NovelToon NovelToon
Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance / Komedi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Minggu siang yang cerah di Jakarta Selatan. Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela kaca besar di The Glass House, sebuah kafe kopi estetik yang lagi viral di media sosial. Interiornya dipenuhi tanaman hijau, furnitur rotan, dan lantai semen ekspos yang Instagrammable. Alunan musik indie-folk mengalun lembut, bercampur dengan suara tawa dan denting sendok dari pengunjung yang rata-rata anak muda berpakaian modis.

Di salah satu sudut terbaik kafe, Sheila duduk bersama empat sahabat karibnya: Nilam, Sari, Alena, dan Bila. Di meja mereka sudah tersaji berbagai pesanan: iced Spanish latte, matcha kiss, sepiring croissant almond, dan truffle fries yang aromanya menggoda.

Ini adalah girls time yang sangat dibutuhkan Sheila. Setelah seminggu penuh "drama penyanderaan" di ruangan Jeremy, menghirup udara di luar kantor terasa seperti kemerdekaan.

"Gila, estetik banget sih tempatnya. Nggak rugi kita waiting list setengah jam," ujar Bila sambil sibuk menata ponselnya untuk mengambil flat lay foto makanan.

Sari menyeruput kopi susunya. "Iya, bener. Eh, ngomong-ngomong soal estetik... Shei, gimana kerja sama Kak Jeremy yang dulu sempat ngejar-ngejar lo pas kuliah? Dia masih kayak dulu nggak?"

Pertanyaan Sari langsung membuat suasana di meja itu senyap sejenak. Empat pasang mata tertuju pada Sheila, yang baru saja hendak menyuap potongan croissant.

Sheila menghela napas panjang, meletakkan garpunya dengan pelan. Wajahnya yang tadi ceria langsung mendatar. "Lebih parah. Udah ah, nggak usah bahas dia. Merusak suasana weekend tahu nggak."

"Hah? Serius lebih parah? Gimana parahnya? Dia masih nungguin lo di parkiran pakai klakson mobilnya?" tanya Alena penasaran, matanya berbinar.

"Tapi kita penasaran, jujur. Kata Nilam, lo malah sekarang jadi asisten pribadinya dia, kan?" Bila ikut menimpali, mengabaikan ponselnya yang masih menyala.

Sheila melirik Nilam dengan tatapan "awas-lo-ya". Nilam hanya bisa meringis sambil mengangkat dua jari membentuk peace.

"Terpaksa. Udah ih, nggak usah bahas dia. Nanti kalau diomongin terus, dia malah ke-PD-an di alam bawah sadarnya. Energi negatifnya berasa sampai sini," gerutu Sheila, lalu menyedot iced latte-nya dengan agresif sampai berbunyi sruk.

"Aduh, Shei, lo jangan gitu. Banyak cewek di luar sana yang antre buat dapet perhatian Jeremy Nasution. Udah ganteng, CEO muda, tajir melintir pula," sahut Alena, yang dari tadi paling antusias.

"Antre buat dapet darah tinggi kali, Al," balas Sheila ketus. "Kalian nggak tahu saja gimana rasanya 'disandera' di ruangannya seharian, disuruh bikinin kopi hitam tanpa gula, terus kalau aku protes sedikit, dia pasti bahas soal denda kontrak."

"Denda kontrak?" Sari mengernyit. "Maksudnya denda penalti kalau lo resign?"

"Iya. Nilainya fantastis. Aku kejebak, Sar. Dia tahu aku nggak punya uang segitu, makanya dia semena-mena. Dia tahu titik lemahku," aku Sheila pelan, rasa frustrasinya mulai muncul lagi.

"Wow, possessive banget nggak sih itu? Kayak di novel-novel dark romance," komentar Bila, separuh ngeri, separuh terkesan.

Alena memperbaiki posisi duduknya, menatap Sheila dengan serius. "Shei, kalau lo beneran nggak suka sama Kak Jeremy dan ngerasa keganggu... gimana kalau Kak Jeremy-nya buat aku saja?"

Lagi-lagi suasana di meja itu hening. Nilam sampai tersedak kopinya.

