NovelToon NovelToon
PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Sistem
Popularitas:83k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.

Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.

Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.

Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUEL DIGITAL.

Malam semakin larut di Jakarta, namun di dalam kamar kerjanya yang bernuansa futuristik, Ghifari sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Jemari mungilnya menari dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik. Cahaya biru dari tiga monitor besar terpantul di lensa mata kecilnya yang tajam. Ia baru saja selesai menyalin data dari ponsel ibunya dan kini sedang menelusuri jejak sinyal yang melintasi benua.

"Sembunyi di balik peladen enkripsi militer, ya? Menarik sekali," gumam Ghifari dengan senyum miring yang terlihat sangat dewasa.

Tak butuh waktu lama bagi sang jenius cilik untuk membongkar lapisan perlindungan tersebut. Hasilnya mengejutkan. Pengirim pesan itu bukan Sherly, melainkan seseorang dengan profil yang jauh lebih berbahaya. Alexander, kakak laki-laki Sherly. Pria itu kini bersembunyi di sebuah apartemen mewah di luar negeri, memendam dendam yang membara setelah kehancuran bisnis keluarganya dan pengasingan adiknya ke pulau terpencil oleh Fardan.

Fardan masuk ke dalam kamar Ghifari dengan wajah lelah namun penuh rasa ingin tahu. Ia melihat putranya sedang fokus pada deretan kode yang rumit. "Jagoan, kenapa belum tidur? Apa yang sedang kau kerjakan?"

Ghifari tidak menoleh, matanya tetap terpaku pada layar. "Ada tikus besar yang mencoba masuk ke lumbung kita, Ayah. Namanya Alexander. Sepertinya dia tidak terima ayahnya terkena serangan jantung dan perusahaannya hancur total karena perbuatan Ayah."

Fardan tertegun dan segera mendekat. Ia menatap layar monitor yang menampilkan data pribadi Alexander dan seorang peretas bayaran terkenal yang disewa pria itu. "Alex? Aku pikir dia sudah menyerah. Jadi dia yang mengirim pesan ancaman pada Alisha tadi?"

"Benar. Dia menyewa hacker untuk meretas sistem perusahaan kita. Sekarang, mereka sedang mencoba memindahkan dana sebesar lima ratus miliar ke rekening luar negeri," jawab Ghifari dengan nada yang sangat santai, seolah hal itu bukan masalah besar.

Fardan panik dan hampir meraih ponselnya. "Lima ratus miliar? Ghifari, kenapa kau diam saja? Kita harus segera memblokirnya sekarang!"

Ghifari mengangkat tangan kecilnya, memberi isyarat agar ayahnya tenang. "Ssst, Ayah jangan berisik. Nanti Bunda dengar di dapur. Aku sengaja membiarkannya. Aku ingin dia merasa sudah menang. Biarkan dia melihat angka-angka itu masuk ke akunnya selama dua jam ke depan."

Fardan menatap putranya dengan dahi berkerut. "Kau gila? Itu uang perusahaan, Ghifari!"

"Percayalah pada anakmu ini, Ayah yang terhormat," balas Ghifari sambil melirik ayahnya sekilas. "Aku sudah memasang umpan balik. Uang itu sebenarnya tidak pernah keluar dari peladen utama kita. Yang dia lihat di layarnya hanyalah angka palsu yang aku buat agar dia merasa di atas angin."

Dua jam berlalu dengan ketegangan yang hanya dirasakan oleh Fardan, sementara Ghifari asyik mengunyah biskuit gandumnya. Di belahan bumi lain, Alexander tertawa terbahak-bahak di depan komputernya. Ia merasa sudah berhasil menghancurkan Fardan secara finansial sebagai pembalasan atas penderitaan keluarganya.

"Akhirnya, Fardan! Kau akan merangkak di bawah kakiku!" teriak Alexander dengan penuh kemenangan.

Namun, tepat saat jarum jam menunjukkan pukul dua pagi, Ghifari meletakkan biskuitnya. "Waktunya panen, Ayah. Perhatikan ini."

Dengan satu tekanan tombol Enter yang mantap, Ghifari meluncurkan serangan balik. Seketika, layar komputer Alexander berubah menjadi hitam dan muncul logo wajah bayi yang sedang tertawa. Dana yang tadinya terlihat di rekening Alex lenyap dalam sekejap, dan yang lebih mengerikan, seluruh aset pribadi Alex yang tersisa di luar negeri mulai terkunci satu per satu.

"Apa yang terjadi! Kenapa sistemnya terkunci!" teriak Alexander dengan histeris saat melihat peretas bayarannya menyerah karena komputernya meledak akibat beban data yang dikirim Ghifari.

Di Jakarta, Ghifari menyandarkan punggungnya di kursi dengan puas. "Aku baru saja membalikkan sistemnya. Sekarang, seluruh dana pribadinya sudah aku bekukan dan bukti keberadaannya aku kirimkan ke Interpol atas tuduhan pencucian uang dan serangan siber internasional."

Fardan melongo tidak percaya. Ia melihat di layar bagaimana Ghifari mengendalikan segalanya dengan begitu presisi. "Kau benar-benar menakutkan, Nak. Aku tidak tahu harus bangga atau merasa kasihan pada Alexander."

"Jangan kasihani dia, Ayah. Dia ingin menyakiti Bunda. Siapa pun yang membuat Bunda sedih, tidak akan aku biarkan tidur nyenyak," ucap Ghifari dengan suara kecil namun penuh penekanan.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Alisha masuk membawa dua gelas susu hangat. "Kenapa kalian berdua belum tidur? Apa yang sedang kalian diskusikan seserius itu?"

