(Bukan Penulis pro, "Ide Cerita" ini ku tulis dengan tulus & sederhana, mengisi waktu luang dengan imajinasi penulus. sebelum ku unggah disunting bantuan AI, selamat membaca karya pertama ini, yang akhirnya berani ku bagikan)
Ayyara wanita mandiri, anti menikah dan tidak pernah terpikir punya anak. Ia mendapati dirinya telah melakukan perjalanan waktu ke masa lalu bersama rain. Mereka terjebak ke situasi dimana harus menikah, tapi itu bukan masalah. karena mereka yakin cinta bukan alasan utama, tapi perjalanan baru itu justru memberi mereka kejutan yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal mula "Time Travel" bersama - Rain.
Tepat pukul sepuluh pagi, roda pesawat yang membawa ku menyentuh landasan pacu dengan mulus. Perjalanan bisnis kali ini tidak ku lalui sendiri.
Ada Rain, rekan kerja ku yang turut serta dalam agenda selama tujuh hari ke depan.
Hari pertama mereka habiskan dengan menyelesaikan rentetan pekerjaan yang syukurnya berjalan tanpa kendala berarti.
Memanfaatkan celah di hari esok yang bertepatan dengan libur nasional, Aku memutuskan untuk menyusun sebuah rencana kecil.
Sore itu juga, aku bergegas memesan taksi online. Dengan menempuh dua jam perjalanan melalui jalur tol, aku bermaksud memberikan kejutan manis untuk kedua orang tua ku di kampung halaman.
Saat senja mulai melarut, sebuah taksi berhenti tepat di depan pintu rumah masa kecilku.
Kepulangan ku yang tiba-tiba disambut dengan binar bahagia sekaligus keheranan dari ayah dan ibu.
Biasanya, justru mereka yang jauh-jauh datang ke kota hanya untuk menjenguk anak - anaknya. Malam itu, ruang makan terasa hangat, mereka menikmati hidangan rumah sembari saling bertukar cerita.
Namun, kehangatan itu berubah menjadi kecanggungan keesokan harinya. Aku merasakan ada yang tidak beres.
Sejak pagi, ibunya bersikap protektif, seluruh pintu dan jendela ditutup rapat, seolah-olah mereka sedang bersembunyi.
Ibunya bahkan melarang keluar rumah dengan alasan yang tidak jelas, bahkan sempat berpura-pura sakit saat berbicara di telepon dengan seseorang.
Di sisi lain, sang ayah justru sudah tampil rapi dengan pakaian formal sejak matahari belum tinggi.
Kejanggalan itu baru terjawab saat jarum jam menunjuk angka dua siang. Cinta, adik ku muncul bersama putra-putrinya dengan pakaian pesta yang mewah. Akhirnya, rahasia itu terbongkar.
Sepupu ku menikah hari ini.
Aku tertegun.
Jarak rumah pengantin hanya beberapa meter saja karena kami semua tinggal di atas tanah warisan mendiang kakek dan nenek.
Namun, ia menjadi satu-satunya orang di keluarga besar yang tidak diberi tahu.
"Pernikahan sepupumu itu tidak penting, kamu tidak perlu datang," cetus ibu dingin sambil bergegas masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
"Lagipula, kamu pulang ke sini untuk kerja, bukan untuk liburan."
Aku hanya bisa terdiam, menatap punggung ibu yang menghilang di balik pintu.
Sembari membiarkan ibu bersiap, aku memilih duduk dan mengobrol dengan Cinta, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik sikap tertutup mereka.
Keesokan harinya, saat subuh, Aku berpamitan kembali ke kota. Tugas profesional telah menanti ku.
---
Waktu berlalu dengan cepat hingga tiba saatnya Aku dan Rain harus berpindah lokasi penugasan. Kali ini, kereta cepat menjadi pilihan mereka untuk melesat menuju kota tujuan berikutnya.
Ooh iya, untuk rekan kerja ku bernama "Rain" ini, Aku tidak ingat persis kapan Rain mulai berada dalam satu lantai kantor denganku. Mungkin sekitar dua atau tiga tahun belakangan, tepat setelah perusahaan tempatku bekerja diakuisisi oleh grup yang sama dengan perusahaannya.
Sejak saat itu, sosoknya menjadi pemandangan yang tak asing meski ia jarang sekali bersuara.
Rain adalah tipe pria yang bekerja dengan cara yang lugas dan cekatan.
Biasanya, kami hanya bertukar kata saat menghadiri rapat koordinasi yang mendesak. Namun, meski irit bicara, namanya selalu menjadi primadona dalam pusaran gosip rekan-rekan kantorku, terutama para gadis.
Wajahnya yang tegas memang memiliki daya tarik magnetis yang sulit diabaikan.
"Dia masih lajang, kan?" Sayup-sayup pertanyaan itu sering kudengar di sela-sela makan siang.
Sejauh yang aku tahu, dia memang belum berkeluarga. Selebihnya? Entahlah.
Aku lebih suka menjadi pendengar pasif, menyimak kepingan-kepingan informasi itu saat jam istirahat atau ketika Martin rekan kami yang paling tahu segala kabar mulai membumbui obrolan makan siang kami dengan cerita terbaru.
Sejujurnya, ada rasa lega saat mengetahui aku ditugaskan bersamanya. Aku menyukai ritme kerjanya.
Bagiku, tidak ada yang lebih menenangkan daripada memiliki rekan kerja yang tidak terlalu banyak mencampuri urusan pribadi dan tahu cara menghargai privasi masing-masing.
