NovelToon NovelToon
SCHATTEN UND DUFT

SCHATTEN UND DUFT

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Oviamarashiin

Di sudut kota yang tenang, hiduplah keluarga Baskara yang tampak sederhana namun menyimpan kehangatan yang luar biasa. Cerita ini berpusat pada kehidupan sehari-hari mereka yang dinamis, berputar di antara aroma masakan dapur, wewangian parfum langka, dan ambisi masa depan.

Kyla Rebecca Lynette M., si bungsu berusia 18 tahun yang memiliki kecantikan visual mutlak bak boneka hidup, menyimpan dunia emosionalnya sendiri di balik taman belakang yang luas dan laboratorium parfum rahasianya. Di saat sang kakak sulung, Tamara, berjuang dan akhirnya berhasil menembus beasiswa penuh S2 di London membawa kebanggaan sekaligus rasa haru yang hebat bagi keluarga Rebecca harus menghadapi ujian akhir SMA-nya.

Dalam proses pendewasaan ini, Rebecca dibimbing sekaligus "diganggu" oleh kakak keduanya, Naufal, seorang pemuda dingin di luar namun menjadi mentor sekaligus pencipta kerusuhan yang manja di kamar Rebecca. Di bawah asuhan hangat kedua orang tua mereka, novel ini mengeksplorasi arti kedewasaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gencatan Senjata dan Aroma Pembalasan

Puas menjahili adiknya hingga napas gadis itu tersengal - sengal, Naufal akhirnya melonggarkan kuncian lengannya sembari terbahak-bahak. Begitu mendapat celah, Rebecca langsung melompat mundur hingga ke ujung tempat tidur, memosisikan dirinya sedekauh mungkin dari jangkauan sang kakak. Wajahnya yang sekecil telapak tangan kini merah padam, bukan lagi karena menangis, melainkan karena perpaduan antara sisa emosi, kelelahan bergelut, dan rasa kesal yang luar biasa.

"Kau... benar-benar keterlaluan, Mas!" seru Rebecca sembari menghirup udara kamarnya dalam - dalam, mencoba membasuh indra penciumannya dengan wangi sandalwood yang sempat terusir oleh aroma maskulin Naufal. Poni depannya yang berantakan kini mencuat ke beberapa arah, memperlihatkan dahi putih mulusnya yang tampak sedikit memerah akibat pletakan tangan Naufal sebelumnya.

Naufal menjatuhkan dirinya kembali ke atas tumpukan bantal, telentang dengan menyilangkan kedua tangan di belakang kepala. Kaus putih tipisnya tampak sedikit kusut di bagian perut akibat remasan tangan kecil Rebecca tadi. "Anggap saja itu hukuman karena kau mau berteriak memanggil Ayah. Lagipula, keringatku ini keringat sehat, tahu. Keringat setelah membakar kalori di sasana tinju, bukan keringat karena malas-malasan."

Rebecca tidak menyahut. Matanya yang berwarna abu - abu langka menyipit, memancarkan kilat pembalasan yang dingin namun tenang. Sifat introvert nya yang perfeksionis mulai menyusun sebuah rencana di dalam kepala. Dengan keanggunan yang kembali ia kuasai, Rebecca turun dari tempat tidur, merapikan sedikit gaun rajut kremnya yang sempat tersingkap di atas lutut, lalu berjalan menuju meja rias neoklasiknya.

Naufal yang memperhatikan dari kasur hanya menaikkan satu alisnya. "Mau apa kau? Mau mengadu lewat pesan singkat ke Mbak Tamara?"

Rebecca tetap membisu. Jemari lentiknya yang putih bersih bergerak lincah di antara deretan botol kaca. Ia mengabaikan minyak mawar dan esens vanila yang biasa ia sukai, lalu meraih sebuah botol pipet kecil berwajah gelap yang tersimpan di baris paling belakang sebuah formula gagal yang pernah ia racik dua minggu lalu, sejenis ekstrak konsentrat dari kulit jeruk purut yang terlalu pekat dan menyengat, dikombinasikan dengan distilasi belerang tipis untuk eksperimen aroma vulkanik.

Tanpa menimbulkan suara, Rebecca menyedot beberapa tetes cairan tersebut ke dalam pipa tetes kaca. Ia membalikkan badannya, berjalan pelan kembali mendekati ranjang dengan menyembunyikan botol kecil itu di balik lipatan gaunnya.

