NovelToon NovelToon
PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Sistem
Popularitas:165.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.

Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.

Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.

Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CAHAYA DI UJUNG PENYESALAN.

Pagi di London menyapa dengan sisa embun yang menempel di kaca jendela kamar besar mansion Henry. Fardan terbangun dengan tubuh yang masih terasa berat, namun kesadarannya mulai pulih sepenuhnya. Pintu kamar terbuka perlahan, menampakkan Margaretha yang membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat dan segelas air putih.

"Makanlah sedikit, Fardan. Tubuhmu butuh tenaga jika ingin melanjutkan perjalanan panjangmu," ujar Margaretha dengan nada ibu yang menenangkan.

Fardan mencoba duduk, bersandar pada bantal yang ditumpuk. "Terima kasih, Nyonya. Maaf saya sudah sangat merepotkan keluarga ini."

Tak lama kemudian, Henry melangkah masuk dengan langkah tegap. Ia berdiri di ujung tempat tidur, menatap Fardan dengan pandangan yang dalam, seolah sedang membaca isi jiwa pria muda di hadapannya.

"Bagaimana keadaanmu pagi ini?" tanya Henry singkat.

"Saya merasa jauh lebih baik, Tuan Henry. Terima kasih atas perawatan dan kesabaran Anda," jawab Fardan dengan tulus.

Henry menarik sebuah kursi dan duduk di dekat Fardan. Keheningan sempat menyelimuti ruangan itu sebelum Henry memecah suasananya dengan pertanyaan yang tak terduga. "Fardan, apakah kau tahu mengapa hidupmu selama ini selalu terasa jauh dari kata bahagia, meski kau memiliki segalanya?"

Fardan terdiam. Ia merenung sejenak, memikirkan tumpukan harta, kekuasaan, dan kejayaan bisnisnya yang ternyata tak mampu membendung air matanya. Ia akhirnya menggeleng perlahan. "Saya tidak tahu. Saya pikir sukses adalah segalanya."

"Itu karena kau telah menjauhi Tuhanmu," ucap Henry tenang namun telak menghujam jantung Fardan.

Fardan tersentak. Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong. Di dalam hatinya, ia mengakui bahwa ia memang tak pernah bersujud, apalagi meminta pada Sang Pencipta sejak ia muda. Dunianya hanya berputar pada angka, profit, dan ambisi. Ditambah lagi, orang tuanya pun tak pernah mengenalkannya pada nilai-nilai spiritual.

"Saya memang tidak pernah tahu siapa Tuhan saya, Tuan. Orang tua saya tidak pernah mengenalkan-Nya padaku. Kami hidup hanya untuk mengejar dunia," aku Fardan dengan suara lirih.

Henry mengulurkan tangannya. "Boleh aku melihat kartu identitasmu?"

Fardan merogoh dompetnya yang tergeletak di atas nakas, mengeluarkan kartu identitasnya dan memberikannya pada Henry. Henry memperhatikannya sejenak, menunjuk pada kolom agama yang tertera di sana. "Di sini tertulis kau beragama Islam."

Henry menatap mata Fardan dengan tajam namun teduh. "Tuhanmu adalah Allah. Tapi kau tidak pernah benar-benar bersaksi bahwa Tuhanmu adalah Allah, bukan?"

Fardan tertunduk dalam. Rasa malu yang luar biasa menyelimuti dirinya. "Benar. Saya hanya memiliki status itu di kertas, tapi saya tidak pernah mengenal-Nya."

"Itulah sebabnya kau merasa hampa, Fardan. Kau diberikan nafas untuk hidup, kesehatan yang luar biasa, dan harta yang melimpah. Bahkan kau sempat diberi jodoh terbaik seperti Alisha, tapi kau melupakan siapa yang memberinya. Apa yang kau terima saat ini, kehilangan dan rasa sakit ini, adalah hasil dari perbuatanmu sendiri yang melupakan Sang Pemberi Nikmat," jelas Henry panjang lebar.

Tubuh Fardan bergetar hebat. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah begitu saja. Ia merasa sangat kecil dan hina di hadapan kenyataan itu. "Apakah... apakah pria sepertiku masih punya kesempatan untuk memperbaikinya, Tuan Henry?"

