Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.
happy reading💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANG-BAYANG YANG MENGINTAI
Pagi itu, suasana di loker karyawan kafe terasa sedikit berbeda. Aisyah yang baru saja selesai merapikan nampan menoleh ke arah pintu masuk, dan sepasang matanya seketika berbinar cerah penuh kekaguman. Di ambang pintu, berdiri Maira yang tampak canggung dengan penampilannya yang baru.
“MasyaAllah, Mbak Maira cantik banget kalau pakai rok panjang gitu! Anggun banget kelihatannya, Mbak,” puji Aisyah tulus tanpa bisa menyembunyikan rasa takjubnya.
Maira refleks meremas rok panjang berbahan katun longgar yang dipakainya. Sebelum keluar dari rumah tadi, ia menghabiskan waktu hampir setengah jam di depan cermin, menimbang-nimbang dengan penuh keraguan apakah ia pantas mengenakan pakaian seperti ini. Maira memang sedang mencoba mencicil penampilannya sedikit demi sedikit untuk menjadi lebih tertutup. Meskipun untuk saat ini, ia belum bisa sepenuhnya menutup rambut panjangnya yang masih diikat gaya kuncir kuda.
Maira membenarkan letak ikatan rambutnya dengan canggung. “Tapi, Syah... kalau kerja pakai rok gini, sebenarnya ribet gak sih? Gue takut malah ganggu pas lagi bawa pesanan pelanggan,” ucap Maira ragu.
Aisyah tersenyum manis, mendekati Maira untuk membantu merapikan kerah seragam kafenya. “Iya, Mbak. Itu wajar kok, karena Mbak Maira belum terbiasa aja. Nanti kalau sudah biasa juga bakal terasa nyaman. Tapi kalau semisal Mbak ngerasa ribet atau kurang leluasa buat bergerak, gak apa-apa banget kok kalau mau pakai celana dulu. Yang penting celananya yang longgar dan gak ketat, Mbak.”
Maira mengangguk pelan, merasa sedikit lega. “Iya deh. Kalau gue belum nyaman pakai rok, nanti gue ganti pakai celana longgar aja, gak apa-apa kan, Syah?”
“Gak apa-apa dong, Mbak. Pelan-pelan aja hijrahnya, yang penting istiqomah,” jawab Aisyah sembari mengulum senyum hangat yang menenangkan.
Maira balas tersenyum. Di dalam hatinya, sebuah kehangatan yang asing menjalar. Ia begitu menyukai respons Aisyah yang selalu antusias, tulus, dan sama sekali tidak pernah menghakimi bagaimana kelamnya masa lalu Maira.
Kalau saja dari dulu gue punya teman yang salihah kayak Aisyah, mungkin hidup gue gak akan pernah seberantakan ini, batin Maira lirih.
Mengingat kembali bagaimana rapuhnya ia di masa lalu, bagaimana ia melampiaskan rasa kecewa dan dendamnya pada takdir dunia dengan melakukan hal-hal liar yang dibenci oleh Tuhannya, mendadak membuat Maira didera rasa malu yang teramat sangat pada dirinya sendiri. Namun, tepat saat rasa bersalah itu menguasai hatinya, bisikan lain berkecamuk di kepalanya.
Tapi gue kayak gini juga bukan sepenuhnya salah gue! Ini semua salah ayah tiri sialan itu! Salah Yudi yang sudah merusak masa kecil gue! batin Maira bergejolak kembali. Seolah-olah sosok iblis di dalam dirinya enggan membiarkan Maira merasa bersalah dan memohon ampun dengan tulus kepada Tuhannya, melainkan terus menghasutnya untuk memupuk dendam lama.
Siang harinya, kafe estetik tempat mereka bekerja mulai dipadati oleh pengunjung. Di salah satu sudut meja yang berada di dekat jendela besar, tampak sekumpulan pemuda modis sedang berkumpul. Tatapan mata mereka sejak tadi tidak lepas dari gerak-gerik Maira yang sedang sibuk membersihkan meja seberang.
“Eh, Bro. Itu bukannya si Maira, pacarnya si Rayn ya?” ucap salah satu cowok berkaos hitam sembari menyipitkan mata.
Temannya yang berambut ikal mendengus meremehkan. “Mantan, sih, tepatnya. Kabarnya mereka baru aja putus semalam.”
“Halah, palingan juga udah puas dipakai sama si Rayn, makanya sekarang dibuang begitu aja,” sahut cowok pertama disusul oleh tawa terbahak-bahak yang terdengar sangat merendahkan dari gerombolan itu.
