NovelToon NovelToon
Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.

Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.

Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 - Pembungkaman

Kemenangan tipis itu seharusnya menjadi awal yang baik bagi siapa pun yang mencoba bangkit dari titik terendah, tetapi di Arvandor, perubahan yang datang terlalu cepat sering kali memancing reaksi yang tidak diinginkan. Lingkungan tempat itu tidak memberi ruang bagi seseorang untuk naik tanpa diuji, terlebih jika kenaikan itu terjadi di hadapan banyak mata. Apa yang terlihat seperti keberhasilan bisa dengan mudah berubah menjadi sumber masalah baru.

Keesokan harinya, suasana di area luar akademi terasa berbeda meskipun aktivitas berjalan seperti biasa. Orang-orang tetap berlatih, berbicara, dan berlalu lalang, tetapi perhatian mereka tidak sepenuhnya berada pada kegiatan masing-masing. Tatapan yang mengarah pada satu sosok terasa lebih sering muncul, seolah ada sesuatu yang sedang dipertimbangkan bersama tanpa perlu dibicarakan secara terbuka.

Nama Alverion Dastan kembali disebut, kali ini tidak lagi dalam bentuk ejekan yang ringan, melainkan dalam bisikan yang membawa nada curiga. Perubahan itu tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi menyebar perlahan, seperti api kecil yang dibiarkan merambat tanpa segera dipadamkan.

“Dia curang.”

“Katanya pakai trik licik.”

“Ada yang bilang dia menyembunyikan sesuatu.”

Alverion mendengar semua itu saat berjalan melewati jalan tanah yang sama seperti hari sebelumnya, langkahnya tetap stabil tanpa menunjukkan reaksi berlebihan. Ia tidak berhenti, tidak juga mempercepat, seolah suara-suara itu hanya bagian dari latar yang tidak perlu ditanggapi. Namun di balik sikap tenangnya, pikirannya mencatat setiap perubahan dengan jelas, memahami arah dari mana semua ini berasal.

Ia tahu bahwa kekalahan di depan banyak orang tidak mudah diterima, apalagi bagi mereka yang terbiasa menjaga citra. Rhevan mungkin sudah mengakui hasil pertarungan itu, tetapi orang-orang di sekitarnya tidak memiliki kewajiban untuk melakukan hal yang sama. Dalam lingkungan seperti ini, menjaga harga diri sering kali lebih penting daripada mengakui kebenaran yang tidak menguntungkan.

Alverion berhenti di depan sumur kecil di pinggir jalan, tempat yang jarang diperhatikan oleh kebanyakan orang. Ia menimba air dengan gerakan yang tenang, lalu membasuh wajahnya, membiarkan dinginnya air menenangkan pikiran yang mulai menyusun gambaran situasi. Sensasi itu sederhana, tetapi cukup untuk memberinya waktu sejenak sebelum langkah berikutnya diambil.

Ini bukan sekadar gosip yang akan hilang dengan sendirinya, karena arah pembicaraan itu sudah mulai membentuk opini. Jika dibiarkan, hal ini akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih sulit dikendalikan. Ia tidak bisa mengabaikannya sepenuhnya, tetapi juga tidak bisa terburu-buru dalam merespons.

Langkah kaki terdengar mendekat dari belakang, diikuti suara yang sudah ia kenali.

“Jadi kamu di sini.”

Alverion menoleh tanpa tergesa, melihat salah satu pengikut Rhevan berdiri beberapa langkah darinya. Wajah pemuda itu tampak tajam dengan sorot mata yang tidak berusaha menyembunyikan ketidaksukaan.

Lorian Vex.

Ia tidak sendirian, karena dua orang lain berdiri sedikit di belakang, menjaga jarak seolah tidak ingin terlalu mencolok tetapi tetap jelas berada dalam satu kelompok. Kehadiran mereka tidak sulit untuk dimengerti, terutama setelah apa yang terjadi kemarin.

“Ada yang ingin kamu katakan?” tanya Alverion dengan nada datar yang tidak memberi ruang untuk provokasi.

Lorian tersenyum tipis, tetapi ekspresi di matanya tetap dingin dan penuh penilaian. Ia melangkah lebih dekat, cukup untuk memastikan suaranya terdengar jelas oleh orang-orang di sekitar yang mulai memperhatikan.

“Kami hanya ingin memastikan sesuatu.”

Alverion tidak menjawab, hanya menunggu kelanjutan dengan sikap yang sama tenangnya.

“Pertarungan kemarin. Kamu benar-benar menang dengan kemampuanmu sendiri?”

Pertanyaan itu terdengar ringan, tetapi maksud di baliknya tidak perlu dijelaskan lagi. Tuduhan itu sudah tersirat, dan cara penyampaiannya jelas ditujukan untuk didengar oleh lebih banyak orang.

Alverion mengangkat ember air, menuangkannya kembali ke sumur sebelum akhirnya menatap Lorian dengan lebih fokus.

