Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 Dilema Yang Sulit
Perasaanku berkelindan antara lega dan waspada. Di satu sisi, ada rasa senang karena rencanaku perlahan mulai berjalan; di sisi lain, ketegangan tak juga mereda. Aku hanya perlu menunggu sampai Zhiyi Pingkan benar-benar pergi dari rumah ini, agar bisa menyusun langkah berikutnya tanpa gangguan. Lagi pula, selama Dean Junxian tidak ada di rumah, menghadapi Zhiyi Pingkan seorang diri masih terasa cukup aman setidaknya untuk saat ini.
Sembari menunggu waktu berlalu, aku mengeluarkan ponsel dan mulai merapikan data-data yang berhasil kuambil dari ponsel Dean Junxian semalam. Satu per satu file, pesan, dan catatan penting kusortir dengan teliti. Informasi yang sekiranya bernilai langsung kukirimkan kepada Zea Helia, agar dia bisa menelusurinya lebih dalam melalui koneksi yang dimilikinya.
Oh, aku hampir lupa memperkenalkan sosok penting ini.
Zea Helia adalah sahabat terbaikku sejak kecil. Dia putri dari sahabat dekat ayahku, dan kami tumbuh bersama seperti saudara sendiri. Sejak dulu, kami bahkan pernah berangan-angan untuk merantau ke tempat yang jauh dan membangun hidup baru bersama. Dia memilih menempuh pendidikan di akademi media. Meski kami tidak berada di kampus yang sama, hubungan kami tak pernah merenggang justru semakin kuat seiring waktu.
Saat aku memutuskan menikah dengan Dean Junxian, Zea memilih jalan yang berbeda. Dia tetap melajang dan sepenuhnya fokus membangun karier. Dan hasilnya… luar biasa. Kariernya di dunia media melesat pesat. Dia dikenal sebagai wanita tangguh, cerdas, dan berani. Kepribadiannya yang terbuka dan blak-blakan membuatnya memiliki jaringan luas yang tak bisa dianggap remeh. Jika ada orang yang bisa membantuku menguak sesuatu, maka itu adalah dia.
Sementara itu, aku… perlahan berubah.
Aku menjelma menjadi sosok yang lembut, penurut, seperti kucing jinak yang kehilangan taringnya. Setiap kali bertemu denganku, Zea selalu berdecak pelan sambil menggelengkan kepala, seolah tak percaya dengan perubahan yang terjadi padaku.
Dengan nada penuh penyesalan, dia pernah berkata,
"Ckckck… sayang sekali. Partner bisnis sehebat kamu malah ‘pensiun’ secepat ini. Sepertinya perempuan memang tidak boleh menikah. Laki-laki itu seperti pengikis setajam apa pun prinsipmu, lama-lama akan mereka tumpulkan sampai kamu kehilangan jati diri. Dan kamu… contoh nyatanya."
Biasanya, aku hanya menanggapinya dengan senyum tipis dan nada santai,
"Untuk apa punya prinsip yang terlalu tajam? Jangan lupa, perempuan itu seperti air harus fleksibel."
Namun Zea hanya mendengus sinis.
"Ha! Menurutku kamu sudah benar-benar dicuci otak oleh Dean Junxian. Dia itu ‘pembunuh wanita’. Lihat saja, kamu hampir habis di tangannya."
Saat itu, aku menganggapnya hanya sebagai sindiran berlebihan.
Siapa sangka… ucapannya kini terasa seperti ramalan yang menjadi nyata.
Dean Junxian benar-benar berniat menghabisiku.
Namun, satu hal yang tidak pernah berubah Zea Helia tetap berada di pihakku. Tanpa ragu, tanpa syarat.
Setelah memberikan instruksi yang cukup rinci kepadanya mengenai hal-hal yang perlu diselidiki, aku akhirnya meletakkan ponsel dan bersandar lemah. Tubuhku terasa berat. Semalaman aku hampir tidak tidur, pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan dan skenario buruk. Sekarang, kepalaku terasa berdenyut dan tubuhku kehilangan tenaga. Aku tahu, jika ingin bertahan, aku harus menjaga kondisiku tetap stabil.
