NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN KONTRAK IDOLA

PERNIKAHAN KONTRAK IDOLA

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: Zhao Eunbi

Zee Chou, atau yang dikenal dengan nama panggung Choi Heesung, adalah idola K-Pop paling populer dan dicintai jutaan penggemar. Di atas panggung, ia bersinar sempurna, tampan, dan memiliki citra bersih yang dijaga sangat ketat. Namun di balik kemegahan itu, ia menyembunyikan satu kenyataan pahit: warisan perusahaan keluarga yang terancam bangkrut. Demi menyelamatkan segalanya, Zee terpaksa menyetujui pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan—menikahi Park Hye-ri, gadis biasa dan sederhana, putri sahabat orang tuanya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia hiburan.

Pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan di atas kertas, rahasia yang harus dijaga mati-matian dari publik dan penggemar. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan, hanya kewajiban dan aturan ketat. Bagi Zee, Hye-ri hanyalah kewajiban yang mengganggu karir cemerlangnya. Bagi Hye-ri, Zee hanyalah idola dingin, angkuh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Eunbi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menghadapi Badai

Suara teriakan dan panggilan dari luar semakin keras, bercampur dengan suara kamera yang berdentang tak henti. Di balik pagar tinggi kediaman mereka, Heesung dan Hyeri bisa melihat kerumunan yang terus bertambah jumlahnya. Wajah-wajah yang dulunya penuh kekaguman dan senyum, kini berubah menjadi tatapan curiga, marah, dan penuh penghakiman. Berita bohong yang disebarkan Jung Sooah telah menyebar seperti api di musim kemarau, membakar habis citra yang telah dibangun Heesung bertahun-tahun lamanya.

Manajer Heesung tiba dengan napas terengah-engah, masuk lewat pintu samping yang dijaga ketat oleh keamanan. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi dahinya. Ia langsung berlari menghampiri keduanya yang masih berdiri di dekat jendela.

"Ini kacau! Sangat kacau!" seru manajer dengan suara bergetar. "Agensi sedang diserang telepon dari mana-mana. Sponsor mulai menarik diri, jadwal acara dibatalkan satu per satu, dan komentar di media sosial penuh dengan kebencian. Semua orang percaya omong kosong yang disebarkan wanita itu!"

Heesung menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri meski amarahnya hampir meledak. Ia sudah menduga Sooah akan bertindak nekat, tapi ia tidak menyangka dampaknya akan sebesar ini dan secepat ini.

"Itu semua fitnah, dan kita punya bukti untuk membuktikannya," jawab Heesung tegas, meski nada suaranya terdengar lelah. "Park Jiwon—atau apa pun nama aslinya—adalah mata-mata yang disusupkan Sooah. Kita punya rekaman CCTV agensi, data masuk kerja, dan saksi yang melihat dia berinteraksi dengan Sooah. Kita juga punya bukti bahwa tuduhan pemerasan dan transaksi gelap itu tidak berdasar sama sekali."

"Masalahnya," potong manajer cemas, "di mata publik, tuduhan itu terdengar sangat meyakinkan. Dia berbicara seolah-olah dia melihat dan mengalaminya sendiri. Dan kau tahu betapa cepatnya orang percaya hal buruk dibandingkan kebenaran. Jika kita asal membantah, mereka akan bilang kita berusaha menutupi kebenaran dengan kekuasaan."

Hyeri yang sejak tadi diam mendengarkan, kini maju selangkah. Wajahnya tenang, namun matanya berkilat penuh kecerdasan dan ketegasan.

"Kita tidak bisa diam saja dan membiarkan mereka menghakimi kita. Tapi kita juga tidak boleh bereaksi emosional. Itu yang diinginkan Sooah. Dia ingin kita panik, marah, dan membuat kesalahan yang bisa dia gunakan lagi untuk menyerang."

Hyeri menatap Heesung, lalu beralih ke manajer.

"Sooah bermain dengan emosi publik. Dia membuat narasi bahwa Heesung adalah penguasa kejam, dan dia—melalui Jiwon—adalah korban yang berani bicara. Untuk melawannya, kita harus mematahkan narasi itu dengan narasi yang lebih kuat, jujur, dan menyentuh hati."

Heesung mengerutkan kening, mulai mengerti ke mana arah pikiran Hyeri. "Maksudmu...?"

"Kita harus berterus terang," jawab Hyeri mantap. "Bukan hanya membantah tuduhan itu, tapi menjelaskan kebenaran di balik pernikahan kita. Kita tidak perlu menyembunyikan soal kontrak itu lagi, tapi kita ubah cara pandangnya. Kita ceritakan bahwa awalnya memang perjanjian saling menguntungkan, tapi seiring berjalannya waktu, cinta tumbuh di antara kita. Kita tunjukkan bahwa kita adalah manusia biasa, yang berjuang, yang pernah punya rahasia, tapi kini memilih kejujuran."

"Tapi itu berisiko!" seru manajer terkejut. "Bagaimana jika publik malah marah karena kalian menyembunyikan pernikahan asli? Bagaimana jika itu malah memperburuk keadaan?"