“Kamu ada di sana. Kamu bisa menilai sendiri.”

Lorian mendecak pelan, seolah jawaban itu tidak memuaskannya.

“Itu masalahnya. Kami melihat sesuatu yang aneh.”

Nada suaranya sedikit dinaikkan, cukup untuk menarik perhatian lebih luas. Orang-orang yang sebelumnya hanya melintas mulai berhenti, membentuk lingkaran kecil tanpa perlu diminta.

“Kamu bergerak seperti orang yang menyembunyikan sesuatu. Seolah ada bantuan yang tidak terlihat.”

Bisikan mulai muncul kembali, kali ini lebih terarah. Opini yang sebelumnya samar mulai menemukan bentuknya, dan beberapa orang tampak mulai mengangguk, seolah penjelasan itu masuk akal bagi mereka.

Alverion tidak langsung menjawab, ia justru memperhatikan wajah-wajah di sekitarnya. Ia melihat bagaimana rasa penasaran dengan cepat berubah menjadi keraguan, dan bagaimana keraguan itu bisa berkembang menjadi keyakinan tanpa dasar yang kuat. Situasi ini tidak lagi tentang benar atau salah, melainkan tentang siapa yang lebih dulu mengendalikan cerita.

“Kamu ingin apa?” tanyanya akhirnya.

Lorian tersenyum lebih lebar, jelas sudah menunggu pertanyaan itu.

“Ulangi pertarungan. Kali ini tanpa trik.”

Beberapa orang langsung menyambut ide itu, seolah mereka memang menunggu kesempatan untuk melihat bukti yang lebih jelas.

“Iya, ulangi saja.”

“Buktikan kalau dia memang kuat.”

Tekanan mulai terbentuk, bukan dalam bentuk ancaman langsung, tetapi melalui dorongan yang datang dari banyak arah. Alverion memahami bahwa menolak hanya akan memperkuat rumor, sementara menerima berarti masuk ke dalam permainan yang sudah disiapkan.

Ia memperhatikan cara Lorian berdiri, santai namun penuh keyakinan, seolah hasil dari situasi ini sudah bisa diprediksi sejak awal. Dua orang di belakangnya juga tidak sepenuhnya diam, meski mereka berusaha terlihat seperti penonton biasa.

Alverion menghela napas pelan, menyadari bahwa pilihan yang ia ambil akan membawa konsekuensi apa pun hasilnya.

“Baik.”

Senyum Lorian melebar, seolah itulah jawaban yang ia harapkan.

Area pelatihan kembali dipenuhi orang dalam waktu singkat, tetapi suasananya tidak sama seperti hari sebelumnya. Kali ini lebih tegang, lebih sunyi, seolah semua orang ingin melihat sesuatu yang lebih dari sekadar hasil pertarungan biasa.

Alverion berdiri di tengah arena, berhadapan langsung dengan Lorian. Di pinggir, dua orang lain berdiri dengan posisi yang tidak terlalu mencolok, tetapi cukup dekat untuk ikut memengaruhi jalannya pertarungan jika diperlukan.

Ia memutar pedang kayu di tangannya, merasakan kondisi tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih. Energi di dalamnya masih terbatas, dan luka dari pertarungan sebelumnya belum sepenuhnya hilang. Ia tahu ini bukan kondisi ideal, tetapi tidak ada ruang untuk mengeluh.

Lorian mengangkat pedangnya, sorot matanya lebih serius dibanding sebelumnya.

“Mulai?”

Alverion mengangguk pelan.

Pertarungan dimulai tanpa aba-aba.

Lorian bergerak lebih cepat dari yang ia perkirakan, serangannya langsung menekan tanpa memberi ruang untuk mengatur ritme. Alverion menangkis, tetapi tekanan itu terasa lebih berat, memaksanya mundur satu langkah untuk menjaga keseimbangan.

Serangan berikutnya datang tanpa jeda, memaksa Alverion bertahan di bawah tekanan yang terus meningkat. Namun di tengah pertahanan itu, ia mulai menyadari sesuatu yang tidak beres.

Dari sudut matanya, ia melihat gerakan kecil di pinggir arena, sesuatu yang mungkin tidak akan diperhatikan oleh orang lain. Salah satu dari dua orang itu sedikit menggerakkan tangan, dan sebuah batu kecil menggelinding ke arah kakinya.

Langkah Alverion terganggu sesaat, hampir membuatnya kehilangan keseimbangan. Serangan Lorian datang tepat pada saat itu, nyaris mengenai bagian tubuh yang terbuka.

Penonton tidak menyadari apa yang terjadi, tetapi Alverion memahami situasinya dengan jelas. Ini bukan pertarungan yang bersih, dan jika ia tidak menyesuaikan diri, ia akan kalah bukan karena kemampuan.

Ia mundur lagi, menciptakan jarak sambil memaksa pikirannya bekerja lebih cepat. Kali ini, ia tidak hanya fokus pada lawan di depannya, tetapi juga pada lingkungan di sekitarnya.

