NovelToon NovelToon
Aku Ini Istrimu

Aku Ini Istrimu

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Han

Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.

Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.

Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.

"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Han, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Dua Garis

Di kamar mewah kediaman rumah keluarga Adiwangsa. Bara Bara melenguh, merasakan kepalanya sedikit berat akibat lembur sampai jam tiga pagi tadi. Secara refleks, tangannya meraba sisi tempat tidur yang seharusnya ditempati oleh Renata. Kosong. Dingin.

​"Ren..." gumamnya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

​Bara meraih ponselnya di atas nakas yang berdering nyaring, berusaha mematikan alarm yang sangat berisik itu. Tapi karena masih setengah sadar, gerakannya malah menyenggol sebuah benda kecil hingga jatuh ke lantai dengan bunyi tak yang ringan.

​Sambil mengucek mata dan menguap lebar, Bara membungkuk untuk mengambil barang yang jatuh tadi. Awalnya dia pikir itu hanya pulpen atau termometer. Namun, begitu benda plastik putih panjang itu berada di genggamannya, rasa kantuknya menguap seketika seolah disiram air es.

​Jantung Bara berdegup kencang. Ia mengucek matanya sekali lagi, memastikan kalau dia nggak lagi bermimpi di tengah efek capek lembur. Di tangannya, sebuah test pack menunjukkan dua garis merah yang sangat jelas.

​"Dua garis?" bisiknya tak percaya. Dadanya mendadak terasa penuh oleh rasa haru yang membuncah.

​Tanpa mempedulikan nyawanya yang belum terkumpul penuh, Bara langsung melompat dari tempat tidur. Dia lari keluar kamar seperti orang kesurupan, bahkan hampir tersandung kakinya sendiri.

​"RENATA! RENATA!" teriak Bara histeris, suaranya menggema ke seluruh penjuru rumah besar itu.

​Mama Sarah yang lagi asyik menyiram tanaman di teras dalam, sampai kaget setengah mati. "Bara! Ada apa sih? Pagi-pagi sudah teriak-teriak seperti itu!" seru Mama Sarah panik, mengira ada kejadian buruk.

​Tapi Bara nggak peduli. Matanya menangkap sosok Renata yang lagi membantu Bi Sumi menyiapkan sarapan di ruang tengah. Tanpa babibubu, Bara langsung lari dan menangkap, memeluk istrinya itu dengan sangat erat sampai Renata sedikit terangkat dari lantai.

​"Sayang, kamu... kamu serius? Ini beneran kan?" tanya Bara dengan mata yang berkaca-kaca, sambil menunjukkan test pack itu di depan wajah Renata.

​Renata yang kaget karena dipeluk tiba-tiba, hanya bisa tersipu malu dengan wajah memerah. "Mas... pelan-pelan, malu dilihat Mama sama Bi Sumi."

​"Ngapain malu! Aku bahagia banget, Ren!" seru Bara lagi, mengabaikan tatapan heran orang-orang rumah. Di balik rasa lelahnya semalam, pagi ini Bara merasa seperti laki-laki paling beruntung di dunia. Dia mencium kening Renata berkali-kali, seolah ingin memastikan bahwa malaikat kecil yang kini hadir di rahim istrinya adalah nyata.

​"Bara! Kamu ini kenapa sih, pagi-pagi udah bikin Mamah kaget? Ampun..." omel Mama Sarah sambil menghampiri mereka, dengan masih megang serbet dapur.

​Bara tidak menjawab, dia cuma nyengir lebar kayak orang dapet lotre. Kemudian langsung menyodorkan benda plastik itu ke depan muka Mamanya. "Nih, Mah. Liat sendiri. Jangan kaget!"

​Mama Sarah ngerennyit, terus mengambil benda itu. Pas di lihat, terdapat dua garis merah yang jelas banget, Mama Sarah langsung melongo sambil menutup mulutnya pake tangan, sehingga matanya berkaca-kaca nggak percaya dugaannya beneran kejadian.

​"Kamu... HAMIL, RENATA?!" teriak Mama Sarah, suaranya sampai melengking saking senengnya.

​Renata yang masih dipeluk erat sama Bara cuma bisa senyum malu-malu, mukanya udah merah padam. "Hehehe, iya Mah... Syukurlah, akhirnya aku bisa kasih kabar ini ke Mama," jawab Renata pelan, suaranya kedengeran lega banget.

