IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
*
*
*
"Nin, nanti jangan lupa ya bayarin gas di warungnya si May. Tadi pas mau bikin nasi goreng buat lu sarapan eh gas nya abis. Tapi karna liat elu masih tidur jadi gue ngambil dulu gasnya. Nanti tinggal lu bayar sambil berangkat kerja." tutur si Ibu.
"Iya" jawab Anin malas.
"Terus itu, kayanya token listrik kita bentar lagi bunyi deh." timpal si Ibu lagi.
Anin menghela nafas, mau tidak mau kebutuhan-kebutuhan di rumahnya harus ia siapkan. Sejak kapan?
Sejak Ayahnya yang bernama Bondan bertingkah sok jadi manusia kegantengan. Dan Ibunya yang bernama Widya di pecat dari sebuah konveksi karna pemiliknya bangkrut.
Sedang di rumah itu terdiri dari, Bayu seorang laki-laki berusia 23 tahun tapi tidak bekerja. Kemudian Kenzo seorang remaja laki-laki yang sekarang sekolah di bangku SMA.
Bayangkan saja, anggota keluarga yang terdiri dari lima orang dewasa itu hanya Anin sendiri yang bekerja. Sedang kebutuhan seperti makan dan minum tetap berjalan tanpa jeda. Belum lagi jika adiknya yang masih remaja membuat masalah. Tentu saja Anin yang akan menjadi tumbalnya.
"Nih duit!" ucap Bondan seraya melemparkan uang sepuluh lembar berwarna merah.
"Duit apa? gue nggak mau, pasti ini duit haram kan?" tanya Widya yang memang sudah menduga dengan tabiat suaminya. Apa lagi kalau bukan uang hasil judi. Karna memang Bondan yang selama ini tidak pernah bisa lepas dari kebiasaan haramnya.
"Nggak usah nanya-nanya. Masih untung gue kasih lu duit. Heran jadi bini nggak ada besyukur-besyukurnya." ujar Bondan yang kemudian duduk di samping Anin.
Anin diam saja, pemandangan seperti ini bukanlah kali pertama. Bahkan ia sudah sangat bosan. Atau bisa dibilang ia sudah muak, tapi sebagai seorang anak yang tidak bisa memilih untuk di lahirkan oleh orang tua yang seperti apa, membuat ia hanya bisa pasrah.
Anin pun melanjutkan sarapannya.
"Nin, motor elu Bapak pinjem ya? Sehari aja." bujuk Bondan.
Anin sudah menebak, kalau Bapaknya sudah mulai duduk dekat-dekat pasti ada maunya. Dan benar, ia bermaksud untuk menggunakan motor yang satu-satunya ia punya untuk mobilitasnya bekerja.
"Nggak!" sergah Widya dengan tatapan tajamnya, "terakhir lu pinjem motor Anin buat nyamperin gundik lu itu kan?!"
"Apa sih, masih aja bahas-bahas yang lama. Kan udah gue bilang, gue itu udah tobat. Dan nggak akan ngulangin yang kaya begitu lagi. Suudzon aja!"
Kalimat buaya dari seorang Bondan. Karna kenyataannya dia tidak pernah berubah sama sekali.
"Nin, sini kontak motornya Bapak mau pake." rayunya lagi pada Anin.
"Nggak!" pekik Widya, "Jangan di kasih Nin. Congor Bapak lu itu nggak pernah bisa di percaya. Itu pasti akal-akalan dia aja!"
"Heh!" bentak Bondan sambil mengacungkan jari telunjuknya pada Widya "Lu bisa diem nggak sih? Yang begini nih yang bikin gue nggak betah di rumah ini. Gue selalu di curigain." lanjutnya dengan mata melotot.
"Ya karna lu emang nggak bisa di percaya. Berapa kali lu bohongin gue sama anak-anak ha?!" Widya tak mau kalah.
"Halah, itu karna lu nya aja yang kelewatan. Apa-apa curiga, apa-apa curiga. Bosen gue sama lu!" timpal Bondan.
Berada di antara orang yang saling bentak-bentakan tidak lah mudah, terlebih orang itu adalah orang tua sendiri. Yang mana seharusnya mereka adalah tempat pulang paling nyaman tapi ini justru penyebab kerusakan mental. Anin lelah, tapi apa daya? Tidak ada istilah ganti orang tua. Orang tua ya tetap orang tua, yang harus di hormati keberadaannya. Tapi jika berada dalam kondisi seperti Anin ini, solusinya apa? Apa mungkin sebagai anak bisa menghormati orang tua?
