Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.
Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Bertemu Si Pemilik Hati
"Huh! Sialan!" pekik Adrian seraya membanting ponselnya ke atas sofa kulit di ruang tengah rumah mewahnya di Jakarta.
Benturan itu memicu bunyi berdebuk yang cukup keras.
"Kenapa, Sayang?" tanya Profesor Eliza, istri pertamanya Adrian yang melangkah anggun dari arah dapur.
"Kamu sih! Pakai ngasih ide gila buat ngirim Rina ke Bandung segala! Sekarang dia makin susah dihubungi!" kesal Adrian, melampiaskan seluruh amarahnya pada sang istri tua.
Eliza tertawa kecil, suara tawanya terdengar begitu dingin di telinga Adrian. Tanpa ragu, wanita itu meraih bantal sofa di dekatnya dan melemparnya tepat ke arah dada Adrian.
"Heh! Lupa kamu, ya, siapa yang bayarin utang-utang kamu kemarin?" sahut Eliza dengan nada yang mendadak tajam. Matanya memicing menatap suaminya. "Kalau bukan aku yang menutupi semua hutang miliaran itu, sekarang kamu udah diseret ke kantor polisi!"
"Ih, jangan asal bicara ya! Aku sudah bayar pakai apartemen mewah!" bela Adrian tak mau kalah, meski suaranya sedikit mengecil.
"Apartemen itu harganya memang empat miliar! Tapi kan yang satu miliar kamu transfer ke istri mudamu yang cantik itu, lupa kamu?!" teriak Eliza mengingatkan, suaranya memenuhi ruang tengah yang luas. "Sedangkan utang kamu di luar sana itu totalnya sepuluh miliar! Sisanya, enam miliar lagi, siapa yang bayar? Aku! Jangan gila dan tahu diri sedikit!"
Adrian terdiam seketika. Pembelaannya runtuh dalam sekejap. Pria itu menghembuskan napas kasar lalu membaringkan tubuhnya di sofa menatap langit-langit rumah dengan wajah kesal. Ia menyadari posisinya yang sepenuhnya terkunci oleh permainan Eliza.
"Terus... aku harus gimana sekarang?" tanya Adrian ragu, suaranya mendadak lirih dan lemah, mirip seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainan kesayangannya.
Eliza mendengus mengejek. Ia memperbaiki posisi duduknya lalu memandang Adrian dari atas ke bawah.
"Mana aku tahu," jawab Eliza santai sambil mengikir kuku jarinya. "Ya kalau kamu memang kebelet mau balik lagi ke cewek itu, tinggal pergi saja ke Bandung. Tapi ingat, tinggalkan semua hartamu di Jakarta buat aku. Anggap saja buat menutup sisa utang-utangmu yang lain."
Adrian mendelik kaget. "Sialan..." bisiknya kasar. Ia baru menyadari sepenuhnya bahwa ia telah terjebak masuk ke dalam perangkap yang dibuat Eliza dengan sangat rapi. "Kenapa juga sih aku harus menerima tawaranmu buat melunasi utang di awal waktu kayak gini?"
"Loh? Kamu sendiri yang panik dan nggak mau punya utang!" sergah Eliza balik menatap Adrian dengan pandangan heran yang dibuat-buat. "Kalau kamu nggak mau dikejar-kejar debt collector, ya aku tutupi. Kan itu yang kamu mau dari awal? Kenapa begitu aku penuhi permintaanmu biar kamu bebas hutang, kamu malah marah-marah ke aku? Aneh banget jadi laki-laki."
"Eliza... iya, aku tahu. Aku yang mau menutup utangku. Tapi itu semua karena permintaan Ibuku! Dan Ibu bisa se-panik itu juga karena kamu yang panas-panasin, kan?!" seru Adrian mulai menyadari permainan belakang istrinya.
"Loh, kamu yang nuruti permintaan ibumu kok aku yang disalahin? Kamu ini kelewatan deh," tanggap Eliza santai, sama sekali tak terpengaruh oleh tuduhan suaminya.
"Ah! Selalu aku yang salah di mata kamu!" Adrian mengusap wajahnya kasar.
"Memang kamu yang salah," kekeh Eliza. Wanita itu kemudian meraih tangan Adrian yang terkulai lesu di atas sofa, lalu membelai jemari suaminya dengan nada mengejek. "Tapi yang penting sekarang... kamu sudah nggak punya utang. Dan yang paling penting, kamu sudah nggak punya istri muda lagi di Jakarta. Hahaha..."
"Sialan kamu, Eliza," umpat Adrian pelan.
Eliza tidak peduli sama sekali dengan umpatan itu. Ia justru tertawa lepas, begitu menikmati raut wajah Adrian yang tampak sangat menyesal karena telah melepaskan Rina yang seorang wanita muda cantik dan hangat yang kini terisolasi di Bandung.
