Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 - Luka yang Belum Sembuh
Ponsel Arga terus berdering.
**Bianca Calling...**
Nadira menatap layar itu beberapa detik, lalu mengalihkan pandangannya.
"Aku keluar dulu."
Baru saja ia hendak berdiri, Arga menahan pelan.
"Nggak usah."
Arga mematikan panggilan itu tanpa mengangkatnya.
Nadira sedikit terkejut.
"Kamu nggak angkat?"
"Nggak."
"Kenapa?"
Arga menghela napas.
"Aku lebih memilih menjelaskan semuanya ke kamu daripada kembali membuka cerita yang sudah selesai."
Kalimat itu membuat hati Nadira sedikit menghangat.
---
Arga menatap ke luar jendela apartemen.
"Empat tahun lalu..."
"...aku dan Bianca sudah bertunangan."
Nadira mendengarkan tanpa menyela.
"Kami saling mengenal sejak kuliah."
"Semua orang bilang kami pasangan yang cocok."
"Keluarga kami juga setuju."
"Lalu?"
"Tanggal pernikahan ditentukan."
Undangan sudah dibagikan.
Gedung sudah dipesan.
Semuanya siap.
"Sampai hari H."
Suara Arga mulai melemah.
"Aku berdiri di ruang akad."
"Semua tamu sudah datang."
"Ayah dan ibuku menunggu."
"Tapi Bianca..."
"...nggak pernah muncul."
Nadira menggenggam jemarinya sendiri.
"Apa yang terjadi?"
Arga tersenyum pahit.
"Dia mengirim satu pesan."
Arga masih mengingat isi pesan itu sampai hari ini.
> **'Maaf. Aku tidak bisa menikah denganmu. Jangan mencariku.'**
"Itu saja."
"Tidak ada penjelasan."
"Tidak ada alasan."
"Aku mencoba menghubunginya berhari-hari."
"Tapi nomornya sudah tidak aktif."
"Mereka sekeluarga juga pindah."
Nadira dapat merasakan luka yang masih tersisa di balik suara Arga.
Bukan luka karena ditinggalkan.
Melainkan karena tidak pernah diberi kesempatan untuk memahami.
---
"Apa kamu masih mencintainya?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Arga langsung menggeleng.
"Tidak."
"Lalu kenapa wajahmu berubah saat melihat dia tadi?"
Arga tersenyum tipis.
"Karena..."
"...aku nggak pernah menyangka orang yang menghilang tanpa jejak..."
"...tiba-tiba muncul sebagai rekan kerja."
"Aku hanya kaget."
"Itu saja."
Tatapan Arga begitu jujur hingga Nadira mulai percaya.
---
Di saat yang sama...
Bianca duduk sendirian di balkon apartemennya.
Segelas kopi di tangannya sudah dingin.
Ia membuka galeri ponsel.
Di sana masih tersimpan foto-foto lama bersama Arga.
"Maaf..."
gumamnya pelan.
"Aku memang pengecut."
Air matanya jatuh.
Bukan karena menyesal meninggalkan Arga.
Melainkan karena keadaan saat itu memaksanya membuat pilihan yang tidak pernah ingin ia ambil.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
"Bianca."
Suara seorang pria terdengar dari seberang.
"Kamu sudah bertemu Arga?"
"Iya."
"Bagaimana reaksinya?"
Bianca memejamkan mata.
"Dia sudah berubah."
Pria itu tertawa kecil.
"Bagus."
"Ingat tujuanmu."
Bianca menggigit bibir.
"Aku tahu."
Telepon ditutup.
Tatapan Bianca perlahan berubah.
Ada rahasia yang belum diketahui siapa pun.
---
Keesokan paginya.
Arga dan Nadira datang lebih awal ke kantor cabang.
Pak Anton langsung memberikan tugas.
"Hari ini kita bertemu investor."
"Semua data harus siap."
"Baik, Pak."
Rapat berlangsung lancar.
Hingga salah satu investor bertanya,
"Pak Arga."
"Iya."
"Saya dengar Bu Bianca pernah bekerja sama dengan Anda dulu."
Bianca tersenyum.
"Benar."
Investor kembali bertanya,
"Berarti hubungan kalian pasti sangat dekat."
Ruangan mendadak hening.
Sebelum Arga sempat menjawab, Bianca lebih dulu berkata,
"Kami memang pernah saling mencintai."
Kalimat itu membuat beberapa orang saling berpandangan.
Nadira berusaha tetap fokus pada laptopnya.
Namun jemarinya berhenti mengetik.
Arga langsung menoleh ke arah Bianca.
"Bianca."
Nada suaranya terdengar tegas.
"Tidak perlu membawa urusan pribadi ke dalam pekerjaan."
Bianca tersenyum tipis.
"Aku cuma menjawab pertanyaan."
Rapat akhirnya kembali berjalan.
Namun suasana tidak lagi senyaman sebelumnya.
---
Sore harinya, Nadira memilih pulang lebih dulu.
Ia berjalan pelan menuju halte di depan kantor.
Entah mengapa, hatinya terasa berat.
"Dir!"
Arga berlari mengejarnya.
"Tunggu."
Nadira berhenti.
"Ada apa?"
"Kamu marah?"
Nadira menggeleng.
"Nggak."
"Tapi kamu menghindar."
Nadira tersenyum kecil.
"Aku cuma butuh waktu buat mencerna semuanya."
Arga mengangguk.
"Aku mengerti."
"Tapi satu hal..."
Ia menatap Nadira dengan sungguh-sungguh.
"Aku nggak bisa mengubah masa laluku."
"Namun aku bisa memilih masa depanku."
"Dan..."
"...orang yang ingin ada di masa depanku adalah kamu."
Jantung Nadira berdegup kencang.
Belum sempat ia menjawab, suara klakson mobil terdengar.
Sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan mereka.
Kaca mobil perlahan terbuka.
Bianca duduk di kursi pengemudi.
Ia tersenyum tipis.
"Arga."
"Bisa ikut sebentar?"
"Aku mau menunjukkan sesuatu."
Arga mengernyit.
"Apa?"
Bianca menatapnya dalam-dalam.
"Sesuatu yang seharusnya kamu tahu..."
"...tentang alasan kenapa aku meninggalkanmu di hari pernikahan."
Kalimat itu membuat Arga dan Nadira sama-sama terdiam.
Mungkin...
Selama ini mereka hanya mengetahui separuh cerita.
Dan separuh lainnya akan mengubah segalanya.
**Bersambung ke Episode 34...**