"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"
Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang mengepung mereka. Hamdan Tarkan—pria yang dulu berjanji melindunginya dengan gelang rumput sederhana—kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus.
Dipaksa tinggal di dalam penjara emas Mansion Tarkan, Amora harus menghadapi skandal yang menyebut dirinya adalah saudara tiri pria yang ia cintai. Di tengah intrik kasta tertinggi dan kemunculan musuh dari masa lalu, Amora menyadari satu hal: Hamdan menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih gelap.
Apakah Hamdan benar-benar ingin melindunginya, atau Amora hanyalah kunci untuk menguasai aset terakhir Dinasti Klan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Ledakan di Keheningan Malam
Malam kian larut, namun napas mansion ini seolah tertahan. Amora tidak bisa memejamkan mata. Ia duduk bersandar di balik pintu kamarnya, memeluk lutut sambil menatap foto ayahnya, Baron Alaric Klan, yang nampak gagah dalam potret kusam itu. Air matanya jatuh tanpa suara, meratapi betapa beratnya beban identitas yang harus ia tanggung.
Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan yang sangat dikenalinya. Bukan ketukan pelayan, melainkan ketukan tegas namun penuh keraguan.
"Amora... ini aku." Suara rendah Hamdan menembus celah pintu.
Amora tidak menjawab, namun ia bangkit dan memutar kunci. Pintu terbuka, memperlihatkan Hamdan yang masih mengenakan kemeja yang sama dengan di museum tadi, namun dasinya sudah terlepas dan dua kancing atasnya terbuka. Wajahnya nampak sangat letih, namun matanya memancarkan kegelisahan yang memuncak.
Hamdan masuk dan langsung menutup pintu di belakangnya. Ia terpaku melihat wajah Amora yang sembab dan foto di tangan gadis itu. Keheningan di antara mereka terasa begitu mencekam, hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti dentuman.
"Kenapa kau belum tidur?" tanya Hamdan, suaranya parau.
"Bagaimana aku bisa tidur saat semua orang menganggapku sebagai aib?" Amora mendongak, matanya berkilat penuh luka. "Kau bilang kau melindungiku, tapi setiap kali aku melangkah keluar, aku merasa seperti mangsa yang sedang diburu."
Melihat kerapuhan Amora, kawat kendali yang selama ini Hamdan bangun dengan sangat hati-hati akhirnya putus. Ia melangkah maju, mencengkeram kedua bahu Amora dengan tangan yang gemetar.
"Dengarkan aku!" Hamdan setengah berteriak, suaranya pecah oleh emosi yang ia tahan sejak di museum. "Kau pikir aku tenang melihatmu menangis seperti ini? Kau pikir aku bahagia menjadi pria yang paling kau benci saat ini?"
Hamdan menarik Amora ke dalam dekapannya secara paksa, namun kali ini bukan dengan kekasaran, melainkan dengan keputusasaan yang mendalam. Ia menyembunyikan wajahnya di bahu Amora, membiarkan napasnya yang panas menerpa kulit gadis itu.
"Aku hampir kehilangan akal sehatku di museum tadi, Amora. Melihat tangan pria itu menyentuhmu... rasanya jantungku ditarik paksa dari dadaku. Aku benci fakta bahwa aku tidak bisa menjagamu tanpa menyakitimu. Aku benci fakta bahwa namaku sendiri menjadi senjata bagi mereka untuk menghancurkanmu!"
Amora tertegun. Ia bisa merasakan tubuh Hamdan yang biasanya sekokoh batu kini bergetar hebat. Pria dewasa yang selalu nampak berkuasa ini akhirnya menunjukkan sisi rapuhnya yang paling dalam.
"Jangan pernah... jangan pernah berpikir untuk pergi lagi," bisik Hamdan, suaranya hampir menyerupai rintihan. "Aku tidak peduli pada perusahaan, aku tidak peduli pada apa yang dikatakan dunia. Jika besok hasil tes DNA itu keluar dan mereka tetap tidak percaya, aku akan membawamu lari sejauh mungkin dari sini."
