NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Mentari mulai tenggelam di ufuk barat saat Sang Warok dan Jangkrik tiba kembali di gubuk bambu mereka.

Belum sempat Jangkrik meletakkan golok barunya, Sang Warok sudah duduk bersila dengan tenang di depan perapian yang menyala temaram.

"Letakkan golok itu," perintah Sang Warok datar.

Jangkrik mengernyitkan dahi, tangannya tertahan di gagang senjata. "Kenapa? Bukankah kau sendiri yang bilang kalau ini menjadi senjataku sekarang?"

"Sebab kau belum pantas memakainya secara nyata."

Jangkrik mendengus kesal. Rasa bangganya sedikit terusik. Namun, ia tetap menuruti perintah itu dan meletakkan golok pendek tersebut melintang di atas meja kayu di depan mereka.

Sang Warok menatap bilah besi itu sejenak, lalu mengalihkan pandangannya pada sang murid. "Katakan padaku, apa yang berhasil kau pelajari dari pertarungan di kaki gunung tadi?"

Jangkrik terdiam, memutar kembali ingatan jangka pendeknya. "Kecepatan," jawabnya yakin.

Sang Warok menggeleng perlahan. "Bukan."

"Kekuatan?"

"Bukan."

Jangkrik mulai merasa jengkel dengan teka-teki gurunya. "Lalu apa?"

Sang Warok mengetuk bilah golok pendek itu dengan ujung jarinya hingga terdengar dentang halus. "Tidak ada satu pun tebasan atau pergerakanku tadi yang sia-sia."

Jangkrik terpaku, mendengarkan dengan saksama.

"Pendekar bodoh akan menebas sepuluh kali hanya untuk mengenai lawan sekali," lanjut Sang Warok, suaranya berat dan berwibawa. "Pendekar biasa menebas tiga kali. Pendekar hebat cukup melakukannya sekali."

"Lalu... seorang Warok?" tanya Jangkrik penasaran.

Sang Warok menatap lurus ke dalam manik mata muridnya. "Seorang Warok membuat lawannya mati bahkan sebelum golok sempat dihunus dari sarungnya."

Jangkrik terenyak. Pikirannya langsung melayang kembali pada pembantaian singkat di hutan tadi. Sang Warok memang telah membaca langkah kaki, deru napas, hingga tingkat keberanian lawan-lawannya sejak mereka masih berada di pasar bawah gunung. Benturan senjata di halaman tadi hanyalah sebuah formalitas penutup. Pemenangnya telah ditentukan jauh sebelum pertarungan dimulai.

"Tapi..." kata Jangkrik perlahan, "bagaimana cara mencapai tingkat seperti itu?"

Sang Warok tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memungut sepotong kayu bakar dari samping perapian, lalu melemparkannya ke udara. "Kau lihat itu?"

Jangkrik mengangguk, matanya mengikuti arah terbang kayu.

Sang Warok tidak bergerak untuk memukul atau menangkapnya. Ia hanya membiarkan kayu itu melayang hingga akhirnya jatuh berdentum di tanah. "Apa yang kau lihat saat kayu itu melambung?"

"Hanya sepotong kayu."

Sang Warok menggeleng tegas. "Bagi mataku, aku melihat bobot beratnya. Aku melihat ke mana arah angin membawanya, dan aku sudah tahu di titik mana ia akan jatuh ke tanah sebelum ia sempat menukik turun."

Ia menatap Jangkrik dengan sorot tajam. "Membaca lawan pun sama. Selalu ada arah gerakan, selalu ada kebiasaan yang berulang, dan selalu ada celah kelemahan. Tugasmu adalah membaca semuanya sebelum mereka bergerak."

Sang Warok bangkit berdiri, menyudahi pembicaraan di depan perapian. "Ikut aku. Besok adalah hari baru, dan kita mulai latihan yang baru pula."

Jangkrik bangkit dan mengekor di belakang gurunya menuju area belakang gubuk. Di sana, tumbuh belasan batang bambu muda yang ramping namun kokoh.

Sret! Sret! Sret!

Hanya dalam beberapa tarikan napas pendek, belasan batang bambu itu telah tumbang ditebas golok besar Sang Warok. Dengan cekatan, pria tua itu menancapkan kembali potongan-potongan bambu tersebut ke tanah secara berjajar, membentuk sebuah lorong sempit yang berkelok sepanjang hampir dua puluh langkah.

"Masuk ke dalam," perintah Sang Warok.

Jangkrik melangkah ragu, berjalan hingga ke titik tengah lorong bambu yang rapat itu. "Untuk apa lorong ini?"

