Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.
Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.
Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 — Mereka Mulai Datang
Suara lonceng tua itu menggema panjang di seluruh area sekolah.
TONGGGGG…
Naresha refleks menoleh ke arah gedung utama SMA Arkana. Langit sore semakin gelap, padahal waktu belum benar-benar malam.
Angin dingin berembus lebih kencang dari sebelumnya.
Daun-daun pohon bergesekan menimbulkan suara menyeramkan.
Dan entah kenapa…
Suasana sekolah mendadak terasa berbeda.
Lebih sunyi.
Lebih berat.
Seolah tempat itu baru saja berubah menjadi sesuatu yang lain.
Arven langsung berdiri cepat.
“Kita harus pergi.”
Nada suaranya tidak main-main.
Naresha ikut berdiri sambil mengernyit bingung.
“Kenapa lo tiba-tiba panik begitu?”
“Jangan banyak tanya sekarang.”
Arven meraih pergelangan tangan Naresha lalu menariknya berjalan cepat menuju gedung utama.
“Woi pelan!”
Namun Arven tidak menjawab.
Tatapannya terus melihat sekitar dengan waspada.
Koridor sekolah kini benar-benar kosong.
Tidak ada suara siswa.
Tidak ada guru.
Bahkan suara hujan pun seolah menghilang.
Yang tersisa hanya langkah kaki mereka berdua.
Tok.
Tok.
Tok.
Naresha mulai merasa tidak nyaman.
“Sekolahnya sepi banget…”
“Karena semua orang tahu harus pulang sebelum jam enam.”
Deg.
Ucapan itu membuat bulu kuduk Naresha kembali meremang.
Saat mereka melewati papan pengumuman dekat tangga, Naresha tiba-tiba berhenti.
“Astaga…”
Arven langsung menoleh.
“Apa?”
Naresha menunjuk papan pengumuman dengan wajah pucat.
Foto-foto siswa yang tertempel di sana berubah.
Semua wajah dalam foto itu…
Menghitam.
Seperti terbakar.
Dan mata mereka dicoret tinta merah.
Napas Naresha tercekat.
“Tadi pagi ga begini…”
Arven langsung menarik Naresha menjauh.
“Jangan lihat terlalu lama.”
“Tapi—”
“Sha!”
Nada suara Arven kali ini jauh lebih keras.
Dan itu cukup membuat Naresha diam.
Mereka kembali berjalan cepat melewati koridor lantai satu.
Namun beberapa langkah kemudian…
Tok.
Tok.
Tok.
Terdengar suara langkah kaki lain.
Pelan.
Mengikuti mereka dari belakang.
Tubuh Naresha langsung menegang.
“Ven…”
Arven tidak menoleh.
“Jangan nengok.”
“Tapi ada yang ngikutin.”
“Gue tahu.”
Jantung Naresha mulai berdetak semakin cepat.
Suara langkah kaki itu terus terdengar.
Tok.
Tok.
Tok.
Semakin dekat.
Dan anehnya…
Terdengar seperti kaki seseorang yang basah menyeret lantai.
Naresha menggigit bibir bawahnya pelan.
Ia berusaha menahan rasa penasaran.
Namun akhirnya—
Ia menoleh.
Dan napasnya langsung berhenti.
Perempuan dari toilet timur berdiri beberapa meter di belakang mereka.
Rambutnya basah.
Seragamnya kotor.
Air hitam menetes dari tubuhnya ke lantai.
Namun kali ini…
Ia tidak sendirian.
Ada banyak sosok lain berdiri di belakangnya.
Siswa-siswa dengan wajah pucat.
Mata kosong.
Seragam penuh darah.
Diam sambil menatap Naresha.
“Arven…”
Suara Naresha bergetar pelan.
Arven langsung menoleh dan ekspresinya berubah pucat.
“Lari!”
Mereka langsung berlari melewati koridor.
Suara langkah kaki di belakang mereka mendadak berubah ramai.
Tok tok tok tok tok—
Cepat.
Tidak normal.
Seolah puluhan orang sedang mengejar mereka.
Naresha hampir kehilangan napas.
“Kenapa mereka ngejar gue?!”
“Karena mereka sadar lo bisa lihat mereka!”
“Apa-apaan itu?!”
Mereka membelok menuju tangga utama.
Namun saat sampai—
Brakkk!
Pintu keluar sekolah tertutup sendiri dengan keras.
Naresha langsung membeku.
“Jangan bercanda…”
Arven buru-buru mencoba membuka pintu itu.
Tidak bisa.
Terkunci.
Padahal tadi jelas terbuka.
Suara langkah kaki mulai mendekat lagi dari ujung koridor.
Tok.
Tok.
Tok.
Naresha perlahan menoleh.
Dan tubuhnya langsung gemetar.
Sosok-sosok itu berdiri di ujung lorong.
Diam.
Jumlahnya lebih banyak sekarang.
Belasan siswa.
Semua menatap lurus ke arah Naresha.
Salah satu dari mereka maju selangkah.
Lehernya patah miring ke samping.
Mulutnya tersenyum terlalu lebar.
“Dia bisa melihat kita…”
Suara itu lirih.
Tapi cukup membuat darah Naresha terasa dingin.
Sosok lain ikut bicara.
“Akhirnya…”
“Sudah lama…”
“Kami menunggu…”
Suara mereka bercampur menjadi bisikan aneh yang menggema di koridor.
Naresha mundur perlahan.
Tubuhnya mulai gemetar hebat.
Arven berdiri di depan Naresha seolah melindunginya.
Tatapannya tajam ke arah sosok-sosok itu.
“Jangan dekatin dia.”
Untuk beberapa detik semuanya hening.
Lalu perempuan berambut basah itu melangkah maju.
Matanya kosong.
Namun kali ini bibirnya tersenyum kecil.
“Dia sudah dipilih.”
Deg.
Naresha langsung menatap Arven bingung.
“Apa maksudnya dipilih?”
Namun ekspresi Arven justru berubah semakin buruk.
Dan itu membuat Naresha sadar…
Kalimat tadi bukan sekadar ancaman biasa.