Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Besi Berkarat dan Tarian Bintang Orion
Insting Dr. Lyra Andini terbukti mutlak. Lima ratus meter dari patung Makara pertama, mereka menemukan batu penunjuk kedua. Lalu yang ketiga.
Tepat pukul 04.15 pagi, kabut tebal yang menyelimuti lantai hutan mulai terbelah, menyingkap sebuah struktur masif yang seolah tumbuh dari perut bumi. Reruntuhan kuil Sandi Kala berdiri angkuh dalam keheningan yang mencekam. Akar-akar raksasa pohon beringin mencekik pilar-pilar batu andesit yang berlumut, menelan sebagain besar fasad kuil. Di bagian tengahnya, sebuah gerbang batu raksasa tertutup rapat, dihiasi ukiran relief kuno yang rumit.
Namun, bukan keindahan arsitektur purba itu yang membuat darah Lyra membeku.
Di pelataran kuil, di bawah temaram lampu sorot portabel, sekitar lima belas tentara bayaran bersenjata berat sedang berjaga. Beberapa dari mereka sedang memasang peledak C4 di engsel-engsel pintu batu raksasa tersebut.
Di balik rimbunan semak yang berjarak tiga puluh meter, Rayyan memberikan isyarat tangan agar seluruh tim tiarap. Lyra menjatuhkan dirinya ke tanah basah, menahan napasnya.
“Mereka menyerah untuk meretasnya secara manual,” bisik Letnan Jati melalui saluran komunikasi internal yang disetel sangat rendah. “Mereka akan meledakkan pintunya lima menit lagi.”
Rahang Rayyan mengeras. “Jika pintu itu diledakkan, mekanisme hidrolik di dalamnya akan runtuh, menyemprotkan gas saraf mematikan ke seluruh radius kuil, dan menghancurkan senyawa biokimia di bunker bawah. Kita tidak punya waktu.”
Rayyan menoleh ke arah Lyra yang berbaring tengkurap di sampingnya. Mata gadis itu membelalak di balik kacamata yang kotor, menatap lurus kearah C4 yang menempel di artefak impiannya.
“Dokter,” suara Rayyan sedingin es. “Saat baku tembak dimulai, kau tetap disini bersama Kopral Dito. Jangan angkat kepalamu meski dunia runtuh. Saat perimeter aman, aku akan menjemputmu untuk membuka pintu itu.”
“T-tapi C4 itu…” Lyra tergagap. “Getaran dari tembakan bisa memicu sensor seismik pada peledak rakitan mereka!”
Mata obsidian Rayyan menyipit. “Maka kita pastikan tidak meleset.”
Rayyan mencabut pisau taktis Ka-Bar dari sarung di dadanya, lalu menatap Jati. “Gunakan peredam suara. Eksekusi senyap. Targetkan para breacher (pemasang bom) terlebih dahulu. Bergerak.”
Dalam sekejap, bayangan-bayangan hitam dari Tim Alpha melesat menyebar, Lyra hanya bisa bergetar di tempatnya, dijaga oleh Kopral Dito yang membidikkan senapannya ke arah pelataran.
Apa yang terjadi selanjutnya adalah tarian kematian yang sangat efisien dan mengerikan.
Lyra menyaksikan Kolonel Rayyan menyusup dari sisi flank kiri seperti hantu. Tanpa suara, Rayyan melumpuhkan dua penjaga terluar hanya dengan sapuan pisau dan patahan leher yang terlalu cepat untuk ditangkap mata.
Pfftt! Pfftt! Pfftt!
Suara tembakan berperedam dari penembak jitu Tim Alpha menumbangkan tiga teknisi bom di depan pintu batu sekaligus. Darah terpecik ke dinding relief kuno.
Kekacauan pecah. Para tentara bayaran yang tersisa menyadari serangan itu dan mulai membalas tembakan membabi buta ke arah pepohonan. Peluru-peluru mendesing, menghancurkan dahan dan mengelupas kulit pohon di atas kepala Lyra.
“Kontak terbuka!” Teriak salah satu musuh sebelum dadanya tertembus peluru Letnan Jati.
Rayyan berada di tengah-tengah kekacauan, bergerak dengan presisi mesin mematikan. Ia menembak sambil bergerak maju, tidak membuang satu peluru pun dengan percuma. Posturnya kokoh tak tertembus. Dalam waktu kurang dari tiga menit, pelataran kuil berubah menjadi ladang pembantaian. Kelima belas tentara bayaran tumbang.
“Perimeter aman! Area Clear!” Seru Jati, senapannya masih menyaput sudut-sudut gelap kuil.