"Mas Naufal," panggil Rebecca, suaranya mendadak berubah menjadi sangat manis dan lembut, kontras dengan ekspresi ketusnya beberapa saat lalu. Bibir melengkung membentuk senyuman misterius.

Naufal yang dasarnya tidak pernah curiga pada kepolosan adiknya, menoleh santai. "Apa? Mau minta maaf karena sudah memukulku pakai tikus raksasa tadi?"

"Bukan. Katanya tadi Mas lelah dan pusing setelah berpikir keras?" Rebecca duduk di tepi ranjang, cukup dekat dengan posisi kepala Naufal. "Sini, biar kuberi sedikit minyak aromaterapi di pelipismu agar Mas bisa tidur nyenyak."

Naufal memicingkan mata, menatap iris abu-abu adiknya yang tampak berkilau di bawah temaramnya lampu kamar. "Tumben sekali kau baik. Tidak ada racun di dalamnya, kan?"

"Tentu saja tidak. Ini esens penenang," dusta Rebecca dengan wajah paling polos yang bisa ia pasang, wajah boneka tanpa dosa yang selalu berhasil mengelabui siapa saja di rumah itu, termasuk Ayah dan Ibu.

Naufal menghela napas, merilekskan otot-otot bahunya. "Ya sudah, cepat. Setelah ini aku mau tidur satu jam, jangan berisik." Pemuda itu memejamkan matanya, membiarkan pertahanannya runtuh di hadapan sang adik.

Rebecca tersenyum penuh kemenangan. Dengan sangat hati-hati, ia meneteskan satu titik kecil cairan pekat dari pipetnya langsung ke ujung jarinya, lalu dengan gerakan selembut sutra, ia memijat pelipis kanan Naufal. Namun, sedetik kemudian, dengan kecepatan yang tidak terduga, Rebecca mengusapkan sisa cairan di jarinya tepat di bawah lubang hidung Naufal, lalu melompat berdiri dan berlari menuju pintu kamar.

"HUK ... UHUK ! ASTAGA, KYLA REBECCA! BAU APA INI?!"

Naufal langsung terduduk tegak, matanya terbelalak lebar dengan wajah yang seketika berubah pucat. Bau menyengat yang terasa seperti perpaduan antara jeruk busuk, belerang meletup, dan ammonia langsung menusuk tajam ke dalam rongga hidungnya, membuat saraf-saraf kepalanya seolah berputar. Itu bukan wewangian penenang, itu adalah senjata pemusnah massal untuk indra penciuman manusia.

Di ambang pintu, Rebecca berdiri sembari memegangi kusen kayu, tawanya pecah sebuah tawa renyah, lepas, dan menggemaskan yang jarang sekali terdengar dari gadis introver itu. "Itu wewangian orisinal versiku, Mas! Rasakan pembalasanku karena sudah membekapku dengan kaus kecutmu tadi! Selamat menikmati tidurnya, Mas Naufal yang tampan!"

Rebecca segera melesat keluar kamar, menutup pintu kayu tebalnya dengan bunyi klik yang rapat, meninggalkan Naufal yang sedang terbatuk - batuk histeris di atas kasur sembari berusaha mengusap hidungnya dengan seprai abu-abu yang malang. Di luar, hujan masih mengguyur bumi, namun di dalam lorong rumah Baskara, kehangatan dan riuh rendah persaudaraan itu baru saja mengukir satu memori baru yang tak akan mudah dilupakan.

...****************...

Suara batuk frustrasi Naufal perlahan meredam di balik pintu kayu jati kamarnya yang tebal. Rebecca bersandar pada permukaan pintu dari luar, dadanya naik turun karena sisa tawa yang masih menggelitik tenggorokannya. Napasnya berangsur teratur, membiarkan keheningan lorong lantai dua menyelimuti dirinya. Lorong itu remang, hanya diterangi sepasang lampu dinding beraura kuning temaram yang memantulkan bayangan kusen jendela besar di ujung selasar. Di luar, hujan deras kini melunak menjadi gerimis yang konstan, menyisakan bunyi ketukan air yang menenangkan pada atap genting.

