Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anomali di Antara Deru Mesin
Malam itu, Laboratorium Manufaktur dan Bengkel Teknik Mesin sudah tidak sesibuk sore tadi. Hujan sisa badai masih menyisakan rintik tipis di luar, menciptakan irama monoton yang menghantam atap seng.
Di dalam ruangan yang beraroma campuran solar, besi dingin, dan cairan pembersih karat WD-40 itu, suasana terasa jauh lebih hangat daripada biasanya. Bima duduk di atas kursi putar tua yang busanya sudah robek di sana-sini, menghadap meja kerja kayu yang penuh dengan baut-baut berserakan seolah baru saja dihantam badai kecil.
Tangannya yang kasar memegang selembar lap kotor yang menghitam karena oli, tapi gerakannya terhenti sepenuhnya. Matanya tidak tertuju pada komponen mesin bubut yang sedang ia bersihkan, melainkan pada ponsel di atas meja yang layarnya masih menyala terang.
Ponsel itu menampilkan satu baris kontak baru yang baru saja ia simpan beberapa menit lalu dengan tangan yang sedikit gemetar karena sisa adrenalin.
Dan di sanalah anomali itu terjadi.
Bima, sosok yang dijuluki "Robot Mekanik" oleh mahasiswa fakultas lain karena ekspresinya yang lebih datar dari penggaris besi dan bicaranya yang lebih dingin dari freon kulkas, tiba-tiba menarik sudut bibirnya. Tipis, sangat samar, tapi cukup untuk mengubah seluruh aura di wajahnya yang biasanya sangar.
Ia tersenyum sendiri sambil menatap layar ponsel, seolah-olah sepuluh digit angka di sana adalah penemuan teknologi paling mutakhir yang pernah ia temukan selama tiga tahun kuliah di Teknik Mesin.
"Woi, Dit. Lu liat apa yang gue liat?" bisik Roni dari balik rak alat-alat di belakang mesin CNC.
Adit dan si Gendut langsung merapat, membentuk barisan pengintai dengan kepala yang bertumpuk vertikal di balik lemari perkakas.
Mereka menatap Bima yang masih asyik dengan dunianya sendiri, sesekali jempolnya mengusap layar ponsel seolah sedang mengelus sesuatu yang sangat rapuh dan berharga—sesuatu yang jauh lebih lembut daripada kunci inggris.
"Gila, itu senyum horor banget kalau buat ukuran Bima," bisik si Gendut sambil mengunyah sisa gorengan dingin yang entah ia dapatkan dari mana. "Biasanya kalau dia senyum gitu, berarti ada mesin yang mau meledak atau dia habis menang berantem di belakang GOR. Tapi ini... ini kayak senyum orang yang baru dapet restu mertua."
"Bukan mertua, Gendut! Itu senyum orang yang baru jatuh cinta" sanggah Roni pelan, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
Tiba-tiba, keheningan bengkel yang hanya diisi suara rintik hujan itu pecah oleh suara khas notifikasi pesan masuk.
Ting!
Bima yang tadinya sedang tersenyum manis langsung terperanjat. Ia tersentak sampai kursinya berderit nyaring, hampir saja ia terjungkal ke belakang kalau tangannya tidak cepat menyambar pinggiran meja besi itu.
Dengan gerakan kilat, seolah-olah sedang mengamankan komponen mesin yang hampir jatuh, Bima menyambar ponselnya. Wajahnya yang kaku mendadak berubah tegang sekaligus penuh harap yang terpancar jelas dari matanya.
"CIEEEE! Chat dari si cewe sastra ya?!" seru Roni sambil melompat keluar dari persembunyiannya, membuat Bima hampir menjatuhkan ponselnya ke lantai.
"Waduh, langsung dibales ya, Bim? Baru juga nyampe kosan kayaknya tuh cewek! Emang jodoh nggak ke mana!" timpal Adit sambil tertawa puas, menikmati pemandangan Bima yang sedang salah tingkah.
Si Gendut ikut lari mendekat sambil bertepuk tangan, perutnya berguncang seirama dengan tawa girangnya. "Liat tuh mukanya Bima! Panik-panik seneng gimana gitu! Ayo Bim, buka! Jangan-jangan dia bilang 'Makasih ya Mas Mekanik Ganteng, kapan-kapan mogok bareng lagi ya'."
Bima tidak memedulikan ejekan mereka. Dengan jantung yang berdegup kencang—frekuensi yang jauh lebih cepat daripada putaran mesin mana pun—ia membuka kunci layar ponselnya. Namun, sedetik kemudian, bahunya merosot seketika. Ekspresi tegang yang penuh harap itu berubah menjadi datar, lalu menjadi sangat masam.
"Apaan? Mana liat? Dia bilang apa?" tanya Roni kepo setengah mati, mencoba mengintip layar ponsel Bima yang layarnya agak retak itu.
Bima menghela napas panjang, sebuah napas yang terdengar seperti ban bocor karena kecewa. Ia membalikkan layar ponselnya ke arah teman-temannya dengan wajah super jutek. "Notif dari operator. Kuota gue mau abis."
