NovelToon NovelToon
Akulah Sang Pemakan Takdir

Akulah Sang Pemakan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Action / Sistem / Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Otna Forever

Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.

Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.

**Sistem Pemakan Takdir.**

Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.

Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.

Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Takdir Pertama Yang Kucuri

Petir membelah langit. Cahaya putih menyambar dan menerangi jalan pegunungan yang licin karena hujan deras.

Han Lie memandangi Lin Yuan dengan wajah yang masih kaget setengah mati.

Aura yang baru muncul dari tubuh Lin Yuan itu memang masih sangat tipis, seperti lilin yang mau padam tertiup angin.

Tapi itu Qi. Qi Langit dan Bumi yang asli.

"Mustahil..." suara Han Lie serak.

"Akar Rohmu sudah hancur jadi debu! Bagaimana kau bisa..."

Lin Yuan tidak menjawab. Ia sendiri masih sibuk menahan rasa sakit yang luar biasa di dalam tubuhnya.

Rasanya seperti ada cacing panas yang dipaksa merayap di dalam urat nadinya yang sudah buntu 17 tahun.

Setiap inci meridiannya terasa disobek dan dibuka paksa.

Dibandingkan tiga tahun dihina jadi sampah, rasa sakit ini justru membuatnya ingin tertawa.

Suara dingin itu berbisik lagi.

Proses terobosan sedang berlangsung.

Jangan hentikan sirkulasi Qi.

Jika gagal, meridian akan tertutup permanen.

Rahang Lin Yuan mengeras. Ia tidak boleh gagal. Kesempatan ini hanya datang sekali.

Han Lie melihat keraguan di wajah Lin Yuan dan perlahan napasnya kembali tenang.

Keterkejutan di wajahnya pelan-pelan berubah menjadi keserakahan yang pekat dan murni.

"Aku mengerti sekarang," Han Lie menyeringai.

"Waktu Bola Roh itu hancur, kau pasti menelan pecahan warisannya secara diam-diam, ya? Pantas tiba-tiba kau jadi begini."

Matanya memerah.

"Kalau aku membunuhmu dan membelah perutmu, semua warisan itu akan jadi milikku!"

Begitu kata itu selesai, tubuh Han Lie melesat seperti anak panah yang lepas dari busur. Jauh lebih cepat dari sebelumnya. Ia sudah tidak main-main lagi.

Whuuush!

Lin Yuan baru hendak menghindar, suara itu kembali memperingatkan.

Peringatan.

Target melepas batas kekuatan.

Kemungkinan terkena tebasan pertama: 89 persen.

"Sial!"

Lin Yuan menggertakkan gigi. Tubuhnya masih kaku di tengah proses terobosan, gerakannya belum bebas.

Ia hanya mampu memiringkan tubuh sedikit ke kanan.

Sret!

Ujung pedang baja Han Lie berhasil menggores dada kirinya dengan dalam.

Darah segar memercik dan langsung tercuci oleh air hujan. Tubuh Lin Yuan terpental dua meter dan berguling di atas tanah berlumpur yang dingin.

"Senior Han hebat! Habisi dia!"

"Jangan kasih ampun!"

Empat murid di belakang langsung bersorak, mengira pertarungan sudah selesai.

Namun detik berikutnya, dengan tangan gemetar berlumuran lumpur, Lin Yuan kembali berdiri.

Napasnya memburu, darah terus mengalir dari dadanya, tapi sorot matanya tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut. Justru terlihat buas.

Han Lie mulai kehilangan kesabarannya.

"Kenapa kau belum mati juga, kecoa?!"

Lin Yuan menghapus darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan.

"Luka seperti gigitan nyamuk begini... belum cukup untuk menyuruhku mati."

"Kurang ajar! Serang bersama! Potong kedua kakinya!"

Empat murid itu langsung bergerak. Mereka mengepung Lin Yuan dari empat arah.

Satu membawa pedang, dua membawa golok, satu lagi menggenggam tombak pendek yang berkilat.

Dikepung. Terluka. Ditambah proses terobosan belum selesai.

Melihat itu, Lin Yuan justru perlahan memejamkan mata. Bukan menyerah.

Ia menarik napas dalam dan merasakan denyutan gerbang hitam di dalam dadanya.

Detik berikutnya, dunia kembali berubah.

Gerakan kelima orang itu melambat di matanya. Butiran hujan yang jatuh terlihat jelas, satu per satu.

Bahkan ia bisa merasakan arah hembusan napas setiap lawan dan bau anyir darahnya sendiri.

Insting Tempur Dasar aktif.

