NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: ANGGGAAAAAAA~~~

Pagi itu.

Matahari baru saja muncul di ujung langit Lombok. Cahaya keemasan mulai menyelinap melalui celah-celah jendela dapur, jatuh ke atas kompor yang sedang mengepul. Aroma bawang goreng dan kecap manis memenuhi seluruh ruangan.

Angga sibuk di dapur.

Kemeja lengan panjangnya digulung hingga siku, celemek biru lusuh melilit di pinggang. Tangannya sibuk mengaduk wajan berisi nasi goreng yang kali ini diberi tambahan udang karena Seoul Lee minta "yang agak mewah dikit buat sarapan pertama".

Di meja makan, Seoul Lee duduk santai dengan secangkir kopi hitam buatan Angga. Rambut ungunya masih basah habis mandi, wajahnya segar seperti baru keluar dari iklan skincare. Ia menyesap kopinya pelan, matanya menyusuri dapur kecil itu dengan ekspresi betah.

"Enak banget kopinya," komentar Seoul.

"Kopi tubruk. Gak pake gula."

"Aku suka pahit."

"Ya udah nikmatin."

Seoul tersenyum. Ia melipat tangan di meja, dagu bertumpu di punggung tangan, matanya mengamati Angga yang bergerak lincah di dapur.

"Kamu tuh kayak istri rumahan, Angga."

"Lu mau sarapan atau mau gue usir?"

"Sarapan. Sarapan."

Seoul tertawa kecil. Ia kembali menyesap kopinya, menikmati suasana pagi yang damai.

DAMAI.

Hingga-

"ANGGAAAAAA~!!"

Seoul Lee merinding.

Kopinya hampir tumpah. Cangkir di tangannya bergoyang, cairan hitam itu nyaris menyiram celananya. Ia menatap ke arah lorong dengan mata membelalak.

"Apa itu tadi?" tanyanya, napas sedikit memburu.

Angga yang sedang membalik nasi goreng hanya mengernyit. Ia mengecilkan api kompor, lalu menoleh ke arah lorong.

"Adea," jawabnya singkat.

"Iya aku tau itu Adea. Tapi suaranya kayak..." Seoul mencari kata. "...kayak orang kesurupan."

"Mungkin karna dia baru bangun trus gak nemu gue di sam--ping-" Angga berhenti. Ia sadar baru saja mengatakan sesuatu yang mungkin terlalu banyak.

Seoul mengangkat alis. Matanya berbinar.

"Di samping? Maksudnya di samping apa, Angga?"

"Diem lu."

Tapi sebelum Angga sempat melepas celemek, Seoul Lee sudah berdiri.

"Gua liat bentar ya, lu diam aja di sini," ujar Seoul dengan nada sok heroik.

"Seoul-"

Terlambat.

Pria berambut ungu itu sudah berlari kecil menuju lorong sempit, melewati pintu kamar Angga yang kosong, lalu berhenti di depan pintu kamar Adea yang sedikit terbuka.

Ia mendorong pintu perlahan.

---

Kamar Adea.

Berantakan, tapi dengan cara yang lucu.

Selimut tebal terlempar ke lantai. Bantal berguling di dekat pintu. Boneka beruang besar dari pasar malam terjatuh di sudut kasur. Dan di tengah semua kekacauan itu, seorang gadis dengan rambut kusut masai duduk di atas kasur.

Piyama bintang-bintangnya kusut di bagian kerah. Wajahnya masih sembab karena baru bangun. Mata setengah terbuka, tapi mulutnya menganga lebar.

"ANGGAAAAAA~!!"

Seoul Lee merasakan bulu kuduknya berdiri lagi.

"Adea... Adea, tenang. Ini Seoul. Angga lagi di-"

"NGGAK MAU!" Adea memeluk boneka panda di sampingnya erat-erat. Matanya menyipit ke arah Seoul dengan ekspresi curiga. "MauNYA ANGGAAAA~!!"

"Tapi Angga lagi masak, bentar lagi dia-"

"NGGAK MAU BENTAR! MAU SEKARANG! ANGGAAAAAA~!!"

Seoul Lee mundur selangkah.

Ia belum pernah melihat sisi Adea yang ini. Gadis yang semalam ia kenal sebagai sosok manis, periang, dan ramah, sekarang berubah menjadi... singa kecil yang kehilangan induknya.

"Oke... oke..." Seoul mengangkat kedua tangan. "Aku panggilkan Angga."

Ia berbalik.

Tapi belum sempat melangkah, Seoul sudah melihat bayangan tinggi di belakangnya.

Angga berdiri di ambang pintu.

Celemek biru sudah ia lepas dan ia lipat asal, kini hanya tersisa kemeja lengan panjang yang sedikit basah di bagian ujung karena ia baru saja mencuci tangan. Wajahnya tidak panik, tapi matanya bergerak cepat mengamati situasi: Adea yang duduk dengan mata berkaca-kaca, Seoul yang berdiri canggung di tengah ruangan, dan kekacauan yang terjadi di atas kasur.

"Udah," ucap Angga pada Seoul. Tidak marah. Hanya tegas.

Seoul mengangguk. Ia berjalan keluar, tanpa sepatah kata pun, menutup pintu kamar sedikit tidak rapat, seperti kebiasaan Angga.

---

Di dalam kamar.

Angga mendekati kasur.

Setiap langkahnya terasa berat, tapi lembut. Ia duduk di tepi kasur, tepat di samping Adea yang masih duduk dengan wajah cemberut dan mata berkaca-kaca.

Begitu Angga duduk, Adea langsung merentangkan kedua tangannya.

Seperti anak kecil yang minta digendong.

