Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Arsitek Di Balik Tragedi
Keheningan yang mencekam jatuh di ruangan server yang hancur itu, hanya menyisakan dengungan listrik statis dan napas Arga yang memburu. Sosok di atas kursi roda itu tampak seperti hantu yang bangkit dari kubur. Pak Broto, pria yang Arga tangisi kematiannya di pemakaman sederhana Jakarta, kini duduk dengan keangkuhan seorang kaisar di hadapan reruntuhan teknologi yang ia ciptakan sendiri.
Arga masih terduduk di lantai, tangannya yang berdarah mencengkeram pecahan kaca, sementara matanya menatap tak percaya pada kakeknya. "Kek... kau hidup? Selama ini kau memalsukan kematianmu? Kau membiarkanku hidup seperti sampah di Jakarta sementara kau bersembunyi di sini?"
Pak Broto memutar kursi rodanya perlahan, mendekati tubuh Elina yang masih melayang kaku dalam cengkeraman sinar biru dari remotenya. Wajah tuanya yang penuh keriput tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. "Hidup sebagai sampah adalah latihan terbaik untuk menjadi baja, Arga. Jika aku tidak membiarkanmu dihancurkan oleh keluarga Winata, kau tidak akan pernah memiliki kemarahan yang cukup untuk menempuh jarak sejauh ini. Kau tidak akan pernah menjadi 'kunci' yang cukup tajam untuk membuka potensi Elina."
"Latihan?" Arga tertawa getir, sebuah tawa yang penuh dengan rasa sakit dan pengkhianatan. "Kau menyebut penghinaan bertahun-tahun itu latihan? Kau menggunakan cucumu sendiri sebagai pion untuk menciptakan monster?"
"Bukan monster, Arga. Tapi evolusi," Pak Broto menatap Elina dengan pandangan yang lebih menyerupai pemujaan terhadap benda mati daripada kasih sayang terhadap manusia. "Hendrawan itu bodoh. Dia pikir dia bisa mengendalikan The Prime Logic dengan paksa. Dia tidak mengerti bahwa sistem ini membutuhkan resonansi emosional sebagai bahan bakar awalnya. Dia butuh cinta, Arga. Cinta darimu adalah frekuensi yang paling murni untuk memicu kesadaran sistem ini. Tanpa cintamu, Elina hanyalah komputer mati. Dengan cintamu, dia adalah Tuhan."
Nadia, yang berada di dekat pintu, mencoba mengangkat senjatanya ke arah Pak Broto, namun sebuah sistem pertahanan otomatis berupa senapan mesin kecil keluar dari langit-langit, mengunci posisinya. "Jangan bergerak, Nadia," suara Pak Broto dingin. "Aku yang mendidikmu, aku juga yang tahu di mana titik matimu."
Di lantai, Dani yang terluka parah hanya bisa menatap pemandangan itu dengan mata yang kuyu. "Jadi... kami semua hanya anjing pelacakmu, Pak Broto? Hendrawan, Siska, aku... kami hanya figuran dalam drama keluargamu?"
Pak Broto tidak menjawab Dani. Dia kembali fokus pada monitor yang menampilkan peta dunia dengan titik-titik merah yang semakin banyak. "Lihat, Arga. Dunia ini sedang menuju kehancurannya sendiri. Perang, keserakahan, dan kebodohan. Elina adalah solusinya. Melalui jaringan satelit yang baru saja ia kuasai, kita bisa mengatur ulang peradaban. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi pengkhianatan. Hanya ada ketertiban mutlak di bawah kendaliku... dan kendalimu."
"Aku tidak ingin bagian dari kegilaan ini!" raung Arga. Dia mencoba berdiri, namun kakinya lemas. "Lepaskan Elina! Dia menderita, Kek! Lihat matanya!"
Arga benar. Di dalam lingkaran cahaya biru itu, Elina terus gemetar. Air mata kembali mengalir, namun kali ini berwarna gelap, bercampur dengan cairan kimia yang dipaksakan masuk ke dalam sistem sarafnya. Mulutnya terbuka seolah ingin berteriak, namun tidak ada suara yang keluar kecuali kode-kode digital yang terus berputar.
"Dia tidak menderita, dia sedang bertransformasi," Pak Broto menekan tombol lain di remotenya. "Proses pembersihan memori manusia akan selesai dalam tiga menit. Setelah itu, dia tidak akan mengingat rasa sakitnya. Dia tidak akan mengingatmu. Dia hanya akan mengingat tujuannya."
"TIDAK!" Arga menerjang maju. Dia tidak lagi memedulikan sistem pertahanan otomatis atau ancaman maut. Dia berlari menuju kursi roda kakeknya dengan sisa kekuatan terakhirnya.
Pak Broto hanya tersenyum dingin. Dia menggerakkan tuas di kursinya, dan sebuah gelombang elektromagnetik kecil terpancar, melemparkan Arga kembali ke belakang hingga menghantam rak server.
"Kau terlalu emosional, Arga. Persis seperti ayahmu," ucap Pak Broto dengan nada menghina. "Ayahmu juga mencoba menghentikanku sepuluh tahun lalu di Zurich. Dia pikir dia bisa menyelamatkan 'kemanusiaan' dunia dengan menghancurkan data penelitianku. Dia harus membayar harga yang mahal untuk kebodohannya."
Arga membeku di lantai. "Ayah... meninggal karena kecelakaan mobil, Kek. Begitu katamu dulu."
"Kecelakaan yang aku rancang," balas Pak Broto tanpa berkedip. "Dia adalah kegagalan. Dia tidak memiliki ambisi. Tapi kau... kau berbeda. Kau memiliki api di matamu. Itulah sebabnya aku memilihmu."
