NovelToon NovelToon
Kinasih: Pengantin Keranda

Kinasih: Pengantin Keranda

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Yang Melihat dari Atas

Tidak ada suara angin.

Tidak ada gerakan daun.

Tidak ada burung.

Langit… diam.

Terlalu diam.

Seperti sesuatu sedang menahan dunia—

agar tidak bergerak.

Pukul 08.01.

Masih berhenti.

Namun kali ini—

bukan hanya jam.

Orang-orang di jalan—

mulai melambat.

Langkah mereka tidak lagi sinkron.

Tidak lagi mengalir.

Seperti ada gangguan.

Seperti—

sesuatu mengganggu jaringan itu.

Kinasih berdiri di tengah ruang tamu.

Matanya menatap ke atas.

Menembus langit-langit.

Seolah bisa melihat sesuatu di luar.

Dan—

ia memang melihat.

Bukan dengan mata.

Namun—

dengan sesuatu yang lain.

Sesuatu yang lebih dalam.

Sesuatu yang sekarang… ia miliki.

“Itu…”

bisiknya.

Suara di dalamnya—

tidak langsung menjawab.

Untuk pertama kalinya—

diam.

Dan diam itu…

tidak nyaman.

Di luar—

orang-orang berhenti lagi.

Namun—

bukan karena mereka melihat sesuatu.

Namun—

karena sesuatu melihat mereka.

Seorang pria mengangkat kepalanya.

Matanya menyipit.

Seperti silau.

Namun—

bukan karena matahari.

Karena—

ia merasakan tekanan.

Dari atas.

Seperti sesuatu besar…

sedang menatapnya.

“Lo ngerasa…?”

bisiknya ke orang di sampingnya.

Orang itu tidak menjawab.

Hanya berdiri.

Kaku.

Dan—

perlahan—

ia juga mengangkat kepala.

Menatap langit.

Dan—

semakin banyak yang mengikuti.

Bukan karena diajak.

Namun—

karena mereka merasakan hal yang sama.

Sesuatu di atas.

Sesuatu yang—

tidak pernah mereka perhatikan sebelumnya.

Kinasih merasakan semuanya.

Semua yang terhubung—

mengarah ke atas.

Seperti jaringan itu…

dipaksa melihat balik.

Dan saat itu—

ia menyadari sesuatu.

Mereka selama ini…

melihat ke dalam.

Ke bawah.

Ke sesama.

Namun—

tidak pernah ke atas.

Tidak pernah ke luar.

Tidak pernah—

melihat sumber yang lebih

besar.

“Kenapa kita nggak lihat ini dari awal…”

bisiknya.

Sunyi.

Lalu—

suara itu menjawab.

Pelan.

“…karena kita tidak boleh.”

Kinasih membeku.

“Tidak boleh…”

Dan saat itu—

sesuatu berubah.

Bukan di dunia.

Namun—

di pemahaman.

Seperti sesuatu yang selama ini tersembunyi—

dibuka.

Paksa.

Tanpa izin.

Langit…

retak.

Bukan secara fisik.

Tidak ada garis.

Tidak ada cahaya.

Namun—

terasa.

Seperti permukaan tipis—

yang mulai pecah.

Dan dari baliknya—

sesuatu terlihat.

Tidak jelas.

Tidak berbentuk.

Namun—

besar.

Sangat besar.

Dan—

melihat.

“Kita… kelihatan…”

bisik suara itu.

Namun—

tidak lagi tenang.

Ada sesuatu di dalamnya.

Sesuatu yang baru.

…takut.

Kinasih tidak bergerak.

Namun—

ia merasakan sesuatu masuk.

Bukan dari bawah.

Bukan dari dalam.

Namun—

dari atas.

Seperti tatapan itu—

bukan hanya melihat.

Namun—

menyentuh.

Masuk.

Menelusuri.

Mencari.

“Jangan lihat balik…”

bisik suara itu.

Cepat.

Namun—

terlambat.

Karena—

Kinasih sudah melihat.

Dan saat ia melihat—

sesuatu terjadi.

Seketika.

Seperti dua arah terbuka.

Mereka melihat itu.

Dan itu—

melihat mereka.

Sepenuhnya.

Di luar—

orang-orang mulai bergetar.

Tubuh mereka tidak bergerak bebas lagi.

Seperti ada tekanan dari atas.

Menekan.

Membatasi.

Menghentikan.

Seorang wanita jatuh berlutut.

Memegang kepalanya.

“Berhenti…”

Namun—

tidak ada yang berhenti.

Karena—

ini bukan sesuatu yang bisa dihentikan.

Ini—

lebih besar.

Dari jaringan.

Dari lubang.

Dari semua yang sudah ada.

Kinasih merasakan jaringan itu—

berubah.

Bukan melemah.

Namun—

terganggu.

Seperti sesuatu masuk.

Tidak merusak.

Namun—

mengubah.

“Dia masuk…”

bisik suara itu.

“…dia melihat kita dari dalam sekarang.”

Kinasih menutup mata.

Namun—

tidak membantu.

Karena—

ini bukan tentang melihat lagi.

