Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!
Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!
Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPK 32
Menjelang malam, Arya dan Mahesa berjalan menyusuri bukti tandus. Selain melihat kondisi pasukannya, mereka berdua juga ingin berbicara secara pribadi. Terutama Mahesa yang ingin mengetahui kisah Arya dan kedua orang tuanya selama mundur dari dunia persilatan.
Setelah berada di tempat yang yang paling tinggi di bukit tandus, mereka melompat ke atas sebuah batu besar. Dari atas batu besar itu mereka berdua bisa melihat dengan jelas situasi di sekeliling bukit tandus.
"Besok kita tempatkan teliksandi di sini, Arya. Dari sini bisa terlihat jelas arah pasukan musuh yang nanti akan datang dari sana!" Mahesa menunjuk ke satu arah. Ketua Kuil Keabadian itu tentu paham dari mana arah datangnya pasukan kerajaan Gandara.
"Benar, Paman. Aku juga berpikiran begitu. Nanti kita tinggal giring mereka memasuki lembah, setelah itu kita hujani dengan anak panah dari atas," balas Arya sambil menatap tempat yang ditunjuk Mahesa.
Malam berjalan begitu lambat bagi keduanya. Mahesa banyak menanyakan perkembangan yang dialami keponakannya itu selama terjun di dunia kependekaran.
Kepada Mahesa, Arya tidak menutupi apapun yang sudah dia alami, terutama tentang pertemuannya dengan Dewi Anjani di saat dia pingsan terkena racun.
Setelah itu dia mengeluarkan kitab Cambuk Api dan memberikannya kepada Mahesa.
"Kau ingin aku membaca kitab ini dalam kegelapan? Kalau ayahmu jelas bisa, karena dia punya mata Dewa Api." Mahesa terkekeh pelan.
"Ayah sudah kehilangan kekuatannya, Paman," ucap Arya lirih.
Mahesa terkejut dan menggeser duduknya berhadapan dengan Arya. Dahinya mengernyit tebal tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Kau jangan berbohong, Arya! Bagaimana mungkin manusia abadi seperti ayahmu bisa kehilangan kekuatannya?"
"Aku tidak berbohong, Paman. Ayah kehilangan kekuatan dan keabadiannya karena menyelamatkan nyawaku yang masih dalam kandungan ibu."
Mahesa kembali mengernyitkan dahinya. Dia masih tidak paham apa hubungannya antara kehilangan kekuatan dan menyelamatkan nyawa.
"Menurut cerita ayah, saat itu kandungan ibu baru berusia tujuh bulan, tapi sudah waktunya aku lahir. Masalahnya, aku tidak akan bisa lahir dengan selamat saat itu. Akhirnya ayah mencari cara agar nyawaku bisa diselamatkan. Satu-satunya cara agar aku bisa lahir dengan selamat adalah ayah harus mengorbankan kekuatan dan keabadian yang dimilikinya," sambung Arya.
"Kenapa bisa seperti itu? Berasa percuma Ranu sampai melanglang jauh sampai daratan China jika akhirnya dia harus kehilangan kekuatannya." Lirih suara yang keluar dari bibir Mahesa.
"Tapi ketika aku bertemu nenek di dalam pingsanku, beliau bilang jika sudah memeras semua kekuatan ayah dan mengambil sari patinya, lalu memasukkannya ke dalam tubuhku. Semua dilakukan beliau diam-diam agar tidak ada yang mengetahui."
"Apa Gusti Ratu bilang alasannya?" tanya Mahesa.
"Siapa Gusti Ratu yang Paman maksud?" Arya bertanya balik.
"Nenekmu itu ... beliau adalah ratu dari kerajaan jin yang ada di puncak gunung Rinjani."
Arya terkejut setengah mati. Dia berhenti bernapas untuk beberapa saat saking kagetnya. "Jadi selama ini yang membimbingku adalah ratu kerajaan Jin?"
"Kenapa? Bahkan ayahmu sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Kebaikan beliau tidak perlu dipertanyakan lagi, Arya. Kau jangan pernah kuatir atau takut kepada beliau."
"Aku tidak takut, Paman. Aku cuma heran saja, bagaimana mungkin ini semua bisa terjadi padaku dan juga ayah?" ucap Arya lirih. Pandangannya menerawang jauh ke depan.
"Anugerah, Arya. Kau dan ayahmu sudah mendapat anugerah yang begitu besar. Tapi di balik anugerah itu, pasti ada tugas besar untukmu. Apa kau sudah mendapat petunjuk tentang tugas yang harus kau lakukan?"