​"Ya ampun, Sayang!" Mama Sarah langsung meluk Renata, saking senengnya Bara sampai kegeser. "Mama udah feeling dari kemarin pas kamu merasakan mual-mual. Terus denger ya! Bara... Mulai detik ini, kamu jangan kasih Renata kerjaan yang aneh-aneh, terus apalagi kamu sampai bikin Renata kenapa-kenapa, kamu nggak bakal di anggap anak sama Mamah. Jagain istri kamu iya."

​"Siap, Mah!" sahut Bara sambil hormat, terus dia nyium kening Renata lagi di depan Mamanya. "Pokoknya Renata bakal aku manjain habis-habisan, Mah."

​Di tengah tawa bahagia itu, Renata cuma bisa nunduk sambil mengelus perutnya yang masih rata. Dia sekarang merasakan dunia sudah berpihak banget sama dirinya pagi ini. Ada rasa bahagia di hati kecilnya.

Dalam hati, Renata mengucap syukur berkali-kali. Sejujurnya, baru beberapa hari yang lalu hatinya terasa mencelos tiap kali mertuanya itu bicara. Kata-kata Mama Sarah seringkali tajam, nggak henti-hentinya kasih sindiran pedas, menganggap dia istri yang nggak becus, nggak bisa urus Bara dengan bener, sampai urusan sepele pun selalu disalahin. Rasanya setiap langkah yang Renata ambil di rumah ini selalu dianggap nggak berguna di mata mertuanya.

​Tapi pagi ini, detik ini juga semua makian dan pandangan sebelah mata itu seolah hilang, diganti sama pelukan yang begitu erat. Renata tahu, kehamilan ini bukan cuma soal kasih cucu, tapi jadi pembuktian kalau dia bukan sekadar "benalu" atau istri gagal seperti yang sering Mama Sarah ucapkan. Lewat janin ini, Renata merasa akhirnya dia punya "pelindung" buat melindungi harga dirinya yang selama ini diinjak-injak.

​“Akhirnya, Mah... Renata bisa buktiin kalau Renata bisa kasih yang terbaik buat Mas Bara,” batinnya sambil menahan tangis haru.

​Renata mendongak, menatap wajah Bara yang kelihatan bahagia banget. Dia janji dalam hati, anak ini bakal jadi penguat posisinya di rumah ini. Nggak akan ada lagi yang boleh bilang dia istri nggak becus, karena sekarang, dia adalah calon ibu dari pewaris keluarga mereka.

​Tapi sekarang, melihat binar mata Mama Sarah yang begitu tulus dan pelukan hangatnya, semua rasa sakit hati itu seolah luntur begitu saja. Renata sadar, mungkin itu adalah bentuk kekhawatiran seorang ibu yang kini sudah terbayar lunas. Kehadiran nyawa kecil di rahimnya ini bukan cuma sekadar status, tapi jembatan yang menjadi landasan antara dia dan mertuanya.

​“Terima kasih, ya Tuhan,” batin Renata haru. “Akhirnya aku benar-benar merasa punya tempat di keluarga ini. Aku nggak akan biarkan kebahagiaan ini hilang begitu saja.”

​Renata mendongak, menatap Bara yang masih setia menggenggam tangannya. Dia merasa beruntung, meski badai kemarin sempat mengguncang, suaminya tetap menjadi pelindung yang paling kokoh. Dia bertekad dalam hati, mulai sekarang dia akan menjaga janin ini dengan seluruh jiwanya—demi keutuhan rumah tangganya dan demi membuktikan bahwa dia layak menjadi bagian dari keluarga besar Bara.

Kegembiraan di ruang makan itu benar-benar pecah. Mama Sarah seolah lupa kalau tadi dia sempat mengomel Bara karena berisik. Beliau langsung sibuk narik kursi buat Renata, seolah menantunya itu bakal pingsan kalau berdiri semenit aja.

​"Duduk, Sayang, duduk. Jangan kelamaan berdiri, nanti kaki kamu bengkak," ucap Mama Sarah heboh sendiri.

​Bara ikut duduk di samping Renata, tangannya nggak lepas-lepas menggenggam jemari istrinya. "Mah, kayaknya aku harus mulai cari-cari referensi dokter kandungan yang paling bagus deh. Terus, kamar bayi juga harus disiapin dari sekarang, kan?"

​Mama Sarah ketawa sambil nepuk bahu putranya. "Aduh Bara, masih baru juga, jangan terlalu grasak-grusuk. Yang penting sekarang itu asupan gizi Renata. Bi Sumi! Bi Sumi!"

