Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 13
BEDEBAH LICIK
“Ada apa?”
Myra menggeleng pelan. “Aku pikir kau pergi.” ucapnya penuh waspada ketika pria itu melangkah maju.
Namun tak sampai maju. Silas hanya berdiri tepat dihadapan Myra, menatapnya lekat seolah-olah dia belum puas memperhatikan nya. Tapi Silas tak peduli bagaimana Myra merasa risih dan gelagapan sendiri saat terus ditatap seperti itu.
“Apa yang ingin kau tanyakan?”
Ucapan Silas membuat Myra menoleh menatap balik. Bukankah itu seperti lampu hijau yang memberinya kesempatan ingin tahu.
“Siapa kedua anak itu? Kau sudah pernah menikah?”
Silas menyeringai kecil dan mulai beralih ke arah sofa singel lalu duduk di sana sembari menatap ke arah istrinya yang masih berdiri.
“Bagimana menurutmu?”
“Em.. mereka anakmu. Gadis imut itu memanggil mu “Ayah”.” kata Myra tanpa ragu meski sejujurnya dia masih tak percaya saja bila Silas benar-benar sudah menikah.
“Kalau begitu anggap saja begitu.” jawabnya santai yang pastinya memancing kekesalan Myra.
Wanita itu menyeringai tak percaya. “Berikan aku jawaban yang valid, Tuan Al.”
“Silas.”
“Why?” pancing Myra. “Kenapa kau tidak suka? Itu namamu kan.”
Mata cokelat Silas menatap tajam penuh ancaman. “Itu sudah masa lalu.”
“Oh, begitu juga denganku. Aku bagian dari masa lalumu, seharusnya kau tidak mengingat ku apalagi menikahi ku.”
Tanpa banyak bicara, pria kemeja hitam itu berdiri sehingga Myra langsung bungkam dengan mata terbuka lebar dan ia menelan ludah sedikit kesusahan.
“Jangan samakan dirimu dengan masa laluku yang lainnya. Karena itu berbeda.” ucapnya sembari berjalan maju.
Langkah Myra mundur dengan penuh kewaspadaan serta jantung yang mulai tak karuan. “Ti-tidak ada yang berbeda. Menurutku itu sama.”
“Kalau begitu hadapi aku. Kau terlihat tegang setiap kali aku mendekatimu.” ujar pria itu membuat Myra tak bisa berkata-kata ketika ia ingat bahwa dirinya juga pernah mempunyai perasaan yang sama.
Ia tersenyum kecil. “Tegang? Ini hanya kewaspadaan menghadapi orang seperti mu.”
Kepala Silas mengangguk kecil hampir tidak terlihat, namun langkahnya terus maju dan berhenti saat Myra sudah terpentok ke jendela yang memantulkan cahaya matahari.
Hanya tinggal satu langkah saja maka Myra tak akan bisa lepas.
“Kenakan pakaian indah malam ini. Kita belum sempat melakukan malam pertama kita.”
Setelah mengatakan itu, Silas berbalik badan lalu keluar dari kamar. Tapi ucapannya itu benar-benar berhasil membuat Myra cemas dan panik.
“Astaga...” ia mengusap kepalanya dan menatap cemas bila nanti malam adalah malam pertama mereka. Bukan, tapi kedua kalinya.
Kini wanita itu terduduk di tepi ranjang dengan gelisah dan takut sendiri.
Ia bergegas keluar kamar secara diam-diam. Namun saat membuka pintu kamar, Myra terlonjak kaget melihat Silas ternyata masih berdiri di sana dan kini menatapnya.
Tanpa pikir panjang pria itu langsung mendorongnya masuk dan menutup pintunya rapat-rapat. Suara teriakan Myra terdengar samar ketik Hana, Penelope dan dua pelayan berjalan melewati kamar tersebut.
Penelope sekilas melirik ke pintu warna hitam lebar dengan garis perak.
“Apa nyonya Myra akan baik-baik saja?” tanah Penelope ke Hana yang fokus menatap lurus.
Wanita itu tersenyum kecil tanpa menoleh. “Tuan Silas menjaganya, dia akan baik-baik saja.” ucapnya dengan yakin.
.
.
.
Berada di dalam kamar mandi serba keramik warna hitam dan gold. Myra berdiam diri, duduk di ujung bak mandi berbentuk lingkaran sembari menutupi area dadanya dan memasang wajah kesal namun pasrah.
Sementara Silas berada di sisi lain bak mandi dalam keadaan telanjang, kedua tangannya terlentang menatap penuh kepuasan ke wajah istrinya yang terus memberinya tatapan sinis.
“Come here.”
