Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Tanpa Arumi
Ardi masih duduk di ruang keluarga. Setelah Arumi keluar dari rumah, semua terasa berbeda. Baru beberapa menit yang lalu Arumi duduk di sofa yang Ardi duduki. Aroma parfumnya bahkan masih menempel disana. Namun, kepergiannya seolah terasa bahwa Arumi tak akan lagi kembali.
"Papa..." panggil Kayla, menyadarkan Ardi dari lamunannya.
"Eh? Ya, Kay?" tanya Ardi, mencoba tersenyum meski sulit.
"Papa sedih?" tanya Kayla. Ardi menaikkan kedua alisnya.
"Kenapa papa sedih?"
"Karena Mama pergi nggak ngajak kita,"
Ardi tersenyum.
"Mama cuma butuh waktu istirahat sebentar,"
"Mas Dokter juga bilang gitu," kata Kayla.
"Mas Dokter?" tanya Ardi bingung. Kayla mengangguk.
"Kata Mas Dokter, Mama nggak sakit, cuma butuh istirahat aja," kata Kayla, membuat Ardi berpikir Arumi sempat ke rumah sakit untuk cek kesehatan dan ditangani dokter muda disana.
"Ya udah. Kita biarin Mama istirahat ya. Kayla udah makan?" tanya Ardi. Kayla menggelengkan kepalanya.
"Belum? Makan dulu yuk," ajak Ardi sambil mengeluarkan ponsel untuk memesan makanan via online.
"Kayla mau sayur!" teriak Kayla.
"Wah!!! Oke. Kita pesen sayur buat Kayla," kata Ardi sambil mengusap layar ponselnya.
"Kok pesen, Pa?" tanya Kayla.
"Kan Papa nggak bisa masak, Kay," kata Ardi sambil mencari menu masakan di aplikasi pesan antar.
"Mama tadi masak, Pa," kata Kayla. Ardi menghentikan kegiatannya lalu menatap Kayla.
"Mama masak?" tanya Ardi. Kayla mengangguk.
"Buat Kayla sama Papa katanya," kata Kayla.
Ardi segera menggendong Kayla menuju ruang makan yang terhubung dengan dapur. Ardi membuka tudung saji di atas meja makan. Sudah tersedia sop ayam kesukaan Ardi dan tempe goreng disana. Ada sebuah memo di sebelah panci sop.
Di freezer udah ada ayam, tinggal goreng. Chicken katsu buat Kayla juga tinggal goreng.
Ardi segera membuka kulkas. Dia menemukan box isi ayam goreng dan chicken katsu di dalam freezer. Tray telur juga penuh. Ada beberap box plastik dengan bermacam-macam sayur, bumbu pelengkap, dan catatan kecil. Ardi mengambil satu box sayur. Dia menatap catatan kecil di atas box itu dalam diam.
Bawang merah sama bawang putihnya diiris. Cabenya juga. Abis itu ditumis. Kalo udah harum kasih air dikit. Tambah garem sama penyedap rasa. Sayurnya masukin. Jangan lupa diicip.
***
Arumi sudah berada di rumah ibunya. Dia duduk sendiri di ruang keluarga. Sepi. Bayangan akan masa kecilnya terlintas disana.
Arumi yang merupakan anak satu-satunya begitu disayang oleh ayah ibunya. Dirinya begitu dimanjakan oleh kedua orangtuanya. Ibunya sempat khawatir saat Arumi memutuskan untuk menikah dengan Ardi.
"Kenapa, Buk? Kan Ibuk juga udah lama kenal sama Mas Ardi. Kata Ibuk, orangnya baik," tanya Arumi pada ibunya waktu itu.
"Bukan apa-apa. Hanya saja, Ardi sama kamu kan sama-sama anak tunggal. Takutnya sama-sama nggak mau ngalah," kata Ibu Arumi. Arumi tersenyum.
"Kalo cuma soal itu, nggak masalah, Ma. Selama ini kita juga baik-baik aja kan?" kata Arumi percaya diri.
"Rum, menikah itu nggak kayak pacaran. Kalo udah nikah, kalian kan tinggal bareng, jadi tau kan kebiasaan pasangan kalian kayak gimana. Kalo pacaran kan cuma keliatan pas baik-baiknya aja," kata Ibu Arumi.
"Iya, Buk. Nggak apa-apa. Yang penting kata Ibuk, Mas Ardi baik. Udah. Cukup itu aja," kata Arumi sambil tersenyum.
Kini, Arumi berpikir, mungkin saat itu ibunya memiliki firasat buruk tentang Ardi yang tak bisa ibunya jelaskan.
