NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25

Asia lega. Lalu ia menoleh lagi pada Hugo dan Gilang. "Nero tadi minta beli Sugar Glider jadi aku antar," tambah Asia. Memberikan informasi singkat agar kesalahpahaman dua pria tegap di belakangnya itu makin bersih.

Hugo mengangguk pelan, memahami sepenuhnya situasi yang sebenarnya terjadi. Wajah tegasnya kini melunak kembali tenang dan penuh kendali.

"Lanjutkan saja. Aku akan menunggu kalian," ujar Hugo datar namun penuh kepastian.

"Ya," sahut Asia singkat. lalu berbalik kembali fokus mengurus pembayaran dan perlengkapan hewan baru Nero.

Setelah menyelesaikan pembayaran dan merapikan seluruh perlengkapan sugar glider ke dalam kantong, Asia menggandeng Nero keluar dari toko hewan. Langkahnya tampak ringan dan berayun. Bocah itu senang akhirnya dapat hewan yang ia inginkan tadi.

****

Nero berjalan bangga sambil menjinjing kandang kecil berisi hewan barunya. Matanya tak henti-hentinya melirik ke arah Hugo yang berjalan tenang di samping Gilang.

"Hewannya lucu kan, Papa?" pamer Nero mendongak.

"Iya. Tapi nanti di rumah, tetap harus kamu yang merawatnya," sahut Hugo datar namun ada secuil nada kehangatan di dalamnya.

"Pasti!" sahut Nero mantap.

Tepat saat mereka sampai di samping motor matic Asia yang terparkir tak jauh dari mobil Hugo, perut Nero mendadak berbunyi cukup nyaring. Bocah itu menyengir polos sambil memegang perutnya.

"Papa ... aku lapar. Tadi kan belum sempat ngemil," bisik Nero jujur.

Asia melirik. Dia juga lapar tapi tidak nyaman jika mengusulkan makan lebih dulu karena ada kapten Hugo. Dia merasa harus menunggu kapten Hugo sendiri yang punya ide.

"Lebih baik kita makan dulu baru pulang," usul Hugo paham.

Gilang mengangguk. Asia bersyukur dan lega. Rasa laparnya akhirnya terselamatkan tanpa ia perlu mengumpulkan keberanian untuk meminta atau merasa sungkan.

"Mau makan apa, Jagoan?" tanya Gilang santai sambil melirik Nero yang wajahnya langsung berseri-seri.

"Mau ayam goreng! Sama es krim yang besar!" seru Nero cepat tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

Hugo mengangguk singkat, lalu menunjuk sebuah rumah makan yang halamannya cukup luas di seberang jalan. "Kita makan di seberang."

"Baik," sahut Asia sopan sambil tersenyum tipis.

"Ada es krimnya engga?" tanya Nero ragu.

Semua menoleh ke arah rumah makan di seberang. Asia sangsi. Karena itu rumah makan keluarga tradisional. Jadi kemungkinan es krim jarang ada di menu mereka.

"Hmmm ... Pak Hugo. Sepertinya disana tidak tersedia es krim." Dengan sopan Asia bicara.

Hugo diam sambil berpikir. "Kalau gitu kita ganti ke tempat lain saja. Kira-kira dimana Gilang?"

Gilang mengerjap. "Saya juga kurang paham soal begitu, Kapten."

"Ada resto cepat saji di jalan depan. Saya rasa ada menu es krim disana," kata Asia sambil menunjuk ke jalan besar.

Hugo melirik Gilang sebentar. "Baiklah kalau begitu. Kita akan ke resto depan," kata Hugo memutuskan.

"Siap, Kapten," jawab Gilang sigap. Ia berjalan membukakan pintu untuk Hugo sebelum menyusul ke kursi kemudi.

"Kita naik motor lagi kan, Tante?" bisik Nero antusias memegangi lengan Asia seolah takut dipindahkan ke mobil papanya.

"Iya, Nero," jawab Asia. "Lain kali kita beli helm biar aman."

"Oke!"

***

Di gerai makanan.

"Kalian kelihatan sudah akrab," celetuk Gilang sambil menyandarkan punggungnya di kursi. Senyum tipis terukir di wajah kaku ajudan itu.

"Enggak, enggak. Bukan akrab. Kita hanya barengan aja," kata Nero menolak disebut akrab dengan nada tegas khas anak-anak yang gengsi. Bocah itu bahkan makin membusungkan dada, enggan mengakui kalau ia mulai nyaman di dekat Asia.