Myra sebisa mungkin menahan emosinya meski dadanya naik turun dan wajahnya memerah akibat air hangat yang mulai dingin, juga rasa malu yang luar biasa tatkala Silas melucutinya paksa dan menceburkannya ke dalam bathtub bersama dengan dirinya.
“Aku tidak suka berlama-lama di kamar mandi.” ketus Myra yang berpaling lagi.
Tatapan mata Silas menajam, rahangnya yang tegas mulai mengeras hingga ia bergerak mendekat, membuat gelombang air di bathtub ikut bergerak.
Tentu saja Myra tergopoh bingung ingin menjauh namun tak bisa.
Pria itu benar-benar berada dekat dengannya, tak ada jarak yang terkikis. Dan Myra masih menyilangkan kedua tangannya rapat-rapat ke area dadanya, mencoba untuk tidak menatap Silas.
“Berhentilah menatap ku.” tegas Myra yang masih enggan menengok.
Sementara Silas berada tepat di sampingnya dan menghadap ke arahnya. Memperhatikan bibir Myra yang sedikit gemetar karena air yang mulai dingin.
“Kau tidak bisa menahan dirimu?”
Pancing Silas yang berhasil membuat Myra menatapnya.
Tangan kanan Silas menyentuh leher Myra namun wanita itu mencoba menjauh dan Silas memaksanya, menekan tengkuk leher Myra sehingga wanita itu tak bisa lagi bergerak selain diam menatapnya tanpa berkedip.
“Lepaskan aku. Jangan memaksaku.”
“Aku akan memaksamu.”
Nafas Myra semakin memburu ketika Silas mendekat cukup perlahan seolah menghipnotis nya hingga ia menyibak rambut basah Myra lalu mencium leher Myra sampai wanita itu mencoba menahannya namun ia terlena dalam gairah itu.
Kedua mata Myra terpejam ketika Silas memberikan lumatan serta gigitan kecil di lehernya cukup lama tanpa meninggalkan jejak apapun di sana. Namun itu sudah cukup membuat Myra menggeliat tak karuan.
Bibirnya yang gemetar mulai terbuka kecil.
Gerakan Silas merambat ke rahangnya lalu menatap sekilas wajah cantik Myra yang masih memejamkan matanya seolah menikmatinya.
Sadar gerakan itu sudah berhenti. Myra langsung membuka matanya kaget saat Silas sudah menatapnya kembali dengan seringaian liciknya.
Ia menelan ludah dan berpaling gugup.
“Bagaimana rasanya?” tanya pria itu dengan sengaja. Karena dia tahu, Myra wanita polos sejak dulu dan itu salah satunya yang membuat Silas menyukainya.
“Menjijikan.” balas Myra berpaling malas.
Pria itu menariknya hingga ia duduk di depan Silas. Tentu saja Myra merasakannya— benda keras di belakangnya yang hampir menyentuh pantatnya.
Silas menahannya dengan tangannya sehingga ia tak bisa bergerak lagi selain diam.
...***...
Bianco Family
VROMM.....
“Aakkhhhh!!!!”
Suara teriakan lantang berpadu dengan mesin mobil yang meraung.
Semakin kencang suara mobil tersebut. Maka suara teriakan mulai meredam tatkala pria yang lehernya diikat rantai ke mobil hitam itu baru saja tewas mengenaskan.
Suara tepuk tangan terdengar jelas dari seorang pria yang sedari tadi duduk santai menatap pemandangan mengerikan tadi di halaman mansion nya.
“BRAVO!” ucapnya sembari berdiri menatap ke anak buahnya yang baru saja keluar dari mobil dengan wajah datar bak tak terjadi apa-apa.
Padahal seorang pria baru saja kehilangan kepalanya hingga darah muncrat di mana-mana.
“Mereka pantas mendapatkannya.” ucap Pedro Bianco (35th). Pria berkaos putih dan celana putih.
Tato di lehernya terlihat jelas seperti wajah angkuh dan sombongnya. Dan jangan berharap pria itu akan memiliki hati lemah lembut, karena dia seperti anak iblis yang tak punya hati. Namun ceroboh dan gegabah.
“Singkirkan mayat-mayat itu. Menjijikan.” katanya sembari berjalan masuk.
Anak buahnya mengikuti langkahnya. “Soal pesta malam ini. Apa Anda yakin akan mengundang Silas Wolfe?”
“Yes. Why?” Pedro meneguk segelas wine sembari berdiri. “Bagaimanapun dia masih mempertahankan milik Wolfe. Sampai kami merebutnya kembali.”
Pria itu menyeringai licik. Laku dia merokok santai menatap ke arah halaman luasnya.
Anak buahnya yang lain sibuk mengurusi mayat-mayat yang mulai dimasukkan ke dalam peti dan akan dibakar.