Meski begitu, ada ganjalan yang tak bisa kuabaikan di dalam hati. Rasa tidak nyaman itu membuatku kehilangan selera makan. Saat makan siang, aku hanya mampu menelan beberapa suap, lalu meletakkan sendok dengan perlahan, seolah bahkan itu pun sudah menguras seluruh sisa energiku.
Agar lebih leluasa mengawasi Zhiyi Pingkan, aku sengaja tidak naik ke lantai atas. Aku memilih tetap berada di ruang tamu dan merebahkan diri di sofa, seolah hanya ingin beristirahat, padahal sebenarnya setiap gerak-geriknya tak luput dari perhatianku.
Di sampingku, Sonika duduk manis sambil sibuk memainkan mainannya. Tawa kecilnya sesekali terdengar, memecah suasana yang sebenarnya terasa menekan bagiku. Sementara itu, Zhiyi Pingkan duduk tak jauh dari kami, dengan sabar menyuapi Sonika makan. Gerakannya tenang, penuh perhatian seperti pengasuh yang sangat berdedikasi.
Pemandangan itu terlihat begitu hangat dan harmonis… terlalu harmonis, bahkan. Seolah-olah aku tidak ada di sana. Seolah aku hanyalah bayangan yang tak dianggap.
Perasaanku semakin tidak menentu. Ada kegelisahan yang terus menggerogoti, bercampur dengan ketidaksabaran yang makin memuncak. Aku berharap dia segera pergi, tetapi yang kulihat justru sebaliknya Zhiyi Pingkan tampak santai, bahkan cenderung malas bergerak. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda bahwa dia akan keluar rumah dalam waktu dekat.
Sepertinya, karena dia tahu Dean Junxian sedang tidak berada di rumah, dia merasa tidak perlu terburu-buru pergi ke pasar.
Kalau begitu… aku harus memaksanya keluar.
Tanpa mengubah ekspresi, aku membuka suara dengan nada ringan, seolah hanya permintaan biasa,
"Kak Zhiyi, nanti tolong belikan udang ya. Aku tiba-tiba ingin makan udang."
Dia menoleh sekilas ke arahku, tangannya masih sibuk menyuapi Sonika.
"Di rumah masih ada stok. Mau dimasak apa?"
Aku menggeleng pelan, berpura-pura manja.
"Jangan yang beku, aku mau yang segar. Beli di pasar saja. Oh iya… sekalian belikan durian juga, ya."
Permintaan terakhir itu sengaja kutambahkan.
Aku tahu betul, Dean Junxian sangat membenci durian. Baginya, aroma buah itu menjijikkan. Tapi justru karena itu, aku yakin Zhiyi Pingkan tidak akan menolak. Kami berdua sama-sama menyukai durian dan itu bisa menjadi alasan yang cukup kuat untuk membuatnya keluar rumah tanpa curiga.
Benar saja.
Begitu mendengar kata “durian”, wajahnya langsung berubah cerah.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi sekarang saja!" jawabnya dengan nada ringan, bahkan terdengar sedikit antusias.
Aku menahan senyum.
Rencanaku berjalan sesuai harapan.
Aku meminta selimut, lalu kembali berbaring di sofa sambil memejamkan mata, berpura-pura tertidur. Namun di balik kelopak mataku yang tertutup, pikiranku bekerja cepat, menyusun langkah demi langkah yang harus kulakukan berikutnya.
Tak lama kemudian, setelah memastikan Sonika tertidur pulas, Zhiyi Pingkan akhirnya pergi keluar rumah.
Begitu suara pintu tertutup, aku langsung membuka mata.
Tanpa membuang waktu, aku bangkit dan bergerak cepat. Hal pertama yang kulakukan adalah mematikan kamera pengawas. Setelah itu, aku menuju kotak obat dan mulai menggeledah isinya dengan teliti.