Arya menggeleng pelan. "Tapi nenek bilang nanti akan menemuiku lagi setelah aku menguasai jurus yang ada dalam kitab itu. Kata beliau, aku harus menemui seseorang agar ketiga jurus itu bisa sempurna."
"Apa kau tahu siapa orang yang dimaksud?"
Arya menggeleng pelan.
Pembicaraan di antara keduanya terus berlanjut hingga lebih dari tengah malam, bahkan sampai menjelang pagi.
Tiba-tiba saja pembicaraan mereka terhenti, setelah melihat beberapa bayangan hitam berlari di kegelapan malam menjelang pagi.
"Siapa mereka?" tanya Arya.
"Kelihatannya mencurigakan. Ayo kita cari tahu!" balas Mahesa.
Menjadi ketua Kuil Keabadian bukanlah sesuatu yang bisa dipandang remeh. Dengan kemampuan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, Mahesa melesat menuruni bukit tandus mengikuti arah lari beberapa bayangan hitam tersebut.
Arya dibuat terkagum-kagum dengan kemampuan pamannya tersebut. Dia tidak tinggal diam dan langsung melesat mengejar.
Mahesa memelankan laju larinya setelah jaraknya dengan beberapa sosok bayang hitam itu tidak jauh lagi. Dia langsung merapatkan tubuhnya di batu besar setelah beberapa sosok itu berhenti. Dalam hitungannya, ada 6 sosok yang berhenti tidak jauh dari tempatnya bersembunyi.
Tak lama, Arya pun sampai di tempat Mahesa berhenti. Mereka berdua memasang telinganya tajam untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Kenapa berhenti?" tanya seorang dari 6 sosok tersebut.
"Aku merasa ada yang mengikuti kita?" jawab sosok lainnya sambil melihat ke belakang.
5 orang lainnya ikut menoleh ke belakangnya, tapi mereka tidak melihat ada siapapun di belakang.
"Mungkin itu hanya perasaanku saja. Ayo kita lanjutkan perjalanan."
Keenam orang itu kembali melanjutkan perjalanan mereka. Namun baru 8 langkah berjalan, salah satu dari mereka melihat pergerakan prajurit yang berjalan di kegelapan.
"Tiarap, cepat!" serunya pelan, lalu tengkurap di tanah.
Lima orang lainnya mengikuti apa yang dilakukan temannya.
Dalam pandangan mata mereka, seorang prajurit berjalan lalu berhenti di samping sebuah batu besar. Suara gemericik air terdengar samar-samar di heningnya malam. Tampaknya prajurit tersebut sedang melepaskan hajat yang sudah mengganggu tidurnya.
Tak lama, prajurit itu berjalan kembali lalu menghilang di balik batu besar.
"Kenapa ada prajurit di tempat ini?"
"Jangan-jangan rencana penyerangan yang akan kita lakukan sudah bocor dan mereka menunggu kita di tempat ini?" jawab yang lainnya.
"Kita selidiki dulu. Berhati-hatilah jangan sampai ketahuan! Nanti kita berkumpul lagi di sini!" perintah yang lainnya.
Keenam sosok yang ternyata teliksandi kerajaan Gandara itu bergerak menyebar. Mereka berjalan berjingkat naik ke atas dengan begitu ringan dan pelan agar tidak menimbulkan suara.
Begitu sampai di atas, mereka dibuat terkejut dengan begitu banyaknya tenda yang sudah berdiri rapat. Beberapa orang prajurit juga terlihat berjaga memutari sebuah perapian kecil yang mereka gunakan untuk menghangatkan tubuh.
Setelah memastikan bahwa yang mereka lihat adalah pasukan kerajaan Kanjuruhan, mereka pun kembali dan berkumpul di tempat semula.
"Tampaknya benar jika rencananya sudah bocor. Sebaiknya kita kembali untuk melaporkannya kepada paduka raja," ucap seorang dari mereka.
"Kau benar, mumpung 4 teman kita masih di belakang. Jadi mereka tidak perlu datang ke sini," sahut lainnya.
Belum juga mereka sempat melangkahkan kaki, sebuah suara sudah membuat mereka terkejut setengah mati.
"Kalian tidak akan kemana-mana!" ucap Mahesa dingin. Sorot matanya tajam seolah menelanjangi 6 orang teliksandi di depannya.