"Hah? Lo serius, Al?" tanya Sari tak percaya.

"Seriuslah. Daripada dia gangguin Sheila terus, mending energinya buat aku saja. Aku tipe yang kuat hadapin bos posesif kayak dia kok. Lagipula, siapa sih yang nggak mau sama CEO kayak Kak Jeremy?" Alena tersenyum genit, mengibaskan rambut panjangnya.

Alena menopang dagu, menatap Sheila dengan pandangan memohon. "Maksud aku... Shei, Gue minta Lo buat deketin gue sama Jeremy. Lo kan asisten pribadinya, pasti punya seribu satu cara buat kenalin aku ke dia secara natural. Misalnya, pas aku pura-pura antar bekal buat lo ke kantor, atau pas ada acara kantor yang bisa bawa teman."

Sheila terdiam sejenak. Ia menatap wajah Alena yang penuh harap. Sebuah ide licik tapi brilian mendadak melintas di benaknya. Ini adalah kesempatan emas. Kalau Jeremy sibuk dengan Alena, dia tidak akan punya waktu untuk mengganggunya, tidak akan punya waktu buat cemburu sama Malik, dan mungkin... dia bakal lupa soal denda kontrak itu.

Senyum licik, senyum paling licik yang pernah Sheila miliki, perlahan muncul di wajah kalemnya.

"Dengan senang hati, Al," ucap Sheila, suaranya mendadak berubah menjadi sangat manis, membuat Nilam, Sari, dan Bila merinding. "Dengan senang hati aku bakal kenalin lo ke Jeremy. Biar dia sibuk sama kamu. Biar dia ada kerjaan lain selain ngerjain aku."

"Beneran, Shei?! Lo nggak bercanda, kan?" pekik Alena kegirangan.

"Seratus persen serius. Besok aku bakal kasih dia kopi hitam tanpa gula kesukaannya, dan aku bakal bilang: 'Pak, aku punya teman yang fans berat Bapak. Cantik, pinter, dan... kuat hadapin bos tengil kayak Bapak.' Gimana?" Sheila mengedipkan sebelah matanya.

"Gila lo, Shei! Nekat banget!" seru Nilam, antara takut dan kagum.

"Daripada aku yang kena burnout, mending Kak Jeremy dapet hiburan baru, kan?" balas Sheila enteng. "Alena, bersiaplah. Kamu bakal masuk ke dunia paling menyebalkan sekaligus paling mewah yang pernah ada. Dan aku bakal support kamu dari belakang!"

"Aaaa! Makasih banyak, Sheila! Lo emang sahabat terbaik!" Alena langsung memeluk Sheila dengan erat.

Sari, Bila, dan Nilam hanya bisa saling pandang. Mereka tahu, rencana Sheila ini adalah perjudian besar. Bisa jadi Alena berhasil menjinakkan sang CEO, atau malah Alena yang bakal 'disandera' di ruangan dingin itu. Tapi satu hal yang pasti: girls time hari ini berubah menjadi penyusunan strategi perang asmara.

Sheila melepaskan pelukan Alena, lalu mengangkat gelas kopinya. "Untuk rencana pemindahan obsesi! Cheers!"

"CHEERS!" teriak kelima sahabat itu kompak, membuat pengunjung kafe lain menoleh dengan bingung. Tapi mereka tidak peduli. Bagi Sheila, minggu siang ini adalah awal dari sebuah rencana besar untuk mendapatkan kembali kemerdekaannya dari "sandera" CEO tengil bernama Jeremy Nasution.

***

Senin pagi di kantor Nasution Property Group biasanya terasa mencekam, tapi tidak kali ini. Sheila Maharani melangkah keluar dari lift lantai 25 dengan senyum yang begitu cerah, bahkan lebih terang dari lampu kristal di lobi. Di tangan kanannya, ia menjinjing sebuah paper bag kecil berisi matcha latte premium dengan topping cold foam yang lembut—sebuah "senjata" titipan Alena yang sudah disiapkan sejak subuh.