Tawa Roni, Adit, dan si Gendut pecah seketika, menggelegar memenuhi seisi bengkel yang luas itu. Suara tawa mereka bahkan mengalahkan bunyi mesin kompresor di pojok ruangan. Si Gendut sampai harus memegang perutnya dan bersandar pada mesin bubut karena terlalu geli.
"Hahahaha! Kasihan banget si Robot! Udah terlanjur copot jantungnya, ternyata cuma disuruh beli paketan!" ledek Roni sambil memukul-mukul meja kerja Bima dengan tangannya yang kotor.
"Tapi dari situ kita tahu ya, Ron," Adit menimpali sambil mengusap air mata yang keluar karena terlalu banyak tertawa. "Bima emang lagi nungguin si Kirana! Liat aja tadi dia kagetnya kayak gimana. Kalau nggak mikirin, nggak mungkin sampe mau jatuh dari kursi gitu. Ngaku aja lo, Bim!"
Bima mendengus keras, mencoba menyembunyikan rasa malu yang luar biasa yang membuat telinganya memerah. "Diem lo semua. Gue nggak nungguin siapa-siapa. Gue cuma kaget suaranya kenceng banget."
"Halah, bohongnya nggak pinter, Bim! Biasanya juga ada ledakan mesin di lab lo santai aja!" si Gendut menyambar lagi. "Padahal mah tadi dalam hati udah bilang, 'Duh, sayangku Kirana nge-chat ya?' Eh taunya 'Sisa kuota Anda tinggal 100MB'. Nyeseknya sampe ke baut-baut hati!"
Bima segera memasukkan ponselnya ke dalam saku dengan gerakan kasar. Meskipun ia baru saja dipermalukan oleh notifikasi operator, anehnya rasa kesalnya tidak bertahan lama. Bayangan Kirana yang tertawa bersama Danu di koridor tempo hari—yang sempat membuatnya merasa terbakar api cemburu hingga ingin membanting kunci Inggris—kini benar-benar sudah terlupakan.
Bagi Bima, Danu sudah bukan ancaman berarti malam ini.
"Mending lo deketin beneran deh, Bim," ujar Roni setelah tawanya mereda, ia menatap Bima dengan nada yang lebih serius sekarang.
"Gue dukung seratus persen. Kirana itu paket lengkap, Bro. Cantik banget, pinter, terus sopan banget lagi kalau lewat depan bengkel. Nggak pernah dia buang muka meskipun kita lagi dekil-dekilnya. Cocok lah sama lo yang kaku kayak kunci torsi ini. Biar hidup lo ada estetikanya dikit, nggak cuma oli sama bensin melulu."
Adit mengangguk setuju, memberikan dukungan moral. "Iya, Bim. Cocok kok. Lagian lo udah punya nomornya, itu modal paling mahal di zaman sekarang. Manfaatin alasan 'urgent' lo itu buat nge-chat dia terus."
Bima berdiri, menyambar tas punggungnya yang sudah pudar warnanya untuk menutupi rasa salah tingkah yang makin menjadi-jadi karena terus digoda. "Nggak usah sotoy lo semua. Udah malem, balik sana lo semua, entar gerbang dikunci."
"Bim, jangan lupa beli kuota dulu di depan gerbang! Nanti kalau si Sastra beneran nge-chat tapi lo nggak ada paketannya gimana? Bisa gagal total rencana pendekatan lo! Nggak lucu kalau dia bilang 'I love you' terus lo nggak bisa bales karena kuota kritis!" teriak si Gendut saat Bima mulai melangkah keluar dengan langkah cepat.
Bima tidak menoleh, ia terus berjalan cepat menuju parkiran motor untuk menghindari ejekan yang makin ngawur. Namun di bawah cahaya lampu jalan yang remang dan sisa-sisa hujan yang masih turun tipis, ia memakai helmnya. Di balik kaca helm yang gelap, senyum itu kembali muncul. Senyum yang jauh lebih lebar dan tulus daripada senyum "palsu" yang ia berikan pada Sheila tadi siang.
"Sialan si Roni," gumam Bima pelan. Meskipun tadi ia dikerjai oleh notifikasi operator, ia tahu satu hal: ia tidak akan membiarkan kuotanya habis malam ini. Bahkan ia berencana membeli paket paling mahal agar tidak ada gangguan komunikasi apa pun.
Bima menyalakan mesin motor besarnya. Deru mesinnya terdengar mantap dan bertenaga, seirama dengan detak jantungnya yang malam itu terasa jauh lebih hidup dari biasanya. Ternyata, menjadi "robot" tidak lagi menyenangkan sejak ada percikan api dari seorang gadis Sastra yang bahkan hanya dengan memberikan nomor teleponnya, sudah mampu mengacaukan seluruh sistem logika Bima.
Malam itu, Bima pulang bukan hanya membawa bau oli, tapi juga membawa sebuah harapan yang ia simpan rapi dalam satu baris kontak bernama "Kirana Sastra". Dan baginya, itu lebih dari cukup untuk membuat malam yang dingin ini terasa sangat hangat.