NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2| Tekad Aluna

Aluna mengigit bibir bawahnya, tangannya kembali terulur ke depan. Namun, di saat manik matanya melihat name tag di saku atas seragam sekolah pria jangkung itu. Air liur yang akan ia teguk terasa mengganjal, kepala Aluna menggeleng tak berdaya.

"Mati aja lo, Aluna," gumam Aluna nyaris berbisik.

Aluna langsung bangkit dari posisi duduknya, ia berlarian keluar dari ruangan UKS melewati lorong gedung sekolah tanpa menoleh ke arah pintu UKS yang terbuka lebar. Lebih baik ia pergi sejauh mungkin, jangan sampai ia tertangkap oleh pria remaja red flag parah itu.

Deru napasnya terdengar menderu-deru ia berhenti di tikungan. Tidak ada siswa-siswi yang berkeliaran di jam terakhir, Aluna bersandar di tiang gedung. Kedua sisi bahunya naik-turun, butiran keringat mencuat di dahi Aluna. Ia mengatur pernapasannya, bukankah tadi ia begitu semangat untuk membenturkan kepalanya di dinding dengan harapan jiwanya akan kembali ke dunia nyata. Lantas kenapa setelah kepalanya menyeruduk daging lunak tak bertulang itu Aluna malah berlarian diri begitu saja, telapak tangan Aluna mengusap dadanya.

"Selamat! Selamat gue dari si gila satu itu," monolog Aluna mengembuskan napas lega. "Eh, tunggu dulu. Gue benar bisa ngerasain sakit, itu berati jiwa gue benar-benar udah menyatu dengan raga ini. Kenapa gue bisa sesial ini, huh? Gue malah nyelakain salah satu tokoh cowok penting di novel."

Aluna mengerang tertahan dan tertunduk, manik matanya menatap nanar ke arah lantai. Ia terjebak di dunia fiksi, harus berhadapan dengan para tokoh novel. Jari jemari lentik Aluna saling bertautan, bibir bawahnya di gigit perlahan. Ia berdiri tegap, mengangkat kepala yang tertunduk. Atensi mata Aluna bergerak mengedar menatap sekeliling, gedung sekolah swasta yang luas. Langit biru yang terbentang indah di atas sana, semilir angin sore yang menyejukkan. Membuat perasaan resah dan ketakutan perlahan mulai tenang kembali.

"Tapi kalo gue ingat-ingat masa SMA gue suram banget, nggak punya sahabat karib apalagi pacar. Boro-boro dekat sama orang, baru aja mau akrab mereka udah pada ngejauh. Takut ketularan miskin, udah kayak virus mematikan aja gue di mata mereka semua." Aluna mendesah berat, kedua matanya terlihat redup.

Selain tidak cantik, kemiskinan adalah penghalang untuk Aluna bisa mendapatkan sahabat. Mereka yang mau berteman dengan Aluna hanya karena butuh, jika kebutuhan mereka telah selesai. Secara mendadak akan menjauh, menganggap Aluna tak pernah ada. Sedih, tapi pada akhirnya ia telah terbiasa dengan semuanya sampai berusia 25 tahun hidup seperti itu.

Kepala Aluna menoleh ke arah kaca memantulkan bayang tubuh Aluna, kedua tungkai kaki Aluna bergerak ke arah kaca. Baru saat itulah ia mulai menyadarinya, kulit putih bersihnya terlihat mulus. Kecantikan alami, yang bisa membuat siapa pun iri. Telapak tangan Aluna terangkat menyentuh kedua sisi wajahnya, menatap intens setiap inci wajahnya.

"Lo tau," monolog Aluna, "seberapa banyak perempuan yang menderita ketidakadilan hanya karena nggak terlahir cantik secara alami, dan seberapa besar rasa sakit yang harus perempuan derita untuk bisa jadi cantik. Lo, benar-benar cantik tanpa cacat. Apa yang bikin lo nggak puas?"

Aluna bertanya-tanya kenapa ia harus menjadi tokoh penjahat figuran, tokoh Aluna di novel memiliki keluarga yang lengkap, kekayaan yang siap memuaskan dahaga setiap anak untuk berfoya-foya, dan kecantikan alami. Aluna mendesah berat, dan tersenyum kecut.

"Yeah..., lo cuma tokoh fiksi yang mana setiap prilaku dan tindakan lo di atur sama author. Tapi, sekarang nggak akan kayak gitu lagi. Gue yang bakalan bertindak di luar kuasa author-nya, gue pasti bisa selamat dari kematian sadis yang sedang menunggu. Setidaknya gue pemeran figuran yang cukup jadi penonton aja," sambung Aluna, kepalanya mengangguk dengan tekat kuat.