Maira yang sama sekali tidak menyadari arti tatapan mereka, melangkah mendekat menuju meja tersebut sembari membawa nampan berisi beberapa cangkir kopi pesanan mereka. Begitu Maira meletakkan cangkir-cangkir itu di atas meja, salah satu cowok sengaja mencondongkan tubuhnya ke depan, mencoba menggoda Maira dengan senyuman nakal.
“Hai... kamu Maira, kan? Mantannya Rayn?” ucap cowok itu dengan nada meremehkan. “Kita sering ketemu loh di club malam. Lu lupa sama gue?”
Maira menahan napasnya sejenak. Gelombang rasa tidak nyaman langsung menyerang dadanya. Ia berusaha menjaga profesionalitas kerjanya dengan memasang wajah datar. “Maaf, Mas. Saya gak kenal sama Anda. Ini untuk semua pesanannya, permisi,” ucap Maira dingin.
Namun, tepat saat Maira berbalik dan berniat pergi, cowok itu dengan lancang menjulurkan tangan, menyambar pergelangan tangan Maira dan mencengkeramnya kuat untuk menahan gadis itu agar tidak pergi.
“Eits, bentar dulu dong, cantik. Jangan buru-buru pergi. Malam ini kita have fun yuk? Kita clubbing bareng, gue yang bayar semuanya,” goda cowok itu dengan tatapan mata yang liar.
Maira langsung panik. Rasa trauma didekati laki-laki asing membuat sekujur tubuhnya gemetar. “Gak! Makasih! Tolong lepasin tangan saya sekarang juga!” sentak Maira, mencoba menarik tangannya.
Melihat Maira berontak, cowok itu malah merasa tertantang egonya di depan teman-temannya. “Eits, sombong amat sih Lo! Barang bekas si Rayn aja belagu sok suci banget jadi cewek!” maki lelaki itu kasar, mengeratkan cengkeramannya.
Sementara itu, di sudut meja lain yang agak tersembunyi, sepasang mata elang sejak tadi telah menangkap seluruh kejadian tersebut dengan pandangan yang tajam dan dingin. Itu Fatih. Lelaki itu kebetulan sedang mampir ke kafe tersebut untuk beristirahat sejenak setelah menyelesaikan urusan pekerjaannya di luar. Fatih yang paling tidak bisa melihat ada seorang wanita yang dilecehkan, langsung bangkit berdiri dari kursinya. Langkah kakinya bergerak cepat mendekati meja nomor empat tersebut.
Puk.
Sebuah tangan yang kokoh mendarat dengan tegas di atas lengan cowok yang sedang mencengkeram tangan Maira.
“Mas, tolong lepasin tangannya. Ini tempat umum, gak baik kalau memperlakukan seorang perempuan dengan cara kasar kayak gitu,” ucap Fatih dengan suara baritonnya yang tenang namun sarat akan penekanan yang mengancam.
Cowok itu langsung berdiri dari kursinya dengan rahang mengeras. Alih-alih melepaskan tangannya dari Maira, ia justru dengan sengaja menarik tubuh Maira hingga mendekat ke dekapannya, memanfaatkan situasi untuk mengintimidasi. Maira tersentak, wajahnya pucat pasi dilingkupi rasa takut yang luar biasa.
“Siapa Lo berani-beraninya ngatur apa yang mau gue lakuin, hah?! Lagian cewek rusak ini juga sebenarnya mau kok diajak pergi sama gue. Udah biasa main dia mah!” ucap cowok itu sembari tertawa meremehkan bersama teman-temannya.
Di tengah kepanikan dan rasa takutnya, insting bertahan hidup Maira bangkit. Tanpa berpikir panjang, Maira langsung merunduk dan menggigit punggung tangan cowok itu dengan sekuat tenaga menggunakan giginya.
“Akhh! Sialan!” jerit cowok itu kesakitan, refleks melepaskan cengkeramannya.
Begitu tangannya terlepas, Maira langsung berlari kecil dan menyembunyikan tubuhnya di belakang punggung tegap Fatih, menjadikan tubuh kokoh lelaki itu sebagai benteng perlindungannya. Tubuh Maira bergetar hebat di balik punggung Fatih.
Cowok yang tangannya digigit itu mengumpat kasar sembari memegangi tangannya yang memerah. Ia menatap Fatih dengan pandangan penuh amarah. “Emang cewek ini siapanya Lo, hah?! Sok-sokan mau jadi pahlawan kesiangan Lu di sini!”
Fatih tetap berdiri tegak, memasang badan sepenuhnya untuk melindungi Maira di belakangnya. Wajahnya sama sekali tidak gentar. “Saya bukan siapa-siapa. Saya cuman gak suka lihat ada cowok yang bikin seorang perempuan gak nyaman, apalagi ini adalah tempat kerja dia.”
