NovelToon NovelToon
Anak CEO Memanggilku Mama

Anak CEO Memanggilku Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Pengasuh / Ibu Tiri / Pelakor jahat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 05 - Perempuan dari Lapas

Nenek Sari tidak langsung mengenali Naya.

Di ranjang kelas tiga rumah sakit, tubuh tua itu tampak lebih kecil dari ingatan Naya. Pipinya cekung. Rambutnya lebih putih. Selang infus menempel di punggung tangan yang dulu kuat menumbuk rempah.

Naya berdiri di pintu ruang rawat, memegang kantong plastik berisi buah murah yang ia beli di depan rumah sakit.

"Nek."

Nenek Sari menoleh pelan.

Matanya yang keruh menatap Naya lama, lalu membesar.

"Naya?"

Satu kata itu membuat lutut Naya lemas.

Ia berlari kecil ke samping ranjang dan menggenggam tangan Nenek.

"Iya, Nek. Naya pulang."

Nenek Sari menangis tanpa suara. Tangannya yang lemah mengusap wajah Naya, seperti memastikan cucu yang ia besarkan bukan bayangan.

"Kamu kurus sekali, Nak."

Naya tersenyum. "Nenek juga."

"Katanya kamu kuliah. Katanya kamu kerja di Jakarta. Kenapa tidak pernah pulang?"

Naya menunduk.

Di belakangnya, sahabat lama Naya, Yuni, berdiri dengan mata merah. Yuni yang menghubungi Naya begitu tahu ia bebas. Yuni juga yang selama ini diam-diam menjaga Nenek Sari sebisanya, meski uangnya pas-pasan.

"Saya sibuk, Nek," kata Naya akhirnya. "Maaf."

Nenek Sari mengusap tangannya. "Tidak apa-apa. Yang penting kamu hidup."

Kalimat itu sederhana, tetapi menusuk tempat paling sakit.

Hidup.

Naya memang hidup.

Tapi empat tahun terakhir rasanya bukan hidup. Hanya bertahan dari pagi ke pagi.

Yuni mengajak Naya keluar sebentar setelah Nenek tertidur.

Di koridor rumah sakit yang bau karbol, Yuni menyerahkan beberapa lembar tagihan.

"Aku sudah bayar sebagian. Tapi ini masih banyak, Nay. Dokter bilang Nenek harus lanjut perawatan. Kalau tidak..."

Yuni tidak melanjutkan.

Naya melihat angka-angka itu.

Tangannya dingin.

"Keluarga Pradipta pernah kirim uang?"

Yuni tertawa sinis. "Awal-awal ada. Setelah itu hilang. Waktu aku telepon nomor yang mereka tinggalkan, katanya urusanmu sudah selesai."

Urusanmu sudah selesai.

Naya melipat tagihan itu perlahan.

"Aku cari kerja."

Yuni menatapnya ragu. "Nay, kamu baru keluar. Istirahat dulu sehari."

"Tagihan tidak istirahat."

"Tapi... statusmu..."

Mantan napi.

Yuni tidak mengucapkannya, tetapi kata itu berdiri di antara mereka.

Naya tersenyum tipis. "Aku tahu."

Hari pertama, ia melamar sebagai kasir minimarket. Ditolak setelah HR meminta SKCK.

Hari kedua, ia mencoba menjadi pelayan warung makan. Pemilik warung menerimanya sampai seorang tetangga rumah sakit mengenali wajahnya dari grup WhatsApp lama yang pernah menyebarkan berita kasus Pradipta. Sore itu juga ia diminta pergi.

Hari ketiga, ia menawarkan diri membersihkan apartemen harian. Pemilik unit membayar setengah karena "orang sepertimu harus bersyukur masih dipercaya masuk rumah orang".

Naya mengambil uang itu tanpa protes.

Malamnya, tagihan rumah sakit masih kurang jauh.

Yuni datang dengan wajah bersalah.

"Ada kerjaan cepat. Tapi aku tidak enak bilang."

Naya menatapnya. "Apa?"

"Temanku kerja di lounge hotel daerah Kuningan. Bukan... bukan yang macam-macam. Awalnya cuma waitress. Tapi tamunya orang kaya. Tipsnya besar."

Naya diam.

Yuni buru-buru menambahkan, "Kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa. Aku cuma..."

"Aku mau."

"Nay."

"Aku mau, Yun."

Malam itu Naya memakai gaun hitam pinjaman yang terlalu pendek untuk kenyamanannya. Ia merias wajah tebal agar tidak ada yang mengenali mata lelahnya. Rambutnya diikat tinggi. Sepatu hak Yuni membuat kakinya sakit sejak langkah pertama.

Lounge hotel itu penuh musik pelan, tawa pria mabuk, aroma parfum mahal, dan gelas-gelas yang harganya mungkin cukup untuk membayar obat Nenek seminggu.

Manajer menatap Naya.

"Pengalaman?"

"Belum."

"Cantik kalau dirapikan. Tapi jangan bikin masalah. Di sini tamu nomor satu. Kalau disuruh tuang, tuang. Kalau disuruh senyum, senyum. Paham?"

Naya mengangguk.

"Nama panggilan?"

"Naya."

Manajer mengerutkan kening. "Terlalu asli. Pakai Nana saja."

Naya tidak peduli.

Ia menjadi Nana selama uangnya bisa dipakai membeli obat.

Tiga jam pertama berjalan seperti mimpi buruk kecil. Ia menahan tangan tamu yang terlalu berani. Ia tersenyum saat dihina lambat. Ia belajar menuang wiski tanpa tumpah meski tangannya gemetar.

Menjelang tengah malam, manajer memanggilnya.

"VIP room. Tamu penting. Jangan macam-macam."