Henry tersenyum tulus, sebuah senyum yang memberikan harapan baru bagi Fardan. "Tentu saja. Allah Maha Pemaaf dan Maha Pengampun. Dia tidak pernah menutup pintu bagi hamba-Nya yang ingin kembali. Jadi, apakah kau ingin aku mengenalkanmu lebih jauh pada Tuhanmu?"

Fardan mengangguk cepat tanpa ragu sedikit pun. "Saya mau, Tuan. Tolong bimbing saya."

"Sekarang, bersaksilah kepada-Nya bahwa Tuhanmu adalah Allah," ujar Henry.

Fardan tampak bingung, ia tidak tahu kalimat apa yang harus diucapkan. Henry kemudian membimbingnya dengan perlahan, mengucapkan kalimat syahadat yang suci.

"Ikuti kata-kataku, Fardan. Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah."

Fardan mengikutinya dengan suara bergetar namun penuh hikmat. "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah."

Setelah kalimat itu selesai terucap, suasana ruangan terasa berbeda. Henry dan Margaretha serentak mengucapkan syukur. Ada kedamaian aneh yang menyusup ke dalam dada Fardan, seolah beban berat yang selama ini menghimpitnya tiba-tiba terangkat.

"Sekarang kau telah kembali pada-Nya," ucap Henry. "Mari kita lanjutkan dengan sholat taubat."

Dengan sabar, Henry membimbing Fardan melakukan ritual penyucian diri dan gerakan sholat taubat. Ia juga memberikan buku-buku dasar ilmu agama dan buku tuntunan sholat. Selama satu minggu berikutnya, Fardan tidak langsung berangkat ke Swiss. Ia memilih menetap di mansion Henry untuk belajar. Ia mulai memahami makna kehidupan yang sesungguhnya melalui nasehat-nasehat Henry yang kini ia anggap sebagai guru sekaligus orang tua.

Suatu sore, saat mereka duduk di beranda, Henry bertanya tentang keputusan Fardan sebelumnya. "Aku mendengar kau telah membuang keluargamu, terutama ibumu. Benar begitu?"

Fardan mengangguk kaku. "Mereka jahat, Tuan. Mereka menghancurkan hidupku."

"Saran saya, jangan cari Alisha dan putranya dulu," ujar Henry yang membuat Fardan kaget bukan main.

"Mengapa, Tuan? Saya sangat merindukan mereka!" seru Fardan cemas.

Henry menepuk bahu Fardan. "Perbaiki dirimu, maka sekitarmu akan mengikutinya. Perbaiki dulu hubunganmu dengan ibumu. Bagaimanapun dia adalah ibumu. Jika ibumu sudah berada di jalan yang benar dan memberimu restu, maka jalanmu mengejar cinta Alisha akan dipermudah oleh Allah. Ingat, ridho Allah terletak pada ridho orang tua."

Fardan terdiam lama, merenungkan kalimat itu. Akhirnya ia mengangguk mantap. "Saya mengerti. Saya akan kembali ke Jakarta dulu untuk meluruskan semuanya, baru kemudian saya akan menyusul mereka ke Swiss."

Fardan mengatakan itu dengan suara yang agak keras, ia tahu di suatu tempat, putra geniusnya mungkin sedang menyadap pembicaraannya melalui perangkat canggih. Ia ingin Ghifari tahu bahwa ia sedang berusaha berubah menjadi pria yang lebih baik.

Kesehatan Fardan telah pulih sepenuhnya, namun jiwanya kini jauh lebih kuat. Ia berpamitan pada Henry dan Margaretha dengan rasa hormat yang mendalam. Sebelum Fardan melangkah ke mobil, Henry memberikan pesan terakhir yang sangat penting.

"Fardan, jangan pernah tinggalkan sholatmu, karena itu adalah sumber kekuatanmu. Dan satu hal lagi, memohonlah kepada Sang Pemilik Hati istri dan anakmu. Hanya Dia yang bisa melunakkan hati mereka untuk menerimamu kembali," pesan Henry.