Rebecca berjalan perlahan menuruni anak tangga satu demi satu. Langkah kakinya tanpa alas, menciptakan bunyi gesekan halus yang nyaris tak terdengar di atas anak tangga kayu yang dingin. Gaun rajut kremnya bergoyang lembut seiring gerakan pinggulnya yang anggun. Sensasi perih di puncak kepalanya akibat pletakan tangan Naufal tadi sudah sepenuhnya hilang, digantikan oleh rasa hangat yang merayap di hatinya. Di balik segala kejengkelannya pada sang kakak, Rebecca tahu bahwa kerusuhan kecil tadi adalah cara Naufal mengalihkan ketegangannya yang sedang menghadapi ujian akhir.

Begitu menginjakkan kaki di lantai bawah, aroma gurih dari dapur langsung menyambut indra penciumannya yang tajam. Uap sup ayam kampung jahe yang ia tinggal tadi telah memenuhi ruang tengah yang merangkap ruang keluarga. Di atas sofa kain berwarna abu - abu arang, tampak sang ayah, Bramantyo Baskara, sedang duduk menyandarkan kepala sembari memejamkan mata. Laptopnya terbuka di atas meja kopi, menampilkan baris-baris laporan anggaran kantor daerah yang belum selesai diperiksa.

"Rebecca?" suara Bramantyo terdengar serak saat menyadari kehadiran anak bungsunya. Pria paruh baya itu membuka mata, lalu tersenyum tipis, guratan lelah di wajahnya sedikit memudar. "Bau masakanmu sampai ke depan, Nduk. Ayah tadi hampir ketiduran karena mencium bau jahe bakarnya."

Rebecca berjalan mendekati sofa, lalu duduk di lengan kursi yang kokoh, tepat di sebelah ayahnya. "Ibu sedang istirahat di kamar, Ayah. Tadi kepalanya pusing setelah ikut menangis waktu Mbak Tamara mendapat surel pengumuman."

Bramantyo terkekeh pelan, tangan kanannya yang memiliki kulit agak kasar karena usia terangkat untuk mengusap lengan Rebecca. "Ibumu itu memang terlalu sensitif kalau urusan anak - anaknya. Tapi Ayah bangga sekali pada kakakmu. London itu jauh, Rebecca. Biayanya luar biasa besar kalau tidak pakai beasiswa penuh seperti itu."

"Mbak Tamara hebat," bisik Rebecca, matanya yang berwarna abu-abu langka menatap layar laptop ayahnya yang meredup. "Tadi Mas Naufal juga membaca rincian tunjangannya. Katanya, Mbak Tamara bahkan diberi uang saku yang lebih dari cukup untuk tinggal di sana."

"Alhamdulillah. Gusti Allah tidak pernah keliru membagikan rezeki untuk anak yang berbakti," kata Bramantyo tulus. Beliau kemudian menoleh ke atas, ke arah langit - langit lantai dua. "Lalu, abangmu yang nakal itu di mana? tadi Ayah sepertinya mendengar ada suara teriakan dari kamarmu. Kalian bertengkar lagi?"

Rebecca merasakan sudut bibir berkedut, menahan tawa yang hampir meledak kembali jika ia mengingat wajah pucat Naufal saat terkena ekstrak jeruk purut buatannya. "Tidak bertengkar, Ayah. Mas Naufal hanya sedang... menikmati aromaterapi baru buatanku di atas. Katanya dia mengantuk setelah mengajariku fisika kuantum."

Ayah Bramantyo menggeleng - gelengkan kepala, sangat paham dengan dinamika kedua anak bungsunya yang seperti kucing dan anjing namun saling menjaga itu. "Ya sudah, kalau begitu bantu Ayah siapkan mangkuk di meja makan. Kita tunggu kakakmu selesai menelepon urusan berkas visanya, lalu kita makan malam bersama."

Rebecca mengangguk patuh. Ia berdiri dari lengan sofa, melangkah kembali menuju dapur dengan hati yang jauh lebih ringan. Cuaca di luar boleh saja dingin dan basah oleh sisa badai, namun di dalam ruang makan keluarga Baskara yang sederhana ini, kehangatan dari semangkuk sup dan kepastian masa depan yang cerah baru saja dimulai.

1
Manman
love🫧🪻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!