"Hi, Señorita!" Nero tersenyum miring seraya mengacungkan senjata api tepat di kening Elle.
"Kau ingin membunuhku?!" Elle terisak ketakutan saat pria itu hendak menarik pelatuk senjata apinya. Sebentar lagi dia akan mati.
DOR!
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nero ingin melenyapkan wanita yang sangat dicintai.
Penasaran? Ikuti terus kisahnya. Dan jangan lupa, Follow IG Author @Thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangga padamu!
"Ugh!" Elle membuka mata perlahan. Matanya menyipit menyesuaikan cahaya lampu yang menerpa retina. "D-Di mana aku?" Elle kata lirih seraya meringis ngilu saat merasakan sekujur tubuhnya sakit, terutama di bagian wajah sangat perih. Ia hendak menyentuh wajahnya, tapi terhenti saat melihat jarum infus menempel di punggung tangannya. Ia menghela nafas panjang, ternyata dirinya berada di rumah sakit.
"Sayang, kau sudah siuman?"
Elle menoleh ke sumber suara. Kedua matanya membeliak saat melihat ibunya baru masuk ruangan.
"Mom!" Elle benar-benar terkejut, ia hendak mendudukkan diri tapi Gloria segera mencegah.
"Jangan, tetap diam dan tidur. Kau perlu istirahat." Gloria berkata lembut pada putrinya
"Mommy kenapa ada di sini??" Elle dengan segala kebingungannya menatap ibunya lekat, menuntut penjelasan.
"Mommy dan Daddy baru tiba sore tadi, kami langsung terbang ke sini setelah mendapatkan kabar dari Nero kalau kau terluka parah," jawab Gloria meraih tangan putrinya yang tidak di infus.
Elle baru teringat kejadian mengerikan itu saat wajahnya di sayat oleh Nick.
"Mom, aku butuh cermin."
Gloria mengambil ponselnya dari tas, lalu memberikannya pada putrinya. "Dua jam yang lalu kau menjalani operasi plastik," ucap Gloria saat menatap putrinya menangis sembari menyentuh perban yang membalut wajahnya.
"Mom, wajahku cacat. Aku tidak cantik lagi. Dan Nero akan meninggalkan aku, hikss ... hikss." Ponsel di tangannya jatuh ke pangkuan, ia menangkup wajahnya dengan perasaan sedih dan frustrasi luar biasa.
"Sayang, kau akan kembali cantik. Kau baru saja menjalani operasi plastik agar cantik lagi, meski penyembuhannya cukup lama tapi percayalah semua akan kembali seperti semula." Gloria segera memeluk putrinya, dan berusaha menenangkannya.
"Tapi, Mom, aku takut ..."
"Tidak ada yang perlu di takutkan, Sayang." Gloria mengusap lengan putrinya, masih berusaha menenangkan.
"Lalu di mana, Nero?"
*
Saat ini Nero sedang bicara dengan Ben dan Damon di salah satu ruangan yang ada di rumah sakit.
Nero duduk di hadapan Ben dan Damon. Kedua pria itu menatapnya tajam. Ia seperti seorang penjahat yang akan di adili.
"Jadi apa yang ingin kalian dengar?" tanya Nero, datar, sama sekali tidak takut dengan intimidasi dua pria itu.
"Cih! Sudah salah tapi masih saja berlagak sombong!" sahut Damon, jengkel pada asistennya itu.
"Betul itu, dia sangat sombong!" Ben menyahut, setuju dengan ucapan Damon.
Nero berdecih pelan saat melihat kekompakan mertua dan menantu itu. "Kalian tampak serasi sekali," sindirnya.
"Diam!" balas Ben dan Damon secara bersamaan sembari melotot lebar.
"Oke!" Nero mengangguk-angguk seraya mengangkat kedua tangan seperti ditodong senjata api.
Ben menarik nafas panjang, sebelum mengajukan pertanyaan, "Jadi, coba jelaskan bagaimana kronologi itu?" Ia menatap datar dan dingin pada Nero.
"Sebelum aku menjawab, izinkan aku mengucapkan selamat untuk Tuan Damon atas kehamilan istrinya," jawab Nero, menatap Damon penuh arti.
Damon berdecih, "jangan meledekku sialan!" umpat Damon, rasanya ingin mencekik asistennya itu. "Itu semua terjadi karena ... kebobolan," lanjutnya pelan seraya memalingkan wajah, menahan malu karena anak kedua mereka baru berusia 3 bulan tapi istrinya sudah hamil lagi.
Bibir Nero dan Ben berkedut menahan tawa saat mendengar penjelasan Damon.
"Kenapa bisa? Pasti kau tidak bisa menjaga ular cobramu ya? Dasar tidak sopan!" seloroh Ben dengan mata memicing pada menantunya.
Nero tak mampu menahan tawa. Ia tergelak keras sampai terbatuk-batuk.
"Hei! Hei! Kenapa kalian berdua jadi menyudutkan aku?" protes Damon, kesal. "Semestinya dia yang di sudutkan dan diintrogasi!" Ia menunjuk Nero penuh intimidasi.
"Aku tidak takut dengan tatapanmu, Tuan!" balas Nero datar. Tawanya langsung berhenti begitu saja, raut wajahnya seketika berubah dingin. Selanjutnya, Nero menjelaskan kronologi kejadian saat Elle di culik sampai ia menyelamatkan Elle.
"Huh!" Damon dan Ben ikut emosi mendengar penjelasan Nero. Rasanya ingin menghajar Nick saat itu tapi sayangnya pemuda itu sudah mati dan hangus menjadi abu.
"Harusnya kau menembak kepalanya lebih dulu sebelum membakar gedung tua itu!" kata Ben pada Nero.
"Sudah! Aku menembak kepala dan jantungnya," jawab Nero dengan tegas.
PROK!
PROK!
Ben tepuk tangan dengan bangga seraya tersenyum puas pada Nero. "Bagus! Aku bangga padamu!" Ia tertawa terbahak yang membuat Nero dan Damon seketika terdiam dengan mulut melongo.
Ben beranjak berdiri, menepuk pundak Nero beberapa kali, "kau patut mendapatkan apresiasi, jadi apapun yang kau inginkan akan aku kabulkan!" ucap Ben, serius.
Nero tersenyum penuh arti, lalu menyebutkan keinginannya saat itu juga.
Coba nanti muntah lagi tidak si Nero ini.
Salahnya Elle, Nero untuk sementara tidak boleh ngopi atau ngeteh. Nero pinter - minum susu cap nyonya boleh.
heeeemmm pas banget kebetulan d larang ngopi dan ngeteh jd nya ya nyusu aj.. 😜