“Halah, bacot Lo!” bentak pria itu. Ia langsung mengepalkan tinjunya erat-earat, bersiap melayangkan sebuah pukulan keras tepat ke arah wajah Fatih.
Namun, dengan gerakan refleks yang sangat cepat dan terlatih, Fatih mengangkat tangan kanannya, menghadang dan menepis pukulan mentah itu dengan sangat mudah sebelum sempat mengenai wajahnya.
“Saya gak mau ribut di sini,” ucap Fatih dengan nada yang semakin dingin dan tajam. “Kalau kalian tetap nekat mau bikin kekacauan di sini, saya gak akan segan-segan buat laporin kalian semua ke polisi atas tindakan pelecehan.”
“Itu, Pak! Itu yang dari tadi bikin ribut di dalam, gerombolan cowok yang di sebelah sana!”
Sebuah suara nyaring memecah ketegangan. Itu Aisyah, yang ternyata diam-diam sudah kembali dari arah depan kafe bersama dengan dua orang petugas security bertubuh kekar.
Melihat kedatangan petugas keamanan kafe, nyali gerombolan cowok-cowok nakal itu langsung menciut. Mereka segera menyambar barang-barang mereka di atas meja dengan tergesa-gesa.
Sebelum melangkah pergi keluar dari pintu kafe, cowok yang memimpin keributan itu sempat menoleh ke arah Fatih dan menunjuk wajahnya dengan penuh dendam. “Awas Lo ya! Urusan kita belum selesai!” ancamnya kasar sebelum akhirnya melesat pergi dihalau oleh security.
Setelah keadaan benar-benar kondusif, Aisyah langsung berlari menghampiri Maira dengan wajah yang dipenuhi rasa khawatir yang mendalam. “Mbak Maira gak apa-apa? Ada yang luka? Kalau semisal Mbak ngerasa trauma atau pusing, saya bisa minta tolong manajer buat izinin Mbak istirahat di ruang belakang.”
Maira mengembuskan napasnya yang sejak tadi tertahan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. “Nggak, Syah... gue gak apa-apa kok. Makasih ya,” jawab Maira pelan, mencoba tersenyum tipis.
Namun, pandangan mata Maira perlahan-lahan beralih, menatap lekat ke arah profil samping wajah lelaki tegap yang berdiri di depannya. Jantung Maira kembali berdegup, namun kali ini karena rasa terkejut yang luar biasa.
Cowok ini... cowok yang semalam ada di jembatan jahanam itu, kan? batin Maira tak percaya.
Belum sempat Maira menyuarakan rasa terkejutnya, Aisyah yang berada di sampingnya justru melangkah maju mendekati lelaki tersebut dengan senyuman ceria yang teramat akrab.
“Kak Fatih? Kak Fatih ngapain ada di sini?” tanya Aisyah antusias, sukses membuat Maira terbelalak kaget di tempatnya berdiri.
Fatih menoleh ke arah Aisyah, sisa-sisa raut wajah tegasnya saat menghadapi preman tadi langsung meleleh, digantikan oleh senyuman hangat yang teramat teduh. “Tadi kebetulan habis ada urusan kerjaan di dekat sini, jadi mampir sebentar buat istirahat... sekalian nungguin jam shif kerja kamu selesai, mau jemput kamu pulang ke rumah,” jawab Fatih lembut.
Ohh... ternyata namanya Fatih, batin Maira, mengulang nama itu di dalam benaknya dengan perasaan yang campur aduk.
Rasa penasaran yang membuncah di dada Maira akhirnya tidak bisa ia tahan lagi. Ia melangkah maju satu langkah, menatap Fatih dengan pandangan menyelidik. “Tunggu... kamu... kamu cowok yang semalam ada di jembatan itu, kan?” ucap Maira blak-blakan.
Fatih mengalihkan pandangannya ke arah Maira. Lelaki itu mengangguk pelan dengan senyuman tipis yang sangat sopan.
Maira menelan air liurnya, merasa sedikit kikuk namun rasa terima kasihnya jauh lebih besar. “Kalau begitu... ini berarti Lo udah nolongin hidup gue untuk yang kedua kalinya. Eumhh... makasih banyak ya, Fatih,” ucap Maira tulus, menyebut nama pria itu untuk pertama kali.
Aisyah yang berdiri di antara mereka berdua langsung mengerutkan dahi, menatap Maira dan Fatih bergantian dengan wajah bingung. “Loh? Kalian... kalian berdua sebenarnya sudah saling kenal?” tanya Aisyah penasaran.
Maira melirik Fatih sebentar sebelum akhirnya menggeleng pelan ke arah Aisyah. “Nggak kok, Syah. Kebetulan kemarin malam... kami sempat gak sengaja ketemu di jalan.”