Sheila melewati meja Nilam yang sedang menguap lebar. Nilam sampai mengucek matanya, memastikan apakah yang ia lihat benar-benar sahabatnya atau hantu penunggu kantor.

"Pagi, Lam! Semangat ya!" sapa Sheila riang.

"Shei? Lo... sehat? Kesambet setan Bogor?" tanya Nilam curiga.

Sheila hanya mengedipkan sebelah mata dan terus melangkah menuju pintu besar ruangan CEO. Tanpa ragu, ia mengetuk pintu dan langsung masuk sebelum terdengar sahutan dari dalam.

Jeremy sedang duduk di kursi kebesarannya, sedang fokus menatap layar tablet. Ia mendongak, dan alisnya langsung bertaut heran melihat asisten pribadinya masuk dengan wajah secerah musim semi.

"Pagi, Pak!" sapa Sheila dengan nada yang sangat ramah, hampir terdengar seperti pramugari maskapai bintang lima.

Jeremy meletakkan tabletnya, matanya menyipit penuh selidik. "Pagi... Kamu tumben banget nyapa aku duluan. Biasanya mukanya ditekuk kayak cucian belum disetrika. Kesambet ya?"

Sheila terkekeh kecil, ia meletakkan matcha latte itu tepat di depan meja Jeremy. "Enggak kok, Pak. Cuma pengen nyapa saja, biar hari Senin Bapak nggak terlalu suram. Nih, saya bawain matcha latte spesial. Masih dingin, pas buat nurunin darah tinggi Bapak."

Jeremy menatap gelas itu, lalu menatap Sheila bergantian. "Tumben? Ada udang di balik batu ya? Kamu mau minta izin cuti? Atau mau minta penghapusan denda kontrak?"

"Nggak ada udang, nggak ada batu, Pak. Murni pengabdian asisten kepada bosnya. Minum dong, Pak. Nanti foam-nya turun lho," desak Sheila dengan senyum manis yang dipaksakan sealami mungkin.

Jeremy, yang memang dasarnya haus perhatian dari Sheila, akhirnya luluh juga. Ia meraih gelas itu, menusukkan sedotan, dan menyesap isinya. Rasa manis pahit khas matcha berkualitas tinggi langsung memanjakan lidahnya.

"Enak," gumam Jeremy jujur. "Ternyata selera kamu lumayan juga kalau soal minuman."

Saat Jeremy sedang menikmati tegukan keduanya, Sheila menyandarkan tangannya di pinggir meja, mencondongkan tubuh sedikit seolah hendak membisikkan sebuah rahasia besar.

"Btw, Pak... itu sebenarnya bukan dari saya. Itu titipan dari teman saya, namanya Alena," celetuk Sheila santai.

Gerakan sedotan di mulut Jeremy terhenti. Ia mendongak, menatap Sheila datar. "Alena?"

"Iya, Alena. Yang kemarin kita ketemu di kafe itu lho. Cantik, kan? Dia titip salam buat Bapak. Katanya... dia mau ngajak Bapak PDKT. Matcha itu tanda perkenalan dari dia," lanjut Sheila tanpa dosa.

Uhuk!

Jeremy tersedak. Ia buru-buru menaruh gelasnya di meja sampai beberapa tetes hijau menciprat ke dokumen penting di depannya. Ia terbatuk-batuk kecil, wajahnya memerah antara kaget dan kesal.

"Sheila! Kamu... kamu jadi makelar asmara sekarang?!" seru Jeremy setelah berhasil mengatur napasnya. "Apa-apaan ini? Kamu asisten pribadi aku, bukan agen biro jodoh!"

Sheila tidak gentar. Ia malah mengambil tisu dan dengan tenang mengelap cipratan matcha di meja Jeremy. "Ih, jangan marah-marah gitu dong, Pak. Alena itu baik banget lho. Pinter, mandiri, dan yang paling penting... dia sangat mengagumi Bapak. Katanya Bapak itu sosok pemimpin masa depan yang karismatik."

"Aku nggak peduli dia anggap aku apa!" potong Jeremy ketus. "Aku kan carinya kamu, kenapa kamu malah nawarin teman kamu?"