​Bi Sumi lari-lari kecil dari arah dapur. "Iya, Nyonya? Ada apa?"

​"Mulai sekarang masakan buat Renata harus yang sehat-sehat ya. No MSG, banyakin sayur sama buah. Menantu saya lagi isi!" seru Mama Sarah bangga. Bi Sumi yang denger itu langsung ikutan sumringah dan mengucap syukur berkali-kali.

​Renata yang diperlakukan bagai ratu sejagat cuma bisa senyum-senyum simpul. "Mas, Mama... makasih ya. Aku beneran nggak nyangka responnya bakal seheboh ini."

​"Ya jelas dong, Sayang. Ini kan yang kita tunggu-tunggu," balas Bara sambil natap mata Renata dalam-dalam. "Aku bakal lakuin apapun buat kamu sama anak kita."

"Ya jelas dong, Sayang. Ini kan yang kita tunggu-tunggu," balas Bara sambil natap mata Renata dalam-dalam. "Aku bakal lakuin apa pun buat kamu sama anak kita."

​Suasana haru itu sedikit teralihkan saat Mama Sarah melirik jam di dinding. "Duh, Mama harus segera ke rumah sakit sekarang. Kasihan Siska, dia pasti udah capek banget jagain Papah semalaman di sana. Biar Mama yang gantian jaga sekarang."

​Mama Sarah bergegas masuk ke kamar buat ambil tasnya. Nggak sampai lima menit, beliau sudah balik lagi dengan gaya anggunnya, tapi raut wajahnya kelihatan serius pas menatap anak dan menantunya itu.

​"Ingat ya, Bara," tegas Mama Sarah sambil menunjuk putranya. "Kamu harus jagain Renata benar-benar. Jangan sampai lalai sedikit pun!"

​Pandangannya kemudian beralih ke arah Renata, kali ini dengan nada yang sedikit lebih lembut tapi tetap penuh peringatan. "Dan kamu juga, Renata. Mama nggak mau dengar kamu kecapekan, pokonya jangan terlalu banyak aktivitas dulu, mengerti? Kandungan muda itu masih rawan."

​"Iya, Mah. Renata bakal hati-hati banget kok," jawab Renata sambil mengangguk patuh.

​"Okey, Mama berangkat dulu ya. Kabari Mama terus kalau ada apa-apa," ucap Mama Sarah sebelum akhirnya melangkah keluar rumah dengan terburu-buru.

​Setelah suara mobil Mama Sarah menjauh, keheningan menyelimuti ruang makan. Bara kembali menatap istrinya, lalu mengecup tangan Renata dengan lembut. "Dengar kan kata Mama? Kamu harus jadi 'Ratu' di rumah ini mulai sekarang. Nggak ada protes."

​Renata cuma bisa tersenyum simpul, meskipun di sudut hatinya yang paling dalam, ia masih teringat betapa dinginnya sikap Mama Sarah padanya tempo hari. Namun, demi kebahagiaan Bara dan calon bayinya, ia memilih untuk mengubur semua luka itu dalam-dalam.

Jeda sedetik, tiba Renata menatap Bara lekat-lekat, raut wajahnya berubah sedikit lebih serius. "Mas, aku mau tanya deh... Kenapa aku sampai ketiduran semalam nungguin kamu pulang? Kamu lagi ada masalah sama kerjaan ya?"

​Bara menghela napas pendek. "Cuma masalah kecil doang, Ren. Aku bisa hendel kok, tenang aja. Jangan terlalu khawatirin aku, ya?"

​"Iya, aku paham," sahut Renata sambil mengaduk tehnya pelan. "Tapi jangan terlalu dipaksain juga, Mas. Apalagi aku sampai nggak tahu kamu pulang jam berapa semalam."

​"Semalam aku pulang tengah malam banget, soalnya emang aku sendiri yang hendel semua urusannya," jawab Bara, berusaha meyakinkan istrinya.

​Renata mengernyit bingung. "Kok kamu sendiri yang hendel? Emang karyawan kamu nggak ada yang bisa bantu sama sekali?"

​Bara terdiam sejenak, raut wajahnya menunjukkan kekesalan yang sempat ia tahan. "Masalahnya ini urusan internal pimpinan perusahaan, Ren. Seharusnya cuma Reno yang bisa bantu aku buat masalah ini. Tapi Reno malah nggak ada di kantor. Nggak tahu aku dia ke mana, padahal udah aku chat berkali-kali tapi nggak aktif, cuma centang satu doang dari semalam."

