Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Setelah beberapa hari dalam pengawasan ketat, akhirnya dokter memberikan lampu hijau.
Luka di dada Aliya sudah mengering dan kondisinya dinyatakan cukup stabil untuk rawat jalan.
Emirhan membantu Aliya berdiri dengan sangat hati-hati di depan lobi rumah sakit.
"Aliya, aku antar ya sampai rumah," tawar Emirhan dengan nada protektif.
Ia sudah memberi isyarat pada Kabir untuk menyiapkan mobil di depan lobi.
Aliya langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Wajahnya menunjukkan kecemasan yang nyata. "Jangan, Emir. Ibuku pasti akan marah besar kalau melihatku pulang dengan mobil mewah dan pria asing. Aku tidak ingin dia tahu tentang kejadian kemarin."
Emirhan terdiam sejenak. Ia tidak terbiasa dibantah, namun ia mengerti ketakutan Aliya terhadap ibunya.
Ia menarik napas panjang, lalu merogoh saku mantelnya.
"Baiklah, aku mengerti. Tapi, ini kamu bawa," ucap Emirhan sambil menyodorkan beberapa lembar uang bernominal besar ke tangan Aliya.
"Gunakan ini untuk keperluanmu, untuk obat, atau apa pun yang kamu butuhkan selama masa pemulihan."
Aliya sempat ragu melihat jumlah uang yang cukup banyak itu, namun tatapan Emirhan yang tak menerima penolakan membuatnya luluh.
Ia menganggukkan kepalanya pelan sambil menggenggam uang itu.
"Terima kasih, Emir," bisik Aliya tulus.
Sebelum berbalik pergi, Aliya melakukan sesuatu yang membuat napas Emirhan tertahan.
Gadis itu berjinjit sedikit dan memberikan kecupan lembut di pipi Emirhan sebagai tanda terima kasih yang mendalam.
Aroma parfum mawar yang samar dari Aliya tertinggal sejenak, membuat sang CEO terpaku di tempatnya.
"Hati-hati di jalan," ucap Emirhan dengan suara yang sedikit parau.
Aliya memberikan senyuman terakhirnya sebelum masuk ke dalam taksi kuning yang sudah menunggunya.
Dari kaca spion, ia melihat sosok Emirhan yang masih berdiri tegak di lobi rumah sakit, memperhatikannya sampai taksi itu hilang di belokan jalan.
Aliya menarik napas panjang, mencoba menyiapkan mentalnya.
Ia tahu, begitu kakinya melangkah masuk ke rumah, ia harus kembali menjadi Aliya yang "penurut" di depan Maria.
Emirhan melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai temaram.
Pikirannya masih tertinggal pada sentuhan lembut di pipinya tadi—sebuah tindakan spontan yang sanggup mengusik ketenangannya sebagai pria yang biasanya dingin dan tak tersentuh. Namun, semakin dekat ia dengan gerbang rumahnya yang megah, semakin kuat pula ia harus kembali ke realita keluarganya yang rumit.
Emirhan melirik Kabir melalui kaca spion tengah.
"Apakah Ibu tahu masalah ini?" tanya Emirhan dengan suara rendah, namun penuh penekanan.
Kabir menggelengkan kepalanya dengan mantap tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
"Tidak, Tuan. Sesuai perintah Anda, saya hanya memberitahu Nyonya Zaenab bahwa Anda sedang mengurus kendala teknis di lokasi proyek baru. Beliau percaya sepenuhnya."
Emirhan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit mobilnya, merasa sedikit lega.
"Bagus. Pastikan tidak ada satu pun pelayan atau staf di rumah yang membocorkan tentang kemeja berdarah kemarin. Aku tidak ingin Ibu cemas, jantungnya tidak akan kuat mendengar kabar anaknya hampir mati."
"Saya sudah mengurus semuanya, Tuan. Kemeja itu sudah dimusnahkan," lapor Kabir patuh.
Mobil sedan mewah itu akhirnya berhenti tepat di depan teras utama kediaman Emirhan.
Di sana, lampu-lampu kristal sudah menyala terang, memantulkan kemewahan yang selama ini menjadi sangkar emas bagi Emirhan.
"Ingat Kabir," ucap Emirhan sebelum membuka pintu mobil.
"Masalah gadis itu, Aliya, itu tetap menjadi rahasia kita. Jika Ayah bertanya lagi, katakan saja urusan itu sudah selesai dan dia sudah dibayar."
