur mengkilap itu dan membacanya dengan tatapan mata yang sangat tenang tanpa ekspresi.
"Keluarga Kusuma rupanya sudah mulai bermain kotor menggunakan kekuatan uang besar mereka." Arka tersenyum miring tanpa terlihat panik sedikit pun.
"Mas Arka tidak khawatir sama sekali? Banyak orang kantor yang akhirnya belok makan ke sana karena tergiur harga yang sangat murah." Bima bertanya dengan heran melihat reaksi Arka yang santai.
"Untuk apa aku khawatir? Harga murah memang bisa menarik banyak lalat untuk datang." Jawab Arka dengan penuh percaya diri.
"Tapi kualitas rasa yang akan menentukan apakah lalat itu mau menetap selamanya atau langsung pergi muntah." Arka meletakkan brosur itu ke dalam tempat sampah di bawah konter.
"Lidah pelanggan yang sudah terbiasa dengan Sop Buntut Rempah Magisku tidak akan pernah bisa ditipu dengan kuah kaldu instan murahan."
Tap tap tap.
Suara langkah sepatu hak tinggi terdengar melangkah pasti mendekat ke arah kios Arka.
Clara datang mengenakan gaun kerja berwarna merah marun yang sangat elegan didampingi dua asisten pribadinya di belakang.
"Sepertinya kau sedang mendapat serangan monopoli pasar massal dari musuh lamamu Arka." Clara menyapa dengan senyum tipis yang penuh pesona.
"Selamat siang Nona Clara, ya begitulah, Tuan Hendra Kusuma rupanya sedang kelebihan banyak uang tunai." Arka membalas sapaan itu dengan nada bergurau.
"Aku suka ketenangan mentalmu Arka, kau sama sekali tidak terlihat takut bangkrut menghadapi modal raksasa mereka." Clara mengangguk puas melihat mental baja rekan bisnisnya itu.
"Aku ke sini bukan untuk membahas restoran murahan itu, tapi untuk memberikan sesuatu yang resmi padamu."
Clara memberi isyarat pada asistennya untuk maju menyerahkan sebuah kotak kayu berwarna hitam pekat yang terlihat sangat mewah dan berat.
"Apa isi kotak ini Nona Clara?" Arka menerima kotak itu dengan rasa penasaran yang besar.
"Buka saja dan lihat sendiri apa isinya." Clara menyilangkan tangannya di dada dengan gaya anggun.
Krek.
Arka membuka engsel kotak kayu antik itu perlahan hingga isinya terlihat jelas.
Di dalamnya terdapat sebuah celemek koki berwarna hitam pekat berbahan kain anti panas premium yang dijahit dengan sangat teliti.
Di bagian dada kiri celemek tersebut, terukir logo Dapur Arka Absolute berdampingan dengan logo mahkota Grand Malika City menggunakan benang emas asli.
Selain celemek mewah itu, terdapat juga sebuah kartu logam tebal berwarna hitam pekat yang memancarkan aura eksklusif.
"Itu adalah seragam kemitraan resmimu dan sebuah Kartu Akses VIP Hitam dari Grup Malika." Jelas Clara dengan nada bangga memamerkan hadiahnya.
"Dengan kartu hitam itu, kau resmi terdaftar sebagai mitra strategis tingkat atas di semua properti dan rantai pasokan bahan baku milik keluargaku."
"Wah, ini hadiah yang terlalu mewah Nona Clara, aku jadi merasa sangat sungkan menerimanya." Arka mengusap kain celemek itu dengan penuh kekaguman.
"Kau sangat pantas mendapatkannya Arka, masakanmu telah menaikkan jumlah pengunjung mal ini hingga dua ratus persen dalam seminggu terakhir." Balas Clara memberikan pujian yang jujur.
"Terima kasih banyak Nona Clara, aku berjanji akan menggunakan seragam ini dengan penuh kebanggaan mulai besok pagi."
"Pastikan saja kau tidak kalah saing dari diskon murahan keluarga Kusuma itu." Clara menepuk bahu Arka pelan sebelum berbalik pergi bersama asistennya.
