NovelToon NovelToon
Charming The Beast

Charming The Beast

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cahaya di Ujung Dunia

Fajar di lepas pantai Islandia tidak pernah benar-benar hangat, namun bagi Kenzo dan Aara, cahaya yang memecah kabut pagi itu adalah pemandangan paling indah yang pernah mereka lihat. Di bawah mereka, pusaran air raksasa perlahan tenang, menandakan bahwa The Abyss telah sepenuhnya tertelan oleh samudra, membawa pergi Direktur Miller dan obsesi gilanya ke dasar kegelapan abadi.

Pod pelarian mereka mengapung tenang di antara bongkahan es kecil. Di dalam kabin yang sempit, keheningan menyelimuti. Bukan keheningan yang mencekam seperti di bunker Siberia, melainkan keheningan yang penuh dengan kelegaan yang melelahkan.

Kenzo menyandarkan punggungnya ke dinding logam pod, napasnya masih terasa berat. Setelan taktisnya robek di beberapa bagian, memperlihatkan luka goresan dari tombak getar pengawal Miller. Namun, matanya tidak pernah lepas dari Aara.

Aara duduk bersandar di kursi pilot cadangan, wajahnya pucat pasi, namun binar perak yang sempat menghiasi matanya kini telah hilang sepenuhnya. Ia tampak begitu rapuh, seolah-olah seluruh kekuatan hidupnya telah terkuras habis untuk satu ledakan kekuatan mental di dalam pangkalan tadi.

"Kenzo..." bisik Aara lirih.

Kenzo segera berpindah posisi, berlutut di depan istrinya dan menggenggam kedua tangannya yang dingin. "Aku di sini, Ratu. Kita sudah keluar. Kita aman."

Aara tersenyum lemah, jemarinya membelai bekas luka di rahang Kenzo. "Dia... dia tenang sekarang. Sepertinya dia tahu bahwa ancaman terbesarnya sudah hilang."

Kenzo meletakkan tangannya di perut Aara. Tidak ada lagi denyutan energi yang menyakitkan, hanya kehangatan lembut yang stabil. "Dr. Aris benar. Dia bukan hanya parasit. Dia adalah pelindungmu. Dia tahu kapan harus bertarung."

Dua jam kemudian, sebuah kapal nelayan tua dengan antena radar yang tampak terlalu canggih mendekati pod mereka. Itu adalah kapal jemputan yang diatur oleh Leo. Pria berkacamata itu muncul di tepi kapal, melambai dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua karena stres.

"Kalian benar-benar gila!" teriak Leo saat mereka naik ke atas kapal. "Aku melihat ledakan seismiknya dari satelit. Kalian hampir saja menciptakan tsunami kecil!"

"Tapi datanya terkirim, kan?" tanya Aara sambil dibantu Kenzo berjalan menuju kabin kapal yang hangat.

"Terkirim? Aara, internet sedang terbakar," Leo menunjukkan tabletnya. "Dokumen Project Valkyrie, rekaman eksperimen Miller, hingga daftar hitam donatur The Hive sudah menjadi trending topic di seluruh dunia. FBA sedang dalam investigasi darurat oleh komite keamanan internasional. Kalian bukan lagi buronan... kalian adalah whistleblower paling dicari sekaligus paling ditakuti."

Kenzo mendudukkan Aara di sofa empuk dan menyelimutinya dengan kain wol tebal. "Itu artinya kita punya waktu sebelum faksi baru muncul untuk mengambil alih puing-puing Miller."

"Waktu adalah kemewahan yang kita miliki sekarang," ucap Leo. "Aku sudah menyiapkan rumah aman di pedalaman Reykjavik. Tempat itu milik seorang mantan menteri yang berhutang nyawa padaku. Tidak ada GPS, tidak ada sinyal seluler, hanya air panas alami dan ketenangan."

Rumah aman itu adalah sebuah pondok kayu modern yang tersembunyi di balik perbukitan lava yang tertutup salju. Jauh dari hiruk-pikuk dunia yang sedang kacau karena rahasia yang mereka bongkar, Kenzo dan Aara akhirnya menemukan apa yang mereka cari selama ini: Kedamaian.

Minggu-minggu pertama di Islandia dihabiskan untuk pemulihan. Dr. Aris diterbangkan secara rahasia dari Siberia untuk memantau kondisi Aara.

"Stabilisator alami dari dalam tubuhnya mulai bekerja," lapor Aris suatu sore di beranda rumah, sementara Kenzo memperhatikan Aara yang sedang duduk di tepi pemandian air panas luar ruangan. "Struktur genetik janin telah melambat ke kecepatan yang lebih aman. Dia tampaknya 'puas' setelah mengonsumsi data biometrik dari *The Abyss*. Sekarang, dia tumbuh seperti bayi normal... meski dengan potensi intelektual yang tetap luar biasa."