"Baik, Tuan."
Emirhan melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah datar yang biasa ia tunjukkan pada dunia. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa urusannya dengan Aliya belum benar-benar berakhir.
Justru, ini hanyalah awal dari sesuatu yang ia sendiri belum mengerti arahnya.
Di dalam kantong mantelnya, ia masih merasakan kehangatan yang tertinggal dari pertemuan mereka tadi.
Begitu langkah kaki Emirhan melewati pintu utama, Zaenab langsung menghambur dan memeluk putranya dengan erat.
Aroma parfum Emirhan yang khas seolah menjadi penenang bagi kekhawatiran yang ia pendam sejak kemarin.
"Bagaimana pekerjaanmu? Apakah semuanya baik-baik saja? Kenapa wajahmu terlihat sedikit pucat, Nak?" tanya Zaenab sambil mengusap pipi Emirhan dengan kasih sayang seorang ibu.
"Iya, Ibu. Semuanya baik-baik saja, hanya sedikit kendala teknis yang menguras tenaga," jawab Emirhan berusaha tersenyum senormal mungkin.
Di sudut ruangan, Onur berdiri sambil memegang surat kabar.
Ia melirik tajam ke arah putra tunggalnya itu, sebuah tatapan penuh arti yang hanya dimengerti oleh mereka berdua—isyarat bahwa rahasia itu masih tersimpan rapat.
"Ayah, Ibu, aku ke kamar dulu. Badanku rasanya lelah sekali," pamit Emirhan.
"Iya nak, istirahatlah. Nanti Ibu masakkan makanan kesukaanmu untuk makan malam," ucap Zaenab yang dibalas anggukan pelan oleh Emirhan.
Emirhan melangkah menaiki tangga menuju kamarnya yang luas.
Begitu pintu tertutup, ia mengembuskan napas panjang, melepaskan topeng ketenangan yang ia pakai di depan ibunya.
Ia membuka kancing kemejanya satu per satu, lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang mewah.
Suara gemericik air dari shower mulai memenuhi ruangan saat ia memutar keran.
Air dingin yang mengguyur tubuhnya perlahan meredakan ketegangan otot-ototnya, namun tidak dengan pikirannya.
"Terima kasih, Emir..."
Suara lembut Aliya seolah berbisik di telinganya, bersaing dengan suara air.
Bayangan saat gadis itu berjinjit dan mencium pipinya kembali terlintas dengan sangat jelas.
Emirhan menyentuh pipinya sendiri, merasakan sisa kehangatan yang seolah masih tertinggal di sana.
Jantungnya, yang biasanya berdetak stabil dan dingin seperti mesin bisnis, kini berdegup kencang tak beraturan.
Emirhan menyandarkan kepalanya ke dinding marmer kamar mandi, membiarkan air membasahi wajahnya.
Sebuah senyuman tipis yang tulus muncul di bibirnya—sesuatu yang sangat jarang terjadi.
"Sepertinya aku jatuh cinta dengan gadis itu," gumam Emirhan pelan.
Ada rasa manis sekaligus getir yang ia rasakan. Sebagai seorang Emirhan, jatuh cinta pada gadis biasa seperti Aliya adalah sebuah keindahan, namun ia sadar, tembok besar bernama keluarga dan status sosial sudah berdiri kokoh di depan mata mereka.
Di bawah kucuran air, Emirhan bertekad bahwa ini bukanlah pertemuan terakhir mereka.
Suasana di rumah makan sudah mulai sepi, namun ketegangan di ruang tengah kediaman Maria justru mencapai titik didih.
Begitu Aliya melangkah masuk melewati pintu depan, ia disambut oleh tatapan tajam Maria yang sudah menunggunya dengan tangan bersedekap.
"Wah, wah. Lihat siapa yang baru saja pulang," ucap Maria dengan nada sarkastik yang menusuk.
Aliya terpaku di ambang pintu, tangannya refleks meremas ujung bajunya, mencoba menutupi rasa sakit di dadanya yang kembali berdenyut.
"Ibu..."
"Dari mana saja kamu? Acara sekolah? Acara sekolah apa yang sampai membuatmu menginap beberapa hari tanpa kabar?" cecar Maria, langkahnya mendekat ke arah Aliya.
"Jangan-jangan kamu jual diri, ya?"
Tuduhan itu menghujam jantung Aliya lebih menyakitkan daripada peluru yang tempo hari mengenainya.