"Cukup!" Anin meletakkan sendoknya, lantas berdiri "Gue mau kerja! Motornya mau di pake" Ia pun berjalan, tanpa peduli dengan nasi goreng yang baru ia makan setengah.
Lantas Anin mengerluarkan motornya dari ruang tamu yang sempit. Apa lagi ketambahan dua unit motor kredit yang terparkir di sana.
Sekilas ia melirik adiknya yang bernama Bayu, tengah asyik dengan ponselnya bermain game online. Kemudian adik laki-lakinya yang satu lagi bernama Kenzo tengah tertidur pulas dengan seragam sekolah yang masih menempel di badan. Padahal hari ini bukan hari libur, tapi Kenzo seenaknya bolos sekolah hanya dengan alasan capek karna kemarin tawuran.
Miris memang, hidup di tengah-tengah keluarga yang berantakan. Terlebih Anin perempuan, di mana seharusnya ia di jaga, di nafkahi dan di lindungi tapi sekarang justru kebalikannya. Anin lah yang pontang panting menafkahi keluarganya. Soal Bondan yang tadi ngasih uang? Itu pun besok dia akan minta lagi kalau dia kalah judi. Jadi ya, sama saja dengan nggak ngasih sama sekali.
Di tengah kepelikan yang Anin hadapi ia sering bertanya-tanya sendiri. "Kapan ya gue nyicip seneng di dunia ini? Kenapa hidup gue ini isinya berantakan semua. Boro-boro kaya orang-orang yang hidupnya bisa belajar terus berusaha mencapai cita-cita. Lah ini kesempatannya aja nggak pernah ada." Mata Anin berkaca-kaca di balik kaca helmnya. Namun cepat-cepat ia susut karna ia tidak mau di lihat oleh ibu-ibu yang sedang berkumpul di warung.
Sesuai pesan Ibunya tadi, Anin segera membayar hutang gas yang di beli dari dari warung tetangganya yang bernama May. Malas sebenarnya karna Ibu-ibu yang berkumpul di warung May, seringnya melontarkan pertanyaan-pertanyaan interogasi nggak penting menurut Anin. Seperti sekarang ini, mereka malah bertanya tentang ...
"Berangkat kerja Nin? Nggak capek apa kerja mulu tapj nggak kaya-kaya?" cibir salah satu Ibu-ibu berdaster orens.
"Mau tamasya" jawab Anin singkat, seraya menyerahkan uang gas.
"Sama ayang ya?" goda May si pemilik warung yang menerima uang dari Anin.
"Iya lah, masa iya sama suami Tante." sahut Anin ketus. Segera ia menyalakan lagi motornya.
"Eh...kok kurang aja baget ya mulutnya, nggak pernah di ajarin sopan santun sama orang tua. Jadinya begitu tu.." cicit May yang tidak suka dengan sahutan Anin barusan. Yang di sambut anggukan setuju dari Ibu-ibu lainnya.
Tapi Anin tidak peduli, ia lajukan saja motornya. Bahkan sengaja ia gas semakin dalam.
Tin! Tin!
Anin terkejut dengan suara klakson mobil di belakangnya. Lantas ia memperlambat laju motornya dan menoleh ke belakang.
"Anin, kenapa nggak jawab telepon aku sih?" tanya seseorang di dalam mobil yang sudah menurunkan kaca jendelanya.
Kepalanya menyembul keluar, hingga wajah tampan pemiliknya tampak jelas dan bersinar. Siapa lagi kalau bukan dr Naufal Adhitama yang kini sedang gencar-gencarnya mengambil hati Anin agar mau menjadi kekasihnya. Pasalnya pria itu sudah sangat jatuh cinta, tidak hanya dengan wajah Anin yang memiliki kecantikan alami tapi juga dengan kemandirian dan kepribadiannya yang tahan banting.
"Aku lagi males jawab telpon." sahut Anin ketus.
"Kenapa? Aku ada salah? Kalo ada salah aku minta maaf tapi please, jangan menghindari aku gini donk." Naufal rela teriak-teriak.
"Udahlah, kamu jangan deket-deket aku. Nanti kena masalah tahu!"
"Masalah apa? Aku nggak masalah kok kalo terkena masalah sama kamu." Naufal mana bisa di hentikan. Kalau sudah kecintaan, badai menghalang pun akan ia terjang.
Anin memilih tidak peduli, ia memutar kembali gas motornya. Bahkan sengaja ngebut agar bisa menghindari Naufal. 'Hidup gue ini banyak masalah, nggak seharusnya lu itu masuk di kehidupan gue dokter Naufal!' jerit batinnya.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis🤍