Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.
Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.
Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Intelijen Cantik Dan Kedatangan Sang Badai
Di dalam hanggar jet pribadi Feng Group yang tersembunyi di pinggiran Kota Metropol, kesibukan luar biasa sedang terjadi. Rendy sibuk memasukkan server portabel ke dalam koper antipeluru, sementara Reyhan sedang memeriksa senapan runduk (sniper) miliknya.
"Yan, kita butuh dukungan taktis di lapangan. Pulau Nol bukan tempat yang bisa ditembus hanya dengan otot dan kode komputer," ucap Reyhan sambil mengisi magasin peluru. "Aku sudah memanggil satu orang kepercayaanku dari satuan intelijen pusat. Dia ahli penyamaran dan infiltrasi tingkat tinggi."
Feng Yan mengangkat alisnya, menatap Reyhan dengan selidik. "Secara logika, Rey... kau jarang sekali merekomendasikan seseorang kecuali orang itu benar-benar 'sakti'. Siapa dia?"
Tiba-tiba, suara deru mesin motor sport merah terdengar dari pintu masuk hanggar. Motor itu melesat masuk, melakukan aksi stoppie yang sempurna tepat di depan meja kerja Rendy, membuat bocah IT itu hampir menjatuhkan kopinya.
Seorang wanita turun dari motor, melepas helm full-face hitamnya, dan mengibaskan rambut kuncir kudanya yang berwarna cokelat gelap. Ia mengenakan jaket kulit taktis dan celana kargo yang pas di badannya yang atletis. Matanya tajam, namun memiliki kilatan jenaka yang sangat dominan.
"Inspektur Reyhan, pelaporan tugas!" ucap wanita itu dengan suara yang tegas namun merdu. "Maaf terlambat, ada sedikit 'hambatan' berupa dua mobil penguntit di jalan tol tadi. Tapi tenang, mereka sekarang sedang berenang di parit."
"Kenalkan, ini Anitha," ucap Reyhan dengan bangga. "Rekan terbaikku di kepolisian, ahli intelijen yang bisa menyamar jadi apa saja—mulai dari pelayan kafe sampai direktur bank."
Anitha tersenyum miring, lalu matanya tertuju pada Lin Diya. "Jadi ini 'Mutiara' yang membuat CEO narsis kita ini sampai melakukan lamaran nasional di depan wartawan? Pilihan yang bagus, Tuan Feng. Aura pengacaranya bahkan tercium dari jarak sepuluh meter."
Diya tertawa kecil, ia merasa langsung cocok dengan energi Anitha. "Senang bertemu denganmu, Anitha. Saya Lin Diya. Dan ya, tolong abaikan narsisme pria di sebelah saya ini, itu penyakit bawaan lahir."
"Hei! Aku bisa mendengarmu, Mutiara!" seru Feng Yan pura-pura tersinggung.
Namun, perhatian Anitha mendadak teralih ke arah sudut hanggar yang gelap. Di sana, berdiri Chen Lian, tangan kanannya Feng Yan yang paling misterius, sedang mengasah pedang pendeknya dalam diam. Anitha berjalan mendekat, menatap Chen Lian dengan tatapan menantang yang tidak biasa.
"Dan kau... kau pasti si 'Bayangan Emas' itu, kan? Chen Lian?" Anitha melipat tangan di dada. "Secara intelijen, namamu tidak ada dalam data sipil mana pun. Kau seperti hantu."
Chen Lian hanya melirik Anitha sekilas, wajahnya tetap datar seperti tembok batu. "Data sipil hanya untuk mereka yang ingin ditemukan, Nona Polisi."
"Oh, begitu?" Anitha menyeringai, ia bergerak sangat cepat mencoba menyentuh bahu Chen Lian, namun dalam sekejap, Chen Lian sudah berpindah tempat ke belakang Anitha dengan ujung pedang tumpul yang menyentuh pinggang wanita itu.
"Gerakanmu terlalu berisik," bisik Chen Lian dingin.
Anitha bukannya takut, ia justru tertawa renyah. Ia berputar dan menjauh dengan gerakan pesenam yang anggun. "Menarik! Reyhan tidak bohong soal refleksmu. Kita akan jadi partner yang seru di Pulau Nol nanti, Tuan Hantu."
Rendy yang melihat adegan itu dari jauh hanya bisa berbisik ke arah Feng Yan. "Tuan Feng, secara logika... atmosfir di antara Chen Lian dan Anitha barusan itu bukan cuma soal taktik, tapi ada tegangan listrik yang lebih tinggi dari server saya. Apa kita sedang berada di tengah syuting film romansa action?"
Feng Yan tertawa bangga, ia merangkul bahu Diya. "Biarkan saja, Rendy. Kadang-kadang, 'kekacauan' adalah cara terbaik untuk memenangkan perang."
"Oke, semuanya berkumpul!" Reyhan berteriak, memanggil tim inti ke depan peta digital Pulau Nol. "Anitha sudah membawa data intelijen terbaru. Pulau itu dilindungi oleh perisai elektromagnetik yang hanya terbuka setiap enam jam sekali selama sepuluh menit. Itulah satu-satunya celah kita untuk masuk menggunakan jet tanpa terdeteksi radar."
Anitha menunjuk ke satu titik di pantai barat pulau. "Di sini ada lubang ventilasi raksasa untuk pembuangan panas server 'Penyunting Takdir'. Aku dan Chen Lian akan masuk melalui sana untuk melumpuhkan sistem keamanan fisik. Feng Yan, Diya, dan Reyhan akan masuk melalui jalur utama sebagai pengalih perhatian."
"Tunggu, kenapa aku harus bersama pria kaku ini?" protes Anitha sambil menunjuk Chen Lian.
"Karena secara logika, hanya Chen Lian yang bisa mengimbangi kegilaanmu dalam memanjat dinding vertikal, Anitha," jawab Feng Yan santai. "Dan hanya kau yang bisa bicara dengan penjaga sementara Chen Lian melumpuhkan mereka dari bayangan."
Chen Lian hanya mendengus, tapi ia memasukkan pedangnya ke sarungnya—tanda ia setuju dengan rencana itu.
"Persiapan selesai!" seru Rendy sambil menekan tombol di tabletnya. "Jet sudah siap di landasan. Target kita: Pulau Nol. Misi kita: Menghancurkan masa depan palsu yang diciptakan 'Penyunting Takdir'."
Malam itu, lima orang dengan keahlian luar biasa itu terbang menembus awan gelap menuju tengah samudera. Di dalam jet, Anitha terus mencoba memprovokasi Chen Lian dengan berbagai pertanyaan intelijen, sementara Chen Lian hanya menjawab dengan satu atau dua kata.
Diya menatap mereka sambil tersenyum, menyadari bahwa perjalanan ini mungkin akan melahirkan lebih banyak daripada sekadar kemenangan bisnis.
"Tuan Feng," bisik Diya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Feng Yan. "Jika kita selamat dari pulau itu, saya rasa kita butuh asisten baru untuk mengurus pernikahan kita. Dan saya rasa Anitha punya bakat untuk itu."
"Aku setuju, Mutiara," sahut Feng Yan sambil mengecup rambut Diya. "Tapi mari kita pastikan Chen Lian tidak memenggal kepalanya lebih dulu karena terlalu banyak bicara."
Jet itu menghilang di balik kegelapan malam, membawa harapan terakhir dunia menuju sarang musuh yang paling berbahaya.