Seperti yang kuduga…
Aku menemukan apa yang kucari.
Bukan hanya satu, tapi dua jenis obat penenang dan obat tidur tersimpan rapi di dalamnya.
Aku mengambilnya dan memperhatikan labelnya satu per satu. Seketika, ingatanku melayang pada rasa sakit yang pernah kurasakan jarum panjang yang ditusukkan ke kulit kepalaku, rasa nyeri yang tak tertahankan…
Senyum dingin terukir di bibirku.
Tanpa ragu, aku memilih Midazolam Maleate.
Obat ini bereaksi cepat, kuat, dan memiliki efek ketergantungan. Sangat cocok.
Zhiyi Pingkan… memang pantas merasakan itu.
Setelah menentukan pilihanku, aku segera mengembalikan kotak obat ke tempat semula, memastikan semuanya tampak seperti tidak pernah disentuh. Lalu aku kembali ke sofa dan berbaring, menutup mata sekali lagi.
Namun kali ini, aku benar-benar memeras otak.
Bagaimana caranya membuatnya meminum obat ini… tanpa dia menyadarinya?
Tanpa terasa, kelelahan yang sejak tadi menumpuk akhirnya mengalahkanku. Saat Zhiyi Pingkan kembali ke rumah, aku ternyata benar-benar tertidur di sofa.
Tiba-tiba
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di wajahku.
Aku tersentak bangun, napasku tercekat. Pandanganku langsung berkunang-kunang, kepalaku berdenyut hebat akibat pukulan yang tak terduga itu.
Di hadapanku, Sonika berdiri dengan tangan kecilnya yang masih terangkat. Wajah polosnya menatapku tanpa rasa bersalah, seolah apa yang baru saja dilakukannya adalah hal yang biasa.
Sementara aku… masih terpaku, mencoba mengumpulkan kesadaran yang sempat tercerai-berai.
Dengan mata masih setengah terpejam karena kantuk, aku mengangkat tangan dan menepuk pelan pantat mungilnya sambil tersenyum setengah mengomel, “Dasar anak nakal…”
Sonika langsung menoleh ke arah dapur. Aku mengikutinya dengan pandangan, hanya sempat melihat bayangan seseorang melintas dengan cepat, seolah sengaja tak ingin terlihat. Hati kecilku bergetar sepertinya anak kecil ini sudah terpengaruh oleh kehadirannya, meski dia tak sepenuhnya menyadarinya.
Namun tiba-tiba, sebuah pertanyaan muncul di benakku, menusuk dengan tajam: jika Zhiyi Pingkan tertidur pulas karena obat itu, bagaimana nasib Sonika?
Kalau aku harus menunggu sampai Sonika juga tertidur, waktu akan terbuang terlalu lama. Dan efek obat yang kuberikan pada Zhiyi Pingkan hanya bertahan sekitar empat hingga enam jam. Jika Zhiyi Pingkan terbangun lebih cepat dan menemukan ada orang asing yang mengurus Sonika, seluruh rencanaku bisa langsung gagal.
Di sisi lain, membawa Sonika keluar rumah pun tidak mudah. Saat ini, dia sedang berada pada fase aktif dan cerewet; setiap kata yang keluar bisa menjadi petaka jika bocah itu tidak sengaja membocorkan rahasia atau sesuatu yang mencurigakan.
Aku menatap wajah polosnya, matanya yang besar dan cerah menatapku dengan penuh rasa ingin tahu. Dadaku terasa sesak, pikiranku berputar cepat mencari solusi. Aku benar-benar berada di persimpangan sulit: maju pun salah, mundur pun salah. Setiap pilihan yang ada seolah memiliki risiko yang sama besarnya, dan aku harus memastikan langkah berikutnya tanpa membuat kesalahan sekecil apa pun.
Rasanya, ini bukan hanya soal strategi ini soal bertahan hidup, dan aku harus tetap tenang meski jantungku berdebar kencang.