Menganalisis medan pertempuran...

Di depan mata Lin Yuan, jalur-jalur cahaya tipis mulai muncul di atas tanah berlumpur.

Ada yang berwarna merah darah yang berarti kematian, ada yang kuning yang berarti luka parah, dan ada satu jalur hijau tipis yang berkelok di antara bebatuan licin menuju sisi tebing yang curam.

Jalur dengan peluang bertahan hidup tertinggi ditemukan.

Kemungkinan selamat: 63 persen.

Lin Yuan membuka matanya. Sudut bibirnya yang berdarah perlahan terangkat membentuk seringai.

"Aku mengerti..."

Ia tidak berniat menghadapi lima orang sekaligus seperti orang bodoh. Ia akan memanfaatkan hujan, memanfaatkan lumpur, dan memanfaatkan keserakahan mereka sendiri.

Melihat Lin Yuan justru tersenyum di tengah kepungan, bulu kuduk Han Lie berdiri. Firasat buruk yang tidak bisa dijelaskan menusuk tengkuknya.

"Jangan buat dia bernapas! Lumpuhkan sekarang!"

Empat murid itu mempercepat langkah dengan senjata terhunus.

Sementara Lin Yuan, melangkah ke jalur hijau itu.

Bukan untuk melarikan diri.

Melainkan untuk memulai perburuan pertamanya sebagai Pemakan Takdir.

***

Lin Yuan tidak kabur. Ia berlari mengikuti jalur hijau tipis di atas genangan air yang hanya bisa dilihat dirinya.

Langkahnya tidak terburu-buru, namun setiap pijakan menghentak lumpur dengan perhitungan yang aneh. Seolah ia sudah tahu batu mana yang licin, akar mana yang kuat.

"Jangan biarkan sampah itu kabur!"

Han Lie meraung dari belakang, suaranya pecah karena amarah.

Lima orang itu mengejar dengan sepatu yang licin di jalan pegunungan yang sudah jadi bubur.

Lin Yuan melompati batu besar yang tertutup lumut, mendarat dengan lutut sedikit menekuk untuk meredam beban.

Suara itu berbisik.

Target pertama memasuki Celah Takdir.

Peluang berhasil: 94 persen.

Lin Yuan tidak menoleh. Ia justru sengaja memperlambat langkah setengah detik.

Murid yang membawa tombak pendek di barisan paling depan melihat punggung Lin Yuan terbuka lebar dan menyeringai sinis.

"Ketemu! Mati kau!"

Ia menusukkan tombaknya lurus ke punggung Lin Yuan dengan sekuat tenaga.

Tepat sebelum ujung besi itu menyentuh kulit, lutut Lin Yuan menekuk dan ia merunduk dalam. Gerakannya bukan menghindar, tapi menjatuhkan diri ke lumpur.

Tombak itu meleset tipis di atas kepalanya.

Bruk!

Karena terlalu bernafsu menusuk, kaki murid itu sendiri yang menginjak batu licin yang tadi sengaja diinjak Lin Yuan. Batu yang tertutup lumut hijau tebal.

"Aaaah!"

Tubuhnya kehilangan keseimbangan total dan menghantam keras murid di sebelahnya yang membawa golok.

Keduanya terguling-guling menuruni lereng kecil yang penuh duri, menjerit kesakitan.

Han Lie membelalak. "Dua orang sekaligus? Sial!"

Lin Yuan terus bergerak tanpa menghentikan langkah. Napasnya sudah memburu, luka di dadanya kembali berdarah karena gerakan tadi.

Sisa dua murid saling berpandangan, wajah mereka mulai pucat. Mereka mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Lin Yuan.

"Jangan terpancing! Dia pakai trik licik! Kepung dari dua sisi!"

Keduanya berpisah. Satu memotong jalan dari kiri, satu dari kanan dengan golok terangkat.

Lin Yuan menarik napas panjang yang bercampur bau tanah basah. Matanya menangkap benang-benang tipis di sekitar kedua lawannya.

Salah satu benang di leher murid sebelah kiri tiba-tiba berubah menjadi hitam pekat dan berdenyut kencang.

Celah Takdir kedua terbuka.

Lin Yuan mengubah arah mendadak ke kiri, seolah hendak menerobos.

Murid di sebelah kiri panik dan langsung mengayunkan pedangnya membabi buta.

"Jangan halangi aku!"

Namun pada saat yang sama, kaki Lin Yuan menginjak akar pohon tua yang menonjol dari tanah. Ia menggunakan akar itu sebagai tumpuan untuk memutar tubuhnya 90 derajat.

