JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Aroma bumbu rempah premium dan panggangan daging mulai menguar dari arah dapur utama Mansion Widjaja sejak pukul satu siang. Suasana di lantai bawah benar-benar sibuk. Beberapa pelayan tampak mondar-mandiir merapikan taplak meja rajut sewarna krem di atas meja makan panjang berbahan kayu jati solid. Di atasnya, piring-piring porselen dengan aksen emas mulai ditata dengan presisi, berdampingan dengan deretan mangkuk kaca berisi buah-buahan segar yang berjejer rapi.
Haura yang baru saja turun dari lantai dua dengan pakaian santai—celana kulot hitam dan kemeja satin longgar—mengernyitkan kening heran melihat kesibukan yang tidak biasa ini.
"Bi, ini ada acara apa? Kok tumben rapi banget?" tanya Haura pada salah satu pelayan senior yang sedang menata sendok perak.
Belum sempat pelayan itu menjawab, suara langkah kaki dari arah pintu depan mengalihkan perhatian Haura. Kakak sulungnya, Elang Widjaja, melangkah masuk bersama istrinya, Silviana. Pria berusia 45 tahun itu tampak berwibawa dengan kemeja polo bermerek, sementara Silviana berjalan anggun di sampingnya sembari menenteng tas mewah.
"Loh, Kak Elang? Kak Silvi? Tumben siang-siang mampir ke mansion?" tanya Haura menghampiri mereka, bergantian mencium pipi kanan dan kiri kakak iparnya.
Elang terkekeh pelan, menyerahkan jasnya kepada pelayan yang langsung menyambutnya. "Mampir? Nggak, Ra. Ini Kakak memang sengaja datang cepat. Nanti malam Kakak ada acara jamuan makan malam penting sama kolega bisnis utama perusahaan investasi Kakak. Dan Kakak sudah minta izin sama Papa buat bikin acaranya di sini, sekalian silaturahmi keluarga besar."
Haura melipat tangannya di depan dada, bersandar pada pilar dekat ruang makan. "Kolega bisnis? Sampai harus diadakan di rumah Papa? Emang siapa sih, Kak, kolega bisnis Kakak yang sewarna itu?"
Silviana tersenyum, menyahut sebelum suaminya menjawab, "Itu loh, Ra, pengusaha yang lagi naik daun di bidang logistik dan properti. Namanya Andi Permana."
"Andi Permana?" Haura bergumam, mengulang nama itu di dalam benaknya. Alisnya yang rapi bertaut rapat. "Permana... Aku kayak pernah denger namanya deh baru-baru ini. Tapi siapa ya?"
"Ah, kamu paling cuma baca di majalah bisnis, Ra. Perusahaannya kan baru aja merger sama salah satu anak perusahaan Kak Elang," ujar Silviana santai, lalu mengajak suaminya untuk segera naik ke lantai atas menemui Anggara.
Haura masih terpaku di tempatnya berdiri, mencoba mengingat-ingat di mana ia mendengar nama keluarga tersebut. Namun, karena pening di kepalanya akibat sisa maag semalam masih terasa, ia mengedikkan bahu dan memilih kembali ke kamar untuk beristirahat. Mungkin cuma perasaan aku aja, batinnya.
Malam harinya, pukul tujuh tepat, atmosfer di dalam ruang makan utama Mansion Widjaja terasa begitu formal dan elegan. Lampu gantung kristal di atas meja makan memancarkan cahaya kekuningan yang mewah. Seluruh keluarga besar Widjaja sudah berkumpul dan duduk di posisi masing-masing, menunggu kedatangan tamu agung mereka.
Di kepala meja, Anggara Widjaja duduk dengan setelan batik tulis terbaiknya, didampingi oleh Mama Melati yang tampak anggun. Di sisi kanan, Elang duduk bersama Silviana dan anak perempuan mereka yang beranjak remaja, Mustika. Sementara di sisi kiri, Aurora—yang meskipun masih bermuka masam setelah pertengkaran pagi tadi—duduk di samping Langit, suaminya. Arlo duduk di sebelah Langit, tampak sibuk memainkan ponselnya di bawah meja.
Sedangkan Haura, ia duduk di ujung meja yang agak dekat dengan pintu masuk. Wanita berusia 38 tahun itu malam ini tampil luar biasa menawan. Sesuai dengan "ancaman" terselubung dari pesan teks semalam, Haura sengaja memakai blus sutra berwarna merah marun yang kontras dengan kulit putihnya, dipadukan dengan riasan wajah yang tegas namun elegan, menutupi seluruh kesan pucat dari sakitnya.
Waktu menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit. Andi Permana belum juga datang.
"Elang, apa kolega kamu itu tahu alamat mansion ini dengan benar?" tanya Anggara, suaranya berat, memecah keheningan ruang makan.
"Tahu, Pa. Tadi sekretarisnya sudah konfirmasi kalau mereka agak terjebak macet di daerah Menteng," jawab Elang tenang, melirik jam tangan Rolex-nya.