"Ya karena saya kan sudah punya Malik, Pak. Bapak jangan maruk dong," balas Sheila telak, membuat Jeremy terdiam seribu bahasa. "Terima saja lah, Pak. Daripada jomblo ngenes, kan? Bapak itu sudah mapan, sudah punya segalanya, tinggal butuh pendamping yang bisa ngurusin Bapak pas lagi stres urusan proyek. Alena itu sabar banget, cocok deh sama Bapak yang hobinya marah-marah."

Jeremy berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Sheila sampai gadis itu terpaksa mundur satu langkah. "Kamu se-pengen itu ya aku jauh-jauh dari kamu? Sampai rela 'ngejual' teman sendiri buat jadi tumbal?"

Sheila menatap mata tajam Jeremy. Ia tahu Jeremy sedang terluka harga dirinya, tapi ia tidak boleh mundur. "Ini bukan tumbal, Pak. Ini solusi. Bapak dapet pasangan yang setara, Alena dapet CEO idamannya, dan saya... saya dapet ketenangan buat kerja secara profesional tanpa diganggu urusan perasaan Bapak."

Jeremy tersenyum miring, senyum yang terlihat sedikit perih. Ia meraih kembali gelas matcha latte itu, lalu membuangnya ke tempat sampah di sudut ruangan dengan gerakan sekali ayun.

"Pak! Sayang lho itu mahal!" pekik Sheila protes.

"Aku nggak butuh sogokan matcha dari teman kamu. Dan bilang sama Alena, aku nggak tertarik," tegas Jeremy. Ia kembali duduk di kursinya, namun kali ini auranya berubah menjadi sangat dingin. "Sekarang, karena kamu sudah membuang waktu sepuluh menitku untuk urusan nggak penting ini... silakan revisi draf anggaran Sentul. Semuanya. Aku mau selesai sebelum makan siang. Tanpa kesalahan sedikit pun. Kalau ada salah satu angka saja, penalti kamu aku tambah."

Sheila menghela napas panjang. Gagal. Rencana A ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Jeremy jauh lebih keras kepala daripada dugaan para sahabatnya di kafe kemarin.

"Baik, Pak. Segera saya kerjakan," ucap Sheila lesu. Ia berbalik untuk keluar ruangan, namun suara Jeremy kembali terdengar.

"Satu lagi, Sheila."

Sheila berhenti dan menoleh. "Iya?"

"Besok-besok, jangan bawa nama orang lain ke ruanganku. Aku cuma mau dengar namamu, atau urusan kerjaan kita. Paham?"

Sheila tidak menjawab, ia hanya mengangguk kecil dan segera menutup pintu ruangan dengan perasaan campur aduk. Ia berjalan menuju mejanya, dan Nilam langsung menyergapnya.

"Gimana? Berhasil?" bisik Nilam.

"Zonk, Lam. Matchanya dibuang ke tempat sampah. Malah aku disuruh revisi draf anggaran gila-gilaan," keluh Sheila sambil menghempaskan diri ke kursi kerjanya.

"Waduh, si Bos beneran susah ya dijitak hatinya. Kayaknya Alena harus pakai strategi yang lebih ekstrem nih," komentar Nilam sambil geleng-geleng kepala.

Di dalam ruangannya, Jeremy menyandarkan kepala ke kursi. Ia menatap tempat sampah tempat matcha tadi berada. Dadanya terasa sesak. Ia tahu Sheila sedang berusaha keras menjauh darinya, bahkan sampai menggunakan sahabatnya sendiri sebagai tameng.

"Kamu pikir semudah itu ya, Shei?" gumam Jeremy lirih. Ia mengambil ponselnya, lalu mengetik pesan singkat ke asistennya itu meski Sheila hanya berada beberapa meter di balik pintu.

"Siapkan diri. Sore ini kita ke lokasi proyek lagi. Sampai malam. Dan jangan harap bisa matikan ponsel."

Sheila yang baru saja membuka laptop melihat notifikasi itu muncul di layarnya. Ia memejamkan mata, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Senin ini... sepertinya akan jauh lebih panjang dari yang ia duga.

1
putmelyana
next Thor ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!