Ini—

tentang diketahui.

Dan saat sesuatu tahu—

semuanya berubah.

Di dalam rumah—

dinding bergetar.

Namun—

bukan seperti sebelumnya.

Lebih halus.

Lebih dalam.

Seperti sesuatu di balik realitas…

sedang bergerak.

Mencari jalan.

Mencari bentuk.

“Kita harus sembunyi…”

bisik suara itu.

Namun—

langsung disanggah.

“…tidak bisa.”

Kinasih membuka mata.

“Kenapa…”

Sunyi.

Lalu—

jawaban itu datang.

“…karena kita sudah terlihat.”

Dan kalimat itu—

mengunci segalanya.

Tidak ada lagi yang bisa dilakukan.

Tidak ada lagi yang bisa diubah.

Karena—

yang melihat dari atas—

sudah tahu.

Langit semakin gelap.

Bukan karena awan.

Namun—

karena sesuatu di baliknya.

Mendekat.

Lebih jelas.

Lebih nyata.

Dan untuk pertama kalinya—

sesuatu terlihat.

Bukan bentuk utuh.

Namun—

bagian.

Seperti permukaan.

Seperti kulit.

Yang bukan langit.

Yang bukan udara.

Namun—

sesuatu yang menutup semuanya.

Dan sekarang—

terbuka.

“Kita bukan yang pertama…”

bisik suara itu.

“…dan kita bukan yang terakhir.”

Kinasih gemetar.

Karena—

ia mulai mengerti.

Lubang-lubang itu.

Jaringan itu.

Semua ini—

bukan sesuatu yang muncul sendiri.

Ini—

sesuatu yang pernah terjadi.

Sebelumnya.

Di tempat lain.

Dengan cara lain.

Dan sekarang—

mereka hanya mengulang.

Tanpa sadar.

Tanpa tahu.

Dan yang di atas—

yang melihat—

itu…

yang memulai.

Di luar—

orang-orang mulai berubah.

Bukan seperti sebelumnya.

Bukan tenang.

Bukan menerima.

Namun—

terdistorsi.

Gerakan mereka tidak sinkron.

Tubuh mereka bergerak aneh.

Seperti tidak cocok lagi.

Seperti—

ada dua arah.

Yang satu dari bawah.

Yang satu dari atas.

Dan keduanya—

bertabrakan.

“Ini salah…”

bisik suara itu.

“…ini tidak seharusnya seperti ini.”

Kinasih menatap tangannya.

Kulitnya bergetar.

Lubang-lubang kecil itu—

tidak stabil lagi.

Seperti sesuatu mencoba keluar.

Atau masuk lebih dalam.

Ia tidak tahu.

Dan itu—

yang paling menakutkan.

“Dia mau apa…”

bisik Kinasih.

Sunyi.

Lalu—

jawaban itu datang.

Sangat pelan.

Sangat dalam.

“…mengambil kembali.”

Kinasih membeku.

“Ambil… apa…”

Dan saat itu—

ia merasakan sesuatu.

Tarikan.

Dari dalam dirinya.

Seperti sesuatu yang selama ini

tumbuh—

ditarik.

Diklaim.

Dikenali.

Sebagai milik.

“Ini bukan milik kita…”

bisik suara itu.

“…ini miliknya.”

Dan kalimat itu—

menghancurkan semuanya.

Karena—

itu berarti…

mereka bukan penyebar.

Bukan pencipta.

Mereka hanya…

bagian kecil.

Dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Yang sekarang—

datang kembali.

Langit terbuka lebih lebar.

Tidak terlihat oleh semua.

Namun—

dirasakan oleh semua yang sadar.

Dan dari dalamnya—

sesuatu turun.

Bukan bentuk.

Namun—

kehadiran.

Tekanan.

Berat.

Mencekik.

Dan semua yang terhubung—

merasakannya.

Serentak.

Kinasih jatuh ke lantai.

Tubuhnya tidak kuat.

Bukan karena lemah.

Namun—

karena sesuatu menarik.

Dari dalam dirinya.

Keluar.

Dan masuk ke atas.

Ia menjerit.

Namun—

tidak ada suara.

Karena—

suara itu…

tidak sampai.

Dan untuk pertama kalinya—

jaringan itu tidak berkembang.

Tidak menyebar.

Namun—

ditarik.

Dikumpulkan.

Seperti sesuatu yang sudah selesai digunakan—

diambil kembali.

“Kita… habis…”

bisik suara itu.

Namun—

tidak ada panik.

Hanya…

pengakuan.

Kinasih menutup mata.

Air matanya jatuh.

Namun—

ia tidak tahu lagi.

Apakah itu miliknya.

Atau bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Tok.

Satu ketukan.

Namun—

kali ini bukan dari bawah.

Bukan dari dalam.

Namun—

dari atas.

Dan kali ini—

tidak dibalas.

Karena—

semua sedang diam.

Semua sedang…

ditarik kembali.

Ke tempat yang sama.

Ke sumber yang sama.

Dan kali ini—

tidak ada yang bisa melihat.

Karena—

yang melihat sekarang…

hanya satu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!