Amora melepaskan pelukannya sedikit, menatap mata Hamdan yang kini penuh dengan air mata yang tertahan. "Abang... apakah kau melakukan semua ini karena janji pada Ayahku, atau karena kau memang menginginkanku?"
Hamdan menangkup wajah Amora dengan kedua tangannya yang kasar namun penuh kasih. "Janji itu hanyalah alasan bagiku untuk tetap berada di dekatmu, Amora. Tapi yang membuatku tetap terjaga setiap malam adalah kenyataan bahwa aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri. Aku mencintaimu bukan sebagai saudara, bukan sebagai tanggung jawab, tapi sebagai wanita yang ingin kujaga selamanya."
Malam itu, di bawah remang lampu kamar, ledakan perasaan yang selama ini tersimpan rapat akhirnya tumpah sepenuhnya. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi dinding es. Yang tersisa hanyalah dua jiwa yang sedang berpegangan erat di tengah badai fitnah yang siap menghantam mereka keesokan harinya.
Di bawah temaram lampu nakas, Hamdan masih menangkup wajah Amora. Ibu jarinya mengusap lembut sisa air mata di pipi gadis itu, seolah setiap tetesnya adalah beban dosa yang harus ia tanggung. Keheningan malam di Mansion Tarkan terasa begitu berat, seakan dinding-dinding mewah ini ikut mendengarkan pengakuan dosa sang pewaris tunggal.
"Kau selalu menjadi 'kulkas dua pintu', Abang," bisik Amora, mencoba tersenyum di tengah isaknya. "Kenapa baru sekarang kau bicara jujur?"
Hamdan memejamkan mata sejenak, menyandarkan keningnya pada kening Amora. Aroma mawar dari rambut Amora seolah menjadi candu yang menenangkan badai di kepalanya. "Karena aku takut, Amora. Aku takut jika aku menunjukkan betapa besarnya perasaanku, kau akan memiliki kekuatan untuk menghancurkanku. Dan kenyataannya, kau memang memilikinya. Satu langkahmu menjauh hari ini hampir membuatku mati berdiri."
Amora bisa merasakan detak jantung Hamdan yang berdegup kencang di balik kemeja tipisnya—sebuah irama yang sama gelisahnya dengan detak jantungnya sendiri. Ia menyadari bahwa di balik otoritas dan kekuasaan pria ini, ada seorang pria yang sangat kesepian dan hanya ingin pulang pada satu hati.
"Jika besok dunia tetap menghujat kita..." Amora menggantung kalimatnya, menatap mata Hamdan dengan dalam. "Apakah kau akan tetap memegang tanganku seperti ini?"
Hamdan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih tangan kanan Amora, mengecup punggung tangan yang masih melingkar cincin berlian darinya itu dengan sangat lama. "Aku akan membangun dunia baru untukmu, Amora. Di mana tidak ada Tarkan, tidak ada Klan, hanya ada kita. Aku bersumpah."
Pukul 04.00 Pagi
Momen emosional itu terputus saat suara getaran ponsel Hamdan terdengar di atas meja. Sebuah pesan singkat dari Farid muncul: "Tim medis dari Swiss sudah mendarat di pelabuhan pribadi. Mereka sedang dalam perjalanan menuju gerbang belakang."
Hamdan menarik napas panjang, kembali memasang wajah yang kuat. Ia menatap Amora sekali lagi, kali ini dengan kilat tekad yang tak tergoyahkan.
"Waktunya dimulai," ucap Hamdan tegas. "Apapun yang terjadi pagi ini, jangan lepaskan pandanganmu dariku. Aku sudah menyiapkan segalanya. Fitnah ini akan berakhir saat matahari terbit sepenuhnya."
Hamdan bangkit, merapikan kemejanya, dan bersiap keluar. Namun sebelum ia membuka pintu, ia berbalik dan membisikkan sesuatu yang membuat Amora merinding, "Ingat, Amora... kau adalah Mawar-ku yang paling aku sayangi. Jangan biarkan siapapun, termasuk Ibuku, membuatmu merasa lebih rendah dari itu."
To be continued...