Naya mengikuti pelayan lain membawa nampan. Pintu ruang VIP dibuka. Udara dingin langsung menyapu wajahnya.

Di dalam ada beberapa pria berjas. Namun perhatian ruangan berpusat pada satu pria yang duduk di sofa tengah.

Arkan Wiratama.

Naya tidak tahu namanya saat itu.

Ia hanya tahu pria itu berbeda. Diamnya membuat orang lain menurunkan suara. Wajahnya tegas, matanya gelap, kemejanya sederhana tapi mahal. Ia tidak tertawa bersama yang lain. Ia hanya menatap gelas di tangannya seolah sedang menimbang racun.

Naya masuk dengan kepala tertunduk.

"Tuang untuk Pak Arkan," bisik pelayan di sampingnya.

Naya mendekat.

Saat ia menuang, seseorang di belakang sengaja menyenggol sikunya. Minuman tumpah ke meja, sedikit mengenai tangan Arkan.

Ruangan senyap.

Manajer yang ikut masuk langsung pucat.

"Maaf, Pak Arkan! Dia baru. Saya..."

Arkan mengangkat mata.

Naya membeku.

Mata itu.

Tubuhnya bereaksi sebelum pikirannya bekerja. Napasnya tertahan. Jarinya mencengkeram botol. Bau tanah basah, darah, dan kebun cengkeh mendadak kembali begitu kuat sampai ia hampir muntah.

Pria itu juga menatapnya sedikit lebih lama dari seharusnya.

Namun riasan tebal, rambut, lampu remang, dan empat tahun luka membuat Naya menjadi orang lain.

Arkan tidak mengenalinya.

Yang terlihat olehnya hanya waitress lounge dengan gaun pendek dan wajah terlalu pucat.

"Keluar," katanya dingin.

Manajer langsung menampar Naya di depan semua orang.

Pipi Naya terbakar.

"Minta maaf!" bentak manajer.

Naya menunduk dalam.

"Maaf, Pak."

Arkan tidak menjawab.

Naya keluar dengan langkah kaku. Di koridor, ia memegang pipinya. Ia ingin menangis, tapi air mata tidak keluar. Rupanya tubuhnya sudah belajar berhemat bahkan untuk kesedihan.

Manajer menyusul dan memarahinya habis-habisan.

"Kamu tahu siapa itu? Arkan Wiratama! Kalau dia komplain, kamu selesai. Pergi sana. Malam ini tidak usah kerja lagi."

Naya menatapnya. "Tapi upah saya..."

"Upah? Kamu hampir bikin tempat ini kena masalah!"

Ponsel Naya bergetar.

Telepon dari rumah sakit.

Ia mengangkat dengan tangan gemetar.

"Bu Naya? Mohon segera ke administrasi. Deposit perawatan Ibu Sari harus ditambah malam ini. Kalau tidak, obat lanjutan belum bisa diberikan."

Naya menutup mata.

"Berapa?"

Angka yang disebut membuat dadanya kosong.

Manajer sudah berbalik pergi.

Naya melihat pintu VIP.

Ia tahu ia seharusnya pergi. Ia tahu pria di dalam sana membuat seluruh tubuhnya ingin lari. Ia tahu memohon kepada orang kaya hanya akan menambah penghinaan.

Tapi Nenek Sari membutuhkan obat malam ini.

Naya menyeka pipinya, lalu berdiri di dekat lift yang akan dilewati Arkan.

Beberapa menit kemudian pintu VIP terbuka. Arkan keluar bersama dua pengawal. Langkahnya cepat.

Naya maju.

"Pak."

Pengawal langsung menghalangi.

Arkan berhenti tanpa menoleh. "Apa lagi?"

Naya menelan harga dirinya.

"Minuman di meja tadi ada yang dicampur sesuatu."

Baru kali itu Arkan menoleh.

Matanya tajam.

"Apa?"

"Saya lihat salah satu tamu menuang dari botol kecil waktu Bapak bicara di telepon. Saya tidak tahu itu apa. Tapi kalau Bapak mau periksa..."

Pengawal saling pandang.

Arkan menatap Naya lebih lama.

"Kenapa baru bilang sekarang?"

Karena saya butuh uang.

Karena saya takut.

Karena melihat mata Anda membuat saya kembali ke malam yang ingin saya kubur.

Naya tidak mengatakan semua itu.

Ia hanya menjawab jujur sebagian.

"Karena saya butuh bantuan."

Bibir Arkan melengkung sinis.

"Berapa?"

Pipi Naya yang tadi ditampar terasa panas lagi.

"Saya tidak menjual diri, Pak. Saya menjual informasi."

Untuk sesaat, pengawal di belakang Arkan tampak kaget.

Arkan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet, melemparkannya ke lantai di dekat sepatu Naya.

"Ambil. Lalu jangan muncul di depan saya lagi."

Naya melihat uang itu.

Harga dirinya berteriak.

Tangan Nenek Sari yang dingin di ranjang rumah sakit menjawab lebih keras.

Ia berjongkok dan memungut uang itu satu per satu.

Arkan menatapnya dengan sesuatu yang mirip jijik.

Naya berdiri lagi.

"Terima kasih, Pak."

Ia tidak tahu pria itu adalah orang dari kebun.

Arkan juga belum tahu perempuan yang ia rendahkan barusan adalah perempuan yang selama empat tahun ia cari dalam mimpi buruknya.

Malam itu mereka berpisah sebagai dua orang asing.

Namun takdir sudah lama menyimpan nama masing-masing di luka yang sama.

1
Allea
emg belom tes dna juga itu si arkan 😑naya gimana sih kamu🙄
fergusooo🙈
SEMANGATTT KAKAK💪🏻💪🏻
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Rania
Dew666
👍
Citieana Pangestu
👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!