Rayyan tidak membuang waktu. Ia berlari kembali ke arah semak tempat Lyra bersembunyi. Tangannya yang besar meraih kearah belakang rompi Lyra, menariknya berdiri.
“Ayo. Waktu kita habis.”
Lyra tersandung langkahnya sendiri saat Rayyan setengah menyeretnya melintasi pelataran kuil yang dipenuhi mayat. Bau tembaga dari darah segar bercampur dengan aroma mesiu membuat perut Lyra bergejolak. Ia memejamkan mata, memfokuskan pikirannya pada satu hal: pintu batu.
Mereka tiba di depan gerbang raksasa itu. Jati dan dua prajurit lainnya sedang mencabut detonator C4 dengan hati-hati dari dinding.
“Area bersih, tapi kita memicu alarm internal mereka,” lapor Jati tegang. “Bala bantuan musuh dari kamp induk mereka berjarak kurang dari sepuluh menit dari sini.”
Rayyan menatap Lyra. “Sepuluh menit, Dokter. Lakukan keajaibanmu.”
Lyra berdiri menatap pintu batu setinggi tiga meter itu. Di dunia nyata, ukirannya jauh lebih rumit dan mengintimidasi daripada di foto tablet. Celah-celah hidrolik dibaliknya berdesis pelan, menandakan tekanan air dan gas yang telah terkunci selama tiga abad.
Tangannya gemetar hebat. Ia merogoh kantongnya, mengeluarkan kacamata cadangan dan senter kepala. Pikirannya mendadak kosong. Bagaimana jika ia salah? Bagaimana jika ia membunuh semua orang di sini?
Ia mengangkat tangannya untuk menyentuh lempengan batu pertama, tetapi jari-jarinya bergetar tak terkendali. Napasnya mulai pendek-pendek. Serangan panik mulai merayap naik ke tenggorokannya.
Tiba-tiba, sebuah kehangatan yang kokoh menyelimuti punggungnya.
Rayyan melangkah maju, berdiri tepat di belakang Lyra hingga dada bidangnya nyaris menyentuh punggung gadis itu. Pria itu menyarungkan senapannya. Dua tangan Rayyan yang besar, terbungkus sarung tangan taktis yang kasar, terulur dari belakang dan mengenakan kedua tangan Lyra yang gemetar di udara.
Lyra tersentak kecil, mendongak melalui sudut matanya. Wajah Rayyan tepat di samping telinganya.
“Fokus pada suaraku, Lyra,” bisik Rayyan rendah, ritme napasnya yang tenang dan berat mengalahkan suara desingan angin di reruntuhan kuil. Ini pertama kalinya pria itu memanggil nama depannya tanpa embel-embel jabatan. “Lupakan mayat di belakangmu. Lupakan musuh yang sedang menuju kemari. Lupakan waktu.”
Genggaman tangan Rayyan tidak menyakiti, melainkan menyalurkan kekuatan yang pasti.
“Kau bukan berada di zona perang,” lanjut Rayyan, nada suaranya berubah menjadi jangkar yang menarik kesadaran Lyra kembali dari jurang kepanikan. “Kau sedang berada di museum-mu yang aman, menganalisis sejarah yang kau cintai. Tunjukkan padaku apa yang bisa kau lakukan.”
Ajaibnya, detak jantung Lyra mulai melambat. Gemetar di tangannya perlahan menghilang. Ia menarik napas panjang, bau peppermin dan mesiu dari Rayyan menenangkannya.
“Lepaskan tanganku, Kolonel. Saya siap,” ucap Lyra mantap.
Rayyan melepaskan tangannya, tetapi tidak mundur satu inci pun, tetap menjadi perisai hidup bagi Lyra.
Mata Lyra menyipit tajam. Otak jeniusnya kini bekerja seratus persen. Ia menatap konstelasi rasi bintang Orion yang terpahat di atas pintu. Ada tujuh bintang utama. Di bawahnya, terdapat enam pelat batu yang berfungsi sebagai tombol tuas hidrolik.
“Sistem ini menggunakan penyeimbang air dari sungai bawah tanah,” gumam Lyra cepat, berbicara pada dirinya sendiri. Tangannya bergerak menyusuri relief batu yang dingin. “Kunci utamanya bukan sekedar menekan pelat secara berurutan, tapi menahan tekanannya berdasarkan seberapa terang bintang tersebut di langit malam.”
Lyra menekan pelat pertama dengan telapak tangan kanannya. Terdengar bunyi klik logam yang berat dari dalam dinding. Desisan gas beracun seketika keluar dari celah kecil di atas mereka, menyengat hidung.