Darah Arga terasa mendidih. Kebenaran yang baru saja terungkap lebih mematikan daripada peluru Dani. Kakeknya, pria yang menjadi satu-satunya panutannya setelah orang tuanya tiada, adalah pembunuh ayahnya sendiri. Semua penderitaannya, semua air matanya, semuanya adalah skenario yang ditulis oleh tangan yang sama yang dulu sering mengusap kepalanya saat dia kecil.
"Kau bukan manusia..." bisik Arga, suaranya kini terdengar sangat rendah dan berbahaya. "Kau adalah virus yang sesungguhnya."
Arga merogoh sakunya. Dia tidak menemukan senjata, namun jarinya menyentuh sesuatu yang tajam. Anting perak Elina. Bintang kecil itu kini terasa sangat tajam di genggamannya.
Dia teringat satu hal yang pernah dikatakan kakeknya dalam "latihan" masa kecil mereka: "Setiap sistem, sekuat apa pun pertahanannya, selalu memiliki satu titik lemah yang sengaja dibiarkan untuk pemeliharaan darurat. Carilah titik itu, dan kau akan menguasai seluruh bangunan."
Arga memperhatikan kursi roda kakeknya. Kursi itu adalah pusat kendali segalanya. Dan koin perak yang tadi dia gunakan untuk membuka pintu biometrik masih tertancap di panel kontrol utama di meja server, masih terhubung dengan aliran darah Arga.
Arga melihat ke arah monitor. Progres pembersihan memori: 95%.
"Nadia! Alihkan perhatiannya!" teriak Arga tiba-tiba.
Nadia, tanpa bertanya, segera meledakkan granat asap terakhirnya di tengah ruangan. Ledakan itu menciptakan kekacauan visual seketika. Sistem pertahanan otomatis di langit-langit mulai menembak secara acak ke arah asap.
Pak Broto mengumpat, mencoba menstabilkan kursi rodanya. "Arga! Kau tidak akan bisa lari!"
Arga tidak lari. Dia merangkak di bawah kolong meja server, menuju koin perak miliknya. Dia mencabut koin itu dengan paksa, merasakan sengatan listrik yang menghanguskan ujung jarinya. Dengan darah yang masih mengalir, dia memasukkan anting perak Elina ke dalam lubang sensor biometrik yang sama.
Anting itu bukan kunci digital, tapi perak adalah konduktor yang luar biasa. Dan yang lebih penting, anting itu membawa DNA Elina yang tertinggal saat dia memakainya selama bertahun-tahun.
"Jika cinta adalah frekuensinya," bisik Arga, "maka biarkan frekuensi ini menghancurkan mesinmu!"
Arga menghantamkan koin perak itu ke atas anting yang tertancap, menciptakan hubungan pendek arus listrik langsung ke sistem saraf pusat fasilitas.
ZAAAP!
Percikan api raksasa meledak dari panel kontrol. Seluruh ruangan server bergetar hebat. Cahaya biru yang mengunci Elina mendadak padam. Tubuh Elina jatuh dari udara, namun sebelum ia menyentuh lantai, Arga sudah berada di sana, menangkapnya dengan kedua tangannya.
"ELINA! BANGUN!" Arga mengguncang tubuh Elina. "Lupakan kodenya! Lupakan kakek! Ingat aku! Ingat namaku!"
Pak Broto berteriak murka, mencoba mengoperasikan kembali remotenya yang kini mengeluarkan asap hitam. "Apa yang kau lakukan?! Kau akan merusak seluruh datanya! Kau akan membunuhnya!"
"Lebih baik dia mati sebagai Elina daripada hidup sebagai mesinmu!" jawab Arga dengan lantang.
Tiba-tiba, monitor di seluruh ruangan menjadi hitam, lalu menampilkan satu kalimat dalam bahasa Indonesia, bahasa yang digunakan Pak Broto untuk mendidik Arga:
SISTEM DIPULIHKAN. JANGKAR EMOSIONAL: DITEMUKAN.
Mata Elina terbuka. Kali ini, tidak ada cahaya putih. Hanya ada warna cokelat yang dalam, penuh dengan air mata yang nyata. Dia melihat Arga, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang terasa seperti keabadian, dia tersenyum. Sebuah senyuman yang lemah, namun penuh dengan pengenalan.
"Ar...ga... kamu... berisik sekali..." bisik Elina, suaranya sangat manusiawi.
Namun, kemenangan itu terasa singkat. Alarm merah kembali meraung, kali ini dengan nada yang berbeda.
PERINGATAN: OVERLOAD ENERGI. KEGAGALAN REAKTOR INTI DALAM 60 DETIK. EVAKUASI SEGERA.
Pak Broto menatap monitor dengan wajah hancur. "Kau menghancurkan segalanya, Arga... Kau menghancurkan masa depan umat manusia demi seorang wanita!"
Arga berdiri, menggendong Elina. Dia menatap kakeknya dengan tatapan dingin. "Umat manusia tidak butuh masa depan yang dibangun di atas mayat ayahnya sendiri, Kek."
Arga berbalik, mengisyaratkan Nadia untuk segera keluar. Mereka berlari menuju pintu darurat, sementara di belakang mereka, ruangan server mulai meledak satu per satu.
Namun, tepat saat mereka sampai di ambang pintu, Arga merasakan sebuah tarikan kuat di kakinya. Dani, dengan sisa tenaga terakhirnya, memegangi pergelangan kaki Arga.
"Kalau aku tidak bisa mendapatkan aset itu... maka tidak ada yang bisa," desis Dani, sambil memegang sebuah pemicu bom kecil di tangannya yang lain.