Yt : Aam Aminah
IG : Aamaminah45
Aurin dan Nanda menjalin hubungan asmara sejak SMA sementara keluarga nanda tidak setuju karna aurin anak dari seorang pelacur karna dijual ayahnya.
ibunya bekerja di Bar sementara ayah nya pemabuk dan selalu menyakiti Aurin serta ibunya kehidupan yang menderita sering Aurin rasakan ditambah kisah cinta Asmaranya.
Suatu ketika ayahnya Aurin menjualnya saat itu Raka ketua Mafia sedang ada disitu saat itu Aurin meminta tolong ke Raka orang asing tapi karna keadaan mendesak aurin dengan sangat ceroboh nya meminta bantuan dengan orang asing tidak lain Raka.
Raka pun membantu aurin dengan syarat tanpa berfikir lagi aurin menyetujui persayaratanya.
Padahal Raka dan Nanda musuh sementara Nanda tidak tau Aurin dijual.
akan kah aurin bertahan dengan siksaannya atau malah bertahan dengan keganasan Raka yang setiap saat menyiksanya tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aam aminah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Duka dan suka malam hari.
Malam hari telah datang tapi Aurin merasakan badan nya sangat lelah dia bahkan tidak keluar waktu sore hari entah apa yang dia rasakan hanya ingin tidur saat itu Raka masuk ke kamar nya Aurin masih terlelap dia tidak menyadari keberadaan Raka.
Raka melihat Aurin dia melangkah mendekat saat ingin mencium Aurin merintih seperti merasakan sakit di seluruh tubuh nya dengan cepat Raka memeriksa kening Aurin tidak panas tapi kenapa merintih.
"Hey." ucap Raka tangan nya berusaha membangunkan Aurin.
Saat itu Aurin terbangun dia melihat Raka tiba tiba langsung memeluk Raka dia ingin sekali Raka di samping nya entah rasa malu itu pergi begitu saja seakan nyaman dengan keadaan ini.
"Kau, kenapa sakit." ucap Raka mulai cemas dia pun melepaskan pelukan Aurin dan melihat wajah nya tampak pucat sekali.
"Bentar aku akan panggil Max." ucap Raka ingin keluar tapi tangan nya di tahan Aurin.
"Aku hanya ingin jambu Air." ucap Aurin sambil menatap Raka entah keberanian dari mana dia mengatakan itu.
Kening Raka berkerut mendengarkan ucapan Aurin tadi berani sekali dia menyuruh nya tapi lihat lah ini malam.
"Aku akan suruh Max, membeli nya." ucap Raka menatap Aurin Lagi tapi dia mengeleng ingin Raka yang mengambilkannya.
"Kau mau mati yah." ucap Raka dia tidak terima kalo di suruh suruh apa lagi mencari jambu air malam malam.
"Maaf." ucap Aurin dia pun melepaskan tangan Raka kembali berbaring.
Saat Raka melihat Aurin lagi dia seperti terhipnotis dengan keadaan Aurin dia pun duduk disamping Aurin.
"Yuk katanya mau nyari jambu." ucap Raka saat mendengarkan perkataan Raka Aurin langsung bangun.
"Beneran Tuan." ucap Aurin matanya begitu berbinar indah membuat Raka luluh.
Mereka pun keluar dari kamar saat itu Max sedang bekerja dengan laptop nya dia melihat Raka di belakang ada Aurin dia tersenyum senyum seperti mendapatkan hadiah.
"Tuan, Mau kemana malam malam begini." ucap Max yang melihat Raka memakai switer sama dengan Aurin.
Raka yang mendengar suara Max berhenti dia menatap Max menyuruh nya untuk ikut dengan cepat Max mengangguk dan keluar dari ruangan itu menyiapkan mobil.
Mereka keluar dari rumah itu Max hanya fokus menyetir menuju tempat yang Raka kata kan sementara Aurin dia tiba tiba terlelap karna begitu nyaman di samping Raka entah keberanian dari mana Aurin hari ini dia ingin sekali bermanja manja di Raka tak seperti biasa nya.
Lama di perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan Mall Raka membangunkan Aurin dia pun terbangun melihat sekeliling.
Kenapa di Mall.!!! Aurin.
"Ayo katanya mau jambu." ucap Raka Aurin terdiam dia emang ingin makan jambu tapi bukan di Mall di pohon.
"Aku, mau di pohon." ucap Aurin dia ingin Raka yang metik langsung di pohon nya bukan beli di Mall.
Max yang mendengarkan ucapan di belakang memperhatikan Aurin dari spion Raka yang menyadari Max memperhatikan Aurin langsung memukul kepala Max.
"Berhenti menatap nya Max." ucap Raka tak suka dengan lirikan Max barusan.
"Maaf Tuan." ucap Max.
"Kalo kamu tidak mau beli di Mall ya udah aku lelah butuh istirahat." ucap Raka kesal dia pun menyuruh Max pergi dari Mall itu.
"Max, turun kan aku di sini atau aku akan melompat." ucap Aurin dia sudah membuka pintu mobil itu dengan cepat Max berhenti mendadak Aurin keluar dari dalam mobil itu.