Tak lama kemudian, terdengar suara deru mobil mewah yang berhenti di pelataran depan, diikuti oleh ketukan pintu utama. Pelayan mansion dengan sigap membuka pintu dan menuntun para tamu menuju ruang makan.
Anggara langsung berdiri dari kursinya, diikuti oleh Elang, Langit, dan seluruh anggota keluarga lainnya untuk menyambut tamu tersebut. Haura ikut berdiri, memasang senyum formal andalannya, siap menyapa kolega bisnis kakaknya.
Seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas mahal melangkah masuk paling depan. Wajahnya terlihat berwibawa, usianya sekitar 45 tahun, seumuran dengan Elang. Itu adalah Andi Permana. Di sampingnya, berjalan seorang wanita cantik bergaun malam yang tampak modis dan berkelas, berusia sekitar 43 tahun—seumuran dengan Aurora. Wanita itu adalah Anggun, istri kedua Andi. Di belakang mereka, menyusul Chelsea yang berjalan dengan gaya manja.
"Selamat malam, Pak Anggara, Pak Elang. Mohon maaf sekali kami agak terlambat karena kemacetan Jakarta yang luar biasa malam ini," sapa Andi Permana dengan jabat tangan yang erat dan penuh hormat kepada Anggara dan Elang.
"Ah, tidak apa-apa, Pak Andi. Mari, silakan masuk. Suatu kehormatan bisa menjamu keluarga Anda di sini," balas Anggara dengan senyum ramah yang jarang ia perlihatkan.
Awalnya, Haura tidak memperhatikan barisan paling belakang karena ia sibuk mengangguk sopan pada Andi dan Anggun. Namun, begitu matanya beralih menatap sosok cowok paling belakang yang baru saja melangkah masuk ke dalam area terang ruang makan, senyum formal di wajah Haura seketika membeku.
Jantung Haura rasanya berhenti berdetak selama satu detik penuh. Matanya yang dilapisi eyeliner tegas langsung melotot kaget, menatap tidak percaya pada sosok pemuda tinggi menjulang yang mengenakan setelan jas hitam slim-fit tanpa dasi, dengan kemeja putih yang kancing atasnya sengaja dibuka satu—memberikan kesan formal namun tetap liar dan maskulin. Rambutnya ditata rapi ke belakang, sangat berbeda dengan penampilannya yang acak-acakan di ruko atau saat memakai jaket denim semalam.
Marco?! batin Haura berteriak histeris, tangannya yang memegang ponsel di balik gaunnya mendadak meremas kuat. Marco Permana?! Dia... dia anak dari Andi Permana?!
Di sebelah Haura, Arlo yang baru saja mendongak dari ponselnya ikut membelalakkan mata. "Lah? Co?!" gumam Arlo hampir kelepasan, namun langsung disenggol keras oleh Langit di sampingnya agar menjaga sikap.
Marco yang berdiri di barisan paling belakang tampak sangat tenang. Wajahnya yang tampan tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun; seolah-olah ia sudah tahu skenario ini akan terjadi sejak semalam. Ketika matanya yang tajam bertemu dengan tatapan melotot Haura, seulas senyum miring—senyum tengil, nakal, dan penuh kemenangan yang sangat Haura kenal—perlahan terbit di bibirnya.
Marco menaikkan sebelah alisnya ke arah Haura, seolah sedang mengirimkan pesan tanpa suara: “Halo, Tante Sayang. Udah dandan cantik sesuai perintah gue, kan?”
Haura buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain, dadanya bergemuruh hebat antara rasa jengkel, malu, dan terkejut yang luar biasa. Ingatannya langsung melayang pada nama kontak yang ia sematkan semalam: Tukang Minta Sumbangan.
"Mari, silakan duduk, Pak Andi, Bu Anggun," suara Elang mempersilakan, memutus perang tatapan sunyi di antara Haura dan Marco. "Dan ini... putra-putri Anda?"
Andi Permana menoleh ke belakang, menatap Marco dengan pandangan memperingatkan sebelum beralih ke Elang dengan senyum tipis. "Ah, iya. Ini anak perempuan saya, Chelsea, dan yang di belakang itu anak laki-laki saya, Marco. Ayo, Marco, beri salam pada Pak Anggara dan Pak Elang."
Marco melangkah maju, membungkuk hormat dengan gaya yang sangat sopan dan terdidik—sebuah akting yang luar biasa di mata Haura. "Selamat malam, Pak Anggara, Pak Elang. Saya Marco," ucapnya, suaranya yang berat menggema di ruang makan.
"Wah, anak mudanya tampan sekali, Pak Andi. Sangat gagah," puji Mama Melati ramah.
"Terima kasih, Tante," sahut Marco sopan, namun matanya kembali melirik ke arah Haura yang kini sedang berpura-pura sibuk merapikan serbet di pangkuannya dengan wajah yang perlahan mulai memerah sempurna.
Pertemuan malam itu baru saja dimulai, dan Haura tahu, dengan keberadaan Marco Permana di meja makan yang sama dengannya, makan malam ini akan menjadi makan malam paling berbahaya sekaligus mendebarkan dalam hidupnya.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak 😘 sejauh ini gimana menurut kalian??
semangattt