Kenzo mengangguk, matanya tak lepas dari sosok istrinya. "Apakah dia akan tetap memiliki kekuatan... feromon itu?"

"Mungkin," Aris menghela napas. "Tapi itu akan bergantung pada bagaimana dia dibesarkan. Dia bukan senjata, Tuan Arkana. Dia adalah cermin. Dia akan memantulkan apa yang dia lihat dari orang tuanya."

Kenzo berjalan mendekati Aara. Aara mengenakan gaun putih longgar, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini dibiarkan terurai terkena angin laut yang dingin. Ia tampak begitu tenang, jauh dari sosok agen 'Cherry' yang centil dan mematikan.

"Apa yang kau pikirkan, Sayang?" Kenzo memeluknya dari belakang, melingkarkan lengannya di perut Aara yang kini sudah tampak jelas membesar.

Aara menyandarkan kepalanya di bahu Kenzo, menikmati uap hangat dari kolam belerang. "Aku sedang memikirkan nama. Kita tidak bisa menamainya 'Valkyrie' atau 'Project Alpha'."

Kenzo terkekeh pelan, sebuah suara yang kini lebih sering terdengar daripada sebelumnya. "Bagaimana dengan 'Adrian'? Seperti karakter di ceritamu yang pulang ke Indonesia."

Aara tertawa kecil, suara tawa yang jernih. "Adrian Pratama? Kedengarannya terlalu normal untuk anak yang hampir menghancurkan pangkalan bawah laut sebelum lahir."

"Normal adalah apa yang kita butuhkan sekarang, Aara."

Malam itu, saat salju turun dengan lembut di luar jendela, sebuah laptop di sudut ruangan berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari saluran yang sangat rahasia.

Kenzo membukanya. Itu adalah Madam Vora.

"Kenzo. Aara," sapa wanita itu. Wajahnya tampak lelah di layar. "The Collector sudah tamat. Setelah datamu bocor, kartel-kartel saingannya menyerbu markasnya di Svalbard. Dia melarikan diri ke Amerika Selatan, tapi kurasa dia tidak akan bertahan lama."

"Terima kasih atas informasinya, Vora," kata Kenzo.

"Satu hal lagi," Vora ragu sejenak. "FBA mungkin sedang hancur, tapi ada unit hitam yang masih aktif. Mereka tidak lagi mengejar janin itu sebagai subjek. Mereka menganggap kalian sebagai ancaman eksistensial. Mereka tidak ingin menangkap kalian... mereka ingin kalian tetap hilang."

"Kami sudah hilang, Vora," sahut Aara yang muncul di belakang Kenzo dengan segelas teh hangat. "Katakan pada mereka, selama mereka tidak mengusik Islandia, hantu tidak akan bangkit dari kuburnya."

Bulan-bulan berlalu dengan cepat. Perut Aara semakin membesar, dan gairah di antara mereka tidak pernah padam, justru semakin dalam karena rasa saling memiliki yang kini mutlak. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi misi sampingan. Hanya Kenzo dan Aara.

Suatu malam, di bawah cahaya Aurora Borealis yang menari hijau dan ungu di langit Islandia, Kenzo membawa Aara ke puncak bukit di belakang rumah mereka.

"Aku punya sesuatu untukmu," kata Kenzo.

Ia mengeluarkan sebuah paspor. Bukan paspor palsu dengan nama samaran, melainkan paspor resmi dari sebuah negara kecil yang netral, dengan nama yang sah: Aara Arkana.

"Tidak ada lagi Cherry. Tidak ada lagi subjek eksperimen," Kenzo menatap mata istrinya dengan penuh cinta. "Hanya istriku. Ibu dari anakku."

Aara menerima paspor itu, matanya berkaca-kaca. Ia memberikan kerlingan nakal terakhirnya—kerlingan yang dulu ia gunakan untuk menipu menteri dan mafia, tapi kini ia simpan hanya untuk pria di depannya.

"Tahu tidak, Tuan Arkana... menjadi orang biasa ternyata jauh lebih menantang daripada menjadi agen elit," Aara menarik kerah kemeja Kenzo, membawanya ke dalam ciuman yang hangat di tengah dinginnya es.

Di rahimnya, Adrian kecil memberikan tendangan lembut, sebuah tanda persetujuan.

Perjalanan mereka yang penuh darah, pengkhianatan, dan ledakan memang telah mencapai akhirnya. Namun, di tanah es yang tenang ini, sebuah perjalanan yang jauh lebih besar baru saja dimulai. Perjalanan sebuah keluarga yang telah mengalahkan dunia demi memberikan satu hal bagi anak mereka: Kebebasan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!