“Satu kesalahan tekan, ruangan ini akan menjadi kamar gas,” bisik Lyra, keringat dingin menetes di pelipisnya.
“Kolonel! Pasukan musuh terlihat di sektor selatan! Mereka membawa peluncur roket RPG!” Teriak Jati dari garis pertahanan. Baku tembak kembali pecah di kejauhan, jauh lebih intens dari sebelumnya.
“Tahan posisi! Beri dia waktu!” Raung Rayyan ke radio komunikasi, sebelum kembali memfokuskan seluruh perhatiannya pada Lyra. “Jangan hiraukan mereka. Teruskan.”
Lyra menggunakan kedua tangannya sekarang. Ia menekan pelat kedua dan ketiga secara bersamaan. Klik. Klik. Suara gemuruh air bawah tanah mulai terdengar mendidih dari balik dinding. Pintunya masih terkunci rapat.
“Bintang keempat dan kelima… Betelguese dan Rigel,” Lyra bergumam, otaknya berhitung kalkulasi tekanan massa. Ia harus menekan dua pelat di ujung yang berjauhan secara bersamaan, tetapi tangannya tidak sampai.
“Kolonel, letakkan telapak tangan Anda di pelat sebelah kiri atas,” perintah Lyra tanpa menoleh. Kepemimpinan beralih seketika. Di dunia sejarah, Lyra adalah jenderalnya. “Tekan saat saya bilang tekan, dan tahan tekanannya seberat mungkin.”
Rayyan menurut tanpa ragu. Ia menempelkan tangannya di pelat bahu berlumut itu.
“Satu… dua… tekan!” Seru Lyra sambil menekan pelat di ujung kanan bawah.
Bunyi logam bergerigi yang saling bergesekan bergema keras. Pintu batu raksasa itu bergetar. Debu dan serpihan batu kuno berjatuhan dari langit-langit.
BOOM! Sebuah ledakan RPG menghantam salah satu pilar kuil di belakang mereka, meruntuhkan sebagian atap. Serpihan batu tajam melesat ke arah mereka.
Rayyan langsung mencondongkan tubuhnya ke depan, memeluk Lyra dari belakang dengan satu lengan bebasnya, melindunginya dari hujan puing batu, sementara tangannya yang satu lagi masih menekan pelat batu dengan kekuatan penuh sesuai instruksi Lyra.
“Terakhir,” Lyra terbatuk akibat debu ledakan, matanya perih, namun fokusnya tak goyah. “Bintang pusat, Sabuk Orion. Ini kunci pelepas hidroliknya.”
Lyra mencari pelat tengah yang tersembunyi di balik ukiran rumit. Ia menemukannya, sebuah tuas batu terbentuk silinder. Ia mendorongnya dengan seluruh sisa tenaganya.
Hening. Satu detik yang terasa seperti selamanya.
Lalu, bunyi desisan keras terdengar, disusul oleh suara legam berat yang membuka. Air bah tumpah dari celah-celah pilar, mengosongkan tekanan hidrolik. Perlahan, dengan suara gerusan batu yang memekakkan telinga, pintu gerbang berusia tiga ratus tahun itu terbelah di tengah dan bergeser terbuka, menyingkap lorong batu yang gelap gulita menuju perut bumi.
Udara dingin nan pengap berembus dari dalam bunker kuno tersebut.
Lyra tersengal, tubuhnya nyaris limbung ke belakang karena kehabisan tenaga. Rayyan menangkap pinggangnya dengan sigap, menahannya agar tidak jatuh.
“Bagus sekali, Dokter,” bisik Rayyan di telinganya.
“Mundur! Semuanya masuk ke dalam bunker!” Teriak Rayyan memberi komando tertinggi. Pasukan musuh mulai merangsek maju ke pelataran, jumlah mereka terlalu banyak.
Jati dan sisa Tim Alpha berlari mundur sambil terus melepaskan tembakan perlindungan, menerobos masuk melewati celah pintu batu. Rayyan mengangkat Lyra—yang kakinya sudah menolak bekerja sama—seperti mengangkat boneka ringan, memeluknya erat di dada, dan berlari menembus kegelapan bunker kuno tersebut, tepat saat rentetan peluru musuh menghantam dinding batu di belakang mereka.
Terdengar bunyi tuas otomatis. Tanpa tekanan hidrolik penahan dari luar, pintu batu raksasa itu perlahan menutup kembali dengan sendirinya, menyegel mereka di dalam labirin bawah tanah, memisahkan mereka dari pasukan musuh, tetapi menjebak mereka dalam kegelapan yang sama mematikannya.