Seperti burung kecil yang membuka sayap.

Angga tidak bicara. Ia hanya meraih tubuh Adea, menariknya ke atas pangkuannya. Gadis itu duduk di pangkuan Angga dengan posisi menyamping, kepala bersandar di dada pria itu, kaki menggantung di samping.

"Ushh ushh ushh, udah ya Dea~" bisik Angga sambil mengelus punggung Adea.

Tangannya yang besar bergerak naik turun di punggung kecil itu, lembut. Iramanya pelan, seperti orang menenangkan bayi.

Adea masih terisak kecil. Air matanya tidak jatuh, tapi ada suara tangis yang tertahan di tenggorokannya.

"Dea bangun-bangun gak nemu Angga," ucapnya dengan suara parau. "Dea pikir Angga beneran hilang~"

"Gue di dapur. Masak nasi goreng."

"Tapi Dea kaget. Harusnya kan Angga ada di samping-" Adea berhenti.

Ia sadar.

Oh.

Ia sadar bahwa semalam mereka tidur bersama. Di kasur yang sama. Di selimut yang sama. Dan pagi ini ia bangun sendirian, dengan boneka panda di pelukan, bukan Angga.

"Biasanya gimana?" tanya Angga pelan, pura-pura tidak tahu.

Adea mengubur wajahnya di dada Angga. "Gak jadi. Lupa."

"Bohong."

"Iya. Gue bohong."

Angga tersenyum kecil. Tangannya naik ke kepala Adea, mengelus rambut kusutnya dengan lembut.

"Nanti kalo bangun dan gak nemu gue, lu teriak aja. Gue pasti dateng."

"Janji?"

"Janji."

Adea akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya masih merah, hidungnya masih mendengus kesal. Tapi senyum kecil mulai muncul di sudut bibirnya.

"Angga."

"Hmm."

"Cium."

"Cium apa?"

"Dahi. Biar Dea semangat."

Angga menatap Adea lama. Gadis itu memejamkan matanya, menunggu.

Angga menunduk.

Bibirnya menyentuh dahi Adea. Lama. Lembut.

Ketika ia menarik wajahnya, Adea masih memejamkan mata. Pipinya merona.

"Udah. Sekarang cuci muka. Sarapan," ucap Angga sambil menepuk pundak Adea.

Adea membuka matanya. Tersenyum lebar.

"Iya, Ayah~"

"Jangan manggil ayah."

"Iya, Mas~"

"Jangan manggil mas."

"Iya, Sayang~"

Angga terdiam.

Adea tertawa kecil, melompat dari pangkuannya, lalu berlari kecil menuju kamar mandi dengan langkah ceria seperti anak ayam.

Di pintu kamar mandi, ia menoleh.

"Angga, nasi gorengnya jangan gosong!"

"Udah gue matikan apinya dari tadi."

"Pinter!"

Adea masuk ke kamar mandi. Pintu tertutup.

Angga masih duduk di tepi kasur. Ia menatap pintu kamar mandi yang tertutup, lalu menunduk, melihat boneka panda yang tergeletak di lantai.

Ia mengambil boneka itu, menepuk-nepuknya bersih, lalu meletakkannya kembali di atas kasur.

"Jagain dia ya," bisiknya pada boneka panda.

Lalu ia berdiri dan berjalan keluar kamar.

---

Di dapur.

Seoul Lee sudah menghabiskan kopinya. Ia duduk dengan tangan bersilang di dada, senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Udah tenang?" tanyanya.

"Udah."

"Adea itu..." Seoul mencari kata. "Lucu."

"Jangan bilang lucu."

"Kenapa?"

"Nanti dia makin jadi-jadi."

Seoul tertawa. "Kamu tuh overprotektif banget sama dia, Angga."

Angga tidak menjawab. Ia kembali ke kompor, menyalakan api kecil, dan melanjutkan memasak nasi goreng yang sempat ia tinggalkan.

"Kapan kamu mau bilang ke dia?" tanya Seoul tiba-tiba.

Angga berhenti mengaduk.

"Bilang apa?"

"Bilang kalau kamu cinta sama dia."

Sunyi...

Hanya suara minyak yang mendesis di wajan.

"Belum waktunya," jawab Angga akhirnya.

"Kapan waktunya? Pas dia diambil cowok lain?"

"Seoul."

"Iya iya. Aku diem."

Seoul mengangkat kedua tangan. Tapi senyumnya masih tersimpan.

Dari lorong, terdengar suara langkah kecil dan suara Adea yang bersenandung tidak jelas. Gadis itu muncul dengan wajah segar, rambut diikat dua kepang, piyama diganti dengan seragam kampus.

"Selamat pagi, Seoul!" sapanya ceria.

"Selamat pagi, Adea." Seoul tersenyum balik. "Muka lu udah gak sembab."

"Abis cuci muka pake air es biar cepet ilang." Adea duduk di kursi di seberang Seoul. Matanya langsung tertuju ke wajan. "Nasi goreng udah jadi, Angga?"

"Bentar."

"Pake udang kan?"

"Iya."

"YAY!"

Adea bertepuk tangan. Kakinya bergoyang-goyang di bawah meja.

Seoul mengamati interaksi mereka berdua. Angga yang sibuk di dapur tapi sesekali melirik ke arah Adea. Adea yang duduk manis di meja makan sambil memainkan ponsel, sesekali menengok ke dapur hanya untuk memastikan Angga masih ada di sana.

Mereka ini..., pikir Seoul, ...sudah seperti suami istri.

Ia tersenyum dan mengambil kopi lagi.

Sarapan pagi itu terasa hangat.

---

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!