"Terima kasih untuk segalanya, Ayah Henry. Saya mohon doa restu kalian," jawab Fardan sebelum masuk ke dalam mobil bersama Dewa.

Di dalam jet pribadi yang membawa mereka kembali ke Jakarta, Fardan tidak lagi memegang berkas pekerjaan. Ia memegang buku saku tuntunan sholat dan tasbih di tangannya. Dewa menatap bosnya dengan rasa kagum yang tak terlukiskan. Perubahan ini begitu nyata.

"Tuan, kita akan langsung ke mansion?" tanya Dewa.

"Tidak, Dewa. Kita datangi ibu di tempat Kak Maya. Aku ingin membawa dia kembali ke jalan yang benar sebelum aku menjemput Alisha. Aku tidak ingin Alisha kembali ke lingkungan yang sama dengan yang dulu menghancurkannya," jawab Fardan tegas.

Fardan menatap awan dari jendela pesawat. Di hatinya kini tertanam tekad baru. Ia tidak lagi mengejar Alisha dengan kekuasaan atau paksaan, melainkan dengan doa dan perbaikan diri. Ia berharap di Swiss sana, Ghifari dan Alisha bisa melihat perubahan ini dan membuka sedikit saja pintu maaf untuknya.

Perjalanan penebusan dosa ini memang masih panjang, namun Fardan tidak lagi takut, karena kini ia tahu bahwa ia tidak berjalan sendirian. Ada Tuhan yang kini menjadi tempatnya bersandar.

1
Eliermswati
lnjut lg y thor up nya😍😍😍smngt thor up nya
Aghitsna Agis
fajar peetanyaannya untuk gifari kurang tepat, kenapa pertanyaannya tudak dimulai dengan mengatakan apa menyayangi ayah dulu
Umi Maryam
thor gimana kabar kehamilan nya alisha udah berapa bulan ? sibuk ngurusin fahmi sampe lupa kalau alisha lagi uamil jadi ga hamil nya?? 🤣🤣🤣🤣
Umi Maryam
kalau bukan di novel nya ramanda mana ada anak kaya gifari ,apalagi di dunia nyata , kalau ada sih mau thor punya cucu kaya gifari 🤭🤭
Umi Maryam
Akhir nya bujang lapuk ketemu jodoh .
Umi Maryam
alhamdulillah tofcer kembar yah tar anak nya.
Umi Maryam
masya allah fardan dan alisha KK amu anak2 yg baik ,bagi fardan sejahat apapun ibu mu surgamu ada pada ibu mu ,semiga ibu ratna husnul khotimah ya thor .
Umi Maryam
selamat mendapat hukuman kaluan tidur di luar 😂😂😂😂
Umi Maryam
cihuy semoga kecebong nya tofcer langsung jadi dua 🤣🤣🤣💪
Umi Maryam
hih aku benci deh kalau udah ada jebakan laknat ,mampus luh bastian and guntur ,hajar tuh cowo cabul....
Umi Maryam
musuh konglomerat mah ga ada abiis nya yah , semoga alysa cepet hamil dan anak nya kembar ,sayang harta nya kalau punya anak satu aja....
Umi Maryam
Thor masa alysa manggil suami dan anak sama nama doang ,aturan panggilan nya beda dong ,baca nya ga enak ...
Umi Maryam
bagus ghifari emang harus di kasih pelajaran ayah mu yg sombong dan songong , sekalian tuh nene lampur si ratna biar mati berdiri jadi musik n.
Aghitsna Agis
aduh gifari kemana ya
Naufal hanifah
bagus ceritanya
yelmi
mampir di karya barumu tor... awal yg menarik
semangat nulis y tor👍🫰
Aghitsna Agis
lagi pula jackson nga ounya hak mau nguras harta henry kecuali kalau perusahaan itu lpunya margaretha baru ingin kuasai dan itu juga kalau yg dioegang perusahhanya punya keluarga besar baru nuntut hak kalau margretha mendirikanya uang sendiri jakcin nga punya hak juga
endang
makin seru ceritanya Thor
Julidarwati
kyknya mo end the ya Krn semua UD happy
Rita Susanti
apa sih thor anu anu😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!