Sang Warok perlahan menurunkan pecut Samandiman dari pinggangnya. "Aturannya sederhana. Kau hanya perlu berjalan keluar sampai ke ujung sana."

Jangkrik menghela napas lega, ketegangannya sedikit mengendur. "Hanya itu?"

Sang Warok tersenyum tipis—sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Jangkrik mendadak meremang. "Asalkan tubuhmu tidak menyentuh sebatang bambu pun."

Jangkrik mengernyit. "Bagaimana kalau menyentuh?"

Pletar!

Sebagai jawaban, ujung pecut Samandiman meledak di udara, menyisakan desingan yang memekakkan telinga. "Setiap ada satu batang bambu yang bergoyang karena tersenggol tubuhmu... kau akan menerima satu sabetan tanpa ampun."

Jangkrik menatap lorong di depannya dengan cemas. Jarak antarbatang bambu itu teramat sempit. Ditambah lagi dengan sepasang Gelang Baja Wulung yang masih melilit berat di kedua pergelangan tangannya, bergerak dengan lincah dan luwes terasa seperti sebuah kemustahilan.

"Ini latihan yang tidak masuk akal," protes Jangkrik.

Sang Warok mengangguk santai, tanpa beban. "Memang tidak masuk akal. Karena kalau sebuah latihan masih terasa masuk akal bagi logikamu, kau tidak akan pernah bisa melampaui kemampuan manusia biasa."

Jangkrik menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia mulai melangkah.

Pada langkah pertama... lengannya yang terasa seberat bongkahan batu tanpa sengaja menyenggol sebatang bambu muda. Batang itu bergoyang.

Pletar!

Pecut Samandiman langsung menyambar punggungnya secepat kilat.

"Ahh!" Jangkrik menggeram, menggertakkan giginya menahan rasa perih yang menjalar seketika.

Ia memaksakan diri untuk melangkah lagi. Kali ini, giliran pinggulnya yang sedikit membentur bambu di sisi lain.

Pletar!

Sabetan kedua datang menghantam tanpa belas kasihan. baru berjalan lima langkah saja, punggung Jangkrik yang semula baru mengering kini kembali dipenuhi oleh bilur-bilur merah yang segar.

Sang Warok berdiri diam di ujung lorong sambil menghitung dengan suara datar. "Tujuh... delapan... sembilan..."

Napas Jangkrik mulai memburu kasar. Emosinya tersulut, bukan hanya karena rasa sakit yang menderanya, melainkan karena ia menyadari satu kesalahan fatal dalam gerakannya: ia terlalu mengandalkan tenaga kasar untuk menembus lorong ini. Ia sama sekali tidak memperhatikan ruang kosong di sekelilingnya.

Di tengah kegelapan malam yang mulai turun, suara Sang Warok terdengar memecah keheningan. "Jangan kau lawan keberadaan bambu-bambu itu. Dengarkan bagaimana angin berembus di antaranya. Dengarkan detak napasmu sendiri. Biarkan tubuhmu meliuk mengikuti celah kosong yang tersedia."

Jangkrik menghentikan langkahnya. Ia memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan untuk membuang segala ketegangan ototnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia mencoba berjalan bukan dengan memamerkan kekuatan fisiknya. Sebaliknya, ia mencoba merasakan arah embusan angin malam yang menggerakkan dedaunan bambu di sekitarnya.

Langkah berikutnya diambil.

Tubuh Jangkrik berputar sedikit secara alami. Bahu kirinya lolos dengan mulus dari jepitan bambu. Pinggangnya ikut meliuk luwes mengikuti alur kosong. Ia berhasil melewati dua batang bambu berikutnya tanpa menimbulkan getaran sedikit pun.

Melihat perubahan instan itu, Sang Warok tersenyum puas dari kegelapan. "Begitu. Bagus."

"Mulai detik ini..." lanjut Sang Warok lirih, "...kau harus belajar untuk bergerak seperti sekelebat bayangan."

Di mata Sang Warok, Jangkrik akhirnya telah melangkah masuk ke dalam tahapan baru yang lebih tinggi. Ia bukan lagi sekadar bocah ingusan yang sedang ditempa agar menjadi kuat untuk membalas dendam.

Lebih dari itu, ia kini sedang bertransformasi menjadi calon pembunuh berdarah dingin yang mampu menghilang di antara celah-celah kehidupan—menunggu satu momentum yang sempurna untuk mencabut nyawa lawannya tanpa suara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!