Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.
Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.
Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Malu setengah mati
Lilin di atas meja pualam L'Arpège bergetar halus.
Pendar kuningnya yang temaram memantulkan bayangan tiga orang yang mendadak membeku, mengunci atmosfer meja sudut itu dalam ketegangan yang pekat.
Blake menatap pria yang baru saja bergabung dengan mata membelalak. Rahangnya sedikit terbuka, kehilangan seluruh ketenangan aristokrat yang biasanya ia agungkan.
Di sebelahnya, Kiandra langsung menarik paksa telapak tangannya dari cengkeraman Blake. Ia mengembuskan napas lega yang begitu panjang, seolah baru saja dibebaskan dari jerat tali gantung.
Enzo Romano duduk dengan keanggunan yang mengintimidasi.
Dengan gerakan lambat yang sengaja dipamerkan, ia melonggarkan satu kancing jas hitam mewahnya.
Kehadirannya seketika menyedot seluruh oksigen di sekitar mereka, memancarkan aura dominan yang langsung mengerdilkan keberadaan Blake.
"Maaf, Monsieur Romano. Kami sedang berkencan, jadi—"
"Jadi, apa yang sedang kalian bahas?" potong Enzo tanpa memedulikan interupsi Blake. Suara baritonnya yang berat mengalun tenang.
"Kenapa namaku disebut-sebut?"
Enzo mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat tenang kepada pelayan di kejauhan tanpa sekali pun mengalihkan pandangan dari Blake.
"Tidak ada! Kami tidak sedang membicarakan apa-apa," ucap Kiandra cepat.
Ia melemparkan senyum semringah yang dipaksakan kepada Enzo, mencoba menutupi kepanikannya yang mulai meluap ke permukaan. Di bawah meja, jemarinya meremas kain gaun sutra birunya hingga kusut.
Blake melirik Kiandra dari sudut matanya. Iris biru esnya menyipit tajam, menunjukkan rasa tidak senang yang nyata atas gangguan ini.
Seorang pelayan datang mendekat, membungkuk hormat di samping meja pualam yang sunyi.
Enzo menyebutkan beberapa pesanan dalam bahasa Prancis yang sangat fasih dan cepat. Pelayan itu mencatatnya dengan takzim, lalu bergegas pergi, meninggalkan ketegangan yang perlahan merayap naik di antara ketiga orang itu.
"Tidak masalah kan kalau aku bergabung di sini?" tanya Enzo, nadanya terdengar seperti pernyataan mutlak ketimbang sebuah pertanyaan.
Blake mengangguk kaku. Ia memaksakan sebuah senyum tipis.
"Iya... tentu saja tidak masalah, Monsieur Romano."
"Baguslah kalau begitu," ucap Enzo.
Ia menyandarkan punggung lebarnya ke kursi beludru dengan santai. Sambil menatap Kiandra, ia mengedipkan mata hazel-nya dengan gerakan cepat yang sangat provokatif—sebuah gestur jahil yang hanya bisa ditangkap oleh gadis itu.
Kiandra seketika menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan tawa campur panik yang nyaris lolos dari tenggorokannya. Pria ini benar-benar gila.
Rahang Blake mengencang. Jemarinya meremas serbet kain di atas pangkuannya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kami sebenarnya sedang membahas tentang Anda," ucap Blake akhirnya, menatap Enzo dengan pandangan menantang yang tajam.
Kiandra tersentak. Punggungnya mendadak menegak kaku seolah ditarik oleh seutas tali tak terlihat.
"Aku? Menarik sekali," sahut Enzo tenang. Ia menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Blake dengan minat yang dibuat-buat.
"Aku baru saja menyatakan perasaan pada Kiandra, tapi dia menolakku," Blake menjeda kalimatnya, melirik Kiandra dengan tatapan dingin yang menuntut penjelasan lebih jujur.
"Alasannya karena dia sudah menyukai pria lain di kota ini."
Wajah Kiandra mendadak pucat pasi. Seluruh aliran darah di tubuhnya seolah tersedot habis dalam sekejap, meninggalkan rasa dingin yang menjalar hingga ke ujung kaki.
"Oh?" Enzo menaikkan satu alisnya. "Dan siapa pria beruntung yang berhasil mencuri perhatiannya?"
Kiandra membuka mulutnya, hendak memotong pembicaraan sebelum semuanya menjadi semakin kacau. "Blake, sebaiknya—"
"Anda. Kiandra bilang dia menyukai Anda."
Keheningan yang mencekam seketika menyergap meja pualam itu.
Kiandra langsung menundukkan kepalanya sedalam mungkin. Ia memejamkan mata rapat-rapat dengan rasa malu luar biasa yang membakar seluruh wajahnya hingga ke leher.
"Mati aku. Tamat sudah riwayatku di Paris, kenapa juga aku memilih alasan itu!" ratap Kiandra dalam batinnya yang menangis histeris.
Enzo tertegun sesaat. Sebuah kilatan terkejut yang sangat langka melintas di mata hazel-nya, namun ekspresi itu menghilang secepat kedipan mata.
