"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Aku kembali ke dalam kamar dengan langkah limbung, menutup pintu sepelan mungkin agar suara klik kuncinya tidak memicu kecurigaan mereka di bawah. Aku merosot di balik pintu, memeluk perutku yang kini terasa sangat tegang. Kata-kata "tes DNA" itu terus bergaung di kepalaku seperti lonceng kematian.
Bagaimana bisa mereka terpikir sekeji itu? Janin ini adalah saksi bisu cinta dan khilafku bersama Mas Dika, namun di telinga Mbak Diana, ia hanyalah "bangkai" yang harus dibuktikan keasliannya.
Aku meraih ponsel yang tadi kumatikan. Tanganku gemetar hebat saat mencari nomor Mas Dika. Aku ingin mengadu, aku ingin teriak bahwa aku tidak sanggup lagi. Namun, saat namaya muncul di layar, aku teringat wajah lelahnya pagi tadi. Aku teringat janjiku untuk memberinya ketenangan agar ia bisa bekerja.
"Enggak, Ra... jangan jadi beban lagi," bisikku pada diri sendiri sambil meletakkan kembali ponsel itu.
Aku bangkit dan melangkah menuju cermin. Kutatap pantulan diriku yang menyedihkan. Mataku sembap, wajahku pucat, dan aku terlihat seperti tawanan perang di dalam kamar mewah ini. Rasa lapar kembali menyerang, kali ini disertai pusing yang membuat pandanganku berkunang-kunang. Aku sadar, aku tidak boleh egois. Jika aku tidak makan, bayi ini yang akan menderita.
Dengan keberanian yang dipaksakan, aku membuka pintu kamar lagi. Aku tidak akan lewat tangga utama. Aku ingat ada tangga kecil di dekat jemuran belakang yang tembus langsung ke area dapur. Aku menyelinap seperti pencuri di rumah suamiku sendiri.
Beruntung, ruang tengah masih riuh dengan suara obrolan mereka, sehingga kehadiranku di dapur tidak disadari. Bi Sumi sedang mencuci piring di wastafel. Ia menoleh dan terperanjat melihatku.
"Ya Allah, Non Aira? Kok lewat sini? Wajahmu pucat sekali, Non," bisik Bi Sumi khawatir.
"Sstt... Bi, jangan keras-keras. Aira cuma mau ambil air minum dan nasi sedikit," jawabku lirih.
Bi Sumi segera mengambilkan piring, menyendokkan nasi goreng sisa pagi tadi dengan tangan gemetar. "Makan di kamar saja, Non. Di depan ada Mbak Diana sama temannya Ibu, suasananya lagi nggak enak."
Aku mengangguk cepat, menerima piring itu seolah itu adalah penyambung nyawa. Namun, baru saja aku hendak memutar tubuh untuk kembali ke tangga belakang, suara langkah sepatu hak tinggi yang tajam memecah keheningan dapur.
"Bi Sumi! Buatkan teh lagi, tamu saya nambah satu or—"
Langkah Mbak Diana terhenti. Matanya yang tajam langsung menangkap sosokku yang sedang berdiri mematung di sudut dapur. Ia tersenyum miring, sebuah senyuman yang lebih mirip seringai serigala yang baru saja menemukan mangsanya.
"Wah, lihat siapa yang keluar dari lubang persembunyiannya," sindir Mbak Diana keras, sengaja agar suaranya menggema sampai ke ruang tengah. "Baru jam segini sudah lapar? Atau memang bayinya yang rakus karena nggak sabar mau menguras harta keluarga ini?"
Aku mendekap piring di dadaku, kepalaku tertunduk dalam hingga daguku menyentuh dada. Di belakang Mbak Diana, Ibu Mertua dan teman sosialitanya muncul. Mereka menatapku seolah aku adalah tontonan yang menjijikkan.
"Maaf, Mbak... Aira cuma mau makan sedikit," lirihku dengan suara bergetar.
"Makan? Kamu sadar nggak sih kalau kehadiranmu di dapur ini saja sudah bikin selera makan kami hilang?" Mbak Diana melangkah maju, merampas piring dari tanganku dengan gerakan kasar hingga nasi di dalamnya sedikit berhamburan ke lantai. "Kalau memang merasa punya malu, harusnya kamu sadar posisi. Kamu itu cuma benalu di sini."
Ibu Mertua hanya diam, menatapku dengan sorot mata dingin yang tidak menunjukkan pembelaan sedikit pun. Teman sosialitanya itu menutup mulut dengan tangan, lalu berbisik yang masih bisa kudengar jelas, "Oh, jadi ini perempuan itu? Kasihan ya Jeng, rumah sebagus ini jadi terasa pengap."
Rasa pusing di kepalaku semakin menjadi. Aku merasa dunia berputar. Hinaan tentang diriku mungkin bisa kutelan, tapi saat mereka menatap perutku dengan pandangan merendahkan, hatiku terasa seperti diiris sembilu. Aku ingin berteriak bahwa aku juga manusia, aku juga lapar, dan bayi ini butuh makan. Namun, lidahku kelu. Di dapur mewah ini, aku benar-benar diperlakukan lebih rendah daripada sampah yang baru saja dibuang Bi Sumi.
Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa menghantam perutku. Rasanya sangat kencang, seolah rahimku sedang diremas dengan paksa. Belum sempat aku memproses rasa sakit itu, punggungku terasa seperti dihantam beban yang sangat berat, membuat kakiku mendadak lemas dan tak sanggup lagi menopang berat tubuh.
Aku mengerang pelan, piring yang kosong di tanganku terlepas dan berdenting keras di atas lantai, nyaris mengenai nasi yang berserakan. Aku mencengkeram pinggiran meja dapur dengan tangan gemetar, berusaha agar tidak benar-benar ambruk ke lantai.
"Aduh... Sakit..." rintihku, keringat dingin mulai membasahi dahi.
Mbak Diana hanya menaikkan alisnya, menatapku dengan sinis. "Nggak usah akting, Ra. Kamu pikir dengan pura-pura sakit begini kami bakal iba? Murahan sekali caramu."
Namun, di tengah hinaan itu, suara deru motor di depan rumah dan langkah kaki yang terburu-buru memecah suasana. Satria, yang baru saja pulang sekolah dengan seragam yang berantakan, muncul di ambang pintu dapur. Wajahnya yang tadinya ceria seketika berubah menjadi horor saat melihat kondisiku.
"Mbak Aira!" teriak Satria. Ia berlari sekuat tenaga, mengabaikan Ibu dan kakaknya, lalu dengan sigap menyangga tubuhku tepat saat lututku mulai menyentuh lantai.
"Mbak, Mbak kenapa? Kok mukanya pucat banget?" Satria menatapku dengan wajah penuh kekhawatiran, tangannya menyangga bahuku dengan kuat. Ia menoleh ke arah Mbak Diana dan Ibunya dengan sorot mata yang penuh kemarahan. "Mbak Diana apa-apain Mbak Aira? Sampai nasi tumpah-tumpah begini?"
"Satria, jangan ikut campur! Dia cuma akting supaya dapet perhatian!" bentak Mbak Diana.
"Akting apa kalau sampai keringat dingin begini, Mbak?!" Satria membalas dengan teriakan yang lebih keras. Ia tidak peduli lagi pada sopan santun. "Mbak Aira lagi hamil! Kalau terjadi apa-apa sama calon keponakan Satria, Mbak Diana mau tanggung jawab?"
Satria tidak menunggu jawaban. Dengan kekuatan remaja laki-lakinya, ia membantuku berdiri dan mencoba membimbingku menjauh dari dapur yang terasa seperti neraka itu. "Ayo Mbak, Satria antar ke kamar. Kita telepon Mas Dika sekarang."
Aku hanya bisa pasrah dalam rangkulan Satria, menahan perih di perut yang kian menjadi, meninggalkan tiga wanita di dapur yang masih menatapku dengan kebencian yang tak kunjung padam.
Bi Sumi! Cepat bantu Satria bawa Mbak Aira ke kamar!" teriak Satria dengan nada perintah yang tak terbantah.
Bi Sumi yang sejak tadi hanya bisa mematung ketakutan langsung bergerak sigap. Ia merangkul pinggangku dari sisi lain, membantuku melangkah dengan tertatih-tatih. Setiap geseran kakiku terasa seperti tarikan kawat berduri di area punggung dan perut bawah. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat, berusaha tidak berteriak agar tidak menambah kegaduhan yang membuat kepalaku semakin pusing.
Saat kami melewati Mbak Diana dan Ibu Mertua, Satria sempat berhenti sejenak. Ia menatap mereka dengan tatapan kecewa yang sangat dalam. "Ibu dan Mbak Diana keterlaluan. Kalau sampai terjadi sesuatu sama Mbak Aira dan bayinya, mas Dika nggak akan pernah maafin kalian!"
Mbak Diana tampak ingin membalas, namun Ibu Mertua menahan lengannya, raut wajahnya mulai menunjukkan sedikit kegelisahan meski ego masih menutupi rasa bersalahnya.
Sesampainya di kamar, Satria dan Bi Sumi merebahkanku perlahan di ranjang. Bi Sumi segera mengambilkan minyak kayu putih dan air hangat, sementara Satria mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar.
"Halo, Mas? Mas Dika! Mas harus pulang sekarang! Mbak Aira... Mbak Aira kesakitan, Mas. Perutnya sakit, mukanya putih kayak kertas!" suara Satria bergetar hebat, ia hampir menangis karena panik.
Aku hanya bisa memejamkan mata, meremas seprei dengan sisa tenaga yang ada. Di tengah rasa sakit yang mendera, aku mendengar Satria terus membentak ke arah telepon, meminta Mas Dika meninggalkan pekerjaannya detik itu juga. Air mataku luruh, bukan hanya karena rasa sakit fisik, tapi karena di rumah yang begitu megah dan asing ini, justru adik laki-laki suamiku yang menjadi pelindung saat harga diriku sedang diinjak-injak.