Setiap gerakan kecil.

Setiap perubahan posisi.

Semua diperhatikan.

Lorian menyerang lagi, tetapi Alverion mulai bergerak dengan pendekatan berbeda. Ia tidak hanya menangkis dan menghindar, tetapi juga membaca pola yang terbentuk di sekelilingnya.

Langkahnya tidak lagi lurus, melainkan mulai mengarah ke sisi tertentu, seolah ia mundur tanpa tujuan yang jelas. Penonton mulai bersuara lagi, mengira ia kembali terdesak seperti sebelumnya.

“Dia tidak bisa bertahan lama.”

“Lebih buruk dari kemarin.”

Lorian semakin percaya diri, serangannya menjadi lebih terbuka karena merasa menguasai keadaan. Ia tidak menyadari bahwa posisi mereka perlahan berubah, mendekati titik di mana dua orang itu berdiri.

Saat salah satu dari mereka kembali mencoba mengganggu dengan batu kecil, Alverion sudah siap. Ia sengaja menginjaknya, membiarkan tubuhnya goyah seolah benar-benar kehilangan keseimbangan.

Lorian melihat celah itu dan langsung menyerang dengan penuh tenaga, yakin bahwa ini adalah kesempatan untuk mengakhiri semuanya.

Namun di saat yang sama, Alverion memutar tubuhnya, mengubah arah benturan dengan sudut yang tidak biasa. Tenaga dari serangan itu terdorong ke samping, mengarah ke sisi tempat orang itu berdiri.

Benturan keras terdengar, dan Lorian kehilangan keseimbangan.

Orang di pinggir terkejut, mundur dengan panik, tidak menyangka akan ikut terlibat secara langsung.

Penonton langsung ribut, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

Alverion tidak memberi waktu.

Ia maju dengan langkah cepat, memanfaatkan momen yang hanya muncul sesaat. Serangannya tidak kuat, tetapi cukup tepat untuk mengenai titik yang menentukan.

Pedangnya menyentuh leher Lorian.

Semua kembali diam.

Lorian membeku, napasnya tertahan saat menyadari posisi yang tidak menguntungkan itu. Ia menatap Alverion dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, antara marah dan terkejut.

Alverion berdiri di depannya, napasnya berat, tetapi tatapannya tetap stabil.

“Cukup?” katanya pelan.

Beberapa detik berlalu tanpa jawaban, sebelum bisikan kembali muncul di antara penonton.

“Dia membaca semuanya.”

“Itu bukan kebetulan.”

“Dia sengaja.”

Lorian menurunkan pedangnya perlahan, matanya sempat melirik ke arah temannya sebelum kembali ke Alverion. Namun kali ini, ia tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan.

Alverion menurunkan pedangnya dan melangkah mundur satu langkah, memberi jarak yang cukup.

“Kalau kamu masih ingin lanjut, kita bisa.”

Nada suaranya tetap tenang, tetapi maknanya jelas.

Lorian menggertakkan gigi, lalu berbalik tanpa menjawab. Ia berjalan keluar dari arena dengan langkah cepat, diikuti oleh dua orang lainnya yang kini tidak lagi terlihat percaya diri.

Kerumunan mulai bubar, tetapi suasana yang tertinggal tidak sama seperti sebelumnya. Percakapan yang muncul membawa nada yang berbeda, tidak lagi dipenuhi keraguan yang sama.

“Dia bukan cuma kuat.”

“Dia memperhatikan segalanya.”

Alverion berdiri sendiri di tengah arena, merasakan kelelahan yang lebih dalam dibanding sebelumnya. Tubuhnya memberi sinyal bahwa ia sudah mendorong batasnya, tetapi pikirannya justru terasa lebih jernih.

Ia memahami sesuatu yang lebih penting dari sekadar kemenangan.

Dunia ini tidak berjalan dengan aturan yang adil, dan bertahan berarti mampu membaca permainan yang tidak terlihat.

Ia mengangkat pandangannya ke langit yang mulai meredup, membiarkan napasnya kembali stabil sebelum akhirnya berbalik.

Langkahnya masih berat, tetapi lebih pasti.

Perubahan yang terjadi bukan hanya pada kekuatannya, melainkan pada cara ia melihat setiap situasi yang dihadapi. Dan di tempat seperti Arvandor, pemahaman itu bisa menjadi senjata yang jauh lebih berbahaya dibanding sekadar tenaga.

1
Manusia Ikan
bruh bro punya sistem, dan akan menjadi OP
Manusia Ikan
dadah pecundang😏👋
Manusia Ikan
😌👉itu tragis, tapi aku suka. aku akan menambahkan kejadian yang serupa di karya ku juga. karena aku memerlukan karakter baru
Manusia Ikan
bro anda sudah menjelaskan bagian ini :v
Manusia Ikan
baiklah aku mulai tertarik. aku akan mengikutinya perlahan lahan😌👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!