Ponsel Arumi berdering. Dimas menelepon.
"Hai,"
"Hai,"
"Kamu baik?"
"Baik, terimakasih,"
Hening.
"Aku telepon la..."
"Aku rasa..."
Dimas diam, menunggu apa yang akan Arumi katakan.
"Aku akan mengakhiri semuanya," lanjut Arumi.
"Kamu yakin?" tanya Dimas.
"Aku nggak yakin... aku bisa menjadi Arumi yang sama setelah ini," kata Arumi.
"Semua orang berubah, Arumi,"
"Tapi perasaan ku ke Mas Ardi..." suara Arumi tertahan.
"Aku tahu. Setelah semua yang terjadi, setelah semua yang kamu lihat," kata Dimas.
"Jangan buru-buru memutuskan. Tenangkan dulu perasaan dan pikiran mu," lanjut Dimas.
Hening.
Arumi memejamkan matanya. Ada senyum Kayla disana. Jika Arumi harus mengakhiri semua, apa Kayla akan baik-baik saja?
"Kay..."
"Kayla ikut kamu?" tanya Dimas membuat mata Arumi terbuka.
"Kayla sama Mas Ardi di rumah," jawab Arumi.
"Kayla nggak nangis kamu tinggal?" tanya Dimas.
"Nangis. Tapi, aku bilang aku bakal jemput dia kalau aku udah selesai dan dia ngerti," kata Arumi.
"Kayla memang anak hebat," puji Dimas. Arumi tersenyum.
Hening kembali menyergap.
"Kamu istirahat dulu. Kalau ada apa-apa kamu bisa telepon aku," kata Dimas.
"Makasih," ucap Arumi.
Sambungan telepon terputus. Arumi kembali sendiri. Entah mengapa telepon dari Dimas memberi sedikit kekuatan pada Arumi. Arumi merasa lebih tenang. Arumi beranjak menuju kamar untuk merebahkan tubuhnya.
'Semoga esok hari akan lebih baik daripada hari ini,'
***
"Kay, bangun yuk," kata Dimas sambil memakai kemejanya dengan terburu.
Dari semua hari, entah mengapa harus hari ini dirinya bangun kesiangan. Mungkin karena biasanya ada Arumi yang membangunkannya kalau dirinya belum bangun.
"Papa bisa terlambat bekerja. Bangun yuk," Ardi masih mencoba membangunkan Kayla meski dirinya sudah sangat terburu-buru.
Kayla beringsut perlahan di atas tempat tidurnya sambil mengucek satu matanya.
"Yuk. Up, up," kata Ardi sambil menggendong Kayla ke kamar mandi.
"Pagi ini, Kayla gosok gigi sama cuci muka aja ya?" kata Ardi.
"Kenapa Kayla nggak mandi?" tanya Kayla dengan suara serak khas bangun tidur.
"Karena Papa sudah terlambat masuk kerja," kata Ardi sambil menyikat gigi Kayla. Kayla diam dengan mata terpejam.
Setelah mencuci muka Kayla, Ardi segera mengganti baju Kayla dengan baju seragam.
"Hari ini hari Kamis. Seragam batik, rok merah," gumam Ardi sambil membaca catatan yang ditinggalkan Arumi.
Saat akan mengambil seragam, Ardi terkejut ternyata Kayla sudah mengambil seragam dari lemari yang memang bisa dijangkau oleh anak seusia Kayla.
"Makasih, Kay," ucap Ardi sambil memakaikan baju pada Kayla.
Kayla menatap papanya. Ada raut panik dan buru-buru pada wajahnya.
"Nanti Kayla pulang bareng Ara aja, Pa. Kayla main tempat Ara sampe Papa jemput," kata Kayla.
"Eh? Ara?" tanya Ardi, bingung, tak mengenal satupun teman Kayla bahkan alamat rumahnya.
"Rumah Ara deket sekolah. Yang temboknya warna pink. Nanti Kayla kasih tau Papa pas anter Kayla," kata Kayla. Ardi tersenyum.
"Oh. Oke. Boleh sama mama Ara kalo Kayla main sampe sore?" tanya Ardi pada Kayla. Kayla mengangguk.
"Kalo gitu Papa bawain baju ganti ya buat main tempat Ara," kata Ardi sambil memasukkan kaos dan celana ganti ke dalam tas sekolah Kayla.
Kayla menatap papanya yang kerepotan tanpa mamanya. Kayla merasa kasihan pada papanya.
'Mama, sampai kapan Mama istirahat? Kayla kangen Mama,'
***