Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Kartu Nama Sang CEO dan Sabar yang Menipis
Maya menarik napas panjang, merapikan kausnya, lalu melangkah keluar menemui pria jangkung yang masih berdiri dengan gelisah di dekat balkonnya.
"Pak Dewa... Pak Dewa! Halo!" sapa Maya, mencoba mengalihkan perhatian pria itu agar tidak nekat memanjat lagi.
Dewa (35 thn) langsung menghampiri Maya dengan langkah lebar. Wajahnya yang biasa tanpa ekspresi kini tampak berantakan, dasinya sudah entah ke mana, dan sorot matanya di balik kacamata baca penuh dengan kecemasan. "Bagaimana keadaan Gisel? Dia mau bicara dengan saya?"
Maya bersedekap, menatap CEO di depannya dengan tatapan menyelidik. "Tenang, Pak. Gisel baik-baik aja, cuma matanya aja yang mirip telur ceplok gara-gara nangis. Dia cuma butuh sendiri dulu. Jadi, Bapak CEO yang terhormat, mending pulang aja dulu. Jangan bikin heboh warga sini malam-malam."
Dewa terdiam sejenak, bahu lebarnya yang tegang perlahan meluruh. Ada rasa kecewa yang mendalam, tapi ia sadar ia tidak bisa memaksa Gisel jika gadis itu belum siap. "Oh... begitu," jawab Dewa lirih, suaranya terdengar sangat parau.
Dewa merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kartu nama elegan berwarna hitam dengan tulisan emas. Ia menyodorkannya pada Maya. "Ini nomor pribadi saya. Tolong berikan kabar padanya... maksud saya, berikan kabar pada saya tentang keadaannya setiap jam."
Maya menerima kartu nama itu dengan malas. "Oke."
"Dan satu lagi," Dewa menambahkan, menatap Maya dengan tatapan mengintimidasi namun penuh permohonan. "Kalau dia butuh sesuatu, apa pun itu, langsung kabari saya. Saya akan kirimkan saat itu juga."
Maya yang sudah mulai kesal karena merasa Gisel disakiti, menjawab dengan nada sedikit menekan. "Iya, Pak! Saya tahu Bapak kaya tujuh turunan. Nanti kalau Gisel minta nasi goreng di bulan, saya telepon Bapak!"
Dewa tidak membalas sindiran Maya. Ia menatap ke arah jendela kamar lantai dua sekali lagi, menghirup udara malam yang seolah masih menyisakan sisa wangi white tea Gisel. Dengan langkah berat, ia masuk ke mobil SUV-nya dan melesat pergi, meninggalkan kesunyian di depan rumah Maya.
Di dalam kamar, Gisel yang mengintip dari balik gorden hanya bisa memejamkan mata saat melihat lampu belakang mobil Dewa menjauh.
Gisel (23 thn) masih terjaga saat Maya menyuruhnya beristirahat. Meskipun tubuhnya lelah karena drama di pesta keluarga Arutala, pikirannya masih berkelana. Wangi white tea dari tubuhnya yang biasanya menenangkan, kini terasa berat tertutup sisa rasa sedih.
"Gimana, May? Dia udah pergi?" tanya Gisel pelan, suaranya sedikit parau.
Maya menguap lebar sambil membetulkan letak bantalnya. "Udah. Dia udah pulang dengan muka yang... ya gitu, kayak es krim yang habis kena panas matahari, meleleh tapi tetep kaku. Sekarang lo tidur. Jangan dipikirin dulu, besok baru kita susun strategi perang."
Maya dan Gisel bersiap tidur. Di kamar yang sederhana itu, keheningan mulai menyelimuti. Baru saja Maya mulai terlelap dan napasnya terdengar teratur, sebuah suara notifikasi dari ponsel Gisel memecah kesunyian.
Ting!
Gisel tersentak. Ia ragu untuk melihatnya, tapi rasa penasaran mengalahkan ego-nya. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas kecil.
Ada pesan dari nomor yang baru saja diberikan Dewa (35 thn) pada Maya tadi, tapi Dewa rupanya nekat mengirimkannya langsung ke ponsel Gisel yang baru saja ia nyalakan kembali.
Dewa: Gisel, saya tahu kamu belum tidur.Raka tidak mau keluar dari kamarnya, Alya menangis merindukanmu, dan Digo terus bertanya 'di mana Ibu Wangi?'.
Gisel menelan ludah. Hatinya sedikit mencelos membaca kata "Ibu Wangi" dari mulut Digo. Namun, pesan kedua masuk lebih cepat.
Dewa: Maafkan saya soal Bianca. Besok saya akan jelaskan semuanya secara langsung. Saya tidak akan membiarkan kontrak satu tahun ini berakhir hanya dalam satu bulan. Kamu adalah 'warna' yang saya butuhkan, bukan bayang-bayang dari masa lalu. Tidurlah yang nyenyak. Saya masih menunggu di depan gerbang rumah temanmu.
Gisel membelalak, ia langsung bangkit dan mengintip dari balik gorden. Dan benar saja, di bawah sana, mobil SUV hitam milik Dewa masih terparkir di bawah lampu jalan yang temaram. Pria jangkung itu tidak benar-benar pergi; ia hanya berbohong pada Maya agar Gisel bisa tenang, namun ia sendiri tetap berjaga di sana.
"Mas CEO gila..." gumam Gisel. Senyum tipis yang nakal namun tulus mulai muncul di bibirnya. Rasa kantuknya mendadak hilang, berganti dengan perasaan hangat yang aneh di ulu hatinya