Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 — Penerimaan
Keringat dingin membasahi telapak tangan mereka bertiga, namun tidak satu pun dari mereka melepaskan genggaman itu sedetik pun. Josh merasakan genggaman tangan Veron dan Brandon semakin erat di kedua sisinya, seolah mereka bertiga saling menguatkan diri menghadapi apa yang ada di hadapan mereka.
Bayangan tanpa bentuk itu bergerak mendekat perlahan, suaranya menggema dari segala arah sekaligus.
"Kalian pikir kalian bisa berhasil di mana ketiga sahabat sebelumnya gagal?"
suara itu mengejek, sesekali berubah menjadi suara Pak Ian, lalu suara ibu Josh, lalu suara-suara lain yang tidak mereka kenali, mencoba mengguncang keyakinan mereka.
"Aku sudah menunggu terlalu lama untuk gagal lagi sekarang."
"Jangan dengerin dia," kata Veron cepat, suaranya tegas meski tubuhnya gemetar.
"Dia cuma coba bikin kita ragu. Fokus sama satu sama lain, jangan sama dia."
Raka, yang berdiri di sisi lain ruangan, mengangkat tangannya memberi isyarat kepada mereka bertiga.
"Sekarang! Gabungkan kekuatan kalian, seperti yang gagal kami lakukan dulu! Josh, keluarkan energimu. Veron, rasakan arah yang benar. Brandon, tunjukkan di mana celahnya berada!"
Brandon, meski tubuhnya masih lemas dari kejadian sebelumnya, memejamkan matanya, mencoba fokus pada sensasi dingin yang selalu menjadi penanda baginya.
"Di sana,"
katanya, menunjuk ke arah sebuah titik di lantai tengah ruangan yang tampak retak, memancarkan cahaya keperakan yang samar.
"Celahnya di sana."
Veron memejamkan matanya juga, mencoba merasakan firasat yang selama ini selalu membimbingnya.
"Kita harus nutup dari tiga arah sekaligus, bukan cuma satu titik. Gue bisa ngerasain pola energinya, tapi gue butuh Josh buat ngasih kekuatan, dan Brandon buat nunjukkin arah yang tepat."
Bayangan tanpa bentuk itu mulai bergerak semakin cepat, panik menyadari rencana mereka, mencoba menciptakan ilusi-ilusi yang lebih mengerikan wajah orang tua Josh yang berteriak ketakutan, wajah Gibran yang seolah tergeletak terluka, mencoba memecah konsentrasi mereka bertiga dengan segala cara.
"Itu nggak nyata!"
teriak Gibran dari pinggir ruangan, suaranya menegaskan kepada mereka bertiga meski dirinya sendiri juga ketakutan melihat ilusi tentang dirinya sendiri.
"Gue di sini, baik-baik aja! Jangan percaya apa yang kalian liat!"
Josh menarik napas dalam-dalam, mengingat semua yang telah ia pelajari, menerima, bukan melawan. Ia membiarkan energi dalam dirinya mengalir bebas, kali ini tidak sendirian, melainkan terhubung dengan genggaman tangan kedua sahabatnya.
Energi keperakan mulai muncul dari ketiga tubuh mereka sekaligus, berputar membentuk pusaran yang semakin besar di tengah ruangan.
"TIDAK!"
Bayangan itu menjerit, suaranya kini terdengar jauh lebih mengerikan, kehilangan segala bentuk yang menyerupai manusia, berubah menjadi kegelapan pekat yang mencoba menerjang mereka bertiga secara langsung. Namun tepat sebelum bayangan itu mencapai mereka, Raka melangkah maju, mengorbankan sisa energinya sendiri untuk menciptakan penghalang sementara, memberi waktu bagi Josh, Veron, dan Brandon untuk menyelesaikan apa yang harus mereka lakukan.
"Sekarang, dorong energinya ke celah, bersama-sama!"
teriak Raka, suaranya mulai memudar seiring energinya terkuras habis. Ketiganya mendorong energi mereka secara bersamaan ke arah celah retak di lantai, cahaya keperakan yang begitu terang hingga memaksa semua orang di ruangan menutup mata mereka.
Suara jeritan bayangan itu semakin melemah, semakin jauh, hingga akhirnya lenyap sepenuhnya bersamaan dengan ledakan cahaya terakhir yang menggetarkan seluruh bangunan.
Ketika Josh membuka matanya kembali, ruangan telah kembali normal, sunyi, dan hangat seperti biasa. Raka berdiri di hadapan mereka, wujudnya kini lebih transparan dari sebelumnya, senyum lega terpancar jelas di wajahnya untuk pertama kalinya.
"Kalian berhasil,"
katanya, suaranya kini terdengar begitu tenang. "Terima kasih. Aku akhirnya bisa pergi."
Pak Ian jatuh berlutut di lantai, tubuhnya bergetar hebat menahan tangis yang telah lama ia tahan selama tiga puluh tahun, akhirnya tumpah begitu saja tanpa bisa ia kendalikan lagi.
Gibran berlari memeluk Josh, Veron, dan Brandon secara bergantian, wajahnya dipenuhi campuran rasa syukur dan kelegaan yang luar biasa setelah menyaksikan sahabat-sahabatnya berhasil melewati momen paling berbahaya dalam hidup mereka.
Mereka berdiri berpelukan di tengah ruangan yang kini terasa begitu damai, jauh berbeda dari suasana mencekam yang menyelimutinya hanya beberapa menit sebelumnya. Josh menatap ke arah tempat Raka terakhir kali berdiri, namun sosok itu sudah sepenuhnya menghilang, meninggalkan hanya kehangatan samar di udara sebagai tanda bahwa ia akhirnya menemukan ketenangan yang telah ia cari selama tiga dekade.
Cahaya pagi mulai menyusup dari celah jendela gudang tua itu, menandakan malam panjang mereka akhirnya berakhir, dan dengan itu pula, berakhir pula siklus mengerikan yang telah memakan begitu banyak korban selama bertahun-tahun.
Namun tepat saat Josh melangkah keluar ruangan bersama yang lain, matanya sekilas menangkap sesuatu di sudut gudang yang paling gelap bentuk kecil, jauh lebih kecil dari sosok Raka, berdiri diam di sana sepersekian detik sebelum luruh ke dalam bayangan. Ia berhenti, jantungnya kembali berdegup kencang. Kalau entitas itu sudah dikalahkan, dan Raka sudah pergi dengan tenang... lalu apa, atau siapa, yang baru saja ia lihat?
...****************...