Fardan dengan cepat berdiri dan menghalangi pandangan Alisha ke arah monitor, sementara Ghifari dengan sigap mengganti layar kodenya menjadi gambar kartun kucing yang sedang bermain bola.

"Ah, ini sayang, Ghifari sedang memamerkan kemampuannya menggambar digital padaku," bohong Fardan sambil tersenyum kaku.

Alisha menyipitkan mata, merasa ada yang aneh. "Menggambar digital sampai jam dua pagi? Dan wajahmu terlihat berkeringat, Fardan. Ada apa sebenarnya?"

Ghifari turun dari kursinya dan menghampiri ibunya, lalu memeluk kaki Alisha dengan wajah polos yang sangat menggemaskan. "Ayah tadi kalah main game denganku, Bunda. Dia jadi stres karena skornya jauh di bawahku. Makanya Ayah minta diajarkan cara main yang benar."

Alisha mengelus rambut Ghifari sambil tertawa kecil. "Oh, jadi itu sebabnya. Fardan, kau ini sudah tua jangan terlalu kompetitif dengan anak sendiri. Ayo, segera tidur. Besok kita harus ke kantor cabang."

Setelah Alisha keluar dari kamar, Fardan mengembuskan napas lega dan menatap Ghifari dengan tajam. "Tadi itu hampir saja. Dan apa kau bilang tadi? Aku payah dalam bermain game?"

Ghifari hanya mengangkat bahu sambil berjalan menuju tempat tidurnya. "Itu alasan yang paling logis untuk menyelamatkan muka Ayah di depan Bunda. Lagipula, Ayah memang tidak jago dalam hal teknologi, kan?"

Fardan mendengus, namun ia tidak bisa marah. Ia mendekati putranya dan menyelimutinya. "Terima kasih, Ghifari. Kau sudah melindungi kami semua malam ini. Tapi janji pada Ayah, jangan lakukan hal berbahaya seperti ini sendirian lagi."

"Selama mereka tidak menyentuh Bunda, aku akan diam, Ayah. Tapi jika mereka berani muncul lagi, aku akan memastikan mereka bahkan tidak bisa menyalakan lampu di rumah mereka sendiri," balas Ghifari sebelum memejamkan mata.

Fardan keluar dari kamar dengan perasaan campur aduk. Ia tahu ancaman dari Alexander mungkin belum berakhir sepenuhnya, karena pria itu pasti akan mencari cara lain untuk membalas dendam. Namun, melihat kehebatan Ghifari, Fardan merasa sedikit lebih tenang. Ia harus memastikan bahwa keamanan fisik keluarga mereka juga diperketat, karena ia tahu Alex bukan tipe orang yang hanya bermain di dunia digital.

Di kegelapan malam, Alexander yang sudah kehilangan segalanya bersumpah di depan rumah sakit tempat ayahnya koma. "Ini belum selesai, Fardan. Jika aku tidak bisa menghancurkan hartamu, aku akan menghancurkan apa yang paling kau cintai."

1
Rahmawati Amma
kayanya ibu tiri tuh maklampir si ratnasari
Rahmawati Amma
fardan katanya jenius kok ngak cari tau kebenarannya malah langsung nuduh 🤣
Nanik Arifin
semoga setelah tinggal di Indonesia lagi, Fahmi tahu kebenarannya & berubah sikap + mau hijrah memperdalam agama spt adiknya. bgmnpun ada darah mama Ratih yg lembut mengalir di tubuhnya
Yanrina Savitri
Tikus berdasi ya Ghifari
Yanrina Savitri
Bukankah Maya ini punya anak dr suaminya yg jahat itu. Dimn anak2 nya skrng? Apa dibawa suaminya?
Yanrina Savitri
Abis dr parapat keberastagi lg thor. Daerah pegunungan ini
Yanrina Savitri
Thor mo nanya apakah author orang batak atau orang medan melayu?
Ramanda.: Saya suku Minang, tinggal di Medan kak.
total 1 replies
Yanrina Savitri
Tapi kl naik kebderaan bisa sewa mibil dr medan. Medan parapat ditempuh skitar 2 jam 45 menit dr medan. Skrng sdh ada tol yg menghubungkan medan sp siantar. Dr siantar parapat 30 menit. Hitung2 kl naik pswt dr jakarta bisa lbh lama .
Yanrina Savitri
+5 Bandara terdekat dari Parapat adalah Bandar Udara Sibisa (sekitar 15 km, 30-45 menit). Namun, bandara utama yang paling sering digunakan wisatawan dengan konektivitas penerbangan lebih baik adalah Bandar Udara Internasional Sisingamangaraja XII atau sebelumnya dikenal sebagai Bandara Silangit (DTB) (sekitar 2 jam
Aghitsna Agis
kurung aja trs kasihkan kebuaya darat buat sarapanya biar aman
Lia siti marlia
bener bener yah c fahmi gak ada otaknya ...orang seperti dia harusnya di buang ke artatika🤭
Yanrina Savitri
Wang2 dikorupsi para koruptor dan yg disimpan di bank of Swiss semua balik lagi ke indonesia dibuat ghifari.
Lia siti marlia
selamat yah fajar akhirnya unboxing juga 🤭🤭🤭
Bintang 1016
jos jis pokoknya kak outhor,,,,semangat trs untuk up nya
Bintang 1016
kerennnnn💞💞👍👍👍👍
Julidarwati
badai pasti berlalu tergantung dri org mo pilih badai yg mn
Lia siti marlia
yap semangat fajar buat menghadapi badai di keluarga mu 💪💪💪😄
lili Permatasari
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Lia siti marlia
uh baru aja sah dah ada bibit pelakor 🤭untung aja langsung di hempaskan😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!