​Renata tertegun mendengar nama Reno disebut. "Lho, kok aneh? Bukannya biasanya Reno paling sigap kalau urusan kantor? Apa dia lagi sakit, Mas?"

​"Aku nggak tahu," jawab Bara ketus. "Makanya aku juga bingung sama Reno. Di saat kantor lagi genting-gentingnya, dia nggak bisa dihubungin sama sekali."

​"Udah ah, nggak usah bahas Reno dulu. Yang penting sekarang itu kamu," ucap Bara, berusaha mengalihkan pembicaraan sambil mengusap lembut pipi Renata. "Kamu mau makan apa lagi? Biar aku minta Bi Sumi buatin."

​Renata tersenyum, meski dalam hatinya ia tetap merasa ada yang janggal dengan sikap suaminya. Ia tidak tahu bahwa di saat yang bersamaan, di sebuah apartemen tidak jauh dari sana, Reno dan Maya sedang bergulat dengan konsekuensi dari malam yang penuh kekacauan.

Sementara itu, di apartemen, suasana di meja makan mendadak jadi dingin setelah perdebatan kecil tadi. Reno menatap piringnya yang sudah kosong, lalu beralih menatap Maya yang masih tampak pucat dan berantakan pikirannya.

​Reno membuang napas kasar, lalu tiba-tiba bangkit dari kursinya dengan gerakan yang sangat kaku.

​"Gue pergi sekarang," ucap Reno singkat, suaranya terdengar datar tanpa emosi.

​Maya langsung mendongak, matanya yang sayu menatap Reno dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lo mau pergi ke kantor? Pasti lo ketemu Bara bukan?"

​Reno nggak langsung menjawab. Dia malah sibuk nyari kunci mobilnya di atas meja, terus dia berhenti sebentar dan nengok ke arah Maya. "Soal itu urusan nanti. Yang jelas, gue harus pergi dari sini sebelum gue makin gila."

​"Ren..." panggil Maya lirih, suaranya terdengar seperti sebuah permohonan.

​Tapi Reno seolah menutup telinganya. Dia langsung melangkah lebar menuju pintu keluar tanpa menoleh sedikit pun. Blam! Suara pintu apartemen yang ditutup dengan keras menggema di ruangan itu, meninggalkan Maya yang kembali sendirian dalam keheningan yang menyesakkan.

​Reno berjalan cepat menyusuri lorong apartemen menuju lift. Jantungnya masih berdegup nggak karuan. Dia tahu dia baru saja melakukan kesalahan besar, dan kabur dari Maya bukan berarti masalahnya selesai. Tepat saat dia masuk ke dalam lift, ponsel di sakunya bergetar lagi.

​Satu pesan baru muncul di layar. Bukan dari Bara, tapi sebuah nomor tak dikenal yang mengirimkan sebuah foto.

​Reno membelalakkan mata saat melihat gambar yang dikirimkan ke ponselnya. Itu adalah foto dirinya dab diatas dadanya, Maya sedang meraba-meraba dada Bara. Gambar itu diambil dari sudut yang sangat jelas.

​“Malam yang panas ya, Ren? Kayaknya Bara bakal suka liat foto ini,” tulis si pengirim misterius itu.

​Lutut Reno terasa lemas seketika. Lift berdenting pelan, tapi Reno tetap mematung di dalamnya. Rahasia semalam itu ternyata bukan cuma milik mereka berdua, dan sekarang, nyawa karier serta hubungan persaudaraan dengan keluarga Bara sedang berada di ujung tanduk.

"Hufttt...." Ia hanya menghela napas panjang.

1
akumahapa
SETUJUUU BANGET🤣
akumahapa
iri aja nih perempuan
akumahapa
suasana di bab ini terasa sesak sekaligus panas. maya mengeluarkan semua pernyataannya, ia merasa dendam, sudah di khianati oleh mantan kekasihnya, tapi pelariannya itu ke orang lain. orang lainnya, sepepupu mantannya lagi. Emang cewe modelan maya ada?
tifara zahra
bikin renata hamil tor
Mr. Han: Boleh sih kak, tapi kita belom tau nih, nanti renata bakal mengalami gejala mual-mual apa itu cuma penyakit umum, atau bisa jadi hamil. Jangan lupa baca kelanjutannya kak. Terimakasih😍
total 1 replies
Nanda
salam kenal yah...
neng aja
bintang 5 buat renata hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!