Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih, SUV mewah yang ditumpangi Nial dan Queen akhirnya melambat dan berhenti dengan mulus di area parkir privat penthouse megah milik Nial.
Begitu mesin mobil mati, Queen—yang sedari tadi sudah menahan malu setengah mati, tidak membuang waktu lagi.
Tanpa menunggu dibukakan pintu, ia langsung mendorong pintu SUV, turun dengan langkah menghentak kesal, dan berjalan cepat memimpin di depan menuju lobi lift.
Nial menghela napas pendek, menatap punggung wanitanya yang bergerak menjauh dengan langkah gusar. Sambil menggelengkan kepala geli, sang CEO melangkah turun dari mobil, berjalan santai mengikuti Queen dari belakang.
Sementara itu, Rayden turun paling akhir, menghela napas pasrah seraya membawa beberapa dua tas milik bosnya dengan dedikasi seorang asisten yang teraniaya secara mental sepanjang malam.
Ting.
Pintu lift privat terbuka langsung di dalam ruang tamu penthouse yang luas dan hangat. Queen melangkah masuk, melepas mantel wol tebal Milik Nial dengan gerakan cepat, lalu berbalik tepat saat Nial baru saja melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Kejadian di mobil tadi ... itu yang terakhir kali, Nial," cetus Queen dengan nada final yang tidak ingin dibantah.
Nial yang sedang melonggarkan jam tangan di pergelangan tangannya, mendongak. Sepasang mata elangnya menatap Queen dengan binar tenang, seolah sudah memprediksi kalimat itu akan keluar.
Pria itu menaruh jam tangannya di atas meja, lalu menyahut dengan wajah tanpa dosa yang teramat lempeng.
"Kejadian yang mana, Sweetheart? Kita melakukan banyak hal di sana."
Wajah Queen yang tadinya sudah mulai normal, seketika kembali memanas dengan rona merah yang menjalar ekstrem hingga ke leher dan telinga. Ia melirik panik ke arah Rayden yang baru saja keluar dari lift privat, namun rasa kesalnya sudah di ujung kepala.
Dengan suara yang sengaja ditahan agar tidak berteriak, namun terdengar putus-putus karena saking malu dan emosinya, Queen mendesis, "Yang ... yang aku ... di atas! Aku akui aku yang memulai, tapi itu yang terakhir."
Nial langsung menghentikan gerakannya. Satu sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah seringai tipis yang luar biasa menyebalkan sekaligus seksi. Ia sengaja menatap Queen dari atas ke bawah dengan pandangan menggoda yang begitu pekat.
"Oh, bagian yang itu," sahut Nial santai, mengangguk-angguk seolah baru saja mendapatkan pencerahan besar. "Ya, baiklah. Kita tidak akan melakukannya ... setidaknya dalam beberapa hari ke depan."
Langkah Queen yang hendak berbalik menuju kamar seketika terhenti. Ia memutar tubuhnya kembali, lalu tertawa kesal—sebuah tawa sarkas yang tak habis pikir dengan jalan pikiran pria di depannya.
"Bukan cuma dalam waktu dekat. Tapi tidak akan ada lagi!" tegas Queen "Lagipula kita bukan suami istri. Tidak ada keharusan kita harus melakukannya."
Tanpa jeda sekian detik, dengan ekspresi wajah yang kembali datar seolah sedang membicarakan agenda rapat bisnis biasa, Nial langsung berkata dengan cepat, "Kalau begitu ayo menikah."
Suasana di ruang tamu penthouse itu seketika hening.
Bukannya terpesona, tersipu, atau merasa tersanjung seperti wanita di novel-novel romantis saat dilamar oleh seorang miliarder, Queen justru mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia memasang wajah tak percaya yang sangat kentara, menatap Nial dari ujung rambut hingga ujung kaki seolah pria itu baru saja kehilangan seluruh kewarasannya akibat badai salju.
"Kau yakin dengan ucapanmu?" tanya Queen datar, penuh nada sangsi.
"A—apa? Hey—!"
Sebelum Nial sempat menjawab, Queen sudah berbalik dengan cepat, menghentakkan kakinya dan berjalan lebar-lebar menuju kamar utama, lalu membanting pintunya rapat - rapat.
Brak!
Nial terpaku di tempatnya berdiri. Ia mengerapkan matanya, menatap pintu kamar yang tertutup rapat dengan ekspresi tak percaya yang luar biasa langka di wajah tampannya.
"Apa aku baru saja ditolak?" gumam Nial.
"Bukan ditolak, Tuan. Lebih tepatnya Nona Queen tidak yakin karena yang bicara adalah Anda," sela Rayden tanpa dosa, memotong keheningan dengan kejujuran yang brutal.
Nial perlahan memutar kepalanya, memberikan tatapan tajam kepada asistennya. "Apa maksudmu?"
Rayden tersenyum. "Anda ingin mendengar jawaban jujur dari seorang Asisten atau sahabat yang sudah mengenal Anda dari dulu?"
Nial mendengus. "Yang mana saja terserah."
"Baiklah, kalau begitu aku akan bicara dari sudut pandang seorang sahabat." Rayden membetulkan letak pegangan tas di tangannya dengan santai, "Maksudku. Wajar saja jika Queen menganggap lamaranmu tadi hanya bualan. Bagaimanapun juga, di seantero kota New York, kau dikenal sebagai pria yang paling angkuh, arogan, dan anti-komitmen. Jadi saat kau tiba - tiba mengajak menikah tanpa persiapan, Queen pasti berpikir kau hanya sedang mencari cara agar bisa kembali menyentuhnya."