"Keadaan kita sekarang sudah di titik terendah," potong Heesung tiba-tiba. Ia menatap Hyeri dengan pandangan penuh keyakinan. "Dan Hyeri benar. Selama kita menyembunyikan sesuatu, Sooah akan terus punya senjata untuk menyerang. Kejujuran adalah satu-satunya perisai yang tak bisa dia robek. Aku sudah lelah hidup dalam bayang-bayang, lelah takut akan masa lalu. Jika harus kehilangan semuanya demi kebenaran, aku siap. Asalkan Hyeri ada di sisiku."

Hyeri tersenyum haru, meremas lengan Heesung. "Aku akan selalu ada, ingat?"

Rencana pun disusun dengan cepat. Mereka memutuskan untuk mengadakan konferensi pers khusus hari itu juga, langsung dari kediaman mereka, disiarkan secara langsung ke seluruh media. Mereka tidak akan bersembunyi di balik meja manajemen, tapi mereka sendiri yang akan berdiri di depan kamera, menjawab semua pertanyaan, dan menceritakan semuanya.

Sementara itu, di dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana, Jung Sooah menonton keributan itu dengan senyum kemenangan yang melebar. Ia melihat betapa hancurnya citra Heesung, betapa kacau-balau keadaan agensi, dan betapa banyaknya orang yang kini membencinya.

"Lihatlah, Heesung," gumam Sooah pada dirinya sendiri sambil menyesap kopinya dengan santai. "Dunia yang memujamu kemarin, hari ini sudah siap melemparmu. Kau pikir cinta wanita itu cukup? Lihat saja, saat kau kehilangan penggemarmu, kehilangan uangmu, kehilangan segalanya... dia pun akan pergi. Dan saat kau jatuh, aku akan datang menjadi satu-satunya cahaya di hidupmu."

Namun, senyum Sooah membeku saat ia melihat gerbang rumah Heesung terbuka lebar. Ia melihat Heesung dan Hyeri melangkah keluar berdampingan, diikuti oleh manajer dan tim hukum. Keduanya tidak terlihat takut, tidak terlihat hancur, melainkan tampak tenang, tegar, dan saling menggenggam tangan dengan erat seolah tak ada kekuatan apa pun yang bisa memisahkan mereka.

Heesung menuntun Hyeri naik ke atas panggung kecil yang disiapkan di halaman depan, tepat di hadapan ratusan wartawan dan penonton yang berkumpul. Sorotan kamera menyala terang, mikrofon disodorkan ke arah mereka, suara teriakan pertanyaan saling bersahutan.

"Apakah tuduhan itu benar, Tuan Han Heesung?"

"Benarkah kalian menikah demi uang dan kekuasaan?"

"Bagaimana tanggapanmu soal perlakuanmu pada staf agensi?"

Heesung mengangkat tangan, memberi isyarat tenang. Suasana perlahan hening. Ia menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke arah kamera dan kerumunan di depannya. Suaranya terdengar jelas, tegas, dan tulus, terdengar ke seluruh penjuru negeri lewat siaran langsung.

"Selamat siang. Terima kasih sudah datang. Saya mengerti kemarahan kalian, saya mengerti kebingungan kalian. Hari ini, nama saya, nama istri saya, dan nama baik kami semua tercoreng oleh berita-berita yang beredar. Banyak tuduhan yang dilontarkan, sebagian benar, sebagian lagi adalah kebohongan besar yang sengaja dibuat untuk menjatuhkan kami."

Heesung berhenti sejenak, lalu menatap Hyeri di sampingnya, memberinya senyum penguat sebelum kembali berbicara.

"Benar, awalnya pernikahan kami didasari oleh sebuah perjanjian. Saya adalah idola yang tak boleh berpacaran, yang tertekan oleh jadwal padat dan tekanan karier. Hyeri adalah wanita yang butuh perlindungan dan status demi keluarganya. Kami sepakat menikah demi kepentingan bersama, saling menguntungkan, dan kami merahasiakan sifat perjanjian ini dari publik demi menjaga ketenangan hidup kami berdua."

Suara heboh langsung terdengar di antara kerumunan. Banyak yang berbisik-bisik, ada yang kecewa, ada yang marah mendengar pengakuan itu. Namun Heesung melanjutkan dengan suara yang lebih lantang.

"Tapi ada satu hal yang tidak ada dalam perjanjian itu: perasaan. Apa yang dimulai sebagai sebuah kesepakatan kertas, perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih nyata dan berharga. Di saat saya sedang terpuruk, di saat saya masih terjebak dalam masa lalu dan penyesalan, Hyeri ada di sana. Dia tidak pernah menuntut apa pun, dia hanya ada, mendukung, dan mencintai saya apa adanya. Dan hari ini, saya berdiri di sini bukan sebagai idola yang berusaha menjaga citra, tapi sebagai suami yang mencintai istrinya dengan sepenuh hati."