Di tengah hiruk-pikuk kantor yang penuh tanya, ketenangan Rain adalah sebuah kemewahan.
Pemandangan di balik jendela kereta yang melesat cepat perlahan menenggelamkan pikiranku pada bayang-bayang kedua orang tuaku.
Akhir-akhir ini, aku merasa mereka mulai lelah berdebat dan tampak pasrah menerima keputusanku untuk tetap melajang.
Namun, aku sama sekali tidak menyangka jika pilihanku itu ternyata merombak total ritme hidup ibuku.
Percakapanku dengan Cinta kemarin sore masih terngiang jelas. Cinta bercerita bahwa Ibu kini jauh lebih tertutup, ia sering menghindari kerumunan dan tak lagi betah berlama-lama di acara kumpul keluarga maupun sosialisasi teman-temannya.
Tapi, kenyataan yang paling menyesakkan dadaku adalah fakta bahwa Ibu kini harus selalu sedia obat penenang. Ia harus mengonsumsinya setiap kali ada acara sosial demi menjaga tensinya agar tetap stabil dan emosinya tidak meledak.
Setelah bujukan selama empat tahun yang melelahkan, barulah enam bulan lalu Cinta berhasil membawa Ibu ke psikiater karena kondisi emosinya yang meledak-ledak dan terus memburuk.
Aku merasa menjadi orang paling abai di dunia. Padahal, setiap kali mereka berkunjung ke kota untuk menemuiku dan Bian, semuanya tampak baik-baik saja.
Tidak ada yang aneh.
Bahkan, omelan-omelan khas Ibu masih terdengar sama tajamnya seperti dulu. Aku tertipu oleh ketegarannya tanpa tahu bahwa di balik masker ketenangan itu ada luka yang ia rawat dengan bantuan medis.
Di depanku, Rain masih tenggelam dalam dunianya sendiri. Jemarinya bergerak lincah dan berirama di atas keyboard laptop, sementara sorot matanya yang serius terpaku pada layar.
Kontras dengannya, laptop di pangkuanku justru terabaikan begitu saja. Layarnya yang redup seakan mencerminkan pikiranku yang kini sedang beradu cepat dengan laju kereta.
Dada ini terasa semakin sempit, seolah oksigen di dalam gerbong kereta mendadak menipis.
Aku mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah caraku menjalani hidup selama ini benar-benar sebuah kesalahan besar?
Apakah prinsip yang kupegang teguh selama bertahun-tahun hanyalah egoisme yang dibalut kata kemandirian?
Aku terjebak dalam dilema yang menyesakkan, merasa berhak atas hidupku sendiri, namun sekaligus merasa seperti seorang penjahat yang perlahan merusak kesehatan orang yang paling kusayangi.
Suara gemerincing halus dari botol air mineral yang diletakkan di atas meja lipat memecah lamunan burukku.
Aku tersentak kecil, menyadari bahwa simulasi menyakitkan di kepalaku baru saja terinterupsi.
Tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya, Rain mengangsurkan sebotol air yang masih dingin ke arahku.
"Minum dulu," ucapnya pelan.
Suaranya datar, namun ada nada yang menenangkan di sana.
Aku tertegun. Kupikir ia terlalu tenggelam dalam pekerjaannya untuk menyadari keberadaanku, apalagi menyadari bahwa aku sedang berjuang melawan rasa sesak di dada.
Aku segera memperbaiki posisi dudukku, mencoba mengatur napas agar kembali normal meski rasanya paru-paruku masih enggan bekerja sama.
"Terima kasih, Pak," bisikku seraya menggenggam botol itu.
Rain tidak membalas dengan kata-kata. Namun, sedetik kemudian, ia melakukan sesuatu yang tidak kusangka.
Ia menutup laptopnya dengan gerakan pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kereta. Ia membiarkan suasana di antara kami hening sejenak, memberikan ruang bagiku untuk menenangkan diri tanpa merasa diinterogasi.
Suara jernih dari pengeras suara kereta memecah keheningan gerbong.
Announcer mengumumkan fitur terbaru di kelas eksekutif, sebuah tablet yang bisa diuji coba oleh penumpang.
Namun, ada yang janggal. Di sudut meja kami tergeletak tiga unit tablet ramping. Seharusnya hanya ada dua, sesuai jumlah kursi.
Rain tanpa ragu mengambil satu dan mulai tenggelam dalam antarmuka ulasannya.
Sementara aku, dahi berkerut menatap layar tablet yang kupegang, menu-menunya tampak asing.
"Baterainya hampir habis," gumamku pelan saat melihat ikon merah yang berkedip di pojok layar.
Aku meraih kabel pengisi daya.
Namun, tepat saat ujung konektor menyentuh port, sebuah sengatan listrik yang hebat merambat ke sekujur tubuhku.
Aku tersentak, lumpuh sesaat. Dengan sigap, Rain menyambar kabel itu dan memutus alirannya.
Detik berikutnya, situasi berubah mencekam. tablet di meja mengeluarkan suara bising, pekikan frekuensi tinggi yang menyayat telinga.
Cahaya di dalam gerbong mendadak tidak stabil. Lampu-lampu meredup lalu memijar sangat terang.
Lantai kereta bergetar hebat. Di luar jendela, pemandangan kota yang menggelap lenyap, digantikan oleh cahaya putih menyilaukan yang menelan segalanya.
Ngiiiiiiiiiiingg .......!!!!!
Lampu di kereta , juga bersinar terang.
Kepalaku sakit sekali, dan kesadaranku perlahan menurun.