Asia yang sedang menyeruput es teh manisnya menoleh. Ia menahan tawa melihat kepolosan Nero yang mendadak salah tingkah namun tetap berusaha menutupi gengsinya.

"Oh, cuma barengan ya?" goda Asia sambil menaik-turunkan alisnya ke arah Nero. "Padahal tadi ada yang panik minta tolong Tante buat nangkep sugar glider-nya."

"Kan... kan itu karena Tante yang paling dekat sama raknya!" kelit Nero tak mau kalah.

Hugo sejak tadi menyimak perdebatan kecil itu. Sudut bibirnya terangkat sangat tipis melihat tingkah putranya.

"Barengan atau akrab, yang penting kamu tidak merepotkan orang lain, Nero," ujar Hugo tenang dengan suara beratnya, memotong perdebatan gengsi itu sebelum Nero makin merajuk.

"Aku enggak merepotkan kok, Papa!" sahut Nero cepat, kini beralih membela diri di hadapan ayahnya.

Gilang melirik Hugo lagi dengan kode mata yang penuh arti, seolah memberi isyarat bahwa pertahanan bocah sekecil Nero ternyata runtuh juga oleh cara pendekatan Asia yang santai dan tanpa paksaan.

Hugo menatap putranya dengan sorot mata yang penuh perhatian, sedikit menaikkan sebelah alisnya mendengar laporan polos itu.

"Pa, tadi aku berangkat sekolah," adu Nero sambil mendongak. Bola matanya berbinar ingin pamer pencapaian hari ininya.

"Kamu enggak rewel?" tanya Hugo memastikan dengan nada yang tenang.

"Enggak! Aku mewarnai tadi," seru Nero bangga, membocorkan kegiatannya seharian yang berhasil dilewati tanpa drama. "Benarkan?"

"Ya. Kamu pintar tadi." Asia kasih jempol. Nero mengangguk puas.

Gilang yang mendengar itu tersenyum tipis, sementara Asia menatap Nero dengan tatapan bangga. Mengingat betapa sulitnya Nero diajak keluar rumah apalagi ke sekolah, mendengar bocah itu bercerita dengan ceria adalah sebuah kemajuan yang luar biasa.

"Bagus," puji Hugo singkat namun penuh penekanan, mengusap puncak kepala Nero pelan. "Itu baru anak Papa."

Nero makin membusungkan dadanya gembira, merasa usahanya seharian ini mendapat apresiasi penuh dari papanya.

***

Malam hari.

"Nero, ayo tidur," panggil Asia lembut tapi tegas dari depan pintu kamar.

"Aku tidak mau tidur!" sahut Nero tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari layar ponsel yang digenggamnya erat-erat. Jari-jari kecilnya mengusap layar dengan sangat heboh, seolah-olah sedang bertarung sengit.

"Tidak mau tidur? Ini sudah jam berapa?" Asia menunjuk jam dinding kayu yang tergantung di sudut kamar. Jarum pendeknya sudah menunjuk angka 10 malam. "Seharusnya kamu sudah tidur dari jam 9 tadi."

Nero sama sekali tidak peduli. Asia menarik napas panjang, mencoba bersabar.

Suara efek permainan dari speaker ponselnya justru makin nyaring memecah keheningan malam. Suara ledakan dan backsound khas game online bersahut-sahutan.

Kening Asia mengerut. Ia yakin tidak asing dengan backsound itu. Kakinya melangkah mendekat ke tepi tempat tidur. "Lihat, kamu lagi main apa?" Dia sedikit membungkukkan badan untuk mengintip anak ini sebenarnya sedang bermain apa hingga lupa waktu begini.

Tampilan grafis di layar itu tidak asing lagi baginya. Ternyata itu Mobile Legends.

"Ooh... Mobile Legends," gumam Asia dengan nada yang mendadak santai, sama sekali tidak ada bentakan. Dia paham permainan itu. Game untuk membunuh waktu bosannya.

1
Hartati Tati
jangan baper Hugo ... kamu yg pasang tembok tinggi 🤣🤣
Hartati Tati
banyak banyak update jangan sampai lupa 🤣🤣🤣🤣
English Lesson
bagus 👍🏻👍🏻
Lina Marali
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!