Wajahnya pucat pasi, matanya mulai berkaca-kaca.
"Ibu, duduklah. Aku akan menjelaskannya. Semuanya tidak seperti yang Ibu pikirkan."
"Menjelaskan apa?!" bentak Maria, suaranya menggelegar di ruangan yang sempit itu.
"Dari dulu kamu tidak pernah menuruti perkataan Ibu! Menari dan menari terus! Kamu pikir tarian konyolmu itu bisa memberi makan keluarga?"
"Tapi, Bu—"
"Cukup! Ibu sudah lelah dengan semua kebohonganmu!" Maria menunjuk ke arah pintu luar dengan jari yang gemetar karena emosi.
"Pergi dari rumah ini, Aliya! Jika kamu lebih memilih duniamu sendiri daripada mendengarkan ibumu, silakan cari tempat tinggal di luar sana!"
Aliya luruh ke lantai, ia menangis sesenggukan. Bahunya terguncang hebat, menahan rasa sakit fisik dan batin yang datang bersamaan.
Isak tangisnya terdengar begitu pilu, namun Maria seolah sudah menutup pintu hatinya karena amarah yang memuncak.
Zarta yang mendengar keributan itu segera berlari dari arah dapur.
Ia terkejut melihat Aliya yang bersimpuh di lantai dan ibunya yang sedang murka.
"Ibu, sudah! Cukup!"
Zarta segera merangkul bahu ibunya dan mencoba menenangkannya, membawanya menjauh dari Aliya.
"Ibu sedang emosi, jangan bicara seperti itu pada Aliya. Biarkan dia tenang dulu."
"Lepaskan Ibu, Zarta! Anak ini harus diberi pelajaran!" teriak Maria, meski langkahnya mulai melambat karena tarikan Zarta.
Di sudut ruangan, Aliya masih tertunduk, air matanya membasahi lantai.
Di tengah rasa putus asa itu, bayangan wajah Emirhan tiba-tiba melintas di pikirannya.
Hanya pria itu yang memintanya menuruti kata hati, namun sekarang, mengikuti kata hati justru membuatnya kehilangan satu-satunya tempat yang ia sebut rumah.
Aliya masuk ke kamar dengan langkah gontai. Isak tangisnya belum reda, namun tangannya dengan gemetar mulai memasukkan beberapa helai pakaian ke dalam tas ranselnya.
Setiap lipatan baju yang ia masukkan terasa seperti beban yang menghimpit dada.
"Memang Ibu selalu memilih Kak Zarta daripada aku," bisiknya di sela tangis.
Sejak dulu, ia merasa keberadaannya hanyalah sumber kekecewaan bagi Maria, sementara kakaknya selalu menjadi kebanggaan.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Aliya menyampirkan tasnya dan berjalan keluar kamar.
Ia tidak menoleh lagi ke arah ibunya yang masih tampak emosi di ruang tengah.
Ia terus melangkah melewati pintu depan tanpa suara.
"Aliya! Berhenti! Kamu mau ke mana?!" teriak Zarta yang kaget melihat adiknya benar-benar pergi.
Zarta mencoba mengejar ke luar rumah, namun Aliya bergerak lebih cepat.
Aliya sudah mencegat sebuah taksi yang kebetulan melintas di depan gang.
Ia masuk dan menutup pintu dengan rapat tepat saat Zarta sampai di pinggir jalan.
"Aliya! Turun! Kita bicarakan baik-baik!" seru Zarta sambil menggedor kaca jendela, namun taksi itu mulai melaju.
Aliya menyandarkan kepalanya ke kursi belakang, membiarkan air matanya mengalir deras membasahi pipi.
Lukanya kembali terasa perih, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih mendominasi.
"Ke mana, Nona?" tanya sopir taksi sambil melirik dari kaca spion dengan raut prihatin.
Aliya menghapus air matanya pelan.
"Ke pelabuhan, Pak," jawabnya dengan suara serak.
Pelabuhan itu adalah satu-satunya tempat yang memberinya ketenangan.
Tempat di mana ia dan mendiang ayahnya dulu sering menghabiskan waktu bersama untuk melihat kapal melintas dan membicarakan mimpi-mimpi.
Di saat dunia menolaknya dan ibunya mengusirnya, Aliya hanya ingin merasa dekat dengan sosok yang selalu mendukungnya—meskipun sosok itu kini hanya tinggal kenangan di dermaga yang sunyi.