Kedua sisi bibir Aluna ditarik tinggi ke atas, jika memang jiwanya tak bisa kembali ke dunia nyata. Rasanya sangat rugi jika Aluna tidak menikmati apa yang ia punya saat ini, senyum ganjil terbit begitu saja di bibir ranumnya.

...***...

Semburan tawa keras mengalun di ruangan rawat inap, bantal yang digunakan untuk mengganjal kepalanya langsung melayang. Reflek Kai menghindar, sementara yang satunya lagi hanya mampu menggeleng tak berdaya meskipun merasa insiden kecelakaan yang menimpa daging lunak tak bertulang itu sangat lucu dan ngeri dalam satu waktu yang sama. Jayden melotot ke arah Kai, sahabat laknatnya itu malah merosot di lantai dan tertawa terbahak-bahak.

Beruntung mereka berada di ruangan VIP, hingga tawa keras Kai tidak mengganggu pasien lain. Wajah Jayden merah padam, ia mendengus kesal karena ditertawakan oleh Kai.

"Ugh..., sialan. Gue bakalan ngehabisin nyawa itu cewek, berani-beraninya dia menyeruduk masa depan gue." Jayden mengepalkan kedua tangannya marah.

Semakin keras tawa Kai di lantai, bahkan pemuda itu berguling-guling dengan kedua tangan menekan perutnya yang terasa sakit karena tertawa. Air mata mengalir di sudut matanya, Jayden berdecak kesal ingin rasanya ia menyeret Kai keluar dari ruangan kamar rawat inapnya.

"Lo tau siapa yang nyeruduk," celetuk Sebastian bersuara juga pada akhirnya, atensinya beralih dari wajah Jayden ke arah kain yang tergantung seperti orang yang habis sunat.

"Gue nggak tau dia siapa, karena saat gue baru masuk. Gue mendadak diseruduk, karena sakitnya gue lupa dengan sekitar. Gue di bawa ke sini karena kebetulan Guru lewat di UKS, kalo nggak gue nggak yakin bisa baik-baik aja," jawab Jayden, ia benar-benar kesakitan setengah mati.

Kepala Sebastian mengangguk paham, melirik prihatin ke arah Jayden. Ia berdecak kecil karena tawa Kai sangat menganggu, kaki Sebastian menyenggol kaki Kai di lantai.

"Udah, Kai. Lo nggak ada rasa prihatinnya sama sekali, huh?" tegur Sebastian.

Kai terbatuk-batuk, ia mencoba mengontrol dirinya. Beberapa kali menarik dan mengembuskan napas, berdehem kecil tanpa melirik ke ranjang pesakitan takut kembali tertawa keras. Kai berdiri perlahan, mengipasi wajahnya.

"Sorry, Jay! Gue nggak maksud ngetawain lo. Cuma lo tau 'kan yeah..., keadaan lo yang bikin gue ngakak," aku Kai sebisa mungkin untuk tidak melirik ke arah Jayden.

Jayden mendengus, "Sialan lo."

Kai menggaruk leher belakangnya yang mendadak gatal, mengulum bibirnya yang kering.

"Cepat sembuh, Jay. Gue balik duluan ya, kalo gue lama-lama di sini yang ada gue ketawa lagi." Kai masih menunduk.

"Sono balik, takutnya gue mendadak stroke kalo lo lama-lama di sini," sahut Jayden cepat.

Kepala Kai mengangguk, ia menepuk bahu Sebastian dan berbalik. Melangkah cepat menuju pintu, suara pintu terbuka dan tertutup mengalun. Kini hanya Sebastian dan Jayden di dalam ruangan, Jayden membawa atensinya ke arah Sebastian.

"Lo bisa cari tau siapa dia, 'kan?"

Sebastian mengangguk, dan menjawab, "Lo tenang aja, itu bukan hal sulit untuk gue. Yang terpenting saat ini kondisi lo, pulih dulu. Hukuman buat cewek itu lo pikirin aja sendiri mau lo apain. Gue dan yang lainnya bakalan ngebantuin lo."

Kilatan tajam di balik mata Jayden terlihat, ia akan menyiksa perempuan yang sudah membuat dirinya seperti ini. Tidak akan dibiarkan kabur begitu saja, tadi gadis itu boleh saja lolos. Saat keadaan Jayden sudah membaik, ia akan menghancurkan gadis itu. Hingga gadis itu akan mengemis lebih meminta kematian daripada tetap bernapas tapi tersiksa, seringai menyeramkan di bibir Jayden terukir.