Swiiish!

Karena putaran mendadak Lin Yuan, pedang murid itu kehilangan target dan justru menebas lengan rekannya sendiri yang datang dari kanan.

"AARGH! Asal tebas, Kau buta?!"

Darah memercik. Golok di tangan rekannya terlepas dan berputar jatuh ke tanah berlumpur dekat kaki Lin Yuan.

Kesempatan!

Lin Yuan menyambar pedang besi itu. Pedang kayu di tangannya yang sudah retak dari tadi akhirnya tidak kuat lagi.

Krak! Patah jadi dua.

Ia menatap sisa pedang kayu itu selama sepersekian detik. Pedang sederhana itu telah menemaninya dihina selama tiga tahun di Sekte Awan Langit.

Tanpa ragu, ia melemparkannya. Tangannya kini menggenggam pedang besi yang dingin, berat, tapi nyata. Ini pedang sungguhan.

Han Lie akhirnya menyusul dengan wajah merah padam seperti kepiting rebus.

"Murid sampah! Kau mempermainkanku!"

Aura Tubuh Fana Tingkat Ketiga meledak dari tubuhnya. Tanah di bawah kakinya retak karena hentakan Qi.

"Tak akan kuberi kesempatan lagi! Teknik Pedang Angin Retak!"

Swoosh!

Tiga bayangan pedang muncul bersamaan, membelah tirai hujan. Jauh lebih cepat dan mematikan dari sebelumnya.

Pupil mata Lin Yuan mengecil. Rasa dingin merambat di tengkuknya.

Bahaya tinggi terdeteksi.

Menganalisis lintasan... Satu titik kelemahan ditemukan.

Di antara tiga bayangan yang mengerikan itu, Lin Yuan melihat satu celah tipis berwarna emas, selebar telapak tangan, tepat di antara bayangan pertama dan kedua.

Tanpa ragu, ia melangkah maju masuk ke dalam tebasan itu.

Han Lie tertawa puas. "Masuk perangkap! Mati kau!"

Detik berikutnya, tubuh Lin Yuan memutar hanya setengah langkah dengan presisi yang tinggi.

Dua bayangan pedang melewati sisi tubuhnya dengan jarak satu jari, merobek jubahnya. Bayangan ketiga hanya menggores lengan bajunya.

Sementara pedang besi di tangan Lin Yuan menusuk lurus, bukan ke jantung, tapi ke pergelangan tangan yang memegang pedang.

Prak!

Gagang pedangnya menghantam tulang pergelangan Han Lie dengan keras.

"UGH!"

Pedang Han Lie terlepas. Belum sempat ia menarik napas, tinju berlumpur Lin Yuan sudah menghantam dadanya dengan seluruh sisa tenaganya.

Buuk!

Han Lie terpental tiga meter dan berguling di tanah, mulutnya menyemburkan darah segar.

"Darah... aku... dikalahkan? Oleh sampah...?"

Pada saat yang sama, benang emas yang melayang di sekitar tubuh Han Lie perlahan terlepas dan melesat masuk ke dada Lin Yuan dengan hangat.

Takdir Kemenangan berhasil dimangsa.

Takdir Kematian berbalik.

Sinkronisasi meningkat menjadi 15 persen.

Selamat. Kau resmi memasuki Tubuh Fana Tingkat 1.

Gelombang Qi tipis menyebar dari tubuh Lin Yuan. Darah di luka dadanya perlahan berhenti mengalir, napas yang tadinya sesak kini menjadi stabil dan dalam.

Di kejauhan, di puncak tebing yang diselimuti hujan, sesosok pemuda berjubah putih berdiri dengan tangan di belakang punggung. Tatapannya tertuju lurus ke arah Lin Yuan.

Sudut bibirnya terangkat tipis.

"Menarik... kekuatan seperti itu seharusnya tidak dimiliki seorang sampah."

Petir menyambar dan menerangi wajah itu.

Zhao Feng.

Di balik tatapannya yang tenang, niat membunuh mulai tumbuh semakin kuat.

Bersambung...

1
Hadi Hadi
😍😍😍💪💪💪
Hadi Hadi
up up up 💪
Hadi Hadi
sikat 💪
Hadi Hadi
semangat 💪
Hadi Hadi
bunuh
Hadi Hadi
bantai 💪
nanonano
bab mengulang lagi
nanonano: ada 2 bab yang mengulang thor. judul bab beda tp isi sama dengan bab sebelumnya
total 2 replies
Cahya Laela Tsaniya
semangat Thor 💪💪
Otna Forever: Makasih, sehat selalu 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!