Nial menyipitkan mata. "Sekarang, aku akan bicara dari sudut pandang seorang atasan."
Pria itu melangkah mendekati Rayden, menatap asisten sekaligus sahabatnya itu dengan mata yang menyipit berbahaya.
"Kau tahu, Rayden? Kurasa potongan gaji sepuluh persen tadi memang terlalu sedikit untuk mulut lancangmu itu," geram Nial rendah, suaranya sedingin es di luar sana.
"Hahahaa!" Tawa Rayden pecah. Namun, ia langsung menghentikan tawa dan melangkah mundur saat melihat tatapan tajam Nial. "Aku hanya menyampaikan analisis objektif, Tuan. Kalau begitu, aku permisi menaruh barang-barang ini di meja sana."
Nial mendengus ketat, membiarkan Rayden melangkah pergi meninggalkannya sendirian di ruang tamu. Pria itu mengacak rambutnya kasar dengan satu tangan, lalu menoleh kembali ke arah pintu kamar Queen yang masih tertutup rapat.
"Angkuh dan arogan? Bajingan menyebalkan itu suka sekali mencari - cari keburukan orang." Nial berjalan menuju kamarnya sambil berdecik kesal. Ia merutuki ucapan Rayden yang sialnya ada benarnya juga.
•••
Di dalam kamar utama penthouse yang bernuansa modern minimalis, Queen duduk di tepi ranjang berukuran king size. Ia baru saja selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan gaun tidur berbahan satin yang lembut.
Kepalanya bersandar pada tumpukan bantal, mencoba menenangkan debar jantungnya yang masih belum sepenuhnya stabil setelah rentetan drama di luar tadi.
Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel yang ia letakkan di atas nakas bergetar. Queen menoleh, meraih benda pipih itu, dan mendapati nama Axel tertera di layarnya.
Queen menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponselnya ke telinga.
"Ya, Axel?"
"Kau di mana?" suara berat Axel terdengar dari seberang sambungan, langsung pada intinya tanpa basa - basi.
"Di penthouse Nial. Kami baru saja sampai setelah terjebak badai salju di jalan," jawab Queen, mencoba membuat suaranya terdengar sebiasa mungkin.
Hening sejenak di seberang sana, sebelum Axel mengembuskan napas pendek. "Aku hanya ingin mengingatkanmu, Queen. Besok adalah hari terakhirmu bersama Nial. Sesuai kesepakatan kita di awal, setelah dua hari kau harus sudah kembali."
Mendengar itu, Queen menarik sudut bibirnya, mencoba membentuk seulas senyuman tipis. "Iya, Axel, aku tahu. Kau tidak perlu cemas, aku tahu batasanku."
Namun, begitu kalimat itu lolos dari bibirnya, Queen tiba-tiba memejamkan matanya erat - erat.
Tahu batasan katanya?
Queen meremas sprei kasur dengan tangan yang bebas. Logikanya menertawakan ucapan itu dengan kejam. Nyatanya, ia tidak hanya sekadar mendekati target, ia sudah melangkah terlalu jauh. Kejadian gila di atas kursi kemudi mobil Nial beberapa jam lalu adalah bukti nyata bahwa ia sudah sepenuhnya melewati batas dengan Nial Percy.
"Baguslah kalau kau ingat," sahut Axel, sama sekali tidak menyadari gejolak batin yang tengah menyiksa adiknya di seberang telepon. Namun, nada suara Axel tiba-tiba berubah, merendah menjadi lebih serius dan dingin. "Satu hal lagi ... Daddy ada di rumah saat ini. Beliau baru saja tiba dari New York."
Deg.
Mendengar nama pria itu disebut, Queen mendadak merasa atmosfer hangat di dalam kamar penthouse ini menguap begitu saja, digantikan oleh rasa sesak yang luar biasa di dadanya.
Sudah satu tahun berlalu sejak rahasia kelam itu terbongkar. Fakta menyakitkan bahwa Queen bukanlah anak yang lahir dari rahim Helena—ibu Axel, melainkan anak hasil perselingkuhan Louis, sang Daddy, sukses menghancurkan hidupnya dan membuatnya harus pergi mengikuti Axel untuk tinggal di Paris.
Dan besok ... akan menjadi momen pertama kalinya Queen kembali berhadapan dengan Louis setelah satu tahun perpisahan mereka.
"Queen? Kau masih di sana?" panggil Axel memastikan.
Queen menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun pasir. "Dia ... Daddy datang? Maksudku, ada urusan apa dia datang ke Paris?" tanya Queen parau, suaranya bergetar tipis.
"Entahlah, tapi yang pasti dia ingin bertemu denganmu," jawab Axel, serius.
Queen memejamkan matanya kembali. Bayangan wajah tegas, dingin, dan berwibawa milik Louis langsung berputar di kepalanya. Seorang ayah yang satu tahun lalu ia tinggalkan dengan sejuta rasa kecewa dan terluka.
"Jadi, pastikan besok kau menyelesaikan semuanya dengan Nial tanpa ada satupun drama yang tersisa, dan langsung kembali ke rumah." lanjut Axel memperingatkan. "Jangan membuat Daddy curiga kalau kau terlibat dengan seseorang seperti Nial Percy."
Queen menggigit bibir bawahnya erat - erat. Kepalanya mendadak terasa pening.
"Aku mengerti," sahut Queen, "Aku akan pulang besok."
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