Sebastian menggeleng tak berdaya, tampaknya gadis itu tengah menggali kuburan sendiri. Jayden tak akan pernah melepaskan orang yang telah membuat ia terluka, apalagi ini bukan masalah luka biasa.

"Tapi, Jay! Gimana kalo lo jadi impoten, huh?"

Pupil mata Jayden melebar mendengar pertanyaan Sebastian, manik matanya bergerak turun ke arah kain yang tergantung. Otot wajah Jayden tegang seketika, ketakutan menyelimuti hati dan otaknya.

"Bakalan rugi kalo sampek lo ngehabisin itu cewek, kalo pada akhirnya lo malah jadi kayak Kasim di film-film kerajaan luar," lanjut Sebastian memaparkan efek samping yang terjadi jika sang sahabat mendadak impoten.

Jakun Jayden bergulir naik-turun, peluh di punggung belakangnya menetes deras. Mendadak AC di ruangan tidak terasa, Jayden menahan napas untuk beberapa saat dan mengerang tertahan. Itu adalah mimpi buruk seumur hidup, jika benar-benar terjadi. Jayden tidak akan pernah menjadi pria sepenuhnya, dan tak akan bisa menikah seumur hidup.

...***...

Jika di salah satu bilik rumah sakit terbesar di Ibu Kota Jayden tengah dilanda keresahan tak berujung, maka berbanding terbalik dengan suasana hati Aluna. Gadis yang sudah membuat masa depan Jayden mendadak terasa abu-abu kini tengah bahagia, ia berdiri di depan kaca besar di salah satu toko baju ternama di mall. Sementara di belakang tubuh Aluna terlihat beberapa karyawan wanita berseragam menjinjing baju yang akan dicocokkan dengan salah satu member VIP toko baju.

"Ini cantik juga," gumam Aluna semringah.

"Nona Aluna selalu cocok dengan semua jenis model pakaian di sini, karena Nona Aluna sangat cantik," celetuk salah satu karyawan.

Garis senyum di bibir Aluna kembali melengkung, kedua matanya berbinar-binar bahagia. Pulang dari sekolah ia malah menyambangi mall, bukankah berbelanja adalah cara mengurangi stres paling ampuh. Berkat kartu ATM di tangannya, Aluna merasa dunia fiksi yang tadinya suram mendadak menjadi terang benderang.

Aluna berbalik, ia menunjuk ke semua baju. "Bungkus semuanya!" seru Aluna dengan tangan menyodorkan kartu ATM-nya.

Sorak-sorai dari para karyawan toko terdengar, Aluna melepaskan pakaian yang ia cocokan. Melangkah menuju sofa di sudut ruangan, di atas sofa toko sudah ada banyak paper bag tergeletak. Aluna bersandar perlahan, mendesah berat.

"Benar, uang adalah sumber kebahagiaan sejati. Rasanya gue bisa bernapas lagi, sekarang ngeluarin duit nggak lagi menyakitkan. Malah sangat membahagiakan, orang kaya emang beda," monolog Aluna ceria, ia tersenyum sembringah.

Bibirnya bersenandung bahagia, menunggu semua pakaian yang ia beli dikemas. Atensi Aluna mengedar, ia tertegun saat melihat pria remaja jangkung tengah menarik Zea menuju toko pakaian di seberang sana. Kedua mata Aluna memicing guna mempertajam pandangan matanya, di balik kaca transparan Aluna melihat pria itu mengambil banyak pakaian dan memberikan semua ke tangan Zea. Gadis berambut sebahu itu menggeleng dengan ekspresi wajah resah, dan didorong menuju ruangan ganti.

"Benar-benar kayak cerita Cinderella, huh." Aluna mendengus.

Tokoh Zea sebagai protagonis utama wanita di cerita, polos dan naif. Itu sangat memikat banyak pria untuk berkorban demi Zea, sungguh membuat Aluna mendesah iri. Kepala Aluna menggeleng sekilas, dan menepuk kecil kedua sisi pipinya.

"Jauhin tokoh antagonis, bahkan kalo perlu lo jangan pernah terlibat dengan semua tokoh penting di cerita ini. Maka hidup nyaman kek gini bakalan bisa gue nikmati selamanya," kata Aluna setelah mengambil keputusan diam-diam.

^^^Bersambung....^^^

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!