Raka yang melihat nya langsung ikut keluar dari mobil itu dia menghampiri Aurin yang ingin melangkah pergi.
"Max, tahan dia." ucap Raka Aurin di tahan Raka.
Raka berlari menuju Aurin dia benar benar kesal dengan sikap Aurin yang tidak patuh kepada nya sementara dari seberang jalan ada mobil berhenti memperhatikan mereka bertiga dari dalam mobil itu seorang wanita menyuruh anak buah nya menembak perempuan itu.
"Tembak dia." ucap wanita itu dengan hati hati anak buah itu mengeluarkan pistol nya dia ingin menembak tepat sasaran.
Sementara Raka sudah ada di depan Aurin kini mata Raka tajam menatap Aurin sementara Max dia masih memegangi tangan Aurin.
Derr...
Aurin terjatuh ke aspal dia berdarah di bagian punggung nya Raka yang melihat Aurin dia langsung memeluk tubuh Aurin sementara Max dia mencari orang yang menembak majikannya.
"Max, kejar dia jangan biarkan dia hidup." ucap Raka pada Max dengan cepat Max mengejar mobil itu dia menaiki mobil Raka.
Sementara Raka memanggil taksi yang lewat di depan nya dengan cepat Raka membopong tubuh Aurin yang sudah terlelap menahan lelah nya hidup air mata Raka terjatuh dia benar benar tidak ingin kehilangan Aurin.
Taksi pun membawa Raka dan Aurin dengan cepat melintasi malam yang gelap dan dingin ini mereka pun akhirnya sampai di rumah sakit terdekat bukan rumah sakit yang biasa Raka pakai.
Raka membawa tubuh Aurin beberapa dokter di situ sif malam langsung berlari ke arah Aurin mereka membawa Aurin ke ruangan UGD sementara Raka dia ingin menemani Aurin tetapi tidak di perbolehkan masuk.
"Aku akan bunuh orang yang sudah membuat mu tertembak." ucap Raka tangan nya mengepal dia lalu mengambil handphone nya menghubungi Max tapi tidak di angkat oleh Max.
"Sial." ucap Raka kakinya menendang tembok rumah sakit.
Sementara Max sedang membuntuti mobil yang menembak Aurin dia melihat sekeliling rumah mewah itu seperti tidak asing baginya.
Ini kan rumahnya.!!? Max.
Belum sempat Max melanjutkan perkataan nya Dari dalam mobil itu keluar Laura mukanya sungguh sangat bahagia dia tersenyum senyum karna sudah membalas kan rasa sakit nya.
"Jadi kau rupanya." ucap Max dia menatap tajam Laura dari kejauhan tangan nya mengepal dengan erat ingin sekali memukul wanita itu.
Saat akan ingin mengambil handphone nya dia melihat Tuan Raka menelvon nya dia pun langsung memanggil Raka balik.
"Hallo." suara Raka dari seberang sana seperti marah.
"Tuan, ternyata Laura yang menembak Aurin." ucap Max memberi tau sementara di sana Raka menahan emosi.
"Cepat kemarin setelah Aurin bangun akan ku beri dia pelajaran." ucap Raka langsung menutup handphone nya.
Max pun hanya menghembuskan nafas lega karna Aurin selamat dia pun memutar mobil menuju rumah sakit yang Raka telvon tadi dalam perjalanan Max mengendarai mobil dengan mengebut tak butuh waktu lama Max sudah sampai di rumah sakit itu.
Saat dia mencari Tuan Raka dari kejauhan Raka sedang mengobrol dengan dokter wanita entah apa yang diobrolkan Max pun menghampiri Raka dia berdiri di belakang Raka mendengar dengan jelas pembicaraan Raka dan Dokter wanita itu.
"Apa Anda, suami dari Bu Aurin." tanya dokter kepada Raka.
"Yah Dok. saya suami Aurin." ucap Raka menatap dokter itu.
"Apa Bapak, tidak tau kalo Bu Aurin sedang mengandung." tanya dokter wanita itu.
"Dia sedang hamil Dok." ucap Raka kaget dia benar benar shok sementara Max dia juga ikut kaget.
"Anak saya tidak apa apa kan Dok." tanya Raka lagi kali ini hampir saja menyentuh tangan Dokter itu.
"Begini Pak, kandungan Bu Aurin sangat lemah dia harus di pindahkan di rumah sakit yang fasilitas nya memandai." ucap Dokter itu.
"Dok, Siapkan Ambulan dia akan aku bahwa ke rumah sakit RUMAH SAKIT BAKTI SEHAT." ucap Raka menatap dokter itu sementara dokter yang mendengar ucapan Pria di depan nya sedikit tercengang.
Itu kan rumah sakit mahal.!! Dokter.
"Baik Pak." ucap Dokter itu lalu melangkah pergi dari situ.
Dasar Dokter tidak tau apa apa tentang Mafia di negara ini. Max.
"Max, Panggil dokter Kevin suruh dia datang aku tidak mau anak dan istri ku kenapa kenapa." ucap Raka menatap Max.
"Baik Tuan." ucap Max.
Max pun melangkah meninggalkan Raka dia seperti orang yang kehilangan arah mata nya seperti habis menangis.
Nona Aurin, bertahan lah. Max.