Detik berikutnya, sudut bibir Enzo terangkat, menyunggingkan senyum miring yang terlihat sangat berbahaya.
"Jadi aku ingin tahu," Blake mencondongkan tubuhnya, menatap Enzo dengan ego aristokrat yang terluka. "Apa kamu juga menyukai mahasiswimu ini?"
"Blake, tolong... sebaiknya pembahasan konyol ini dihentikan saja," potong Kiandra panik.
Kulit lehernya terasa memanas hebat. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya yang gemetar di bawah meja.
Enzo bangkit berdiri perlahan. Postur tubuhnya yang tinggi besar seketika mendominasi ruang sempit di antara meja mereka.
Ia melangkah mendekati kursi Kiandra, lalu menghentikan langkahnya tepat di samping gadis itu. Enzo membungkukkan tubuhnya yang tegap, mendekatkan wajah tampannya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.
"Apa benar yang dikatakan pria pirang ini, Piccola?" bisik Enzo. Suaranya begitu rendah, serak, dan sangat intim.
Kiandra menelan ludah dengan susah payah. Matanya bergerak panik ke segala arah, menghindari tatapan hazel yang sedang menguncinya tanpa ampun.
"Itu... aku tadi hanya... maksudku..." cicit Kiandra dengan suara parau. Ia benar-benar tidak berani menatap wajah Enzo yang berada terlalu dekat.
"Kiandra, tatap wajahku sekarang," perintah Enzo. Nadanya rendah, namun mengandung otoritas mutlak yang tidak terbantahkan.
Dengan sisa keberanian yang nyaris habis, Kiandra mendongak perlahan. Ia mengunci pandangannya pada mata hazel Enzo yang berkilau keemasan di bawah cahaya lilin.
"Aku tadi..."
Sebelum Kiandra sempat menyelesaikan kalimatnya, tangan besar Enzo bergerak maju. Jemarinya yang hangat menangkup rahang mungil Kiandra dengan cengkeraman yang mantap, lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir gadis itu.
Mata Kiandra membelalak sempurna. Seluruh tubuhnya membeku menerima sentuhan hangat yang tiba-tiba itu.
Bibir Enzo terasa begitu lembut namun menuntut. Pria itu menyesap lembut bibir bawah Kiandra, membiarkan kehangatan napasnya menyatu dengan napas Kiandra yang terhenti.
Sebelum melepaskannya, Enzo memberikan satu gigitan kecil yang sangat sensual di bibir bawah Kiandra—sebuah klaim bisu yang membuat seluruh saraf di tubuh Kiandra berdesir hebat.
Wajah Blake yang melihat itu berubah merah padam. Napasnya memburu kasar, menahan amarah yang mendidih di dalam dadanya melihat pemandangan intim di depan matanya.
Enzo menegakkan tubuhnya kembali. Ia mengusap bibirnya sendiri dengan ibu jari dengan gerakan yang sangat santai, lalu menatap Blake dengan ketenangan murni.
"Sepertinya tidak ada yang perlu disembunyikan lagi," ucap Enzo datar. "Kami tinggal serumah, jadi wajar jika perasaan itu akhirnya tumbuh."
Kiandra merasa dunianya runtuh seketika. Dadanya terasa sangat sesak oleh debaran jantungnya yang brutal dan tidak keruan.
"Kalian... kalian tinggal bersama di bawah satu atap?" tanya Blake dengan suara yang terguncang hebat.
"Yup, tinggal bersama," jawab Enzo santai.
Ia kembali duduk di kursi beludrunya, melipat tangan di depan dada. "Dan jujur saja, aku juga menyukai Kiandra. Dia wanita yang cantik dan sangat berbakat."
SRAKK!
Blake berdiri dengan sentakan kasar. Gerakan tiba-tibanya membuat kursi beludru di belakangnya bergeser.
"Maaf, aku ada urusan mendadak," ucap Blake dengan suara bergetar menahan malu dan amarah. "Biar aku yang membayar semua ini."
"Kenapa terburu-buru? Apa kamu tidak ingin merayakan hari jadian kami, Harrington?" tanya Enzo dengan seringai provokatif yang mematikan.
Blake tidak menjawab. Ia melangkah pergi meninggalkan restoran dengan terburu-buru tanpa menoleh ke belakang lagi.
"Hahahaha."
Enzo tertawa rendah. Suara baritonnya yang berat terdengar sangat puas atas kemenangan mutlak yang baru saja ia raih malam ini.
"Dia sangat emosional," ucap Enzo sambil menggelengkan kepala. "Tapi setidaknya kamu aman sekarang, Piccola. Pria pirang itu tidak akan mengganggu kamu lagi."
Enzo menoleh, berniat menatap wajah Kiandra di sampingnya. Namun, tawa rendahnya seketika menghilang begitu matanya menangkap ekspresi gadis itu.
Kiandra sedang menatapnya dengan wajah yang merah membara. Kedua mata cokelat gelapnya yang bulat kini mulai digenangi oleh air mata yang siap tumpah.