Menjelang malam hari, prediksi Arka tentang lidah pelanggan ternyata benar-benar terbukti keakuratannya.
Para pelanggan yang siang tadi sempat mencoba restoran Sop Buntut Kusuma Jaya kini kembali berbondong-bondong datang ke area pujasera lantai tiga.
Mereka datang dengan wajah menyesal dan mulut yang terus menggerutu kesal di sepanjang antrean.
"Mas Arka, maafkan aku sempat selingkuh makan di luar sana tadi siang." Ucap seorang bapak-bapak dengan wajah memelas saat memesan.
"Sop buntut diskonan di luar sana rasanya hambar seperti air cucian panci, dagingnya juga alot seperti karet ban mobil!" Keluh bapak itu dengan penuh emosi.
"Benar Mas, perutku sampai mual karena kuahnya kebanyakan penguat rasa kimia, aku butuh sop buntut buatanmu untuk menetralkan lidahku ini." Sahut ibu-ibu di belakangnya menyetujui.
Arka dan Nisa saling pandang lalu tertawa lepas melihat kepulangan massal para pelanggan setia mereka.
"Tenang saja Bapak dan Ibu sekalian, Dapur Arka Absolute selalu siap melayani lidah kalian dengan kualitas terbaik." Arka langsung menyalakan kompor gasnya dengan semangat baru.
Wushhh!
Aroma kaldu sapi dan rempah magis kembali meledak memenuhi udara malam pujasera seolah menyambut pulang para pelanggannya.
Mesin kasir kembali berbunyi tanpa henti mengejar ketertinggalan omset siang tadi yang sempat menurun.
Setiap mangkuk yang terjual membawa Arka semakin dekat ke ambang pintu penyelesaian misinya.
Tepat pada pukul sembilan malam, saat mangkuk terakhir berisi kuah kaldu berhasil terjual, keajaiban yang ditunggu-tunggu pun datang.
[Ding!]
[Total Omset Bersih Mencapai: Rp. 505.000.000,-]
[Selamat! Misi Utama Ketiga Berhasil Diselesaikan Sebelum Batas Waktu!]
Layar biru transparan di depan Arka memancarkan cahaya kembang api virtual yang sangat meriah menandakan kemenangan besarnya.
[Menyalurkan hadiah misi tingkat tinggi ke dalam sistem... Proses selesai.]
[Host mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp. 200.000.000,-]
[Host mendapatkan Hak Pembukaan Cabang Restoran Permanen di Dunia Nyata.]
[Host mendapatkan Resep Minuman Dewa: Es Teh Bunga Surga.]
Mata Arka membulat sempurna membaca deretan hadiah yang sangat melimpah ruah dan tidak masuk akal itu.
Ponselnya bergetar panjang menandakan masuknya uang dua ratus juta rupiah murni ke dalam rekening banknya.
Informasi tentang resep teh baru juga langsung mengalir membasuh ingatannya dengan sensasi dingin yang sangat menyegarkan.
Namun yang paling membuat jantung Arka berdebar kencang adalah hadiah hak pembukaan cabang restoran permanen.
Itu artinya ia tidak lagi dibatasi hanya berjualan menggunakan gerobak di dalam area pujasera milik orang lain.
Ia kini memiliki izin sistem untuk menyewa ruko atau bangunan mandiri dan mengubahnya menjadi restoran sungguhan dengan fasilitas lengkap.
"Nisa, besok kita akan tutup kios ini lebih awal dari biasanya." Ucap Arka dengan suara yang bergetar karena sangat bahagia.
"Loh, kenapa Mas Bos? Apa kita mau liburan karena target bulanan sudah tercapai?" Nisa bertanya sambil menghitung uang di laci kasir.
"Bukan liburan Nisa, besok kita akan pergi mencari bangunan kosong pinggir jalan yang paling besar di kota ini." Arka menatap mata asistennya dengan kobaran api ambisi.
"Sudah saatnya Dapur Arka Absolute keluar dari mal ini dan berdiri sendiri menghancurkan restoran bintang lima milik Kevin itu."