Heesung berbalik menatap Hyeri, lalu mengangkat tangan wanita itu dan mengecup punggung tangannya di depan semua orang.

"Tuduhan bahwa saya menekan staf, menggunakan kekuasaan, atau melakukan transaksi gelap... semuanya bohong. Orang yang menyebarkannya adalah seseorang yang sengaja disusupkan ke agensi kami oleh pihak yang memiliki dendam pribadi. Kami punya bukti rekaman, data, dan saksi yang akan kami serahkan ke pihak berwajib. Orang itu, dan orang di belakangnya, berusaha menghancurkan saya karena mereka tidak suka melihat saya bahagia."

Nada suara Heesung berubah menjadi lebih dingin dan tajam saat ia menyebutkan soal dalang di balik semua ini.

"Mereka pikir dengan menghancurkan karier saya, dengan membuat semua orang membenci saya, saya akan menyerah dan kembali pada mereka. Mereka salah besar. Karier bisa hilang, kekayaan bisa habis, nama baik bisa ternoda sementara waktu. Tapi satu hal yang tak akan pernah bisa mereka ambil adalah kebenaran, dan wanita yang berdiri di samping saya ini."

Kini giliran Hyeri yang maju selangkah, berbicara dengan suara lembut namun berwibawa, menyentuh hati setiap orang yang mendengarnya.

"Ada yang bertanya, apakah saya ada di sini demi uang atau kekuasaan? Lihatlah keadaan kami sekarang. Dunia seolah berbalik memusuhi kami. Jika saya hanya menginginkan kekayaan atau nama baik, tentu saya sudah pergi jauh-jauh hari saat masalah ini datang. Tapi saya tetap ada di sini. Bukan karena perjanjian, bukan karena kontrak, tapi karena saya mencintai Han Heesung. Saya mengenalnya bukan sebagai bintang besar di atas panggung, tapi sebagai pria yang baik, yang lembut, dan yang berjuang keras demi mimpinya. Saya percaya padanya, saya percaya pada kebenaran, dan saya akan tetap berdiri di sisinya, apa pun yang terjadi."

Keheningan menyelimuti kerumunan. Kata-kata Hyeri yang sederhana namun tulus itu mulai meruntuhkan dinding kebencian yang dibangun oleh berita bohong. Banyak orang yang mulai ragu, banyak yang mulai tergerak hatinya.

Di dalam mobilnya, Jung Sooah memegang kemudi dengan tangan gemetar, wajahnya merah padam menahan amarah yang meluap-luap. Ia melihat pemandangan itu di layar ponselnya. Ia berharap melihat Heesung yang hancur, yang memohon, yang dikucilkan. Tapi yang ia lihat justru sebaliknya: Heesung terlihat lebih kuat, lebih berwibawa, dan lebih bahagia dari sebelumnya, bersandar pada kekuatan cinta wanita itu.

"Tidak... ini tidak mungkin!" desis Sooah dengan suara parau. "Kau seharusnya hancur! Kau seharusnya datang padaku! Kenapa kau malah semakin dekat dengannya?!"

Rencana liciknya berbalik menyerang dirinya sendiri. Alih-alih memisahkan mereka, badai yang ia ciptakan justru mengikat Heesung dan Hyeri semakin erat, menyatukan mereka dalam satu perjuangan membela kebenaran.

Konferensi pers itu berakhir dengan tepuk tangan perlahan dari sebagian wartawan dan penonton yang mulai sadar akan kebenaran. Heesung dan Hyeri tidak lagi bersembunyi. Mereka membuka diri, menerima risiko, dan memilih kejujuran.

Namun, meski badai fitnah mulai mereda dan kebenaran mulai terungkap, Heesung tahu perang belum usai. Saat ia melirik ke arah jalan raya, ia melihat mobil hitam yang dikenali dari jarak jauh itu bergerak menjauh dengan kecepatan tinggi.

Sooah belum kalah. Ia hanya berubah strategi lagi. Dan kali ini, tatapan terakhir yang dilemparkan wanita itu sebelum menghilang bukan lagi tatapan marah, melainkan tatapan dingin yang penuh perhitungan mematikan.

"Terima kasih," bisik Heesung pada Hyeri, menarik wanita itu ke dalam pelukannya erat-erat di hadapan semua orang. "Kau adalah kekuatan terbesarku, Hyeri."

"Dan kau adalah keberanianku," jawab Hyeri lembut di dada suaminya.

Di kejauhan, di balik layar, Jung Sooah menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil, matanya menatap kosong ke depan. Sebuah rencana baru terbentuk di benaknya, rencana yang jauh lebih gelap, lebih berbahaya, dan yang akan menjadi ujian terberat bagi cinta mereka.

"Kau memilihnya, Heesung? Baiklah. Kalau begitu, aku akan pastikan kau kehilangan dia selamanya. Jika aku tidak bisa memilikimu... kau pun takkan bisa memilikinya."

1
HAN EUNBI
🤭 menarik banget💪 tingkatkan
VOYAGE LEUER: 🤭terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!