Malam itu, Adrian tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan Rina terus menari-nari di ingatan dan benaknya. Ada rasa sungkan dan takut yang mengganjal di dadanya jika ia nekat menyusul ke Bandung; ia khawatir kehadirannya yang tiba-tiba justru akan membuat hubungannya dengan Rina semakin hancur.
Namun, saat matanya akhirnya terpejam di paruh malam, Adrian bermimpi. Dalam tidurnya, ia kembali berada di kamar apartemen yang hangat bersama Rina.
Mereka bercinta dengan begitu panas, meluapkan kerinduan yang membakar, hingga Adrian terbangun di pagi hari dengan napas terengah-engah dan tubuh yang bersimbah keringat dingin.
Saat fajar menyingsing, sensasi dari mimpi malam itu masih terasa begitu kental melekat pada tubuh dan pikirannya. Keinginan untuk menyentuh Rina tidak bisa ditahan lagi. Rasa rindu pada kehangatan wanita muda itu benar-benar membuat Adrian hampir gila.
Tanpa sepengetahuan Eliza yang sedang sibuk dengan urusan akademisnya, Adrian memanggil sopir pribadinya ke pelataran depan.
"Jadi kita ke sana, Pak?" tanya sang sopir memastikan sebelum jam menunjukkan waktu makan siang.
"Ya, kita ke Bandung sekarang," jawab Adrian tegas sambil menyisir rambutnya ke belakang. "Tapi aku bakal menginap di sana. Kalau Nyonya Eliza tanya, bilang saja aku sedang ada rapat mendadak dengan klien luar kota sampai besok."
"Baik, Tuan."
Tepat pukul 11 siang, mobil hitam milik Adrian membelah jalan tol menuju Bandung. Hati Adrian berdesir oleh rasa harap yang membuncah.
Di pangkuannya, terdapat kotak pizza hangat beraroma gurih dan beberapa batang coklat import kualitas terbaik yang merupakan makanan kesukaan Rina yang selalu bisa melunakkan hati wanita itu saat sedang merajuk.
Setibanya di Bandung, mobil Adrian berbelok memasuki area pemukiman yang tampak agak kusam. Saat melihat gedung tempat Rina tinggal, senyum pria itu justru mengembang.
Ia tidak peduli seberapa kecil atau tuanya tempat itu; yang terpenting adalah wanita di dalamnya.
Adrian melangkah menaiki lorong dengan kotak pizza dan cokelat di tangannya. Langkah kakinya terdengar mantap. Begitu sampai di depan pintu unit Rina, Adrian menahan napas sejenak, lalu menekan bel pintu.
Ting tong...
Di dalam apartemen sempitnya, Rina yang sedang sibuk merapikan loyang kue mendengarkan bunyi bel tersebut dengan dahi berkerut. Ia mengira itu adalah kurir ojek online yang hendak mengambil pesanan kue keringnya.
"Duh, padahal kan sudah kubilang pesanan baru bisa di-pick up besok pagi karena masuk sistem PO," gumam Rina kesal sambil mengusap tangannya yang belepotan tepung pada celemeknya.
Rina melangkah ke pintu utama dan memutar gagangnya. Namun, saat pintu besi itu terayun terbuka, napas Rina mendadak terhenti di tenggorokan.
Di ambang pintu, berdiri Adrian dengan kemeja rapi yang sedikit kusut, memegang kotak pizza besar dan beberapa batang coklat mewah. Pria matang itu menatapnya dengan pandangan penuh kerinduan dan senyum yang merekah.
Sensasi aneh menghantam dada Rina seketika. Walau logisnya membenci pria ini karena telah membuangnya selama tiga minggu tanpa kabar, tak bisa dipungkiri ada kembang api yang serasa meledak-ledak di dalam jantungnya saat melihat wajah tampan itu kembali.
"Oh..." jawab Rina datar, berusaha keras menutupi gejolak emosi di dalam dadanya.
"Hai, Sayang..." sapa Adrian lembut, matanya meneliti wajah Rina yang tampak makin dewasa dan cantik. "Maafkan aku, ya. Aku benar-benar sibuk banget di Jakarta."
"Sampai sesibuk apa sih, Om? Sampai nggak bisa membuka pesan dan mengangkat telepon dari aku?" ketus Rina sambil melemparkan pandangan dingin, namun jemarinya perlahan melebar pintu lebih luas.
Adrian menghela napas dengan raut wajah memelas yang biasa ia gunakan untuk meluluhkan Rina. "Kamu tahu sendiri kan, bisnis dan urusanku di Jakarta sepadat apa, Sayang..."
"Oh." Rina bersedekap dada, menatap Adrian tanpa ekspresi.
"Boleh aku masuk?" tanya Adrian pelan, menunjuk ke dalam unit apartemen.
Mendengar pertanyaan itu, Rina terdiam sesaat. Perang batin bergejolak di dalam pikirannya.
Antara ingin mengusir pria yang telah mencampakkannya ini, atau menuruti rasa rindu yang diam-diam menggerogoti hatinya selama tiga minggu terakhir. Akhirnya, Rina menarik napas panjang dan membuka pintu makin lebar.
