"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."
Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.
Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.
Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Umpan Macan Tutul
Fajar baru aja menyembul di ufuk timur, membelah kabut tebal yang sedari tadi menggantung di atas atap-atap rumah kosong tempat Ling Chen dan Mu Rong'er sembunyi. Sinar matahari yang masih malu-malu itu masuk lewat celah genting yang bocor, jatuh pas di atas kelopak mata Mu Rong'er yang langsung mengerjap-erjap karena silau.
Gadis itu menggeliat pelan, meregangkan otot-otot badannya yang terasa kaku banget karena harus tidur di atas kursi kayu tua yang keras tanpa bantal maupun selimut. Pas dia menoleh ke samping, dia melihat Kuro masih meringkuk pulas di dekat kakinya, sementara Ling Chen sudah nggak ada lagi di posisi bersilanya yang semalam.
"Tuan Muda Ling?" panggil Mu Rong'er dengan suara parau khas orang baru bangun tidur. Dia langsung celingukan menatap sekeliling ruangan yang remang-remang itu dengan panik. "Aduh, jangan bilang aku ditinggal sendirian di sini..."
"Jangan berisik, aku di sini."
Suara datar nan dingin itu terdengar dari arah teras depan. Mu Rong'er langsung mengembuskan napas lega yang panjang, lalu buru-buru berdiri sambil menggendong Kuro yang ikutan nguap lebar sampai taring kecilnya kelihatan. Pas jalan ke luar, dia melihat Ling Chen lagi berdiri tegak di dekat pagar kayu yang lapuk, matanya menatap lurus ke arah jalanan distrik inti yang mulai ramai sama aktivitas warga dan para kultivator.
"Ada apa, Tuan Muda?" tanya Mu Rong'er sambil berjalan mendekat, mencoba menyamakan arah pandangannya dengan Ling Chen. "Suasananya kelihatan biasa aja, nggak ada barikade pasukan emas kayak semalam."
"Itu karena mereka tahu kalau cara kasar semalam nggak bakal mempan buat menangkap kita," jawab Ling Chen tanpa menoleh sedikit pun, tangannya masih setia disembunyikan di balik saku jubah biru tuanya.
"Pangeran Agung itu tampaknya punya penasihat yang sedikit lebih pintar sekarang. Mereka sengaja menarik pasukan kasat mata agar kita merasa aman, lalu memasang jaring tak terlihat di setiap sudut jalan."
Mu Rong'er langsung menelan ludah susah payah, bulu kuduknya meremang lagi. "Jaring tak terlihat? Maksudnya ada mata-mata yang mengintai kita sekarang?"
Kyuu~!
Kuro yang ada di pelukan Mu Rong'er mendadak menegangkan tubuhnya, sepasang mata emasnya berkilat tajam ke arah sebuah kedai bubur yang ada di seberang persimpangan jalan, sekitar seratus meter dari posisi mereka berdiri.
Di sana, ada seorang pemuda berpakaian jubah putih bersih yang lagi duduk santai sambil menikmati semangkuk bubur hangat, tapi pandangan matanya sesekali melirik tajam ke arah rumah kosong tempat mereka berada.
"Murid dari Benua Tengah," ucap Ling Chen, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang penuh dengan nada meremehkan. "Tekanan energinya sudah menyentuh Alam Inti Emas tahap menengah, jauh lebih stabil dibanding kapten bodoh yang kubunuh semalam. Tampaknya klan anjing pemburu itu beralih mengirim macan tutul muda untuk menjemput nyawa kita."
"Inti Emas tahap menengah?!" Mu Rong'er hampir aja berteriak kalau nggak buru-buru membekap mulutnya sendiri pakai tangan kiri. "Itu... itu kan level master besar di kekaisaran ini! Kita harus gimana sekarang? Apa kita memutar lewat jalur belakang lagi?"
"Ngapain memutar?" Ling Chen berbalik badan, menatap Mu Rong'er dengan pandangan santai seolah-olah musuh di depan mereka itu nggak lebih dari sekadar kerikil kecil di jalanan.
"Dia sengaja duduk di sana buat memancing kita keluar. Kalau kita sembunyi terus, dia bakal bosan. Lebih baik kita samperin dan lihat apa yang mau dia tawarkan sebelum kepalanya menggelinding di atas meja bubur itu."
Mu Rong'er cuma bisa melotot pasrah mendengar jalan pikiran Ling Chen yang kelewat nekat itu. Belum sempat dia protes, pemuda berjubah biru itu udah melangkah duluan keluar dari gerbang kayu tua dengan gaya yang super santai, seolah-olah dia lagi mau jalan-jalan pagi menikmati udara segar Ibukota.
Mau nggak mau, Mu Rong'er buru-buru menyusul di belakang sambil terus memeluk Kuro erat-erat. Begitu mereka berdua menginjakkan kaki di jalanan utama, pemuda berjubah putih di kedai bubur itu langsung meletakkan sendoknya.
Dia berdiri, merapikan jubahnya yang mewah, lalu berjalan perlahan memotong jalan untuk menghadang langkah kaki Ling Chen tepat di tengah persimpangan.
"Langkah yang berani, Anak Haram Klan Sembilan Langit," ucap pemuda jubah putih itu dengan nada suara yang sombong banget, tangannya memegang sebuah kipas lipat dari tulang giok yang dikipas-kipaskan pelan ke dadanya.
"Namaku Yan Mu, murid langsung dari Tetua Mo Benua Tengah. Aku diperintahkan untuk membawamu dan giok hijau itu kembali ke istana. Kalau kau menyerah sekarang tanpa perlawanan, aku berjanji bakal menyisakan jasadmu dalam kondisi yang utuh."
Orang-orang di sekitar persimpangan yang menyadari ada ketegangan mendadak langsung bubar menjauh, mereka tahu kalau keributan yang melibatkan kultivator Benua Tengah selalu berakhir dengan kehancuran total di sekitarnya.
Ling Chen berhenti tepat tiga langkah di depan Yan Mu. Dia menatap pemuda sombong itu dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu menghela napas pendek dengan muka yang kelihatan malas banget.
"Kalian orang-orang dari Benua Tengah itu... kenapa sih kalau ngomong selalu pakai template yang sama?" tanya Ling Chen dengan nada santai bin ngeselin.
"Anak haram lah, menyerah lah, jasad utuh lah... Apa di tempat asal kalian nggak diajarkan variasi kalimat yang lebih kreatif kalau mau menantang orang mati?"
"Kau... berani-beraninya menghina standarku?!" Wajah Yan Mu yang tadinya tenang dan sok elegan langsung berubah jadi merah padam karena tersinggung berat oleh ucapan santai Ling Chen. Kipas lipat di tangannya langsung ditutup dengan bunyi CTAK yang nyaring, memancarkan aura angin berwarna hijau pekat yang sanggup mengikis batu granit jalanan di bawah kakinya.
"Aku nggak menghina, aku cuma bicara fakta," balas Ling Chen sambil memutar pergelangan tangan kanannya, bersiap buat mencabut pedang hitamnya lagi. "Ayo cepat maju, buburmu di seberang sana keburu dingin, dan aku benci membuang-buang waktu dengan macan tutul kecil yang cuma bisa menggonggong."