"Masuk," cetus Rina singkat lalu berbalik arah membelakangi Adrian.
Melihat pintu terbuka, Adrian merasa ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh disiakan. Ia buru-buru melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, dan segera meletakkan kotak pizza di atas meja kayu kecil di dekat dapur.
Dengan cepat, Adrian membuka tutup kotak pizza tersebut. Aroma gurih keju yang meleleh dan rempah-rempah yang hangat langsung memenuhi ruangan studio yang sempit itu.
Rina yang berada di dekat meja dapur mencium aroma harum tersebut. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat sedikit, melahirkan senyum tipis yang sangat halus, namun cukup jelas untuk ditangkap oleh mata tajam Adrian.
"Aku sayang banget sama kamu, Sayang..." ucap Adrian mulai melancarkan bujuk rayunya. Ia melangkah mendekati Rina dari belakang.
Rina memutar tubuhnya, mendengus pelan. "Ah, mana percaya aku sama kata-kata Om lagi."
Adrian tersenyum nakal. Ia maju satu langkah hingga jarak di antara mereka terkikis habis. "Lihat deh... 'tiang benderaku' saja sudah berdiri tegak gara-gara melihat kamu. Yuk, kita main..."
Rina spontan mendorong dada Adrian dengan pelan, berusaha menahan napasnya yang mulai tidak teratur. "Ah! Kamu tuh ya! Kalau urusan 'tiang bendera' aja geraknya cepat banget! Tapi kalau urusan angkat telepon dari aku, susahnya setengah mati!"
"Maaf, Sayang... sungguh, aku minta maaf," bisik Adrian lembut. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya sendiri. "Aku benar-benar sibuk mengurus pelunasan utangku di bank. Itu semua gara-gara Ibuku yang nggak mau aku punya utang sama sekali."
Adrian lalu membuka aplikasi pesan dan memperlihatkan tangkapan layar percakapannya dengan sang ibu kepada Rina.
Di sana memang tertera pesan-pesan sang ibu yang mendesaknya untuk segera menyelesaikan masalah keuangan, lengkap dengan foto lembaran tagihan bank yang harus dilunasi, serta dokumen bukti bahwa apartemen mewah tempat tinggal mereka dulu di Jakarta memang telah resmi terjual.
"Tuh, liat sendiri. Aku nggak bohong, kan? Apartemen itu dijual murni buat tutup utang, bukan buat menyingkirkan kamu," ujar Adrian membela diri dengan data yang sudah ia siapkan.
Rina membaca pesan-pesan itu sejenak. Amarahnya sedikit luruh, namun hatinya masih menyisakan ganjalan. "Tapi... apa memangnya enggak bisa angkat telepon sebentar saja? Sekadar bilang 'aku aman' gitu?"
"Maafkan aku, Sayang... Sungguh. Udah ya, jangan marah-marah lagi..." bisik Adrian penuh nada penyesalan.
Sebelum Rina sempat membalas, Adrian sudah merengkuh tubuh molek wanita muda itu ke dalam pelukannya.
Adrian mendaratkan kecupan-kecupan hangat di sepanjang leher mulus Rina, menghirup aroma harum tubuh yang sangat ia rindukan.
Sentuhan fisik mulai bekerja bagai sihir membuat Rina kembali dibuat mabuk.
Kenangan-kenangan hangat dan gairah saat berdua dengan 'Om ganteng'-nya ini mendadak merebak kembali, membakar seluruh dinding pertahanan yang telah didirikan Rina selama tiga minggu ini.
Adrian mulai beraksi dan Rina tidak menolak.
Roboh sudah segala rasa gengsi dan amarah yang sempat membakar dadanya luntur sepenuhnya terkalahkan oleh gairah yang membumbung tinggi.
Sambil terkekeh manja, Rina menarik tangan Adrian menuju area tempat tidur di sudut ruangan.
Tanpa membuang waktu, Rina melepas satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya membiarkan keindahan tubuh mulusnya terpampang bebas di depan mata Adrian.
Pria matang itu menelan ludah kasar terpana melihat betapa mempesonanya Rina siang itu. Adrian dengan cepat menanggalkan pakaiannya sendiri dan menindih tubuh wanita muda itu di atas ranjang.
Siang yang dingin di Kota Bandung itu seketika berubah menjadi panas. Keduanya bergulat dalam luapan rindu yang terpendam, rindu yang telah menumpuk dan membeku selama tiga minggu.
Dinding-dinding apartemen yang sempit itu menjadi saksi bisu bagaimana kemarahan Rina meluap dan mencair menjadi desahan-desahan manja.
Rina kembali membara. Dia benar-benar melepaskan semua gairahnya.
Setelah sampai ke puncak kenikmatan, ruangan kamar Rina kembali hening, hanya tersisa suara napas mereka berdua yang perlahan mulai teratur kembali.
"Rin," bisik Adrian memulai percakapan mereka setelah lepas semua ketegangan. "Maafin Om, ya,"